[Oneshot] Kiss Me, Dear!

Kiss Me, Dear!
Im Yoona | Xi Luhan
Romance
Copyright © April 2015 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Luhan kembali mendesah pasrah saat lagi-lagi Yoona menolak untuk memberinya ciuman. Oh, ayolah! Hari ini adalah hari ulang tahun Luhan, dan Yoona tidak berusaha untuk membuat moodnya baik tapi justru mengacaukan semuanya. Luhan hanya berusaha untuk mendapatkan apa yang biasa didapatkan oleh kebanyakan namja diluar sana. Namun, sepertinya Yoona bukanlah salah satu dari kebanyakan yeoja diluar sana yang memberikan kesucian bibirnya sebagai hadiah.

Tangan Yoona sedari tadi bergetar. Jujur saja, setelah menolak untuk berciuman dengan Luhan membuatnya merasa begitu bersalah. Padahal Yoona tahu bahwa apa yang dilakukannya benar. Seperti nasehat ibunya dulu, ‘Yoona-ah, eomma mengijinkanmu untuk berpacaran tapi tidak dengan berpegangan tangan, berciuman, apalagi melakukan hal-hal diluar batas kewajaran.’ Perkataan ibunya itu selalu terngiang dikepala Yoona, membuat dia begitu berhati-hati dalam bertindak. Yoona tidak ingin mengecewakan Luhan tapi dia juga tidak bisa melakukan sesuatu yang merupakan larangan ibunya. Dan pada akhirnya, Yoona tetap mengikuti nasehat ibunya walaupun harus menerima raut masam dari kekasihnya.

“Lu, mianhae. Aku belum siap untuk melakukannya.” Yoona meraih tangan Luhan dan mencoba untuk meminta maaf pada namja itu. Namun, Luhan tetap memasang wajah acuhnya, berusaha mengabaikan Yoona mungkin. Yoona terdiam. Dia tidak tahu berapa banyak lagi kata maaf yang harus dia ucapkan agar Luhan mau memaafkannya. Dan manusia memiliki batas kesabaran, bukan? Sama halnya dengan Yoona. Dia mulai lelah untuk terus mengikuti kemauan Luhan. Kemauan yang tidak bisa dia penuhi, dan mungkin tidak akan bisa dia penuhi hingga mereka resmi terikat dalam status pernikahan. Dengan kesal, Yoona bangkit dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan Luhan. Namja itu terlihat membelalakkan mata saat tahu bahwa Yoona menyerah untuk meminta maaf padanya dan justru pergi. Dia merasa kecewa. Dia pikir dengan kemarahannya, mungkin Yoona akan merengek dan menawarkan sebuah ciuman sebagai permohonan maafnya. Namun, semua seperti melenceng dari rencananya. Semua kacau. Sekacau hubungannya dengan Yoona, gadis polos yang bahkan belum pernah ia sentuh setelah 2 tahun mereka berpacaran. Ingin rasanya Luhan berteriak pada gadis itu, tapi dia tidak sampai hati untuk melakukannya. Dia masih terlalu mencintai Yoona, walaupun dengan gaya berpacaran yang sudah terhitung ketinggalan jaman.

