[Oneshot] One Night Stand

One Night Stand
Im Yoona | Kim Jongin
Romance
Copyright © February 2016 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Kai terlihat sedang duduk santai disofa didalam sebuah kamar hotel. Beberapa menit yang lalu, ia telah memesan seorang wanita penghibur dari sebuah agen jasa prostitusi. Mungkin ini terdengar gila, mengingat Kai baru berusia 17 tahun. Dan tanpa sadar akan hal itu, ia berani menyewa wanita penghibur untuk sekedar bersenang-senang.

Seorang wanita berusia sekitar 21 tahun berpenampilan cukup berani, dengan sebuah hotpants berbahan jeans dan juga kemeja putih yang dua kancing teratasnya sengaja dibiarkan terbuka, sedang sibuk mencari nomor kamar hotel kliennya. Dia telah diberitahu oleh bossnya untuk menemui klien dikamar hotel nomor 1728. Sedari tadi matanya melirik kesana-kemari, mencoba menemukan letak kamar itu. Hingga beberapa menit kemudian, ia melihat sebuah pintu dengan nomor yang ia cari. Sambil sedikit merapikan penampilannya, wanita itu masuk kedalam kamar tersebut, tentu saja menggunakan kunci cadangan yang telah bossnya berikan.

“Apakah ada orang didalam?” Wanita itu berjalan perlahan. Dia memutarkan pandangannya dan sedikit berteriak mencari kliennya. Mungkin saja, sang klien sedang mencoba mempermainkannya dengan bersembunyi, pikiran para lelaki hidung belang itu siapa yang tahu. Yoona—wanita itu terus melangkahkan kakinya, hingga ia mencapai kamar utama ruangan itu. “Selamat malam, apa kau sudah lama menunggu, tuan?” Sapa Yoona dengan suara menggodanya. Disana, disofa dekat ranjang, dia bisa melihat kliennya sedang duduk sambil memainkan ponsel. Langkahnya semakin mendekat kearah kliennya itu. Dia berdiri tepat dihadapan kliennya, menyunggingkan senyuman termanis. Dengan begitu, mungkin kliennya ini berniat menambahkan tips.

Kai mengangkat wajahnya. Baru saja, suara seorang wanita membuyarkan konsentrasinya saat ia sedang mengutak-atik ponsel. Wanita itu terlihat sedikit terkejut. Entahlah, memang ada yang salah dari diri Kai? Kenapa wanita itu menunjukkan ekspresi yang begitu berlebihan? Namun, Kai tidak ingin terlalu memikirkannya. “Selamat malam, nona.” Kai membalas sapaan wanita itu tadi.

“A-apa benar kau yang menyewaku?” Tanya Yoona cepat.

Kai hanya menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. “Ya. Lalu?” Jawabnya singkat.

Yoona tersenyum tidak percaya. Laki-laki dihadapannya terlihat masih begitu muda, ah mungkin lebih seperti anak kecil. Dan yang benar saja Yoona harus melayani bocah ingusan seperti itu. “Apa kau bercanda? Kau masih pelajar, kan? Lebih baik sekarang kau pulang dan menyelesaikan pekerjaan rumahmu.”

Kai mengangkat ujung bibirnya, terlihat menyeringai. Wanita dihadapannya terlalu menganggapnya rendah. Dia bukan bocah ingusan seperti yang wanita itu pikir. “Sekalipun aku seorang pelajar, aku sanggup membayarmu. Aku bahkan sudah membayar mahal untuk ini, dan kau justru menyuruhku pulang? Apa kau yakin aku akan mendapatkan kompensasi?”

Yoona mendekat dan ikut duduk disamping Kai. Dia tidak melepaskan tatapan humornya kepada laki-laki itu. Sungguh, baru kali ini ia mendapat klien dibawah umur. Namun, dilain sisi ia juga sedikit kesal melihat kesombongan Kai dengan membicarakan uang dan bayaran. “Baiklah. Kau memang sanggup membayarku. Tapi bagaimanapun aku tidak bisa melakukannya denganmu. Kau bahkan lebih cocok menjadi adikku, daripada menjadi partner one night standku.” Tangan Yoona menyentuh kepala Kai pelan, seperti menyentuh kepala adiknya. Dia tersenyum gemas tanpa menyadari bahwa laki-laki itu tidak menyukai perlakuannya. “Ah iya, kita belum berkenalan. Siapa namamu, adik kecil?” Tanya Yoona dengan nada yang dibuat selucu mungkin.

