[Oneshot] What My Heart Wants To Say

What My Heart Wants To Say
Im Yoona | Park Chanyeol
Friendship, Angst
Copyright © May 2015 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Mereka lebih dari sekedar teman, mungkin. Mereka memiliki perasaan untuk satu sama lain, mungkin. Mereka merasakan sakit ketika dihadapkan pada kenyataan bila keduanya adalah sahabat, mungkin. Dan semua kemungkinan itu terpampang nyata didepan mata mereka. Menyadari bahwa saling mencintai namun tidak bisa memiliki, membuat mereka akhirnya memutuskan untuk diam.

“Kau tidak cemburu dengan kedekatan mereka?” Yoona menoleh kearah Yuri, sahabatnya yang baru saja tiba. Sebuah senyuman indah melengkung dibibir tipisnya. “Tidak. Untuk apa aku cemburu?” Yoona terkekeh pelan seraya kembali memandangi novelnya yang masih tergeletak dimeja. Yuri hanya menghela nafas pelan. Dia mengetahui dengan jelas bagaimana perasaan Yoona terhadap laki-laki yang kini tengah tertawa dikejauhan itu. Dia cukup pandai mengartikan kedekatan Yoona dan laki-laki itu selama ini, kedekatan yang mereka sebut sebagai sahabat. “Katakan sekarang atau tidak akan selamanya.” Dengan penuh pengertian, Yuri menepuk punggung Yoona pelan. Mencoba untuk memberi saran kepada sahabatnya itu. Yoona lagi-lagi hanya tersenyum simpul tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya. “Tidak ada yang ingin kukatakan, Yul.” Yuri menggeleng tidak percaya. Dia sudah cukup mendapat penolakan halus atas usulnya melalui kata yang Yoona lontarkan. Mungkin memang mereka ingin mencukupkan hubungan mereka hingga pada taraf ini.

Yoona berjalan melalui lorong sekolah. Dia lelah. Bukan lantaran berjalan melewati lorong sepi ini, melainkan karena harus terus-menerus menyembunyikan perasaannya. Bagaimanapun dia hanyalah gadis biasa yang bisa hancur pertahanannya kapan saja. Seperti yang terjadi beberapa menit yang lalu. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat sahabatnya yang begitu dikasihinya tengah tertawa bersama orang lain. Menyakitkan melihat betapa sahabatnya itu bisa tertawa lepas karena orang lain dan bukannya dirinya. Langkahnya mulai berat, pandangannya yang sedikit kabur karena air mata membuatnya begitu tidak kuat. Yoona menyandarkan puggungnya ke dinding. Setidaknya dia masih ingin tetap tegak berdiri walaupun dengan bantuan dinding itu. Sama halnya dengan hatinya. Rasanya ia ingin agar hatinya tetap kuat melihat kenyataan yang ada walaupun itu sakit. Senyuman palsu yang Yoona tunjukkan kepada setiap orang yang ia temui hari ini begitu membuatnya kehilangan banyak tenaga. Wajah Yoona mendadak pucat, keringat dingin megucur dari keningnya, dan tubuh tegaknya perlahan-lahan luruh kelantai. ‘Tangan itu… aku bisa merasakannya. Pasti kau datang untukku, Chanyeol-ah.’ Dan semuanya berubah gelap.

