Superstar [Part 2]

Superstar [Part 2]
Im Yoona | Park Chanyeol
Comedy, Romance
Copyright © April 2015 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : Ide cerita terinspirasi dari beberapa drama. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Aku berjalan dikeheningan malam setelah patah hatiku. Kekasih yang bahkan tidak pernah kuharapkan hadir kini mengkhianati semua ketulusan yang kuberikan. Dia seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Dia yang memintaku untuk menerimanya, tapi dia juga yang pada akhirnya meninggalkanku. Ini terlalu cepat. Aku bahkan belum puas memandangi wajahnya, memegang tangannya, mencium bibirnya. “Ah, apa yang kau pikirkan , Yoona! Aku tidak bermaksud mesum dengan ucapan terakhirku.” Jujur saja saat ini aku mulai memiliki imajinasi-imajinasi gila karena Chanyeol diberitakan berkencan dengan penyanyi yang menurutku biasa saja, Sandara Park. Gadis yang beruntung bisa diberitakan dengan kekasihku. Sebenarnya apa bagusnya gadis itu dibandingkan aku? Ah, sepertinya perbandingannya seperti langit dan bumi. Dia terkenal, dan aku? Bahkan teman satu kampuspun belum tentu semuanya tahu siapa aku. Dia memiliki suara yang bagus dan bisa bernyanyi, sedangkan aku? Berbicara saja fals, apalagi menyanyi. Dia juga pandai berdandan, dan lihatlah aku. Memakai maskara saja belepotan kemana-mana. Hah, kenapa dia unggul dalam segala aspek? Lalu dimana kelebihanku yang tidak dia miliki? Menyebalkan! Ternyata agensi Chanyeol benar-benar pintar berstrategi. Setelah beredar kabar bahwa Chanyeol berkencan dengan gadis biasa, sebut saja aku. Mereka lalu menutupinya dengan kabar kedekatan antara Chanyeol dan Sandara. Padahal hampir saja aku mendapatkan apa yang aku inginkan, yaitu pengakuan dari dunia bahwa aku adalah kekasih Chanyeol. Tapi sepertinya dunia menolak untuk mengakui semua itu.

Sudah berjalan hampir 30 hari atau sebut saja 1 bulan, Chanyeol tidak menghubungiku. Aku tahu dia sibuk, sibuk berkencan dengan kekasih barunya itu mungkin. Tapi tidak bisakah dia mengucapkan selamat tinggal atau kata putus sebelum dia menghilang begitu saja. Kalau begini aku seperti digantung. Status belum pasti, tidak ada komunikasi, dan lebih menyakitkannya lagi aku tidak akan bisa memiliki penggantinya. Aku tipikal orang yang setia. Jadi sebelum ada kata putus aku akan tetap memposisikan diriku sebagai kekasihnya, entah dia masih mengakuiku atau tidak. Ah, tapi sepertinya itu terdengar murahan. “Huwaaa…” apa yang harus kulakukan sekarang? Percuma saja aku menangisinya. Toh semuanya sudah terjadi dan sepertinya mustahil untuk kembali seperti semula. Seperti semula yang bagaimana? Seperti saat kami tidak kembali menjalin hubungan setelah berakhir di SMA atau seperti saat kami menjadi sepasang kekasih? Semua terdengar rumit. Aku bahkan harus rela kehilangan sahabat karibku karena pemberitaan tentangku dan si bodoh Chanyeol. Sooyoung, kalian tahu kan jika gadis itu penggemar berat Chanyeol? Dia marah. Bukan marah lantaran aku menjadi kekasih Chanyeol, tapi dia marah karena sebagai sahabat aku tidak jujur dan terbuka padanya. Kali ini dia benar-benar marah dan pada akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku menyesal tidak sempat menceritakan tentang hubunganku dan Chanyeol pada Sooyoung. Semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Hingga aku saja masih belum percaya dengan semua yang terjadi padaku saat ini. Pemberitaan tentang aku dan Chanyeol tidak berlangsung lama, hanya seperti angin berhembus. Sekejap tapi mampu merubah hidupku secara drastis. Mungkin Chanyeol merasa dirugikan dengan skala besar karena popularitasnya menjadi taruhan, tapi sebenarnya yang benar-benar dirugikan adalah aku. Apa kalian tahu bagaimana aku menjalani satu bulan yang menyakitkan ini? Hujatan, cacian, makian, hinaan seperti sudah menjadi makanan harianku. Aku bahkan tidak bisa kuliah dengan tenang, tidak bisa makan dengan nikmat, dan harus kehilangan satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku setelah keluargaku, sahabat. Tidak ada lagi yang bisa menguatkanku. Dalam 30 hari ini, hampir setiap hari aku harus berlari kesana-kemari mencari perlindungan karena fans Chanyeol yang tidak menyukaiku terus saja mengejarku dan menimpukiku dengan kaleng soda atau yang lebih parah dengan telur. Fans Chanyeol didominasi oleh murid SMA, walaupun aku lebih tua dari mereka tapi aku tetap takut karena jumlah mereka yang lebih banyak. Ini tidak adil. Kenapa mereka beraninya main keroyokan? Aku bahkan hanya seorang diri. Mana mungkin aku bisa menang melawan mereka? Argh.

