[Oneshot] Let Me Be The Man Who Loves You

Let Me Be The Man Who Loves You
Im Yoona | Oh Sehun
Romance
Copyright © March 2016 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Seperti asap, padahal berada tepat didepan mata, tapi tidak dapat disentuh. Yang tersisa hanyalah aromanya. Sungguh cinta yang membuat frustasi…

“Cepat pulang!”

Sehun menghentikan gerakan memantik korek api saat wanita itu mengusirnya. Dia hendak menghisap batang rokok yang sudah menempel dibibir. Dan sekejap, wanita itu membuatnya kehilangan selera. “Kau mengusirku?” Tanyanya.

“Ya. Cepat pulang sana. Eomma pasti mengkhawatirkanmu.”

Sehun berdecak kesal. Hey, dia bahkan sudah sudi mengantar wanita itu pulang dan inikah balasan yang ia terima? “Jangan berlebihan, noona. Eomma bahkan tahu aku sedang mengantarmu.”

Yoona—wanita itu menghela nafas. Sehun benar. Setiap hari pemuda itulah yang selalu mengantar-jemputnya saat pulang kerja. Dan eomma-lah yang menyuruhnya melakukan itu.

“Aku sudah mengantarkanmu sampai rumah, kan. Jadi, cepatlah masuk!” Perintah Sehun. Dia melanjutkan kegiatan merokoknya yang sempat tertunda. Detik berikutnya, sudah terlihat kepulan asap dari mulutnya.

Kepala Yoona menggeleng. Sedikit heran dengan kebiasaan Sehun. “Apa enaknya menghisap benda itu?” Tanyanya sinis. Jujur, Yoona tidak pernah menyukai lelaki perokok. Sangat anti. Dia benci. Dan beruntung, Luhan bukanlah salah satu dari mereka.

Ah, sepertinya Yoona lupa memperkenalkan siapa dirinya, siapa Sehun dan siapa itu Luhan. Im Yoona, 24 tahun seorang arsitektur desain disebuah perusahaan terkemuka di Seoul. Dia memiliki calon tunangan bernama Xi Luhan, 24 tahun seorang manager hotel berbintang. Dan Luhan memiliki seorang adik laki-laki yaitu Oh Sehun, 17 tahun seorang siswa disalah satu sekolah menengah atas. Jangan tanya kenapa nama marga Luhan dan Sehun berbeda. Mereka satu ibu, berbeda ayah. Wanita paruh baya itu menikah dua kali dengan masing-masing pernikahan membuahkan seorang putra.

Kembali kepada Sehun yang masih asyik menghisap benda yang menurut Yoona menjijikan—rokok. “Apa? Kau tidak akan mengerti, noona. Karena kau bukan anak laki-laki. Tanpa ini, tidak akan ada yang menganggapmu pria sejati.” Sehun meniupi abu diujung rokoknya, membuatnya berterbangan.

Yoona refleks menutup hidungnya dengan tangan, dan menatap jengah kearah Sehun. “Kau tahu, aroma menyesakkan benda itu akan menempel dibajumu, membuat paru-parumu hitam, dan kau bisa sakit. Itukah yang kau maksud dengan pria sejati? Justru sebelum kau mendapat gelar sebagai pria sejati, ragamu sudah terlebih dulu terkubur dalam tanah.” Balas Yoona.

Alis Sehun terangkat. Dia memegang batang rokok ditangan kirinya, sedang tangan sebelahnya dia gunakan untuk menyuruh Yoona mendekat, “Sini.” Bisiknya.

Yoona mendekat. Aroma rokok yang pekat begitu terasa memenuhi rongga hidungnya. “Apa?”

“Aku tidak perlu dinasehati oleh gadis kecil sepertimu!” Bisik Sehun tepat ditelinga Yoona, sembari mengacak pelan rambut wanita itu.

Bola mata Yoona berputar jengah. Sehun selalu menganggapnya seperti anak kecil, tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita dewasa meskipun usianya 7 tahun lebih tua dari Sehun. “Terserah.” Jawabnya pasrah.

Yoona berbalik dan meninggalkan Sehun, hingga langkahnya terhenti karena ucapan pemuda itu. “Selamat malam, noona. Kupastikan aku akan merindukanmu.”