Kai hanya mendengus. Cukup, dia bukan anak kecil, oke. Dan wanita itu benar-benar memperlakukannya seperti bocah ingusan. Kalau memang benar dia anak kecil, untuk apa ia mencari kesenangan ketempat ini. Bukankah kamar hotel dan wanita penghibur hanyalah mainan para orang dewasa? “Kai. Dan kau, nona…?” Kai memanjangkan kalimatnya dibagian nona, agar wanita itu menyebutkan identitasnya.

“Yoona, Im Yoona.” Yoona menjawab dengan sedikit acuh. Dia lebih tertarik dengan desain interior kamar hotel ini, daripada menjawab pertanyaan bocah ingusan itu, Kai? Bukankah itu namanya? Matanya kembali berputar mengamati satu per satu barang-barang mahal didalam kamar itu, tanpa beranjak dari duduknya. Sesekali dia berdecak kagum, baru kali ini ada klien yang mengajaknya menghabiskan malam dihotel bintang lima, mewah lagi mahal seperti ini.

Senyuman merendahkan mengembang begitu saja dibibir Kai. Ternyata wanita itu baru pertama kali menginjakkan kaki dihotel semewah ini. Berani sekali dia menganggap Kai sebagai bocah ingusan, sedang dirinya sendiri terlihat begitu takjub hanya karena dibawa kesini. “Ingin minum sesuatu, Yoona-ssi?” Kai berbasa-basi menawarinya minuman.

Yoona terlihat menimbang-nimbang, namun pada akhirnya mengangguk. Tentu saja dia butuh minuman. Sejujurnya tenggorokannya begitu kering, setiap kali harus berhadapan dengan klien. Namun, sepertinya malam ini ia tidak akan setegang malam-malam sebelumnya, karena Kai mungkin akan berpikir beribu kali untuk menjamahnya. “Kau tidak akan menambahkan obat tidur diminumanku, kan?” Goda Yoona, membuat Kai yang sedang menelepon layanan kamar untuk memesan tertawa geli.

Yoona sedikit merebahkan punggungnya disandaran sofa. Rasanya begitu empuk dan nyaman. Ia tersenyum senang, sesekali memekik tanpa suara. Firasatnya mengatakan bahwa malam ini akan menjadi malam ringan tanpa beban untuknya. Ia kembali menegakkan punggungnya dan mengamati kesana-kemari. Diatas ranjang yang masih rapi, ia menemukan sebuah tas. “Miliknya?” Gumam Yoona. Dia kemudian meraih tas itu. Awalnya dia hanya penasaran dan ingin memastikan bahwa Kai benar-benar seorang pelajar. Hingga akhirnya semua rasa penasarannya terjawab setelah ia menemukan selembar kertas berisi nilai ulangan matematika Kai yang hanya mendapat nilai 40. “Astaga! Apa dia sebodoh itu?” Gumam Yoona lagi, lebih pada dirinya sendiri.

“Apa yang kau lakukan dengan tasku?” Mata Kai sedikit membelalak saat mengetahui Yoona sedang membuka tasnya. Dia tidak suka privasinya dilihat orang lain. Namun, mengetahui itu semua, dia tidak merasa marah atau kesal pada Yoona. Dia justru malu. Terlebih, Yoona sudah menemukan kertas ulangan matematikanya. “Apa kau sedang menertawakanku karena nilai sialan itu?” Tanya Kai sinis. Dia meletakkan dua gelas jus yang baru saja ia terima dari pelayan kamar.

Tawa Yoona sontak menggema. Dia sudah berusaha menahannya, tapi tetap saja tidak bisa. Dia tertawa bukan lantaran mengejek nilai Kai yang buruk, justru ia begitu geli melihat ekspresi Kai yang seperti anak kecil, berbeda 180˚ dari beberapa menit yang lalu saat mereka pertama bertemu. “Maaf. Aku tidak bermaksud mengejek. Aku hanya…” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Yoona sudah kembali tertawa. Kai hanya cemberut. “Jangan khawatir. Em…bagaimana jika aku membantumu. Sepertinya aku masih sedikit ingat tentang materi ini.” Yoona menatap Kai dengan takut-takut. Dia tidak berniat menjadi sok pintar, hanya saja dia ingin membantu. Dan tentang ia masih ingat materi itu, percayalah Yoona memang mengingatnya. Dia selalu menjadi ranking pertama dikelas saat ia masih sekolah. Bukan bermaksud sombong pula.