Rumahku semakin sepi saja. Biasanya Sooyoung yang akan membuatnya menjadi ramai dengan teriakan-teriakan histerisnya ketika menonton penampilan EXO ditelevisi. Dan sekarang, apa aku juga harus melakukan hal yang sama? Sebenarnya bisa saja sih. Kebetulan juga hari ini EXO sedang tampil di Mnet Music Award. Sepertinya sedikit meniru perbuatan gila Sooyoung tidak terlalu buruk. Dengan lincah segera saja kupindah channel televisiku keacara itu. Bingo! Tepat saat EXO naik keatas panggung karena memenangkan sebuah penghargaan. Aku refleks berteriak heboh. Mungkin lebih heboh dari teriakan Sooyoung. Melihat Chanyeol dengan setelan jas hitam membuatku semakin histeris. Terlebih lagi dia tersenyum dan melemparkan flying kiss. “Huwaaa…” ini benar-benar menyenangkan. Aku segera menangkap flying kiss yang Chanyeol berikan sebelum ada orang lain yang mendapatkannya. Tapi kurasa ini sudah melampaui batas. “Ah, aku mulai gila.” Aku duduk lesu memandangi layar televisiku yang dipenuhi oleh ke-12 personil EXO, ah ralat maksudku ke-10 personilnya. Dulu aku pernah mendengar dari Sooyoung bahwa ada 2 personil yang mengundurkan diri karena suatu hal. Tapi itu tidak mengurangi kesempurnaan penampilan mereka. Mereka benar-benar profesional. Tapi melihat Sehun sedikit tidak bersemangat membuatku sedih. Dia ultimate biasku diboyband itu, bahkan aku menyukainya lebih dari rasa sukaku untuk Chanyeol. Ingat! Menyukai berbeda arti dengan mencintai. Aku menyukainya karena dia tidak murahan seperti Chanyeol. Ah, Chanyeolku bukan murahan, lebih tepatnya terlalu baik hati. Bagaimana tidak? Senyumnya saja diumbar kemana-mana. Diberikan untuk siapa saja. Dan lihatlah Sehun, dia lebih bisa menjaga kharismanya. Ya, kurang lebih seperti itulah penilaianku.

Sepertinya sudah dua hari ini tidak ada lagi yang memakiku, mengejarku, atau bahkan menimpukiku dengan kaleng soda. Semuanya seperti sudah kembali ketempat semula. Merasa lega pasti, tapi masih ada sedikit trauma didalam benakku. 1 bulan itu benar-benar seperti penyiksaan, dan sekarang aku seperti dibebaskan. Aku bisa kembali menghirup udara dengan bebas tanpa takut ada fans gila yang akan menggangguku. Aku harus kembali menjalani hidupku dan memandang lurus kedepan. Cita-citaku belum sempat terlaksana dan mulai saat ini aku akan berusaha keras untuk meraihnya. Berangkat ke kampus dan belajar adalah salah satu usaha yang bisa kulakukan. Sepertinya sudah lama aku tidak berangkat kuliah, pasti tugasnya juga menggunung. “Ah, kenapa hari ini bertepatan dengan jadwal dosen galak itu? Tidak ada kata bolos lagi, Im Yoona! Fighting!” aku harus mulai menyemangati diriku sendiri untuk bangkit. Tidak ada lagi sahabat yang biasanya ikut mendorong semangatku, terlebih lagi kekasih. Aku butuh kesempatan untuk menjelaskan pada Sooyoung dan mencari cinta yang baru. Kedengarannya tidak terlalu buruk. Dengan semangat yang sebenarnya belum terkumpul sepenuhnya, aku segera memakai sepatu ketsku dan bersiap untuk berangkat ke kampus. “Aku siap.” Kembali lagi ke rutinitas yang sempat kutinggalkan, yaitu menunggu bus dihalte. Selama menjadi kekasih Chanyeol, aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku didalam angkutan umum. Karena Chanyeol dengan senang hati mengantarku kemanapun aku pergi dengan mobil mahalnya. Dan lagi-lagi itu hanya kenangan. “Ah, itu busnya datang.” Aku segera melangkahkan kakiku kedalam bus. Rasanya begitu asing, namun tetap menyenangkan.