Pada akhirnya, Luhan lah yang kembali mengalah. Mengalah untuk mengubur dalam-dalam keinginannya. Mengalah untuk kembali mengejar kepergian gadisnya. Sedangkan dia sendiri tahu bahwa keinginannya tidak salah. Tahu bahwa seharusnya gadis itu yang berusaha meminta maaf dan mengejarnya. Tapi sudahlah, Luhan tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Yoona. Dia tahu Yoona memiliki alasan tersendiri dibalik penolakannya. “Apa pantas kau marah?” tangan Luhan menghentikan langkah Yoona cepat. Membuat gadis itu tersentak hingga berbalik menghadapnya. “Apa?” Yoona menghempaskan tangan Luhan kasar. Dia tidak ingin berdebat dengan Luhan dalam kondisi seperti ini. Tapi, sepertinya semua perlu diluruskan. “Hari ini aku berulang tahun, sayang. Aku Xi Luhan, hanya meminta hadiah dari kekasihku, Im Yoona. Aku tidak memaksa bila kau tidak ingin memberikannya. Tapi, kau justru meninggalkanku.” Luhan memandangi tangannya yang dihempaskan oleh Yoona tadi. Pandangannya nanar. Ada selaput bening yang mulai melapisi matanya. “Dan apa tanganku sehina itu? Kau bahkan menolak untuk kusentuh.” Tubuh Yoona bergetar hebat. Dia tidak tahu jika Luhan begitu terluka dengan sikapnya. Dia tidak benar-benar mengerti Luhan disaat namja itu membutuhkan perhatiannya. Yoona merasa dirinya begitu gagal dalam mengerti Luhan. Dan untuk sikap kasarnya, Yoona sungguh minta maaf. “Aku tidak bermaksud untuk membuatmu merasa terhina. Kau tidak menyentuhku Lu, kau mencengkeramku.” Perlahan mata Luhan menelisik kearah pergelangan tangan Yoona. Terdapat sebuah bekas memerah ditangannya, dan Luhan tahu bahwa itu akibat ulahnya. Dia menarik nafas dalam-dalam. Tidak ingin membuat masalah kecil menjadi besar saat emosi sedang menguasai dirinya. “Mianhae. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Luhan berucap dengan tulus. Mata hazelnya begitu memperlihatkan kebenaran dari apa yang ia katakan. Dan Yoona mengetahuinya dengan pasti. Mata Yoona mengikuti gerakan tangan Luhan yang perlahan berusaha menyentuh pipinya. Jantung Yoona berdegup kencang. Tidak biasanya Luhan berani untuk menyentuhnya. Bahkan dia pernah berkata bahwa dia tidak sampai hati untuk menyentuh Yoona karena ia takut melukai gadisnya itu. Dan kini Luhan mulai melanggar ucapannya sendiri. Tapi Luhan tidak benar-benar melakukannya. Dia kembali menurunkan tangannya saat Yoona melemparkan tatapan ketidaksukaannya atas perlakuan Luhan. “Pulanglah! Eommamu pasti khawatir.” Dengan sebuah senyum yang dipaksakan, Luhan berusaha untuk tetap tenang. Melihat Luhan yang sepertinya sudah baik-baik saja, Yoona tersenyum. Dia mengangguk mengiyakan perintah kekasihnya itu. “Aku pulang dulu, Lu.” Yoona berjalan pelan meninggalkan Luhan yang masih berdiri ditempatnya. Beberapa langkah kemudian, Yoona berbalik dan membentuk tangannya menjadi bentuk hati. “Saranghae, Luhan-ah.” Luhan tersenyum renyah seraya melambaikan tangannya. Dia tidak tahu Yoona bisa seromantis itu.

oOoOo

“Bagaimana? Kau sudah mencobanya, hyung?” Sehun menyenggol lengan Luhan yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Luhan hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Sehun. Dia tidak tahu apa yang ditanyakan oleh anak itu. “Mencoba apa maksudmu?” Sehun menghela nafas kasar. Dia sedikit kesal dengan Luhan yang bersikap sok polos. Padahal seharusnya Luhan tahu kemana arah pembicaraan mereka. “Yoona noona. Apa kau sudah mencoba untuk memintanya?” Luhan mendesah. Mendengar nama Yoona disebut membuatnya tidak bersemangat. Bagaimana tidak? Sehun saat ini sedang menanyakan tentang ciumannya dengan Yoona, yang pada kenyataannya tidak pernah ada. Luhan berbaring masih dengan handuk yang tersampir dibahunya. Sehun kemudian mengikuti Luhan dengan posisi yang sama. Hingga kini mereka sama-sama menatap poster-poster yang tertempel dilangit-langit kamar mereka. Sehun menoleh sekilas. Dia benar-benar ingin tahu bagaimana proses ciuman yang telah dilakukan kakaknya dengan gadis itu. Ya, Sehun mengenal dengan baik siapa itu Im Yoona yang sudah hampir 2 tahun ini menjabat sebagai kekasih kakaknya. Tapi, Sehun mengenal dengan baik hanya sebatas dari cerita-cerita yang Luhan katakan tentang gadis itu. Dan pada nyatanya, Sehun belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Luhan bilang, Yoona terlalu berlebihan dalam menjaga dirinya hingga terkadang Luhan berputus asa bagaimana menghadapi gadis itu. Menghadapi gadis overprotective mungkin masih sulit dilakukan Luhan, tapi tidak dengan Sehun. Dia sudah terlalu berpengalaman dalam menghadapi berbagai macam karakteristik wanita. Mulai dari gadis biasa hingga gadis berkepribadian langka sekalipun, Sehun pernah menghadapinya. Playboy kelas kakap seperti dia memang pantas diacungi jempol. Sayangnya, Luhan tidak mewarisi ke’playboy’an adiknya itu.