”Kau mengajariku? Apa kau yakin? Berapa usiamu?” Kai bertanya dengan penasaran. Memang jika dilihat keseluruhan, Yoona masih cukup muda. Wajahnya juga masih cantik, bahkan tanpa kerutan. Kulitnya mulus, dan bibirnya masih ranum. ‘Shit! Kau mulai berpikiran kotor, Kai.’ Ia sedikit merutuki dirinya dalam hati. Berlama-lama melihat Yoona memang menimbulkan gairah dalam dirinya. Mungkin efek karena Yoona adalah wanita penghibur, menurutnya.

Yoona tersenyum menggoda. Dia mendekatkan wajahnya kewajah Kai dan sedikit menggigit-gigit bibir bawahnya. “Kau benar-benar ingin tahu?” Suara Yoona terdengar berubah. Dan ditelinga Kai, suara itu bagaikan desahan yang menggodanya untuk segera menghabiskan malam dengan wanita itu. Tangan Yoona bergerak mengelus dada Kai yang masih terbalut kemeja putih, sepertinya seragam sekolah. “21 tahun, adik kecil.” Dan semua rayuan, godaan yang diluncurkan Yoona hilang begitu saja dari kesan seksi saat wanita itu lagi-lagi menyebut Kai sebagai adik kecil. Hal itu langsung membuat mood Kai turun. Padahal, tadi ia sudah berpikir bahwa Yoona ingin membuatnya tegang lalu memuaskannya setelah itu. Namun, nihil.

“Baiklah. Aku setuju.” Jawab Kai akhirnya, mengiyakan tawaran Yoona tentang membantunya belajar.

Entah mengapa Yoona begitu senang saat laki-laki itu menerima tawarannya. Padahal mengajar bukanlah pekerjaannya, tapi ya sudahlah Yoona akan mencoba. “Dan kita mulai malam ini. Bagaimana?”

Kai memutar bola matanya malas. Rencananya untuk bersenang-senang batal, dan sekarang berubah menjadi acara belajar bersama. Sejujurnya dia begitu menghindari yang namanya belajar, tapi pada akhirnya ia mengangguk. Entah sudah berapa kali Kai mengiyakan saja tawaran-tawaran wanita itu. “Terserah.”

Yoona sedang sibuk menjelaskan beberapa soal yang telah ia jawab pada Kai. Dia terlihat begitu sabar menjelaskan langkah demi langkah untuk mengerjakan soal matematika yang menurut Kai sangatlah memuakkan. Sebenarnya, Kai tidak terlalu fokus pada penjelasan Yoona. Sekilas memang Kai terlihat memperhatikan wanita itu. Namun, pada nyatanya bukanlah penjelasan mengenai soal matematika yang menjadi perhatiannya, melainkan gerak bibir wanita itu. Benda kenyal berwarna pink milik wanita itu begitu menggoda, membuat Kai terus saja mendesah pelan.

“Kau mendengarku?” Yoona menatap Kai intens. Dia menyadari Kai terus-terusan mengalihkan pandangan darinya. Awalnya memang Kai terlihat fokus pada penjelasannya, tapi semakin kesini Kai semakin kehilangan konsentrasinya.

Kai memijit keningnya pelan, masih mencoba mengalihkan pandangan dari Yoona. “Ya,” Setelah itu Kai beranjak dari duduknya. “Aku ingin mandi. Lakukan apapun yang kau inginkan.” Begitu selesai berpesan, Kai langsung meninggalkan Yoona menuju kamar mandi. Yoona hanya dapat melongo bingung. Apakah dia baru saja ditinggalkan?

Selagi menunggu Kai selesai mandi, Yoona mematut dirinya didepan cermin. Dia mengamati wajahnya hingga bentuk tubuhnya yang ia rasa kurang berisi. Pantas saja Kai tidak bereaksi apa-apa melihatnya. Dia bahkan sudah mengekspos pahanya lebar-lebar, dia juga sudah sengaja memperlihatkan belahan dada dari 2 kancing kemeja yang ia biarkan terbuka. Hah? Apa Yoona menginginkan sesuatu terjadi dengan dirinya dan Kai? Gila. Sepertinya pikiran Yoona sudah mulai tidak waras. Yoona mendekatkan wajahnya kedepan cermin. “Mata panda ini muncul lagi.” Ia mengerucutkan bibirnya kesal. Karena sibuk dengan pekerjaan, dia jadi kurang bisa merawat diri. Padahal pekerjaan yang ia jalani begitu riskan, bersangkutan dengan penampilan.