Yoona membuka matanya perlahan. Rasanya begitu berat. Walau begitu, dia tetap berusaha untuk bisa membuka matanya. Dia hanya ingin memastikan bahwa Chanyeol ada disampingnya kini. Pandangan yang samar tidak menyurutkan niatnya untuk melihat Chanyeol dan kenyataan membahagiakannya. Yoona bersiap dengan senyuman yang terlukis dibibirnya. Namun, seketika senyuman itu kendur saat dugaannya ternyata salah. “Baekhyun-ah.” Suara panggilan Yoona kepada Baekhyun menjadi suara pertama yang dikeluarkannya setelah siuman beberapa detik yang lalu. Baekhyun sontak menatap Yoona dengan pandangan khawatirnya. Tangan Baekhyun menyentuh kening Yoona memastikan bahwa gadis itu telah baik-baik saja. “Apa yang kau rasakan? Apa kau pusing atau kau mual?” tanya Baekhyun cepat. Yoona terkekeh. Dia tahu jika Baekhyun memang paling sensitif bila sudah berhubungan dengan kesehatan dan penyakit. Maklum saja, Baekhyun bercita-cita menjadi seorang dokter. Hal itu membuatnya begitu terampil dalam bidang ini. “Kau baik-baik saja kan?” Baekhyun lagi-lagi berusaha untuk memastikan keadaan Yoona. “Hm. Aku baik-bak saja, Baekhyun-ah.” Jawab Yoona dengan suara paraunya. Terdengar Baekhyun menghela nafas lega. “Tadi kau pingsan.” Yoona mengangguk. Sepertinya memang Baekhyun. “Kau yang membawaku kemari?” Baekhyun terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Ada seseorang yang harus ia jaga perasaannya. “Terimakasih, Baekhyun-ah.” Dengan senyum pahit, Yoona mencoba untuk terlihat tulus mengucapkan rasa terimakasih kepada sahabatnya itu. “Tidak perlu sungkan, Yoona-ah.” Setelah itu mereka saling terdiam cukup lama. Beberapa waktu kemudian, Baekhyun berpamitan kepada Yoona dengan alasan memanggil Yuri. ”Sepertinya aku harus pergi. Aku akan memberitahu Yuri bahwa kau ada di UKS dan aku akan memintanya untuk membawakan tasmu kemari. Tunggu sebentar ya.” Yoona hanya mengangguk. Baekhyun segera bergegas keluar dari ruangan itu.

Dibalik pintu UKS telah berdiri seorang laki-laki berperawakan tinggi yang sedang menunggu kabar baik dari temannya. “Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?” Baekhyun yang baru selangkah keluar dari ruangan itu langsung diserbu pertanyaan oleh Chanyeol. Jujur saja, Chanyeol telah berdiri cukup lama didepan pintu itu. Bahkan sejak pertama kali gadis itu masuk kedalamnya. “Tenang, Chanyeol-ah. Dia hanya sedikit demam. Dan sepertinya sekarang demamnya sudah turun.” Baekhyun menjawab singkat pertanyaan Chanyeol, mengurangi sedikit kekhawatiran yang dirasakan laki-laki itu. “Syukurlah.” Dengan raut bahagia, Chanyeol memeluk sahabatnya itu erat. Baekhyun meronta, berharap Chanyeol mau melepasnya dan tidak lagi berbuat kekanakan seperti ini. “Terimakasih, Baekhyun-ah. Kau memang bisa kuandalkan.” Baekhyun melepas pelukan Chanyeol kasar. Matanya mulai menatap laki-laki jangkung itu sinis. “Kenapa kau tidak melakukannya sendiri? Kau bisa melakukannya jika kau mau, bahkan tanpa bantuanku.” Chanyeol tahu kemana arah pembicaraan Baekhyun kali ini. Dia tidak terlalu bodoh untuk mengartikan maksud Baekhyun. “Aku tidak ingin membuat semuanya menjadi bertambah buruk. Cukup dengan melihatnya dari sisi gelapku dan menjaganya dengan caraku sendiri.” Baekhyun turut prihatin dengan hubungan persahabatan antara Chanyeol dan Yoona. Entah keduanya sama-sama bodoh atau apa. Tapi satu hal yang Baekhyun yakini bahwa mereka sama-sama tersakiti. Sudah tau saling mencintai, tapi tidak ada yang berusaha untuk menyatakannya terlebih dahulu. Ya, memang cinta tidak terdengar baik diantara Chanyeol dan Yoona, mengingat berapa lama hubungan persahabatan itu terjalin. “Apa kau sakit? Perlukah ku obati luka hatimu itu?” Baekhyun meninju dada Chanyeol cukup keras. Membuat Chanyeol sedikit mendesis garang kearahnya. “Masuklah! Mungkin kau yang dibutuhkannya saat ini.” ucap Baekhyun singkat. Dia kemudian berlalu meninggalkan Chanyeol dengan pikiran berkecamuk. “Haruskah aku masuk?” bisik Chanyeol pada dirinya sendiri. Dia sudah berdiri tepat didepan pintu coklat yang menjadi penghalang antara dirinya dengan gadis itu. Tangannya telah bersiap untuk mengetuk pintu dihadapannya, namun mendadak ia kembali ragu.