Yoona terpaku. Suara Sehun terdengar begitu penuh penekanan. Apa yang salah? Akhirnya Yoona kembali berbalik, menatap lekat sosok jangkung dihadapannya. “Selamat malam, Sehun. Aku tidak berharap kau merindukanku, oke.” Yoona kembali memutar badan menuju pintu apartmentnya tanpa menunggu jawaban laki-laki itu. “Ah ya, besok kau tidak perlu menjemput ataupun mengantarku. Aku bisa naik angkutan umum.” Ucapnya lagi seraya membelakangi Sehun.

“Kenapa?” Air muka Sehun berubah. Dia terlihat sedikit terkejut.

“Tidak apa. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu terus menerus. Kau bahkan sudah melakukan ini selama 2 tahun terakhir. Jadi, lebih baik sekarang kau berhenti.”

Tatapan Sehun menajam. Ekspresinya semakin keras menunjukkan adanya ketidaksetujuan. Dia mendekati Yoona, berdiri dibelakang wanita itu dengan jarak satu jengkal. “Tapi aku senang melakukannya. Apa itu mengganggumu?” Lirihnya.

Kepala Yoona mendongak dan refleks menghadap Sehun, ditatapnya manik hazel itu tenang. Diraihnya lengan Sehun yang masih terbalut jas sekolah, “Hey, jangan buang waktumu untuk hal sia-sia seperti ini. Kau terlalu banyak menghabiskan waktumu bermain dengan mantan tunangan kakakmu.”

Sehun mendesah, sentuhan hangat Yoona dilengannya menimbulkan efek tersendiri. Membuatnya semakin sulit menyerah. Ya, Sehun mengakui, dia tidak dapat menampik lagi perasaannya pada wanita itu. Dia mencintainya bahkan semenjak pertama kali mereka bertemu, 3 tahun yang lalu—saat Luhan membawa Yoona kerumah untuk memperkenalkannya pada eomma. “Aku tidak bisa, noona. Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Sejak Luhan Hyung pergi, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu.”

Iris madu Yoona yang tadinya keras dan terang, kini melemah dan redup. Sehun berbeda dengan Luhan. Mereka tidak sama. Sebesar apapun usaha Sehun untuk menjaganya tidak akan pernah dapat menggantikan posisi Luhan. Luhan memang telah meninggalkannya semenjak 2 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan, tapi nyatanya sosok Luhan tidak sedikitpun hilang dari memori otaknya. Sulit.

“Percayalah padaku, noona. Aku akan menjagamu dan melakukan semua hal yang belum sempat Luhan Hyung lakukan untukmu.” Dengan secercah keberanian, Sehun menarik Yoona kedalam pelukannya. Wanita itu terisak.

***

Dering ponsel Sehun memecah keheningan pagi ini. Sehun menggerutu sembari meraih ponsel yang ada disamping bantal. “Yeoboseo,” sapanya dengan suara serak.

Yoona menggeliat pelan. Matanya perlahan terbuka. Samar, dia menangkap sosok Sehun disampingnya, seperti sedang berbincang dengan seseorang melalui telepon. Sehun menyadari Yoona sudah bangun. Dia menarik pelan lengannya yang menumpu kepala wanita itu, lalu bersandar pada headboard.

“Aku menginap dirumah temanku.”

“…”

“Jangan khawatir.”

“…”

“Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Aku masih mengantuk, eomma.”

Tut. Tut. Tut.

Setelah mengakhiri sambungan telepon, Sehun segera beralih menatap Yoona. Dia tersenyum sebelum mendaratkan sebuah kecupan hangat dikeningnya. “Kau sudah bangun?”

Suara serak Sehun saat bangun tidur sepertinya akan menjadi nada dering favorit Yoona mulai saat ini. Dia mulai mengikuti Sehun, menyandarkan kepalanya pada headboard. “Hm.”

“Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Sehun lagi. Dielusnya lengan mungil Yoona yang kini sudah berada dirangkulannya.

Yoona sedikit menggeser posisi duduknya menghadap Sehun. Diraihnya rahang tegas Sehun, lalu menyentuhnya penuh kelembutan. “Jika kau manis seperti ini, aku jadi tidak ingin membiarkanmu pulang.” Setelah mengatakan hal itu, entah mengapa pipinya tiba-tiba memanas.

Sehun terkekeh. Baru kali ini, Yoona benar-benar menahannya untuk tidak pulang. Padahal dia juga tidak berniat pulang atau pergi kemanapun. Bersamanya disini, mendekapnya dalam pelukanku, bagaikan rumah tempatku pulang. Tidak ada tempat sehangat ini dibelahan dunia manapun. “Aku mencintaimu.”

Ini salah.