Suara gemercik air dari kamar mandi sudah tidak terdengar. Mungkin Kai sudah selesai mandi. Entah dengan alasan apa, Yoona refleks berbalik memunggungi cermin dan menemukan sosok Kai baru saja keluar dari kamar mandi. Yoona berniat mengajaknya untuk meneruskan belajar, hingga mulutnya tiba-tiba saja menganga lebar. ‘Astaga! Apa dia benar-benar murid SMA? Tubuhnya begitu sempurna, otot-otot perut maupun lengannya sudah mulai terbentuk. Bahkan dibandingkan klien-klienku yang sudah lebih dewasa, Kai terlihat jauh lebih dewasa lagi.’ Batin Yoona takjub.

Kai berjalan santai menuju sofa. Dia hanya mengenakan celana kain—seragam sekolahnya, tanpa mengenakan atasan. Rambutnya masih basah, membuat beberapa bulir air jatuh keperutnya dan meluncur diatas sana. Pemandangan menarik untuk Yoona. Namun, ia sadar Kai masih dibawah umur.

Yoona kembali berbalik menghadap cermin. Dia menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan nafsunya pada bocah ingusan itu.

Kai menyeringai. Tiba-tiba terlintas ide jahil diotaknya. Tanpa Yoona sadari, ekspresinya yang sedang menahan gairah itu terpantul melalui cermin dihadapannya. Dan Kai tidak bodoh untuk mengartikan semuanya. Dia tahu, Yoona menginginkannya. Sedikit bermain-main sepertinya menyenangkan. Dengan langkah pelan tapi pasti, Kai mendekat kearah Yoona.

Yoona menyadari pergerakan Kai melalui bayangan dicermin. Segera saja dia membalikkan tubuhnya kearah laki-laki itu dan menatapnya dengan garang. ”Ap-apa yang akan kau lakukan, huh?” Tanya Yoona sedikit terbata. Namun, tidak mengurangi sedikitpun tatapan penuh selidiknya.

Kai semakin mendekat. Jarak mereka begitu rapat sekarang. Bahkan Yoona dapat merasakan deru nafas tenang Kai yang langsung menyapu sebagian wajahnya. Tidak sampai disitu, Kai juga semakin memajukan wajahnya kewajah Yoona. Siapapun yang melihat ini pasti akan mengira bahwa Kai berniat mencium Yoona. Percayalah, mereka terlihat begitu intim.

Kai tersenyum geli saat ia melihat Yoona mulai menutup mata. Ternyata berhasil. Menjahili Yoona sangatlah menyenangkan. “Kenapa kau menutup matamu? Berharap sesuatu terjadi?” Ledek Kai yang sontak membuat Yoona kembali membuka matanya dengan malu. Wajahnya kini bersemu merah. Kai benar-benar kurang ajar. Ternyata tidak terjadi apapun. Lalu apa maksud Kai berakting seolah ingin menciumnya?

“A-apa kau gila? Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu terjadi, terlebih sesuatu itu terjadi denganmu.” Yoona segera mendorong tubuh Kai menjauh. Dia kemudian duduk kembali disofa, berusaha menghidari tatapan mengejek Kai padanya dengan sok menyibukkan diri. “Ah, bagaimana dengan soal ini? Kenapa sulit sekali?” Gerutu Yoona seraya membolak-balikkan kertas yang tadi menjadi bahan ajarnya dengan Kai.

“Ingin makan sesuatu?” Kai kembali menawari Yoona, tanpa berniat membahas kejadian memalukan barusan.

Yoona mendengus pelan, mau menolak bagaimana lagi, dia sudah sangat lapar. “Baiklah. Bagaimana dengan sesuatu yang hangat?” Mata Yoona berbinar, membayangkan makanan lezat yang biasanya dia lihat ditelevisi.

Setelah memakai kemejanya, Kai menelepon layanan kamar dan memesan makanan. Yoona tidak menyebutkan jenis makanan apa yang ia inginkan, jadi Kai memutuskan untuk memesan sesuai dengan seleranya.

“Kualifikasimu cukup bagus. Otakmu cukup encer. Lalu, kenapa kau memilih untuk mengambil pekerjaan ini?”

Yoona menoleh kearah Kai yang kini sudah duduk disampingnya. “Aku bukan dilahirkan dikeluarga berkecukupan sepertimu. Aku hanya lulusan sekolah menengah atas. Ayahku tidak mempunyai uang untuk menyekolahkanku diperguruan tinggi. Itu alasan yang membuatku terpaksa mengambil pekerjaan ini.” Yoona tersenyum lega. Setidaknya ada orang lain yang tahu tentang dirinya yang sebenarnya.