Yoona duduk dengan kepala menunduk. Saat ini, ia berada tepat didepan pintu yang menghalangi pandangannya untuk melihat sahabat sekaligus cintanya itu. Mendengarkan setiap deretan kata yang terlontar langsung dari orang-orang diluar ruangannya. Dingin, begitulah yang Yoona rasakan kini. Lantai marmer yang menjadi alas duduknya begitu dingin, sedingin hati laki-laki diluar yang masih saja berdiam diri. Rasanya Yoona ingin berteriak, dia ingin laki-laki diluar itu segera mengetuk pintunya dan membuat mereka bertemu. Namun, dilain sisi Yoona juga ingin sekali menangis. Terdengar dengan jelas oleh telinganya, bagaimana tegasnya laki-laki itu benar menolak adanya cinta diantara mereka. ‘Sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini, Chanyeol-ah?’ air mata mulai membanjiri pipi putih Yoona. Membuat penampilannya yang berantakan menjadi lebih berantakan. Dengan susah payah, Yoona menahan air matanya agar tidak terus keluar dan agar suara tangisnya tidak terdengar oleh laki-laki dibalik pintu itu.

‘Kumohon jangan menangis, Yoona-ah.’ Berkali-kali Chanyeol menahan dirinya untuk tidak mendobrak pintu itu dan memeluk Yoona yang ada didalam. Sekeras apapun usaha Yoona menahan isak tangisnya, tetap saja Chanyeol bisa mendengar itu. Hanya terhalang sebuah pintu tidak menjadikan telinga Chanyeol tuli untuk mendengar semua isakan Yoona. Dia cukup tahu, mungkin Yoona mendengar semuanya dan itu bagus. Artinya Yoona akan lebih mudah untuk menghapus rasa cintanya untuk Chanyeol. Chanyeol memandangi pintu coklat dihadapannya dengan sendu, seakan pintu itu bisa melihat betapa kesedihan tengah menyelimutinya. Yuri yang baru saja sampai segera menghampiri Chanyeol dan menyentuh pundak laki-laki itu. “Masuklah, Chanyeol-ah!” mendengar seseorang sedang berbicara padanya membuat Chanyeol berbalik dan melemparkan tatapan datar tak berperasaannya. “Berikan ini padanya!” tanpa menggubris perkataan Yuri, Chanyeol segera saja menyerahkan ponsel Yoona yang terjatuh ketangan gadis itu. Yuri memasang tampang marahnya dengan sikap kurang ajar laki-laki itu. Ia berpikir, bagaimana mungkin Yoona bisa bersahabat dan menyukai laki-laki seperti dia? Ini tidak benar. Tapi kenyataannya justru berbalik. “Tidak mau. Kau harus memberikannya sendiri pada Yoona.” Dengan cepat, Yuri melempar ponsel Yoona kearah Chanyeol. Dan Chanyeol menangkapnya dengan sigap. “Sial!” umpat Chanyeol pada Yuri yang sudah masuk kedalam ruang UKS. Tidak ada pilihan, sepertinya memang dia harus mengembalikan ponsel itu sendiri.