Akal sehat Yoona segera berteriak menyuarakan bahwa keputusannya menahan Sehun pulang adalah salah. Bahkan dirinya yang berada satu ranjang dengan laki-laki itupun juga salah. Dia sepertinya sudah gila. “Ini salah.” Yoona mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Sehun. Membuat laki-laki itu mengernyitkan kening. “Akan lebih baik jika kau tetap menjadi adikku.” Lanjutnya tegas.

Sehun terhenyak. “Noona…” Lirihnya sendu. Wanita itu bahkan mulai beranjak dari ranjang, meninggalkannya.

Yoona tidak peduli apa dan siapa yang membawanya berada dalam satu ranjang dengan Sehun. Dia tidak akan mempermasalahkannya. Namun, pernyataan Sehun tentang mencintai, itu benar-benar diluar batas. Bagaimanapun, Sehun adalah adiknya, adik mantan tunangannya.

Sehun bergegas menyusul Yoona. Mencekal tangan wanita itu. Membawanya kembali keranjang secara paksa. Mengunci pergerakannya. Hingga kini hanya dirinyalah yang berkuasa. Wanita itu tidak berkutik dibawah tubuhnya. Dia tersenyum menang. Namun, tersirat pula getir pahit setiap kali wanita itu menolaknya.

“Le-lepaskan!” Teriak Yoona. Matanya memerah.

Sehun berpura-pura tuli atas teriakan Yoona. Dirinya sudah terlanjur dikuasai api. Dia tidak bisa menahan diri lagi atas penolakan wanita itu. Dia mencintainya. Bahkan ia rasa Tuhan menciptakannya hanya untuk memiliki wanita itu.

“Se-Sehun, ku-kumohon lepaskan aku!” Erangnya lagi. Dia sangat agresif dan terus memberontak.

Sehun’s POV

Maafkan aku, noona. Kau pasti akan membenciku setelah ini. Tapi biarlah aku menandaimu sebagai hak milikku. Aku perlu melakukannya. Aku sudah tidak tahan melihat penolakanmu padaku. Apa? Karena aku adik Luhan Hyung? Itukah alasanmu selalu menolakku? Aku menyesal. Kenapa aku harus menjadi adik Luhan Hyung?

Noona, tatap aku!” Perintahku sedikit membentak. Dia sangat membabi buta. Membuatku sedikit kewalahan.

“Kau adik Luhan Oppa, itu artinya kau juga adikku, Sehun.” Ucapnya telak.

Sejujurnya, aku hanya ingin bersamanya. Sesulit inikah?

Tanpa ampun, aku terus menekan bahunya. Mencengkeramnya dengan erat. “Maaf.” Lirihku sendu.

Yoona sontak melebarkan matanya melihatku mulai membuka kancing-kancing kemejanya yang dia pakai sejak kemarin. Semalam, mungkin karena terlalu lelah menangis didadaku, wanita itu tertidur. Aku adalah tersangka yang membawanya kekamar apartmentnya. Aku yang membaringkannya diatas ranjang. Aku pula yang memeluknya saat tubuhnya tiba-tiba menggigil. Dia butuh kehangatan. Aku bisa memberinya. Bahkan jauh dari yang Luhan Hyung berikan. Apakah ada pria lain yang bisa memeluk dan menindihmu seintim ini, noona? Hanya aku.

Pagi ini, kau tidak akan bisa menolakku, noona. Kau akan mengingatku seumur hidup sebagai lelaki gila yang mengambil masa depanmu. Kupastikan kau tidak akan bisa melupakanku barang sedetik.

Sehun’s POV End

Yoona sudah kehilangan banyak tenaga karena berteriak dan memukul bagian tubuh Sehun yang dapat dia gapai. Dia memberontak, meronta, bahkan berderaian air mata memelas agar laki-laki itu mau melepasnya. Namun, nihil. Sehun tak bergeming. Dia bagai setan kecil dimata Yoona. Terlebih saat tangan-tangan besarnya yang hangat mulai mengoyak pakaian juga tubuhnya.

Hampir selesai. Sehun hampir selesai menelanjangi mantan kakak iparnya. Senyuman sadis terus tersungging dibibirnya. Persetan dengan apapun itu! Selagi dia bisa mendapatkan Yoona, semua resiko tidaklah berarti.

“Bajingan! Ap-apa yang akan kau lakukan? Argh.” Desis Yoona tajam.