“Soo, aku perlu berbicara sebentar denganmu.” Aku menarik tangan Sooyoung cukup keras. Andai saja dia tidak memberontak, pasti aku akan melakukannya dengan lebih lembut. “Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Dia menolakku mentah-mentah. Dasar anak ini! “Hanya sebentar. 10 menit?” aku mencoba bernegosiasi dengannya. Sebenarnya 10 menit itu masih kurang, tapi tidak masalah. Ini baru penawaran awal. “Ani.” Dia menggeleng mantap. Ternyata dia tidak tertarik dengan penawaranku. “Ah, 5 menit?” apa ini benar? 5 menit? Mengatur nafas saja membutuhkan waktu 5 menit untukku. “1 menit. Deal or no deal?” OMO! Ini keterlaluan. Memangnya apa yang bisa kulakukan dengan waktu sesingkat itu. “Waktumu tinggal 50 detik, Yoong.” Ah, bisa-bisa waktuku habis hanya untuk berpikir. “Baiklah. Aku akan mengatakannya. Jadi aku ingin meminta maaf padamu, Soo. Aku tidak bermaksud untuk tidak jujur dan terbuka padamu. Tapi semuanya benar-benar terjadi begitu saja. Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk memberitahumu, tapi sebenarnya aku memiliki niatan untuk itu. Jadi, maaf…”. “Waktumu habis.” Potongnya dengan ketus. Aku hanya dapat melongo. Bahkan ucapanku belum selesai dan dia sudah memotongnya. Sebenarnya apa ini? Aku bahkan terus saja berbicara dan menahan nafas agar waktuku tidak berkurang banyak. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku menatapnya yang terlihat acuh. “Bagaimana? Aku sudah meluangkan waktuku untuk mendengarkanmu kan? Sekarang, apa aku boleh pergi?” Sooyoung berjalan pelan menjauhiku. Refleks saja aku berlutut dan memegangi kakinya yang panjang. Untung semua mahasiswa sudah pulang, jadi rasa maluku bisa sedikit berkurang. “Ap…apa yang kau lakukan?” Uh, sebenarnya aku takut padanya. Sooyoung kalau marah benar-benar seperti singa yang dibangunkan dari tidurnya. “Ma…maafkan aku, Soo.” Aku terus saja merengek dikaki Sooyoung, berharap wanita itu iba melihatku lalu memaafkanku. “Yoong, bangunlah! Apa kau tidak lihat? Semua memandang kearah kita.” Sooyoung sedikit merunduk dan berbisik padaku. Mataku diam-diam melirik kesana-kemari dan semua ucapan Sooyoung benar. Mau ditaruh dimana mukaku nanti, ya Tuhan? “Aku akan bangun, asalkan kau mau memaafkanku.” Sooyoung mendesis pelan. Dia sedikit mengangkat tubuhku agar berdiri namun aku tetap kokoh pada pendirianku. “Wow! Acting kalian benar-benar memukau. Kau cocok menjadi pemeran antagonis, dan kau cocok menjadi pemeran protagonisnya.” Aku dan Sooyoung sedikit terkejut dengan kedatangan seorang ahjussi yang tiba-tiba menyangka kami sedang berakting. “An…anda siapa?” Sooyoung bertanya dengan ragu, menampakkan ekspresi bingung. “Bangunlah dulu, nak.” Ahjussi itu menatapku sekilas dan tersenyum. Aku masih saja terbengong, dan secara perlahan mulai mengendurkan pegangan tanganku dikaki Sooyoung. “Yoong, cepat bangun!” Sooyoung mencubit lenganku pelan, tapi bagaimanapun itu menyakitkan. “Shirreo. Asalkan kau memaafkanku?” Sooyoung memutar bola matanya malas. Dan aku bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, “Ne. Aku memaafkanmu, pabbo.” Aku tersenyum gembira dan langsung memeluknya erat. “Ehm.” Aku sampai lupa jika ada ahjussi itu. Dia berdehem cukup keras. “Perkenalkan, aku adalah Lee Hae Jin. Seorang produser dari agensi SM Entertainment.” Aku dan Sooyoung hanya bisa saling melempar pandangan. Kami begitu terkejut dengan ucapan pak tua itu. Ahjussi itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dan benar saja, dia adalah produser yang pernah mendebutkan bintang-bintang terkenal. Lebih mengejutkan lagi, dia adalah produser dari agensi SMEnt, agensi yang menaungi boyband dan girlband terkenal seperti Super Junior, Shinee, F(x), DBSK, dan juga EXO. Sooyoung terpaku hingga mulutnya terbuka lebar. Aku hanya memandanginya dengan tampang bingung. “Soo, are you okay?” dia beralih menatapku dan kemudian tersenyum lebar. “Ini kesempatan kita untuk menjadi bintang.” Sooyoung menggoncangkan tubuhku berulang kali. Dan reaksiku, “Hah?” aku melirik sekilas kepada ahjussi itu. Kenapa dia tersenyum terus sedari tadi? Apa dia pikir senyumannya menawan? Atau dia ingin terlihat seperti Chanyeol?Aish, pikiranku mulai ngawur lagi kan. “Ahjussi tidak membohongi kami kan?” Ahjussi itu lagi-lagi hanya tersenyum dan kali ini mengeluarkan dua buah kertas yang aku sendiripun tidak mengetahui apa isinya. “Ini formulirnya jika kalian berminat untuk mengikuti SM Global Audition. Melihat akting kalian tadi, sepertinya kalian berbakat menjadi artis. Aku tidak bisa menjamin bahwa kalian akan lolos audisi dan diterima menjadi trainee SM. Tapi setidaknya kalian mendapatkan kesempatan khusus karena kalian tidak perlu mengantri untuk mendapatkan formulirnya. Aku memberikannya pada kalian berdua secara percuma.” Sooyoung segera saja merampas formulirnya dari tangan ahjussi itu. “Kami tadi tidak berakti… hmp” Mendadak Sooyoung menutup mulutku dengan tangannya. “Terimakasih, ahjussi.” Sooyoung menunduk dan menarik kepalaku agar ikut menunduk bersamanya. Kemudian, ahjussi itu pergi.

Aku masih menimang-nimang tentang formulir yang saat ini ada ditanganku. Ahjussi itu memberi kami dua formulir, satu untukku dan satu untuk Sooyoung. Sooyoung bilang dia akan mengikuti audisi itu. Memang apa gunanya mengikuti audisi semacam ini? Tapi tunggu, jika aku bisa lolos audisi dan menjadi trainee SM itu tandanya aku akan menjadi hoobae Chanyeol. Dengan kata lain, berarti aku akan semakin sering bertemu dengannya dan kemungkinan kita akan dekat kembali. Oh, ya benar, pasti keuntungan semacam itulah yang kuperoleh jika aku mengikuti audisi ini. Aku akan berusaha keras untuk itu. “Tunggu aku, Chanyeol-ah. Aku akan segera menyusulmu.”