Kai menghembuskan nafasnya pelan, “Apa pekerjaan ayahmu?”

“Dia pejudi. Setiap hari pekerjaannya hanyalah duduk didepan meja judi, membawa uang yang ia rampas dariku, dan mabuk-mabukan.” Mata Yoona sedikit berair, membayangkan bagaimana keadaan ayahnya yang semakin hari semakin memprihatinkan. Namun, Yoona tidak benar-benar menangis.

“Bagaimana dengan ibumu?” Tanya Kai lagi, seolah ingin mengorek lebih dalam tentang siapakah sosok wanita dihadapannya.

“Orang tuaku bercerai saat usiaku 7 tahun. Dan aku tinggal bersama ayahku. Aku tidak tahu keberadaan ibuku sejak perceraian itu. Ibuku juga tidak pernah memberikan kabar apapun.”

Kai turut prihatin dengan kondisi keluarga Yoona yang terbilang kacau. ternyata, bukan hanya dirinya yang kurang beruntung dilahirkan dikeluarga yang kurang harmonis, Yoona pun sama. Tapi Kai lebih beruntung. Orang tuanya begitu kaya, sehingga apapun yang butuhkan tentu akan terpenuhi. Sedang Yoona, wanita itu bahkan harus bekerja keras untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Setelah menikmati makan malam dalam suasana hening, Yoona berinisitif untuk kembali membuka percakapan. Setidaknya dia dibayar untuk menghibur kliennya, bukan mendiamkannya. “Ingin melakukan sesuatu?” Tawar Yoona seraya mengamati Kai yang sedang memandang layar televisi.

“Tidak.” Jawab Kai cepat dan singkat.

Yoona hanya dapat mendengus. Dia duduk diam disofa, tidak ingin lagi mengajak laki-laki itu bicara. Yoona sudah kapok diacuhkan seperti tadi, mungkin bukan diacuhkan hanya sedikit tidak dihiraukan.

***

Yoona mengerjapkan matanya, mecoba membangun kesadaran. Ia bisa menangkap silau matahari yang mulai menerobos celah fentilasi ruangan ini. Senyum Yoona mengembang, menyadari ada sebuah tangan kekar melingkar diperutnya. Yoona sedikit menggeser tubuhnya, menghadap pada Kai yang masih tertidur pulas disampingnya. Dia terus memandangi wajah Kai, dengan alis tebal, pipi tirus, rahang tegas, hidung mancung, bibir nan menggoda. Semua bagaikan potret sempurna dimata Yoona.

Kai melenguh pelan, sebelum akhirnya membuka mata. “Selamat pagi, Yoona-ssi.” Sapanya lembut.

“Selamat pagi, adik kecil.” Balas Yoona.

“Jangan memanggilku seperti itu! Menjijikkan.” Gerutu Kai kesal. Sepagi ini, Yoona bahkan sudah membuat masalah dengannya. Tanpa ragu, Kai merengkuh Yoona, membenamkan wajah wanita itu dalam dadanya. “Ini hukuman.” Ucapnya.

Yoona hanya terdiam saat tangan Kai mulai menariknya dalam pelukannya. Sungguh, pelukan Kai sangatlah hangat. Aroma tubuh bocah itu sangat maskulin. Yoona bahkan rela berlama-lama dengan posisi itu. Sepertinya dia akan mulai kecanduan dengan aroma maskulin ini.

“Jadi, berapa yang harus kubayar?” Kai melepas pelukannya dan bangkit. Dia sedikit mengacak rambutnya yang sebenarnya sudah acak-acakan.

Yoona mengubah posisinya menjadi setengah duduk. “Tidak perlu. Kita bahkan tidak melakukan apapun. Lagipula kau sudah membayar uang muka pada bossku, kan?”

“Kau merendahkanku lagi, Yoona-ssi. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa walaupun aku seorang pelajar, tapi aku memiliki banyak uang dan sanggup membayarmu.”

Yoona memutar bola matanya malas. Lagi-lagi bocah itu membahas soal uang dan bayaran. Oke, Yoona memang berharap mendapat tips, tapi tidak dari bocah itu. Dia tahu, Kai mendapat uang dari orang tuanya, dan itu bukan uang hasil keringatnya sendiri. “Terserah.” Jawab Yoona acuh. Percuma juga meladeni bocah keras kepala seperti Kai.