Mata Sehun buta oleh cinta. Dia tidak memperdulikan ucapan Yoona barang sedikitpun. Hanya tangannya yang terus bergerak. Perlahan, kemeja Yoona mulai terbuka. Menampakkan tubuh atas wanita itu dengan dua gundukan yang hanya tertutupi bra hitam. “Aku ingin sedikit bermain, noona.” Kata Sehun dengan seringaian lebarnya.

Shit! Umpat Yoona dalam hati.

Sehun menarik kemeja Yoona dan membuangnya kesembarang tempat. Kini, tubuh kurus Yoona benar-benar terekspos didepan matanya. Membuat miliknya menegang.

Noona, bersantailah. Aku akan melakukannya dengan lembut.” Ucap Sehun lagi.

Yoona menjerit, memekik, berteriak, semoga dengan begitu Sehun tersadar. Namun, semua usahanya sia-sia. Sehun justru semakin menekan bahunya, menguncinya hingga tidak mampu melakukan pergerakan sedikitpun. Sehun kemudian menarik kasar kemejanya sendiri hingga sedikit robek akibat terburu-buru. Kini, mereka sama-sama bertelanjang dada.

“Sehun, sadarlah! Ini salah.” Erang Yoona frustasi. Sehun sudah berani bermain-main dengan lehernya. Mengendusnya, menjilatnya, menciumnya, dan sesekali menggigit kecil. Sial!

Seperti terkena euforia, saat Sehun mulai menjamah leher jenjang nan putih itu. Aroma tubuh Yoona begitu memabukkan, membuat hasratnya semakin liar. Sehun bersumpah, Yoona bagai nikotin yang menyebabkan kecanduan.

Yoona menahan diri untuk tidak mengeluarkan desahan konyolnya. Tidak mungkin. Dia harus tetap mempertahankan keperawanannya apapun yang terjadi. Sehun bukan yang ia inginkan. Tidak untuk sekarang.

Sehun menelusuri garis tubuh Yoona. Tidak ingin melewatkan sedikitpun kenikmatan itu. Mata Sehun melirik kearah Yoona. Wanita itu sedang memejamkan mata. Apakah sensasinya sedahsyat itu? Aku bahkan belum melihat miliknya, dan belum juga memasukkan milikku kedalamnya. Kau akan lebih lepas setelah ini, noona. Sehun kembali keaktivitasnya, menggerayangi tubuh Yoona mulai dari kepala hingga perutnya.

Dia gila. Aku tidak ingin kehilangan keperawananku secepat ini. Terlebih ditangan bocah 17 tahun.

Sehun mencium bibir Yoona kasar, melumatnya dengan penuh nafsu. Memaksa wanita itu untuk membuka mulut dan memberikannya sedikit akses untuk masuk. Deru nafasnya memburu seiring dengan mulut Yoona yang sedikit terbuka akibat gigitan kecilnya. Sehun melahap bibir Yoona rakus. Melesakkan lidahnya kedalam mulut wanita itu. Bertukar saliva.

Tangan Sehun tidak lagi menekan bahu Yoona. Wanita itu sudah terlihat tenang, dan seperti mengikuti ritme permainannya. Tangannya kini sibuk meremas dada wanita itu. Yeah, Sehun rasa dada wanita itu memang diciptakan untuknya. Karena begitu pas digenggamannya.

Jangan tanya apa yang dilakukan Yoona. Dia pun pada akhirnya menikmati, menikmati dosa terindahnya dengan mantan adik iparnya. Tidak ada lagi pemberontakan yang ia lakukan. Seharusnya dia senang Sehun melepas cengkeraman dibahunya, dia bisa memukul laki-laki itu dan melarikan diri. Namun, sayang semua justru berbanding terbalik.

Seprei yang menjadi alas tidur terlihat semakin berantakan karena tangan Yoona yang sedari tadi menarik dan mencengkeramnya setiap kali Sehun memberinya perlakuan lebih. Akal sehatnya benar-benar lebur bersamaan dengan sentuhan menggairahkan yang Sehun salurkan.

Sejujurnya, Sehun tidak benar-benar berniat menodai kesucian Yoona. Dia sudah mengatakannya diawal bahwa dia hanya ingin bermain dan menandai Yoona sebagai miliknya. Itu saja.