Beberapa menit menjelang audisi…

“Yoong, apa kau baik-baik saja?” aku menggeleng pasti. Mana mungkin disaat seperti ini aku baik-baik saja. Lihatlah! Keringat dingin mulai mengucur dari keningku. Tenggorokanku yang sebelumnya tidak pernah bermasalah kini menjadi begitu kering. Tanganku tiba-tiba bergetar hebat. Badanku menggigil. Apa itu termasuk tanda-tanda penyakit berbahaya? Aish, aku benar-benar ingin mati sekarang. “Nomor urut 1728, silakan masuk.” Aku menelan salivaku dengan berat. Kulirik sekilas nomor peserta audisi yang kupegang, dan sepertinya nomor yang disebutkan oleh petugas itu adalah nomor…ku. Dengan langkah berat, aku mulai berjalan perlahan menuju ruang audisi. Sooyoung berteriak padaku ‘semangat’. Lalu apa maksudnya? Aku rasa semangatku telah pudar setelah nomor sialan ini dipanggil. Petugas itu membukakan pintu masuk ruang penjurian untukku. Aku masuk begitu saja, dan ada rasa menyesal setelahnya. “An…nyeong.” kulambaikan tanganku dan tersenyum gugup. “Annyeong. Siapa namamu?” tanya salah seorang juri. “Uh, na…nama saya Im Yoona.” kenapa mereka terus menanyaiku seperti ini? aku jadi semakin gugup. “Apa bakat yang anda miliki?” aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Mana aku tahu bakatku apa? Memang aku paranormal? Argh. “Huh, sa…saya tidak memiliki bakat khusus. Ap…apa saya sudah boleh keluar?” mereka semua tertawa dan menggelengkan kepala satu sama lain. “Dia lucu, ne.” memang aku badut? Itu pujian atau celaan? Kenapa rasanya tidak ada bedanya? “Lakukan apapun yang kau bisa, Yoona. Anggap saja kau sedang melakukannya ditempat sepi dan hanya ada kau sendiri disana. Pikirkan saja bahwa kami ini tidak ada dan tidak menilaimu. Silakan.” Aku terdiam sejenak. Mataku terpejam dan mulailah kubangun rasa percaya diriku. Aku mulai berlenggak-lenggok menggerakkan seluruh tubuhku mengikuti alunan musik beat yang berputar. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik sekali ini saja. Tidak peduli aku akan lolos atau gagal yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik. Beberapa menit kemudian musik yang diputar mulai berhenti. Aku sontak menghentikan gerak tubuhku dan membuka mataku secara perlahan. Didepan sana, aku melihat para juri memberikan standing applause entah untuk siapa. “Kau benar-benar hebat, Yoona.” komentar salah seorang juri yang membuatku langsung membelalak kaget. “Kalau boleh tahu, apa suaramu juga sebagus tarianmu?” ah, bagaimana aku harus menjelaskannya. Semua orang tahu, suaraku tidak begitu bagus, ah cenderung ke jelek mungkin. Ibuku pernah berkata jika kentutku saja fals apalagi suaraku. “Uh, mianhae. Sepertinya saya hanya memiliki bakat dibidang tari. Saya kurang percaya diri dibidang tarik suara.” Aku mengangguk mantap. Sepertinya kemampuan terbesarku sudah kukeluarkan. “Bagaimana kalau kau mencobanya sedikit?” dengan terpaksa kuturuti saja permintaan juri itu. Otakku mulai mencerna beberapa bait lirik lagu Britney Spears berjudul ‘Oops! ..I Did It Again’ yang sempat kuhapalkan sebelum audisi. Mulutku mulai berucap untuk menyanyikan lagu itu, “Oops! I did it…” dan reaksi seperti inilah yang aku dapatkan. “Stop! Sepertinya kau memang kurang berbakat dibidang tarik suara. Kau boleh pergi. Terimakasih.” Apa suaraku terdengar seburuk itu? Bahkan satu kalimat lagu saja sudah dipotong. Ah, dasar juri-juri menyebalkan. Biar saja, paling aku juga tidak lolos. Dengan sedikit perasaan kecewa, aku keluar dari ruang penjurian dan langsung disambut heboh oleh Sooyoung. “Apa kau berhasil?” tanyanya antusias. “Molla.” Setelah itu, aku memutuskan untuk pulang. Kondisiku tidak benar-benar baik hari ini.