Chanyeol berdiri didepan pintu rumah Yoona dengan raut gelisah. Dia belum siap. Hatinya belum sepenuhnya tertata rapi untuk kembali dihancurkan. Tapi bagaimanapun, ada banyak hal yang ingin ia pastikan dan tanyakan kepada gadis itu. Mungkin dengan alasan mengembalikan ponsel, bisa ia jadikan kesempatan untuk mengutarakan niatnya. Chanyeol bersiap mengetuk pintu, tapi sebelum ia sempat mengetuknya ibu Yoona terlebih dahulu membukanya. “Chanyeol-ah.” Sapa wanita paruh baya itu lembut. Chanyeol hanya tersenyum kemudian menundukkan badannya memberi hormat. “Ne, bibi.” Jawab Chanyeol sopan. Wanita paruh baya itu kemudian mempersilahkan teman putrinya itu untuk masuk. Mereka duduk disofa ruang tamu. Menikmati secangkir teh hangat yang baru saja dihidangkan dimeja oleh pelayan. “Chanyeol-ah, aku tahu kau kesini untuk menjenguk Yoona bukan?” Chanyeol mengangguk. Wanita itu kembali menyeruput tehnya. “Kebetulan Chanyeol-ah. Hari ini, aku ada sedikit urusan. Jadi dengan berat hati aku harus meninggalkan Yoona. Kau tahu kan anak itu tidak bisa sendirian? Apa kau bisa membantuku untuk menemani Yoona hari ini saja?” lanjut wanita itu dengan raut memohon. Chanyeol sontak terdiam. Dia hanya meminta sedikit waktu bersama gadis itu, tapi Tuhan memberikan lebih dari yang ia minta. “Bagaimana, apa kau bisa?” tanya wanita itu sekali lagi. Dengan mantap, Chanyeol mengiyakan permintaan wanita itu. “Baiklah, bibi.” Wanita itu akhirnya tersenyum seraya menghembuskan nafasnya lega. “Kalau begitu aku bisa tenang meninggalkannya sekarang. Jaga dia baik-baik. Aku akan segera kembali, arraseo?” tanpa membutuhkan waktu yang lama, wanita itu segera menenteng tas tangannya dan berjalan kearah pintu. “Terimakasih, Chanyeol-ah. Aku sudah banyak merepotkanmu.” Wanita itu tersenyum sungkan sambil menepuk bahu Chanyeol pelan. “Aku akan menjaga Yoona untuk anda, bibi.” Chanyeol menunduk sopan seraya mengantarkan wanita itu masuk kedalam mobil mewahnya. Mereka saling melempar senyum dan sesekali melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Setelah mobil mewah Nyonya Im meninggalkan pekarangan rumahnya, Chanyeol langsung kembali kedalam rumah dan menyuruh pelayan untuk menutup pintu.

Terlihat seorang pelayan sedang membawa nampan berisi bubur, susu dan beberapa buah-buahan. Chanyeol segera menghentikan langkah pelayan itu, “Bibi, tunggu! Apa ini untuk Yoona?” tanya Chanyeol sambil menunjuk hidangan yang ada diatas nampan. Pelayan itu hanya mengangguk seraya tersenyum. “Biar aku saja.” Dengan seenaknya Chanyeol mengambil alih nampan itu dari tangan pelayan. Dia tersenyum bodoh pada pelayan dan menyuruhnya agar kembali kedapur. Pelayan itu lagi-lagi mengangguk dan menuruti perintah majikan barunya itu.

“Aku pasti bisa.” Chanyeol bergumam pelan pada dirinya sendiri. Menyiapkan mental menemui seorang gadis yang baru beberapa waktu lalu menolak cintanya membuatnya sedikit gugup. Dengan tenang atau lebih tepatnya mencoba tenang, dia mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Yoona.

Tok… tok… tok

“Iya, tunggu sebentar.” Terdengar dari arah dalam Yoona menyahut ketukan pintu kamarnya. Dia baru saja terbangun dari tidur. Dia mulai merubah posisinya menjadi duduk, hingga ia lupa ada sebuah kain yang menempel dikeningnya. “Aish, basah. Kenapa aku lupa mengambilnya” Gumam Yoona pelan. Dia baru sadar kalau kain itu basah dan bodohnya sekarang kain itu terjatuh dan ikut membasahkan pula piyama yang ia pakai. Dengan kepala menunduk dan bibir yang terus meniupi piyamanya yang basah, Yoona berjalan kearah pintu. Dia tidak ingin membuat orang diluar terlalu lama menunggu.

Yoona mengangkat kepala saat pintu kamarnya mulai terbuka. Matanya yang sedikit sembab membelalak sempurna. Disana, didepan matanya ada seseorang yang tidak ia harapkan. Dengan gerakan cepat, Yoona menutup kembali pintunya. Dia berlari ke kamar mandi dan mulai melihat bayangannya dicermin. ‘Ah, sial! Apa seburuk inikah penampilanku? Kenapa Chanyeol harus datang disaat yang tidak tepat seperti ini?’ Yoona memandangi pantulan bayangannya dicermin dengan jijik. Dia tidak ingin Chanyeol semakin menertawakan dirinya. Dia sudah cukup dengan penolakan Chanyeol atas cintanya, dan dia tidak ingin malu untuk yang kedua kalinya. Yoona segera mengganti piyamanya dengan sebuah pakaian rumah.