Beberapa menit berlalu, Sehun melihat Yoona sudah terkulai lemas dibawahnya. Dia kemudian menyingkir dari tubuh Yoona dan menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjang wanita itu. Sehun lalu beranjak dari ranjang, berjalan menuju lemari besar disudut kamar. Dari lemari itu, dia menemukan sepotong kaos v neck yang diyakininya adalah milik Luhan. Dia tahu Luhan pernah beberapa kali menginap diapartment Yoona. Dan mungkin Luhan juga sudah pernah melakukan sesuatu dengan wanita itu. Sehun hanya tersenyum pahit memikirkannya.

Langkah Sehun terhenti didapur. Dia ingin membuatkan sarapan untuk Yoona. Tapi dia tidak bisa memasak. Masalah. Dia pun membuka kulkas dan menemukan sekotak sereal, beberapa lembar roti tawar dan selai. Dengan kemampuan masak ala kadarnya, Sehun mulai menyulap bahan-bahan itu menjadi makanan yang terlihat cukup menggugah selera. Setelah itu, dia menata makanan buatannya diatas sebuah nampan dan meletakkannya dinakas samping ranjang Yoona. Dengan sebuah note kecil yang tertempel ditepi mangkuk, Sehun berpamitan pulang.

***

Terlihat sesosok pria tampan dengan setelan jas rapi sedang duduk dilobi.

“Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.” Terka Sooyoung yang mengintip dari kejauhan.

Yuri pun mengangguk, “Kau benar. Ah, betapa beruntungnya seseorang yang sedang ditunggu oleh laki-laki itu.” Senyuman Yuri mengembang kala membayangkan bila seseorang yang sedang ditunggu orang itu adalah dirinya.

Sooyoung memutar bola matanya malas, dia tahu betul sahabatnya pasti sedang berkhayal. Dia kemudian menarik tangan Yuri, “Lebih baik sekarang kita beritahu Yoona. Siapa tahu, dia kenal dengan orang itu.”

Langkah Yuri sedikit terseok karena tarikan Sooyoung. Mereka sedang berjalan menuju ruangan mereka. Namun, belum sampai ditempat tujuan, mereka sudah terlebih dahulu menemukan seseorang yang mereka cari.

“K-kau sudah mau pulang?” Tanya Sooyoung sedikit bingung.

“Tentu saja. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku. Jadi, aku bisa pulang lebih awal.” Balas Yoona dengan tersenyum bangga.

Yuri mencebikkan bibirnya, “Yak! Kalau kau tidak mengajakku mengintip orang itu, pasti aku bisa segera menyelesaikan pekerjaanku dan pulang.” Tangannya memukuli pelan lengan Sooyoung. Sedang yang dipukuli hanya bisa tersenyum bodoh.

“Permisi.” Yoona melambaikan tangan kearah Sooyoung dan Yuri yang masih sibuk berdebat.

Yoona berjalan menuju pintu keluar melewati lobi. Matanya menyipit mendapati seorang laki-laki berpenampilan rapi sedang duduk dikursi tunggu. Dia seperti familiar dengan bentuk tubuh dan cara duduk orang itu, tapi tidak dengan penampilannya. Namun, Yoona tidak terlalu memikirkannya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah pulang kerumah.

Sehun buru-buru mencegat langkah Yoona yang berjalan melewatinya. Dia melepas kacamata yang dipakainya dan tersenyum sumringah. “Hey.” Sapanya.

Yoona terhenyak dengan mulut yang sedikit menganga. Detik berikutnya, dilihatnya tubuh Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kau…”

“Ya, ini aku Oh Sehun. Jadi, bagaimana? Bukankah ini bagus?” Sehun berputar sekali dengan gaya maskulin ala pria dewasa.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Apa? Aku baik. Sangat baik.”

“Cepat ganti pakaianmu! Itu tidak cocok. Sehun yang biasa kulihat berpenampilan urakan, tidak rapi seperti ini.” Yoona menggeleng dan menepis kasar jas berwarna biru donker yang dipakai Sehun.

Yoona berniat melanjutkan langkahnya. Namun, Sehun menahannya dengan ucapan.

“Aku melakukan ini semua untukmu, noona. Aku merubah penampilanku agar kau tidak malu saat berjalan bersamaku. Aku juga bersikap layaknya orang dewasa agar kau merasa nyaman berada didekatku. Apa itu salah?” Suara Sehun yang cukup keras dan lantang membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Yoona menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang tiba-tiba mendesak untuk tumpah. Dihampirinya Sehun yang masih berdiri beberapa meter darinya.

*plak

Yoona menampar pipi Sehun.

“Menyerahlah! Tidak peduli seberapa banyak perubahan atau usaha yang kau lakukan, aku akan tetap menganggapmu sebagai adikku, tidak lebih.”