Aku terus saja memikirkan tentang audisi itu. Sebenarnya aku berharap bahwa aku bisa lolos, tapi dilain sisi aku juga berharap agar aku gagal. Aku ingin lolos karena Chanyeol. Dan aku ingin gagal karena dia pula. Sudah lama rasanya kami tidak saling berhubungan. Aku benar-benar merindukannya. Tapi apa dia juga merindukanku? Jika dibiarkan begini terus bisa-bisa hubungan kami menjadi basi. Lama tidak tersentuh dan tidak pula dibuang. Aku kembali mengecek ponselku. Tapi tetap saja tidak ada sesuatu yang membuatku gembira. Kubuka lagi chat yang pernah kulakukan dengannya. Dan isi chat itu membuatku tertawa lebar. Tidak ada sesuatu yang romantis tapi entah kenapa begitu menghiburku. Kami bahkan tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang masalah cinta, perasaan atau semacamnya. Ah, tapi pernah satu kali diawal percakapan dia menuliskan ‘Aku mencintaimu’. Aku iseng menekan tombol panggilan padanya, dan pada dering kelima ternyata dia benar-benar menjawab panggilanku. Aku segera melempar ponselku kesembarang arah. Kemudian aku berlari menjauh dari benda yang masih memperdengarkan suara Chanyeol itu. “Yeoboseo, noona?” berkali-kali kudengar Chanyeol memanggilku. Tapi aku hanya bisa terdiam dan perlahan mulai jatuh terduduk disudut kamarku. Aku merindukannya. Aku merindukan suaranya. Tapi aku tidak ingin menjadi pengacau dalam hidupnya, dalam karirnya seperti dulu. Kubiarkan ponsel itu terus-menerus tanpa sedikitpun menyentuhnya hingga akhirnya panggil itu ditutup oleh Chanyeol. Aku kembali memandangi ponselku dengan sendu. Baru saja aku bisa mendengar suaranya. Aku bersyukur, itu tandanya Chanyeol baik-baik saja. Dia pasti semakin tinggi. Aku bisa membayangkan bagaimana dirinya sekarang. Setiap hari yang bisa kulakukan hanya melihatnya dari layar televisi. Aku berbaring dengan perasaan tidak karuan. Ada rasa lega, bahagia, sedih, menyesal dan semuanya bercampur menjadi satu. “Yoona Noona.” samar kudengar ada suara yang sepertinya memanggilku. Tapi aku tetap mengabaikannya, mungkin saja hanya halusinasiku. “Yoona Noona, apa kau mendengarku?” lagi, dan kini suara itu semakin jelas terdengar. Dengan tergesa, aku berlari menuju jendela kamarku. Kubuka tirai yang menutupinya dengan tidak sabar. “Chanyeol?” mataku membulat sempurna melihat Chanyeol sedang berdiri dibawah sana dengan tatapan khawatir. Aku segera turun dan membukakan pintu rumahku untuknya. Dia terlihat begitu lelah dengan deru nafasnya yang terus saja memburu. “Apa kau ba…” Chanyeol memelukku tiba-tiba. Membuatku sedikit terkejut. “Apa kau baik-baik saja, noona? Aku begitu khawatir karena kau tiba-tiba menelpon tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Aku berpikir ada sesuatu yang terjadi padamu. Mianhae.” Chanyeol memelukku semakin erat. Aku mulai menangis untuk kesekian kalinya didada bidangnya. Aroma tubuh ini, aroma yang begitu kurindukan. Kehangatan ini, kehangatan yang selalu ku nanti untuk kembali. Semua tentangnya begitu menjadi candu untukku. “Kau baik-baik saja kan?” dia melepas pelukannya perlahan, lalu mulai menangkupkan tangannya yang besar ke pipiku. “Seharusnya aku yang bertanya padamu, pabbo. Kenapa kau terlihat lelah seperti ini?” Aku balik menangkupkan tanganku dipipinya yang penuh dengan peluh. Aku mengusapnya lembut. Semoga dengan ini rasa lelahnya sedikit berkurang. “Kau tahu? Aku berlari dari dorm hanya untuk kesini. Kau membuatku begitu khawatir, noona.” Jangan menangis! Jangan menangis, Im Yoona! jika kau menangis justru akan membuat Chanyeol semakin khawatir. “Gomawo, Chanyeol-ah. Kau sudah mengkhawatirkanku.” Chanyeol menyipitkan matanya. Aku mengerutkan kening bingung dengan reaksinya. “Hanya seperti itu?” tanyanya seraya mengangkat sebelah alisnya. Sebenarnya apa yang diinginkan bocah ini? aku benar-benar tidak mengerti. “Apa maksudmu hanya seperti it…hmp” tiba-tiba saja dia mencium bibirku tanpa persetujuan. Dan sepertinya aku mulai berlagak bodoh dengan membiarkannya melumat bibirku penuh nafsu. Entah sejak kapan, Chanyeolku yang begitu polos berubah menjadi penuh gairah seperti ini. Semoga tidak ada yang melihatnya. Beruntung tadi sebelum kami melakukan perbuatan ini, aku sudah terlebih dahulu menutup pintunya. Walaupun rumahku termasuk dalam daerah yang sepi, tapi aku melakukannya untuk antisipasi saja. Beberapa saat kemudian, aku mulai terengah karena kehabisan oksigen tapi Chanyeol masih belum mau melepaskan tautan bibir kami. Dengan terpaksa, aku mendorong tubuhnya pelan. Sepertinya dia baru tersadar, karena setelah itu dia menatapku dengan raut bersalah. “Mi…mianhae, noona. Aku tidak bermaksud untuk…” aku menunduk malu dan langsung melangkah menuju dapur. Bermaksud untuk memberikannya sedikit minuman. Terlihat Chanyeol duduk dengan gelisah disofa ruang tamu. Aku menghampirinya dengan nampan berisi dua jus jeruk. “Apa kau baik-baik saja, Chanyeol-ah?” kuletakkan nampan yang kubawa keatas meja. Lalu aku duduk tepat disamping Chanyeol yang masih saja gugup. “Tentang yang tadi…” aku mengangguk mengerti. Kugenggam tangannya lembut. “Jangan dipikirkan. Ketikdaksengajaan bisa saja kan terjadi disaat seperti itu.” Chanyeol tersenyum kikuk. Kemudian dia mengambil minuman yang kusuguhkan dan menghabiskannya sekali teguk. “Kalau memang haus katakan saja. Dasar!” kami berdua tertawa bersama. Moment langka yang rasanya sering kami lakukan dulu. “Terimakasih untuk minumannya, noona. Aku harus pergi sekarang.” Chanyeol bersiap untuk memakai jaketnya. “Secepat itu?” aku bertanya dengan tidak percaya. Baru beberapa menit yang lalu kami bertemu dan tertawa bersama, dan sekarang sudah harus berpisah lagi. Chanyeol mendekat kearahku dengan wajah evilnya, “Apa kau masih ingin berlama-lama denganku, noona?” dia memajukan bibirnya seperti hendak menciumku. Aku hanya bisa mundur dan menjaga jarak dengannya. “Yoong, cepat buka pintunya!” aku dan Chanyeol sama-sama kalang kabut setelah mendengar suara Sooyoung yang tiba-tiba menggedor pintu rumahku. Chanyeol berlari kesana-kemari berusaha mencari jalan keluar. Aku hanya bisa memberinya isyarat untuk bersembunyi dikamarku. Selagi Chanyeol bersembunyi, aku akan membukakan pintu. “Selamat datang, Soo. Kenapa mendadak sekali? Bukankah kau bilang baru akan pindah besok?” aku tertawa kikuk. Tapi sepertinya Sooyoung tidak menyadari ada sesuatu yang aneh. Sooyoung kemudian masuk dengan menyeret kopernya dan aku langsung memberi instruksi pada Chanyeol untuk segera keluar. Dengan mengendap-endap, Chanyeol keluar dari kamarku. Dia lalu melambaikan tangannya diambang pintu, aku hanya bisa membalas lambaian tangannya sembarang. Setelah tahu bahwa Chanyeol sudah keluar dari rumahku, aku segera menarik nafas lega. Namun semua terasa kembali tegang, saat mataku menangkap Chanyeol kembali lagi kedalam rumah. Aku segera memberinya isyarat untuk secepatnya keluar. Raut wajahku jelas menampakkan bahwa aku sangat takut Sooyoung akan mengetahui bahwa aku kembali berhubungan dengan Chanyeol. Aku belum siap untuk menceritakannya sekarang, padahal seharusnya aku belajar dari pengalaman bahwa menyembunyikan sesuatu dari sahabat justru akan mengacaukan semuanya. Aku kembali melirik kearah Chanyeol yang berjalan perlahan, dan ternyata dia kembali hanya untuk mengambil sepatunya yang ketinggalan. “Yoong, aku ingin mandi. Apa kran airnya sudah diperbaiki?” Sooyoung berteriak dari dalam kamarnya. Dia hampir saja berjalan keluar dari kamarnya, namun aku segera mencegahnya dengan cara bersandar membentuk pagar dipintu kamarnya. “Ah…Uh…sepertinya aku lupa memanggil petugas untuk membenarkannya. Jadi, kran airnya masih mati.” Aku mulai mengeluarkan alasan-alasan yang mampu menahan Sooyoung tidak keluar dari kamarnya. ‘Aish, apa anak bodoh itu sudah pergi?’ aku mencuri-curi pandang kearah ruang tamu, sepertinya Chanyeol sudah pergi. Sooyoung mengamatiku dengan pandangan anehnya, “Kau sehat?” tanyanya yang langsung kujawab dengan anggukan. “Sekarang bisakah kau menyingkir? Aku ingin mandi, Yoong.” Dengan kasar Sooyoung mendorong keningku dengan jari telunjuknya. Hah, sepertinya anak itu perlu mendapatkan kursus kepribadian. “Dasar pembohong! Krannya tidak rusak, Yoong.” Terdengar dari dalam kamar mandi, Sooyoung berteriak sambil beberapa kali mengataiku sebagai pembohong atau orang bodoh.