“Kenapa dia menutup pintunya? Apa ada yang salah denganku?” Chanyeol berpikir keras mencoba menemukan sebuah alasan kenapa seorang gadis menutup pintu ketika melihat laki-laki tampan sepertinya. Tapi dia tidak ingin terlalu ambil pusing. Cukup, dia tidak ingin menambah beban pikiran dan hatinya. Menemuinya hari ini saja membutuhkan persiapan mental yang lama.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Yoona kembali membuka pintunya dan berdiri berhadapan dengan Chanyeol. Mata Chanyeol tidak berkedip sedikitpun melihat Yoona secara langsung untuk yang pertama kali setelah hubungan pertemanan mereka merenggang. ‘Kenapa Tuhan harus menciptakan gadis secantik dia, namun tidak untuk menjadi milikku.’ Batin Chanyeol miris. Senyuman rasanya begitu berat ia sunggingkan, membayangkan betapa terlukanya dia jika ada laki-laki beruntung yang mendapatkan Yoona. “Hm. Tidak masalah.” Pada akhirnya, Chanyeol memang harus tersenyum sebagai rasa sopan santun. Chanyeol dan Yoona saling melemparkan senyum canggung. Membuat suasana menjadi begitu tidak menyenangkan. “Masuklah! Bukankah biasanya kau sering keluar masuk kamarku?” Yoona mencoba mencairkan suasana walaupun justru memperkeruhnya. Chanyeol sedikit tercengang dengan perkataan Yoona. Apakah gadis itu bermaksud membuka kembali kenangan mereka dulu? Atau memang dia hanya berbasa-basi? Tidak. Yoona bukanlah gadis yang senang dengan hal-hal semacam itu. Ya, setidaknya begitulah pikiran Chanyeol tentang Yoona. “Ne.” setelah sekian lama, akhirnya Chanyeol menyetujui usulan Yoona untuk masuk kedalam kamar gadia itu. “Kamarmu tidak banyak berubah, Yoona-ah.” Komentar Chanyeol saat matanya melihat dekorasi kamar Yoona yang masih seperti dulu. Yoona hanya tertawa kecil sambil menerima nampan yang disuguhkan oleh Chanyeol. “Ya, beginilah. Kau tahu kan aku bukan tipe orang yang suka mengikuti mode.” Jelas Yoona singkat. Chanyeol mengangguk mengerti. Yoona memang bukan tipe kebanyakan orang diluar sana. “Ya, aku cukup tahu.” Chanyeol duduk disofa sambil mengamati Yoona yang mulai memilih-milih makanannya. “Kau memang mengenalku dengan baik, Chanyeol-ah.” Yoona tersenyum. Rasa canggung yang menyelimuti keduanya kini mulai reda. Dengan riang, Yoona mulai menyuapkan bubur kemulutnya. Memakannya dengan nikmat, terlebih ditemani oleh orang terkasih membuatnya semakin berselera. Chanyeol bangkit dari sofa yang ia duduki dan mendekat kearah sofa yang diduduki Yoona. Dia mulai mendudukkan dirinya tepat disamping kanan Yoona. Yoona yang mengetahuinya juga tidak menunjukkan reaksi apapun. “Kenapa kau seperti anak kecil?” tangan Chanyeol mengusap bibir Yoona, menghilangkan sisa bubur yang menempel disana. Tubuh Yoona menegang seketika. Mulutnya yang sedari tadi mengunyah kini berhenti, matanya memandangi Chanyeol dengan tatapan terkejut. “Jangan menampakkan ekspresi seperti itu, Yoong.” Chanyeol mengacak rambut Yoona pelan, seperti halnya yang sering ia lakukan dulu. “Makan lagi!” suara Chanyeol membimbing Yoona untuk kembali melanjutkan makannya. Dan Yoona seolah tersihir dengan ucapan Chanyeol hingga kini ia hanya mengangguk dan kembali memakan buburnya.