Mata Sehun berkaca, menyiratkan kepedihan luar biasa. “Kau mencintaiku?”

Skak mat. Sehun tiba-tiba memberi pertanyaan yang sangat sulit. Yoona enggan menjawabnya karena dia sendiri bahkan tidak benar-benar memahami apa kemauan hatinya. Dia takut salah berucap. Tapi bila tetap dibiarkan seperti ini, Sehun akan terus mengejarnya.

“Tidak.”

Satu kata itu menjadi momok paling menakutkan untuk Sehun. Dunianya seakan hancur dalam sekejap mata. Yoona terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Wanita itu bahkan tidak gentar sedikitpun. Setelah mematahkan hati Sehun dengan penolakan, Yoona kemudian pergi.

Sehun langsung jatuh terduduk. Tidak peduli setelan jas yang baru dibelinya akan kotor atau apapun. Dia sudah tidak kuat menahan luka dihatinya. Sesak.

Sooyoung dan Yuri yang menjadi penonton turut prihatin dan menyesalkan tindakan Yoona yang terbilang keterlaluan. Mereka tahu betul bagaimana sakit serta malunya harga diri Sehun.

***

Hampir 3 bulan berlalu setelah kejadian memilukan dilobi kantor Yoona. Semenjak itu, Sehun tidak lagi muncul dihadapannya, tidak pula memberinya kabar, atau bahkan mengantar dan menjemputnya bekerja. Yoona menyadari ada sesuatu yang hilang saat Sehun tidak lagi melakukan semua kebiasaan itu.

Malam ini, Yoona berencana pergi ke pub. Rasanya sudah lama dia tidak bersenang-senang ketempat hiburan malam seperti itu. Dulu dia akan pergi bersama Luhan atau Sehun. Dan kini, dia bahkan hanya seorang diri. Sooyoung dan Yuri yang diyakini mau menemaninya, nyatanya sedang repot dengan kesibukan masing-masing. Yoona merasa kesepian.

High heels 5 cm yang Yoona pakai menapak dipintu masuk pub. Tempat ini masih saja ramai. Tapi sekalipun berada dikeramaian, aku masih merasa sendiri. Yoona berjalan menuju sofa merah disudut. Dia tidak ingin minum, menari diantara kerumunan orang diujung saja, atau apapun. Dia hanya butuh tempat yang ramai untuk menghilangkan stress.

Saat menoleh, tanpa sengaja mata Yoona menemukan sesosok laki-laki yang begitu dikenalnya sedang merangkul mesra salah satu wanita pengibur di pub itu. Matanya langsung memerah menahan amarah. Dia tidak suka, tatapan lembut laki-laki itu atau senyuman manisnya diberikan pada wanita lain dan bukan dirinya. Dengan segala keberanian, Yoona menghampiri laki-laki itu.

“Sehun…” Lirih Yoona dengan tangan mengepal.

Sehun yang baru ingin mencium pipi wanita penghibur itu langsung mengurungkan niatnya, melihat Yoona kini berada tepat dihadapannya. “No-noona… I-ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Elak Sehun, mencoba menjelas kesalahpahaman yang terjadi.

Yoona tidak ingin mendengar apapun. Dia langsung saja membalikkan badan dan menjauh. Membuat Sehun mendengus frustasi sambil mengacak rambutnya.

Shit!

Si wanita penghibur yang melihat kemarahan Sehun langsung menyingkir. Dia tidak ingin menjadi pelampiasan. Dia dibayar untuk menghibur dan melayani, tidak untuk dimaki dan dimarahi.

Kepala Sehun tertunduk lemah. Seharusnya dia senang, Yoona tidak lagi peduli padanya. Sehingga mungkin dengan itu, dia akan cepat membenci dan melupakan wanita itu. Namun, perasaan sedih dan bersalah justru menggerogoti hatinya.

*sret

Sehun langsung mendongak kaget saat seseorang menarik paksa kerah jaketnya. Dia diseret oleh orang itu keluar dari keramaian didalam pub. Sehun tahu siapa yang melakukannya. Dia hanya tersenyum.

Orang itu menghela nafas panjang dan sedikit ngos-ngosan sesampainya diluar pub. Sehun mengamatinya sambil menahan tawa.

“Apa?” Tanya orang itu sinis.

Sehun hanya menggeleng, “Tidak.”

“Lalu apa yang kau tertawakan?”