Sooyoung duduk didepan komputer dengan wajah serius, membuatku ikut tertarik melihatnya. “Apa itu pengumuman hasil audisinya?” Aku menarik sebuah kursi dan duduk tepat disebelah Sooyoung. Dia terlihat mengangguk dengan pertanyaanku. Namun, ada yang salah dari ekspresi yang ditunjukkannya padaku. “Lalu bagaimana hasilnya? Apa kau lolos?” Sooyoung menekuk kepalanya dengan sedih. Apa itu tandanya dia tidak lolos? Jujur, bila Sooyoung saja yang terkenal dengan bakat actingnya tidak lolos audisi, bagaimana denganku? Aku bahkan tidak memiliki bakat apapun. Tiba-tiba Sooyoung tertawa lebar membuyarkan semua lamunanku. “Aku lolos, Yoong.” Mulutku menganga lebar. Sooyoung lolos audisi SMEnt? Lalu bagaimana denganku? Dengan segera kuperiksa daftar nama peserta audisi yang lolos menjadi trainee. Aku bahkan mengabaikan Sooyoung yang berniat memelukku, dan justru lebih tertarik dengan hasil audisi itu. “Ck. Dasar menyebalkan.” Sooyoung berdecak sebal seperti biasa. Bukan hal aneh untukku. Kami kembali fokus pada layar komputer yang masih menyala. Mataku menelusuri satu per satu nama-nama itu, mencoba menemukan namaku diantaranya. Bingo! Diurutan ke-22 tertulis dengan jelas sebuah nama yang sedari tadi kucari, Im Yoon Ah. Aku segera melompat dan memeluk Sooyoung erat. Sooyoung terlihat memberontak pada awalnya, tapi kemudian dia balik memelukku. “Uh, bukankah kau bilang bahwa audisi ini tidak penting? Lalu kenapa kau begitu bahagia mengetahui kau bisa lolos?” Sooyoung menyipitkan matanya curiga. Sebenarnya perkataan Sooyoung itu memang benar. Lebih tepatnya kemarin, aku sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak mungkin lolos dari tahap audisi sialan itu. Namun hari ini, aku seperti menampik ucapanku sendiri. Malu pasti, tapi bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur senang akan hal itu. Wajah Sooyoung mendadak berubah kaget saat ia membaca rautku yang mungkin begitu menarik untuknya. “Ehm…apa kau masih menjalin hubungan dengan idolaku itu?” Aku hampir saja tersedak air liurku sendiri saat apa yang masih kusembunyikan mulai tercium oleh orang lain. Sooyoung masih memasang ekspresi penuh tanyanya. Dia seperti memaksaku untuk bercerita disaat aku belum ingin menceritanyakannya sekarang. Tapi aku tidak ingin mengulangi kesalahan tempo dulu hingga membuatku menyesal nantinya. Dengan ragu, aku mulai memberanikan diri menceritakan semuanya pada Sooyoung, “Ne. Seperti tebakanmu, aku masih menjalin hubungan dengan Chanyeol.” Wajahku rasanya seperti terbakar, begitu hangat dan mungkin memerah. Aku malu menceritakan hal yang kuanggap sebagai privasiku kepada orang lain termasuk pada sahabatku sendiri. Kurasa Sooyoung terlalu mengenalku hingga ia dengan mudah menangkap maksud dibalik cerita singkatku tadi. “Ah, jadi kau masih berhubungan dengannya tanpa memberitahuku? Lagi?” Soyoung bangkit dari duduknya dan berbaring dikasur. Aku hanya bisa mengikutinya seraya terus menunduk. Ternyata aku kembali melakukan kesalahan yang sama. “Mianhae, Soo. Kau tahu kan, aku masih belum menemukan saat yang tepat untuk memberitahukannya padamu.” Kataku lirih. Terdengar jelas suaraku bergetar disetiap ucapan yang kukatakan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika Sooyoung kembali pergi meninggalkanku. Namun, melesat dari dugaanku, ia justru memberikan reaksi mengejutkan. “Kau memang terlambat untuk memberitahukan tentang hal ini padaku, tapi tidak untuk memberitahu Park Chanyeol bahwa kau akan segera menyusulnya.” Dengan bersemangat, Sooyoung menyodorkan ponsel berwarna putih kepadaku. Ya, aku tahu itu ponselku tapi aku belum mengerti tujuan diberikannya ponsel itu. “Ayo cepat hubungi Chanyeol! Aku tidak sabar mendengar bagaimana reaksinya setelah tahu bahwa kau lolos audisi ini.” Sooyoung berkali-kali menepuk-nepukkan kedua tangannya seperti anak kecil, memaksaku agar segera menghubungi Chanyeol. Pada akhirnya aku menuruti kemauan shiksin itu. Sebenarnya tanpa disuruhpun aku juga akan menghubungi Chanyeol nanti.