“Sudah kenyang?” tanya Chanyeol pada Yoona yang sedang meneguk susunya. Yoona mengangguk polos. Mendapat perlakuan manis dari Chanyeol membuatnya sulit bernafas. “Kenapa tiba-tiba kau baik padaku?” Yoona meletakkan gelas susunya kemeja dan mulai menatap Chanyeol intens. Chanyeol yang duduk disamping Yoona hanya dapat terkekeh. “Bukankah kita sudah seperti ini sejak kecil? Namun, semua berubah satu bulan belakangan ini.” ekspresi Chanyeol mendadak serius, dan Yoona bisa mengetahuinya. “Ya, ternyata kau juga merasakannya.” Yoona menghela nafas berat. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya menerawang jauh kesaat dimana mereka saling menjauhi satu sama lain. Chanyeol terlihat tengah dekat dengan Moon Gayoung, teman sekelasnya. Dan Yoona terlihat menyibukkan dirinya dengan keluar masuk perpustakaan. Chanyeol menoleh kearah Yoona sekilas. “Kau tahu, aku tidak bisa tidur nyenyak setiap malam.” Yoona menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa? Apa kau ada masalah?” tanya Yoona. Mereka kini saling berhadapan, menikmati hembusan nafas lembut satu sama lain. “Sepertinya ada yang bermasalah dengan hatiku. Setelah seseorang menolakku, aku merasa begitu terluka.” Mata Yoona berair, mendengar penuturan yang baru saja dikatakan oleh laki-laki dihadapannya. “Aku juga merasa sakit karena seseorang mengatakan padaku bahwa tidak ada cinta didalam persahabatan.” Yoona memejamkan matanya kuat. Berusaha menahan air mata yang begitu memaksa untuk keluar. Chanyeol jelas mengerti apa maksud perkataan Yoona. Ya, setelah malam itu, semua menjadi berbeda.

Flashback On
Malam itu Chanyeol dan Yoona sedang berjalan-jalan di Sungai Han. Mereka sengaja menghabiskan waktu disana karena besok adalah hari libur. Disana, mereka menjumpai banyak pasangan kekasih yang sedang bermesraan, ada pula yang bergandengan tangan, dan bahkan berciuman. Pemandangan itu membuat Chanyeol dan Yoona sedikit risih, mengingat mereka bukanlah pasangan kekasih. Yoona, bagaimanapun keadaannya dia tetaplah seorang gadis. Perasaan yang telah disembunyikannya cukup lama, seakan sudah mencapai batas akhirnya. Hingga pada akhirnya, dia mengajak Chanyeol untuk duduk disebuah kursi kayu ditepi Sungai Han. Yoona mulai memberanikan diri menyatakan cintanya, “Chanyeol-ah, bisakah kita lebih dari sekedar teman? Bisakah kau melihatku sebagai seorang gadis? Bisakah kau menerima cintaku? Aku mencintaimu, Chanyeol-ah. Aku sudah menyimpannya cukup lama, dan baru sekarang aku berani mengungkapkannya padamu. Jadi, tolong jangan kecewakan aku.” Pipi Yoona begitu memerah setelah ia selesai dengan ucapannya. Chanyeol mengerti, dia tidak bodoh. Tapi ada banyak hal yang perlu diluruskan disini. “Yoona-ah, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tapi ingat, kita adalah sahabat, tidak ada cinta dalam persahabatan. Aku menganggapmu sebagai adik kecilku yang harus kujaga. Dan aku mengharapkan agar kau juga memiliki anggapan yang sama.” Yoona seakan tersambar petir mendengar semua penjelasan Chanyeol. Dia bahkan telah merelakan harga dirinya sebagai wanita jatuh hanya untuk menyatakan cintanya, tapi justru penolakan yang ia dapatkan. Pahit, seperti itulah rasanya. “Kau sedang bercanda kan?” Yoona menatap Chanyeol dengan mata memerah. Ekspresinya kini menunjukkan betapa dia begitu berharap laki-laki itu menjawab iya. “Tidak, Yoona-ah. Maafkan aku.” Dunia runtuh. Langit cerah malam itu menjadi saksi bisu tidak terbalasnya perasaan Yoona oleh sahabatnya sendiri. “Ya, ku benar. Tidak ada cinta dalam persahabatan.” Yoona berlalu. Meninggalkan Chanyeol dengan penuh rasa bersalah. Dia berpura-pura tuli sekali ini saja, karena dia tidak berbalik atau setidaknya memberikan sedikit respon atas panggilan Chanyeol. ‘Lebih baik sepuluh laki-laki menolakku dengan kata-kata kasar, daripada kau menolakku dengan halus seperti ini.’ Yoona terus berlari sambil memegangi dadanya, tempat bersarangnya hati yang mungkin sudah hancur berkeping-keping kini.
Flashback Off