“Aku anggap itu sebagai jawaban iya.” Kai melempar banyak lembar mungkin hampir gepokan uang keatas ranjang. Yoona yang melihatnya hanya dapat berdecak kagum, tapi tetap saja dia tidak suka dengan lagak sombong bocah itu.

“Kau gila? Aku bahkan bisa kaya mendadak jika semua klienku sepertimu.” Yoona mengambil beberapa lembar dan menelitinya, seolah dia begitu takjub, seorang yang usinya bahkan lebih muda darinya memiliki uang sebanyak itu.

“Kalau begitu, aku akan menyewamu untuk malam ini, besok malam, dan malam-malam selanjutnya.” Sahut Kai.

Yoona otomatis membelalakkan mata. “A-apa? Kau benar-benar akan melakukannya?” Yoona sebenarnya tidak terlalu terkejut, mengingat Kai benar-benar anak konglomerat kaya. Mudah saja untuk Kai menyewa wanita penghibur sepertinya.

“Aku akan membicarakannya dengan bossmu. Aku tidak hanya akan menyewa tapi juga membelimu.” Kai berucap dengan santai. Dia benar-benar tidak peduli dengan ekspresi Yoona yang begitu terkejut mendengar penuturannya barusan.

“Dasar gila!” Yoona merutuki Kai asal. Bahkan setelah mengatakan hal penting itu, Kai pergi begitu saja meninggalkannya. Namun, beruntung kemarin mereka sempat bertukar nomor ponsel. Nanti, Yoona pasti akan menghubunginya dan meminta penjelasan.

***

Dan benar saja, tadi pagi setelah kembali dari hotel, Yoona segera pergi ketempat agen jasa penyewaan wanita penghibur yang menaunginya. Dia terkejut setengah mati saat sang boss yang begitu membanggakannya dan menjadinya produk unggulan melepasnya begitu saja. Bossnya mengatakan bahwa ada anak muda yang berani membelinya mahal. Dan bossnya itu langsung menyetujui untuk menyerahkannya sebagai peliharaan pemuda itu, bahkan tanpa sepengetahuan dan persetujuannya.

“Dasar pria tua mata duitan! Kenapa dia bisa semudah itu menjualku? Memangnya berapa harga yang bocah ingusan itu tawarkan? Ck.” Yoona berdecak kesal sambil menenteng kopernya. Tentu saja setelah dijual, dia akan didepak dari tempat itu oleh bossnya. Dia bukan tanggungan agen itu, karena dirinya sudah dibeli. “Lalu dimana aku harus tinggal?” Gumam Yoona memelas. Dia tidak mungkin pulang kerumah, ayahnya pasti akan menyiksanya dan menyuruhnya mencari uang sebanyak-banyaknya untuk berjudi. Yoona tidak ingin. Dia sudah terlalu sering mendapat perlakuan kasar dari pria tua itu. Namun, Yoona bukanlah anak durhaka. Dia akan tetap mengirimi ayahnya uang barang sebulan sekali.

“Datanglah keapartmentku!”

Yoona membuka ponselnya dan menemukan pesan itu dari nomor yang baru semalam ia dapat, Kai. Bocah itu menyuruhnya datang keapartmentnya, dia juga telah mengirim alamat apartment itu. Yoona menduga, pastilah kawasan itu begitu elit. Dilihat dari namanya saja sudah bisa tertebak. Dengan sedikit malas, Yoona menuruti saja perintahnya. Dia kemudian menghentikan sebuah taksi dan meminta supir itu mengantarnya kealamat yang ia sebutkan.

Yoona beberapa kali menekan bel apartment Kai. Namun, belum ada jawaban dari sang pemilik apartment. Dia mendengus kesal. Mungkinkah bocah itu mengerjainya? Yoona akan mecobanya sekali lagi, dan tepat sebelum ia menekan bel itu, pintu coklat dihadapannya terbuka. Menampilkan sosok Kai yang mengenakan pakaian santai, sebuah kaos dan celana pendek. Bocah itu terlihat semakin dewasa. “Kenapa lama sekali, huh?” Kesal Yoona, yang tanpa permisi masuk begitu saja kedalam apartment.

Kai mengikuti Yoona dari belakang tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu. Lagipula, ini apartmentnya, dan wanita itu tidak memiliki hak untuk memaksanya, oke.

Yoona langsung duduk disofa yang tidak kalah empuk dari sofa kamar hotel kemarin. “Kau tinggal sendirian?” Tanya Yoona antusias.