Yeoboseo…” Baru satu detik yang lalu aku mengetik nomor Chanyeol dan menekan tombol panggilan. Dan sekarang, hanya butuh satu detik pula untukku mendapatkan jawaban darinya. Tapi tunggu, ada yang aneh dari pengucapan kata namja itu. ‘Sejak kapan Chanyeol menjadi cadel?’ batinku. Aku begitu mengenal suara Chanyeol, dan sepertinya suara yang menjawab teleponku juga bukan suaranya. Ah ya sudahlah, yang terpenting dia masih mau mengangkat teleponku. “Annyeong, Chanyeol-ah. Kau dimana? Apa kau sibuk?” aku segera saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti biasanya. Setelah itu, pasti Chanyeol akan mengatakan bahwa aku begitu cerewet melebihi eommanya. “Chanyeol Hyung sedang take scene bersama Moon Gayoung.” Mataku membelalak sempurna saat suara itu kembali menerobos masuk gendang telingaku. Sepertinya aku tahu pemilik suara ini, terlebih dengan panggilannya ‘hyung’ terhadap Chanyeol semakin menguatkan keyakinanku bahwa ini adalah… Oh Sehun. Masih dengan ekspresi terkejut, aku kembali fokus dengan Sehun diseberang telepon sana. “Kau, apa kau Oh Sehun?” Sooyoung yang berada disampingku sontak membuka mulut lebar sambil bergumam, ‘Apa itu benar-benar Oh Sehun?’ dan aku hanya mengangguk menanggapinya. Dari seberang sana aku bisa mendengar namja itu tertawa renyah. Tawa yang tidak pernah ia tunjukkan didepan televisi, didepan khalayak ramai. “Ne. Oh Sehun imnida. Kau pasti Im Yoona kan?” aku hampir saja berteriak saat Sehun menyebut namaku. Suaranya yang begitu err~ membuat bulu kudukku berdiri. “Uh, bagaimana kau tahu namaku?” Sooyoung memicingkan matanya sebal denganku yang sok berbasa-basi. Aku menjulurkan lidah sambil meledek Sooyoung yang semakin geram dibuatnya. “ID kontakmu diponsel Chanyeol Hyung.” Wajah sumringahku mendadak luntur saat Sehun mengatakan bahwa ia tahu namaku dari ID kontak. Sejalan dengan itu, aku juga semakin kesal karena ternyata Chanyeol hanya memasang nama ‘IM YOONA’ sebagai nama ID-ku. Padahal aku memasang ID kontaknya dengan nama ‘MY PRINCE YEOLLIE’ benar-benar kejam. Biarlah, saat ini yang terpenting aku bisa berbicara langsung dengan Sehun, idolaku. “Kau tidak sibuk?” aku kembali membuka pertanyaan yang membuat Sehun sedikit menghembuskan nafasnya kasar. “Mungkin sebentar lagi aku ada take scene. Wae?” entahlah, senyuman tiba-tiba muncul begitu saja dibibir tipisku. Membuat Sooyoung semakin gusar menempelkan telinganya keponselku. Aku mendorong kening Sooyoung hingga yeoja itu sedikit menjauh dariku, tak lupa kukepalkan tanganku berusaha untuk mengancamnya agar tidak lagi menggangguku. “Kalau begitu tutup saja teleponnya. Kau pasti butuh istirahat kan?” Sehun kembali tersenyum diseberang sana sambil menjawab, “Ne.” setelah itu kami sama-sama terdiam. Aku menunggu dia untuk mematikan teleponnya, tapi dia tidak melakukannya. Dan pada akhirnya aku lah yang mengalah untuk mematikan sambungan telepon itu.