“Tidak bisakah malam itu kau egois dan melupakan tentang persahabatan kita?” mata Yoona semakin terpejam kuat. Seakan dia tidak ingin melihat bagaimana raut lawan bicaranya. Chanyeol menggenggam tangan Yoona lembut. Membiarkan kehangatan tersalur darinya untuk gadis itu. “Aku sudah mencobanya. Tidak malam itu, tapi 8 hari yang lalu.” Yoona sontak membuka matanya. Sepertinya dia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh sahabatnya itu. “Ya, tepatnya 8 hari yang lalu, aku menyatakan perasaanku padamu. Tapi, kau justru mengacuhkanku dan meninggalkanku begitu saja.” tangan Chanyeol bergerak untuk menyelipkan helaian rambut Yoona kebelakang telinga gadis itu. Mata mereka seakan berbicara bahwa moment seperti inilah yang mereka tunggu. “Jadi itu sungguhan? Aku pikir kau hanya bercanda.” Tawa Chanyeol bergema memenuhi ruang itu. Dia tidak bisa menyembunyikan tawanya ketika melihat raut kecewa Yoona karena mengacuhkan pernyataan cintanya. “Kau benar. Aku hanya bercanda.” Yoona memukuli dada Chanyeol dengan tangan mungilnya. Chanyeol memegangi tangan Yoona untuk meredam tingkah kekanakan gadis itu. Dia juga mulai merangkai kata seperti apa yang ingin hatinya katakan. “Aku juga mencintaimu, bahkan lebih dari rasa cintaku untuk diriku sendiri. Aku menginginkanmu, sangat menginginkanmu. Tapi aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin selalu bersamamu. Karena itu, cukup dengan berada disampingmu menyandang gelar sebagai sahabatmu membuatku merasa tenang.” Tubuh Yoona bergetar. Matanya kembali diselimuti selaput tipis bening. “Tolong jangan permainkan aku seperti ini, Yeol.” Kembali Chanyeol menyunggingkan senyum simpulnya sebagai respon terhadap perkataan Yoona. Dia tidak ingin setiap ucapannya seakan memberi harapan pada gadis itu bahwa mereka bisa bersama. “Kau tahu, hubungan persahabatan tidak akan pernah berakhir, sedangkan hubungan kekasih bisa berakhir kapan saja. Dan aku tidak pernah ingin kemungkinan terburuk itu terjadi.” Air mata berhasil lolos dari kelopak mata Yoona. Yoona, dia tidak pernah menyangka jika laki-laki itu telah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kedepannya jika saja mereka memilih untuk egois. “Apa sekarang kau mengerti?” Yoona mengangguk. Walau tidak sepenuhnya setuju, tapi Yoona akan mencoba untuk menerima semua penjelasan Chanyeol itu.

Malam sudah semakin larut. Rasa kantukpun telah menghinggapi seorang Im Yoona. Terlihat beberapa kali gadis itu menguap lebar. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Dia tahu sudah waktunya gadis itu pergi kealam mimpinya. “Kau mengantuk, hm?” tangan Chanyeol menggoncangkan bahu Yoona pelan. Gadis itu tidak menjawabnya. Namun, perlahan tubuh Yoona mulai terjatuh kearah Chanyeol. Dengan sigap, Chanyeol membenarkan posisi tidur gadis itu. Dilingkarkannya tangannya kebahu Yoona. Membiarkan gadis itu terlelap dalam dekapannya. “Selamat malam. Semoga kau bermimpi indah.” Gumam Chanyeol pelan. Dia tidak ingin membuat gadis itu terbangun. Chanyeol mengamati wajah Yoona dengan teliti. Memberanikan dirinya untuk mengecup kening lebar gadis itu, turun menuju kedua mata indahnya, turun lagi menuju hidung mancungnya, kemudian menuju kedua pipinya, dan terakhir mengecup lembut bibir tipisnya. “Beritahu aku bagaimana caranya agar aku tidak terluka saat ada seseorang yang beruntung mendapatkan hatimu nanti.” Dengan penuh kasih sayang, Chanyeol membelai pipi putih Yoona. Ingin rasanya waktu dapat berhenti saat ini juga.