“Mulai detik ini aku akan tinggal berdua, denganmu.”

Yoona memicingkan matanya, “Jadi, ini alasan kau membeliku, untuk menjadikanku pelayan diapartmentmu. Begitukah?” tebak Yoona.

Kai hanya tersenyum, “Akhirnya kau tahu.” Jawab Kai seadanya.

Setelah meletakkan tas kecil dan ponsel diatas meja, Yoona melesat begitu saja kedapur. Entah sejak kapan, dia mengetahui tentang seluk beluk apartment ini. “Aku haus. Aku akan mengambil minumanku sendiri.” Teriak Yoona.

Yoona mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan menuangkannya ke gelas yang sudah ia siapkan dimeja makan. Ia meneguk air itu pelan, menikmati setiap sensasi saat air itu membasahi tenggorokannya.

*Greb

Yoona merasakan sebuah tangan memeluknya erat. “Kai, apa itu kau?” Tanya Yoona. Seingatnya diapartment ini hanya ada mereka berdua. Yoona hendak membalikkan tubuhnya, tapi dengan cepat Kai menahannya dengan mengeratkan pelukannya dipinggang Yoona.

“Jangan berbalik. Biarkan seperti ini, hanya 5 menit.” Kata Kai tenang.

 

Yoona hanya diam, menikmati hembusan nafas Kai yang tenang mengenai lehernya.

“Kau tahu, setelah pertemuan kita kemarin, aku bahkan tidak bisa sedikitpun melupakanmu.” Kai mengakui, ia sudah terpesona dengan sosok Yoona yang telihat berbeda dimatanya. “Kau memang melakukan pekerjaan kotor ini. namun, aku tahu bahwa kau melakukannya karena himpitan keadaan.” Kai tersenyum, seraya menciumi bahu Yoona yang tertutup sweeter abu-abu.

Yoona masih terdiam. Dia tahu, Kai masih memiliki sesuatu untuk diucapkan. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya panjang.

“Alasanku membebaskanmu dari pekerjaan kotor itu bukan untuk menjadikanmu pelayan, tapi…” Kai menggantungkan kalimatnya. Dia masih telihat gugup untuk mengatakannya, hingga mau tidak mau ia harus tetap mengatakannya. Tidak ingin menyesal karena terlambat mengakui itu semua. “Aku tidak ingin memilikimu dalam waktu semalam, aku ingin memilikimu selamanya. Selama udara masih mengalir dalam hidupku, selama Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjaga dan mencintaimu. Aku ingin terus melakukannya.”

“Bolehkan aku berbalik sekarang?” Tanya Yoona. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak terharu mendengar pengakuan Kai, laki-laki yang baru dikenalnya tadi malam. Yoona juga merasakan hal yang sama. Setelah pertemuan semalam, dia memang tidak bisa melupakan sosok Kai bahkan bayangan bagaimana laki-laki itu bersikap dingin dan terlihat enggan dengannya, begitu jelas tergambar diotak Yoona.

“Jangan. A-aku malu.” Aku Kai. Membuat Yoona terkekeh dan mengabaikan peringatannya untuk tidak berbalik. Yoona langsung memeluk Kai, menyalurkan perasaan bahagia sekaligus haru. Tanpa terasa air mata mengalir begitu saja, ikut mengiringi kebahagiaannya.

Kai membalas pelukan Yoona. Ia sedikit mengangkat tubuh mungil Yoona dalam dekapannya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Yoona yang baru kali ini benar-benar bisa ia rasakan.

“Apakah sudah ada laki-laki lain yang pernah menjamahmu?” Kai melepas pelukannya dan mengamati Yoona dengan tatapan menggoda. Sebenarnya dia tahu, belum ada laki-laki manapun yang pernah menjamah Yoona sebatas memegang tangan. Walaupun Yoona wanita penghibur, tapi Kai tidak pernah menganggapnya begitu. Mana ada wanita penghibur yang memakai celana jeans dan kemeja rapi seperti kemarin? Kai tidak berpikir bahwa Yoona adalah wanita one night stand, dan justru menduga mungkin Yoona salah kamar hingga tersesat dikamarnya.

Yoona mengendurkan tangannya yang sedang merangkul leher Kai. Dia tidak suka dengan pertanyaan itu. Tentu saja, tidak ada. Bagaimanapun juga, Yoona adalah wanita one night stand kelas atas. Hanya laki-laki berdompet tebal yang bisa membawa Yoona kekamar hotelnya. Dan sudah barang tentu, bossnya selalu memilihkannya klien-klien terbaik. Dia tidak ingin pekerja terbaiknya dinodai oleh sembarang orang. “Bukankah kau tahu seleraku, hm?” Yoona sedikit mengangkat dagunya.