“Lalu kenapa kau masih peduli padaku?” Sehun memutar balik pertanyaan orang itu dengan pertanyaan lain.

Orang itu terlihat sedikit gelagapan. Namun, detik berikutnya dia berusaha bersikap tenang. “Apa yang kau lakukan didalam tadi?” Tanyanya.

Sehun mengerutkan kening, “Apa?”

“Bersama wanita bermake-up tebal.”

“Bukankah kau yang menyuruhku mencari kesenanganku sendiri. Dan aku sedang mencoba bersenang-senang dengan wanita itu.” Jawab Sehun santai.

Orang itu yang tidak lain adalah Yoona langsung memukuli dada Sehun dengan tangan mungilnya. Jawaban Sehun menyebalkan. “Kurang ajar. Sialan. Brengsek.” Racaunya.

Sehun hanya diam dan terus mendengarkan.

Yoona kemudian menghentikan pukulannya dan menyandarkan kepalanya ke pundak Sehun. Dia sedikit terisak. Sehun sudah bahagia tanpamu. Kenapa kau datang dan menghancurkan hidupnya lagi? Yoona semakin sesenggukan saat mengingat betapa bodohnya dia menolak perasaan Sehun dulu.

Sehun mengelus punggung Yoona lembut. Didekapnya wanita yang terlihat lemah itu. sesakit apapun hatinya dulu karena penolakan wanita itu, tapi tetaplah masih tersimpan rasa cinta yang begitu besar. Entahlah, mungkin ini terdengar klasik. Namun, nyatanya memang perasaan seperti itulah yang mendominasi hatinya.

“Jangan menangis.”

Isakan Yoona semakin menjadi, “Ma-maaf.” Lirihnya dengan terbata.

Kali ini Sehun tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak mendekap wanita itu. Telinganya serasa terbakar mendengar suara tangisan wanitanya. Dia ingin menjaga air mata itu. “Noona, kau akan baik-baik saja. Ada aku disini.”

Yoona mendongakkan kepala. Ditatapnya manik mata Sehun dalam, “Mu-mungkin aku tidak pantas bertanya tentang ini, tapi… Apa kau masih mencintaiku?”

Nafas Sehun seperti terhenti sepersekian detik. Membuatnya terdiam bak patung.

“Seharusnya aku tahu kau pasti membenciku. Kenapa aku bodoh sekali masih menanyakan hal itu, haha.” Yoona memukuli kepalanya sendiri lalu tertawa seperti tidak pernah terjadi sesuatu. Mungkin dia terlihat gila sekarang. Dan itu karena Sehun.

Sehun bergerak cepat menarik kepala Yoona hingga bibirnya bertemu dengan bibir pink wanita itu. Dia menciumnya lama. Menikmati setiap pagutan lembut bibir mereka.

Perlahan Sehun menjauhkan wajahnya dari wajah Yoona. Namun, jarak mereka masih cukup dekat, hingga deru nafas lembut mereka saling bertumbukan, menyapu wajah keduanya.

“Kau pasti tahu jawabannya.” Ucap Sehun sembari membelai pipi Yoona, sedikit mengusap jejak air mata yang mulai mengering diwajah cantik itu.

Yoona memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan sentuhan Sehun. “Hm. Kau sangat membenciku.” Hampir saja air mata Yoona tumpah, sebelum akhirnya Sehun mendaratkan bibirnya dikelopak mata Yoona yang masih terpejam. Yoona terhenyak.

“Kenali diriku lebih dalam. Kau masih belum mencobanya, noona.” Sehun terkekeh. Lalu menjauhkan lagi wajahnya dari wajah Yoona.

“Ap-apa?”

“Aku mencintaimu.”

1 detik. 2 detik. 3 detik.

Yoona masih mencoba mencerna kalimat Sehun. “Ak-aku mencintaimu?” Ulangnya.

Sehun mengangguk, bersamaan dengan satu tetes air mata yang kembali menitih dipipi Yoona. Rasanya sudah banyak kali Yoona menangis, terhitung malam ini saja.

“Ap-apa bagusnya aku ini? Kenapa kau tetap mencintaiku bahkan disaat aku terus menyakitimu?” Yoona mengusap air matanya kasar. Sekarang, dia bahkan lebih tampak seperti remaja labil yang menangis karena cinta. “Bila kau mau, kau bahkan bisa mendapatkan gadis lain diluar sana yang lebih cantik, lebih muda dariku.” Lanjutnya.