Chanyeol yang setengah tertidur dengan memeluk Yoona sontak terbangun saat ia mendengar suara mobil ibu Yoona sudah datang. Dia berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya sebelum perlahan-lahan melepas dekapan tangannya pada gadis itu. Dia tidak ingin dianggap cabul dengan memeluk anak orang sembarangan. Tapi Chanyeol juga bukan seorang yang tidak bertanggung jawab. Dibuktikan dengan dia menggendong Yoona menuju ranjang. Menyelimuti gadis itu, tidak lupa kembali membisikkan ucapan dan doa agar tidur gadis itu semakin lelap. “Aku pulang dulu ya. Sampai bertemu besok, cantik.” Sebelum pergi Chanyeol kembali meletakkan punggung tangannya ke kening Yoona. Dia merasa jika suhu tubuh gadis itu kembali naik, membuat Chanyeol harus cepat-cepat mengompresnya. “Tinggalkan dia. Biar aku yang mengurusnya. Terimakasih, Chanyeol-ah.” Im Ahjumma yang tiba-tiba masuk kekamar Yoona membuat Chanyeol sontak membungkuk hormat. “Ne, bibi.” Setelah itu semua kegiatan Chanyeol untuk menjaga Yoona diambil alih oleh ibunya. “Kalau begitu, saya pamit pulang, bibi.” Chanyeol kembali membungkuk dan keluar dari kamar Yoona dengan raut lelah.

“Lepasnya dekapanmu dari tubuhku menjadi mimpi burukku malam ini, Chanyeol-ah.” —IM YOONA

Chanyeol berjalan dikeheningan malam itu dengan lega. Beban hatinya seolah berkurang setelah kata yang selama ini ia sembunyikan telah terungkap.

“Melepasmu malam ini dari dekapanku adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil dalam hidupku, Yoona-ah.” —PARK CHANYEOL

—THE END—

Advertisements

15 thoughts on “[Oneshot] What My Heart Wants To Say

  1. Pas baca ff ini sumpah kebawa perasaan banget, jadi degdegan gitu. Keren alurnya maknanya mungkin sudah biasa tapi dibungkus dengan luar biasa. Terimakasih keep writing!

  2. Cinta tak harus memiliki,, cukup ada d sampingnya sbgi sahabat..sweet/sad ending tergantung pemikiran kita sendiri..
    D tunggu kelanjutan beautifull bodyguard and superstar nyaa hwaiting saengi…

  3. Rada kurang se7 jika mrka tak pcrn tp btul jg sih kata Yeol oppa.
    Neomu joha..
    Ffx slalu menarik 🙂
    chap 3 ‘Superstar’ d’tnggu n Beautifull Bodyguard chap 5 jg d.tnggu!
    Fighting!!

  4. Ah apaan sih si chanyeol-___- lebih enak pacaran la, lah kan kalo dekat bawanya juga nikah, kan lu tinggal selama lamanya sama si yoona :”v ya kalo sahabatan trus, misalnya elu di seoul si yoona di amerika, gimana mau ketemu. Kalau udah nikah ya gitu dah :”v
    Ah, ga rela sih sebeneranya sad ending-___- bawanya nyesek tahu:((

  5. yahh….yoonyeol hanya sbagai shbt jg ga menjamin akn sm” terus ko.
    wlau kecewa yoonyeol ga bersatu.. 😦
    ff mu ttp keren .
    d tunggu ne ff lain nya… 🙂

  6. Hmm, sad ending sih, tapi ga begitu. Karena si chanyeol bilang kan, persahabatan itu selamanya sedangkan pacaran itu sementara, sedangkan dia pengen sama yoona itu selamanya. Tapi thor, daripada sahabatan, mending nikah aja. Kan selamanya juga.hoho
    Berarti yoona pernah nembak chanyeol cuma ditolak dan chanyeol pernah nembak yoona cuma ditolak?
    Tapi mampus loh si chanyeol kalo yoona udah punya pacar, jadinya kan pasti nyesel sendiri karena terlalu menjunjung tinggi persahabatan mereka
    Well, karyanya yang lain ditunggu ya thorr

  7. knapa hrus sd ending.. apa yeol oppa ga mkir klo sahabatan itu ga slalu bsa bersama, apalgi klo yoona eonni udh pnya pcar? psti yoona eonni lbih jga prsaan pcarnya drpda sahabatnya.. butuh squel thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s