Kai terkekeh. Dia kemudian sedikit merunduk dan membisikkan sesuatu ditelinga Yoona, “Apa aku termasuk seleramu?”

“Tentu saja.” Jawab Yoona cepat, tanpa berpikir. Lagipula hanya wanita dungu yang mampu menolak pesona seorang Kim Jongin. Dan Yoona bukan salah satunya.

Perlahan Kai mendekatkan wajahnya kewajah Yoona. Lalu dengan selembut mungkin mulai menempelkan bibirnya diatas bibir pink wanita itu. Ia mengecup, melumat, menggigit bahkan mengeksploitasi bibir dan mulut Yoona, seakan ini adalah kesempatan langka yang hannya datang sekali seumur hidup. Padahal, jika memang dia dan Yoona berjodoh hingga pelaminan, mungkin dia bisa melakukannya setiap hari.

Yoona hanya mengikuti permainan Kai. Sesekali ia membalas lumatan laki-laki itu dan memberi akses untuk laki-laki itu bermain didalam mulutnya.

Entah sejak kapan Kai mulai berpikiran untuk bersekolah dengan sungguh-sungguh, hingga ia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dan kemudian mendapat pekerjaan yang mapan dengan usahanya sendiri. Mungkin untuk beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun kedepan dia masih harus menggunakan uang orang tuanya untuk menghidupi Yoona. Tapi Kai berjanji, setelah ia menamatkan pendidikan dan menghasilkan banyak uang, ia akan membahagiakan Yoona dengan hasil keringatnya sendiri. ‘Untuk itu bersabarlah, Im Yoona. Aku mencintaimu.’

Kai mengangkat tubuh kurus Yoona dan membawanya kekamar. Bahkan wanita itu bisa tertidur saat mereka sedang berciuman mesra. Entah apa yang akan terjadi beberapa tahun yang akan datang, saat mereka melewati malam pertama. Mungkin saja saat Kai sedang berada dipuncak gairahnya, wanita itu justru tertidur pulas dan membiarkan Kai mengerang karena harus menahan keinginannya.

—THE END—

Advertisements

21 thoughts on “[Oneshot] One Night Stand

  1. Sequell dong,,saat kai dewasa…
    Heemm atw di bikin chapter seru tuuh… Di tunggu yaaa..

  2. Akhrnya update jg. Ampun dah, Kai d’sini msh 17 tahun tp kyak ud dewasa aja. Untung aja Kai terlalu kaya, jd ia bsa membeli Yoona sekaligus. Keren, aku sukaa ceritanya. Ada sequelx nih nggak? Next chap superstar d.tnggu yah 🙂

  3. keren thor… ak suka bgt ff y… karakter yoonkai keren… feel y dpt bgt… next thor… di tggu ff yoonkai berikut y…

  4. keren bgt thor… ak suka bgt karakter yoonkai di sni… manis bgt…. feel dpt bgt… di tggu ff yoonkai lain y…

  5. Kasihan bnget kai
    Heran ko bisa tertidur yoona eoni
    Mgkin kecpean tunggu
    D dpn apartemen kai tadi
    Keren storynya
    D tnggu crta lainnya
    Fighting:)

  6. Astagaaaa astaga astagaa keren gils author daebak!!! Beeh ini ff maniiiiissss banget lucu, tegang, romantis dan haru kumpul jadi satu, yang begini suka banget deh pedas asam asinnya pas.
    Bikiiiin sequel bikin sequel bikin sequel!!!
    Makasih banget sudah membuat ff ini dikala saya sedang kehausan ff berkualitas, karena ini salah satu ff berkualitas yang gue baca akhir akhir ini. SUKSES! SELAMAT MELANJUTKAN CERITA! TERIMAKASIH AUTHOR -Love 💞

  7. Tumbenan eh ada ff kaiyoon yg semenarik ini dan aku bacanya jg dpt feelnya *menurutku
    Aku sukaaa.. Pengen ada sequel atau lanjutan dr cerita ini ya yaa yaaa..

    Ditunggu cerita lainnya~

  8. Please thor buatin sequelnya~ *merajuk*
    Seru banget ceritanyaaa 🙂
    Kai baik banget dan Yoong juga kasian banget idupnya 😦
    Next ya! ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s