Aku berguling-guling senang saat seorang Oh Sehun yang terkenal berkarisma itu mau mengangkat teleponku dan sudi berbincang-bincang denganku. Aku seperti diterbangkan angin membayangkan betapa tampannya namja itu diseberang sana dengan sebuah senyuman. Aku juga seperti tersihir dengan suaranya yang ah~ sulit dijelaskan. Dia begitu sempurna hanya untuk kubayangkan. Beberapa menit kemudian, aku berniat untuk semakin membuat impianku menjadi nyata. Aku berniat untuk mencari foto-foto Sehun dan mengeditnya agar terlihat lebih dekat denganku. Aku ingin sesekali menyalurkan imajinasiku dalam bentuk barang yang bisa dilihat kasat mata. Dan dengan cekatannya, aku mulai membuka fasilitas internet diponselku. Jari-jemariku handal untuk mengetik nama Sehun EXO dimesin pencari. Tak butuh waktu berapa lama, akhirnya mesin pencari itu menyuguhiku artikel, foto, biodata, fakta, dan bahkan hot issue dari seorang Oh Sehun. Ada sebuah artikel yang begitu menarik perhatianku ‘EXO Next Door’ aku pernah mendengarnya. Ya, sepertinya kalimat itu begitu familiar, tapi aku belum mengetahui dengan pasti apa itu. Dan karena iseng, mungkin saja itu ada kaitannya dengan Sehun maka aku membuka dan mulai membaca artikel itu. Disana tertulis bahwa ‘Park Chanyeol dan Moon Gayoung yang dipasangkan sebagai pemeran utama di web drama itu. Seiring dengan intensitas bertemu yang terbilang sering, dikabarkan bahwa keduanya terlibat cinta lokasi bal bla bla…” Aku sudah tidak sanggup untuk membacanya. Sepertinya menjadi kekasih seorang bintang memang membutuhkan kelapangan dada. Tapi rumor apa lagi yang akan menguji kekuatan cintaku dan Chanyeol? Argh.

—TO BE CONTINUED—

Advertisements

12 thoughts on “Superstar [Part 2]

  1. Kisseu chanyoon,,month lagiii…heheeee..
    Kmn is chany selama 1bulan ituu apa dy tau yoona jd korban fans nya??
    Penasaraan gmn reaksi chany saat tau yoona bakal ikut jd trainee..next next…

  2. Aigoo, Yeol oppa buat aku sebel deh tp pas ktemu dgn yoona gtu snang yah..
    Mang susah thuc punya pcr idol.
    Wah, klu ud d’trima jd trainee SM bgt, nanti eonni dkat ja Ma Sehun biar bsa dkat n agr yeol oppa jg cemburu 😀 neomu joha, Daebak
    next chap slalu d.tnggu!
    Fighting!
    Keep writting thor~

  3. momen yoonhun lucu pe soyoong di toyor ma yoona,,yoona eonni harus punya ke sabaran extra punya pacar idol.
    nexttt jgn lm heheee… #maksa

  4. ffnya keren thor..
    aq smpai ngakak waktu yoonhun moment 😀
    apalagi klo ada sooyoung eonni 😀
    yoong eonni yg sabar ya punya pacar idol..
    moon ga young bruntung bgt akting breng chanyeol oppa terus..
    chanyeol oppa…
    sehun oppa.. 😀

  5. makin seruu.. yoona eonni memang hrus sbar klo pnya pcar seorang idol.. chukae yoonsoo eonni ya dtrima training di sm.. buat yeol oppa cmburu jga sm yoona eonni biar impas.. dtggu ya part slnjutnya..

  6. Wah ternyata ada si cedel ku 😂😂😂 makin bagus aja, chanyeol swet banget, tapi juga kasian sama yoona nya semuga kuat pacaran sama idola dan nanti bisa jadi idola juga.

    Di tunggu lanjutannya semuga gak lama 😄 😄.

  7. yoong eonni emang harus kuat hati. punya pacar idol star benar2 diuji hatinya..

    ffnya ada comedi.nya jd ada lucunya juga..
    lanjutkan!!!

  8. seru thor! tp knp ya ak lbh suka momen yoohun daripada chanyoon… di tggu kejutan y thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s