Tawa Sehun menggelegar. Sejujurnya, dia tidak pernah berpikiran tentang hal itu. Dan sepertinya dia akan mulai memikirkannya sekarang. Mencari gadis lain yang lebih cantik dan lebih muda dari Yoona, itu bukanlah ide buruk. Tapi Sehun tidak yakin benar-benar bisa melakukannya. Matanya hanya tertuju pada wanita itu, tidak peduli banyak gadis lain diluar sana yang jauh lebih sempurna. Yang diinginkan Sehun hanyalah Yoona, wanita itu saja. “Kau tidak akan menyesal menyuruhku mencari gadis lain?” Godanya.

“Kenapa kau begitu menyebalkan?” Rengek Yoona seraya memukuli dada Sehun untuk yang kedua kali.

Sehun menahan tangan Yoona. Ditariknya Yoona semakin merapat padanya. “Jadi, apa sekarang kau menerimaku?”

Yoona hanya mengangguk dua kali lalu melirik malu kearah Sehun. “Kau tahu, saat aku menolakmu dan memintamu mencari kebahagiaanmu sendiri, itu hanya alasan karena aku tidak ingin mengekangmu di usiamu yang masih 17 tahun ini.” Yoona menarik nafas. “Tapi ternyata tidak bisa. Karena aku terlalu menyukaimu.” Terang Yoona. Disentuhnya rahang tegas Sehun.

Sehun hanya mengangguk paham. “Jangan terlalu dipikirkan. Bukankah sekarang kita sudah bersama?”

Setelah saling melempar senyum, bibir mereka kembali berpagutan.

Tadinya kupikir dia akan selalu seperti asap yang tidak dapat kusentuh. Tapi, meskipun sudah kusentuh, ternyata dia tidak lenyap…

—THE END—


Terinspirasi dari komik “Chasing Love” karya MIZUTANI Ai.

Advertisements

22 thoughts on “[Oneshot] Let Me Be The Man Who Loves You

  1. Aaaah…salut banget sama perjuangan Sehun mencintai Yoona,mantan kekasih Luhan kakaknya.Meski awalnya Yoona menolak,bukan menolsk karena tidak mencintai Sehun,tapi Yoona menolak karena tidak ingin Sehun terkekang diusianya yang masih 17 tahun.Dan akhirnya Yoona sendiri merasakan sakit melihat Sehun bersama wanita penghibur.Hingga perasaan cinta Sehun kepada Yoona tidak sia sia dan berbalas…😍😍😍😍😘😘

  2. Sempat kshan ama Sehun tp untung aj Yoona sadar dan untung jg Sehun cintanya mash utuh pd Yoona. Daebak..

  3. Wihhhh keren ini ff. Bikin jantung gw naik turun dag dig dug 😀 cinta ga pandang usia 😀 sehun emang paling cocok sama noona”. khususnya YoonA 😀 ♥

  4. Apa nih? Keren sangat laaa , huwee sehun nya alamak oyy :v . Udah deh hidup bahagia aja kalian bedua , ni author keren bat dah , ga gantung , bahasanya simple tapi ga mengurangi kekerenan ffmu thorr , mudah dipahami alurnya ga belibet keren dah . Fighting ^^

  5. Yaaampun apa cuma gue yang nangis baca ini? Serius thor ini keren banget. Keren banget banget. Mau sequel doong atau buat yang kaya gini tapi lebih mantap lagi wkwk😂 (banyak maunya) tapi serius kebawa banget feelnya, sehun yang masih babyface sama yoona yang udab kerja gitu. Astagaaa author makasih yaa❤❤ selalu berkarya! Btw makasih explictnya menyegarkan haha

  6. Keren thor crtanya.. akhirnya prjuangan sehun buat dpetin hti yoona eonni ga sia2.. happy ending

  7. Kerennn.. Sukaaa
    Pesen donk cowo satu cem Ohse tp yg ga ngerokok xD
    Bener2 kek kehidupan korea2 ya, lg jamannya pacaran ama noona2 *lirik Ahn Jaehyun+Goo Hyesun, udah mau nikah jg keknya?/ apalah jd kemana2 heheh

    Ditunggu ff yg lainnya ya thor~

  8. Suka bgt…. Sehun baik bgt di sini… apa keluarganya setuju dengan Yoona yang berstatus mantan luhan ??? sequel thor

  9. Keren certa
    Akhirnya happy end
    Beda jauh umur mereka
    Tpi kalau udh cinta mah susah
    D tunggu ff lainny
    Fighting:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s