Luhan menoleh kearah Sehun dengan pandangan memelasnya. Hanya butuh waktu satu detik untuk Sehun mengartikan raut wajah kakaknya itu. Dan detik berikutnya, tawa Sehun terdengar menggema memenuhi ruangan berdominasi warna hitam putih itu. “Jadi, dia menolakmu? Lagi?” Sehun masih tergelak. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan hubungan Luhan yang begitu membosankan. Tidak ada bergandengan tangan, tidak ada ciuman, dan pastinya tidak ada hal-hal menyenangkan lainnya. Dilain sisi, Luhan begitu malu dengan Sehun. Beberapa hari lalu, Sehun bercerita bahwa dia sudah berhasil merenggut kesucian bibir Park Jiyeon. Lalu tadi siang, Sehun kembali bercerita bahwa dia sudah berhasil memutuskan Jiyeon dan pernyataan cintanya diterima oleh Bae Suzy. Dan sialnya, tidak butuh waktu lama untuk Sehun bisa mendapatkan ciuman dari pacar barunya itu. Berbanding terbalik dengan Luhan yang sudah hampir 2 tahun berpacaran tapi tidak pernah mendapatkan apapun. “Jangan khawatir, hyung. Aku akan mengajarimu trik untuk mendapatkan hati wanita.” Sehun tersenyum licik kearah Luhan. Tapi Luhan menganggapnya sebagai senyuman bodoh bocah ingusan.

Luhan bergerak geli setelah ponsel yang tidak sengaja tertindih tubuhnya bergetar. Dia melihat sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Yoona. “Sssttt! Lihat ini!” dengan bangga Luhan mempertontonkan ponselnya yang masih menunjukkan pesan masuk dengan ID kontak ‘My Lovely Deer’. Sehun mengangkat sebelah alisnya. “Bukalah!” Luhan mengangguk dan buru-buru membuka pesannya. Entah sejak kapan Luhan begitu menurut dengan perintah Sehun. Ah biarlah, yang terpenting dia ingin segera mengetahui apa isi pesan kekasihnya itu.

“Happy birthday, may I be the last person to say, because I want to be more recently being escort.”

Sehun membuka mulutnya lebar. Dia tidak percaya bila Im Yoona, gadis yang ia pikir kolot bisa mengucapkan kata-kata semanis itu. Benar-benar mencengangkan, menurut Sehun. “Sejak kapan dia seromantis ini, hyung?” tanya Sehun dengan raut kagumnya. Tidak sedikitpun Sehun merubah ekspresinya itu. Bahkan setelah Luhan bersorak gembira seraya memeluknya erat. “Kau lihat kan, hun? Yoona begitu mencintaiku. Dia bahkan berharap bisa menjadi pendamping terakhirku.” Luhan menggoncangkan tubuh Sehun. Dia benar-benar gembira. Yoona memberinya kejutan yang begitu istimewa. Dia merasa menjadi laki-laki yang paling berbahagia didunia hanya karena ucapan yang bahkan tidak secara langsung diungkapkan oleh Yoona. Sehun menggeleng. Hal seperti ini sudah biasa ia dapatkan. Tapi Luhan? Lihatlah! Namja memelas yang begitu senang hanya karena sebuah tulisan. Memalukan. Sehun beberapa kali terlihat menggerakkan bola matanya. Sepertinya otaknya mulai bekerja untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk membantu Luhan mendapatkan hadiahnya. “Hyung, apa kau masih menginginkan…” Luhan menoleh segera, setelah Sehun menyerukan sebuah kalimat sambil mengerucutkan bibirnya seolah meminta untuk dicium. “Kau memintaku menciummu?” Luhan yang sedang berguling-guling seraya mengetik balasan untuk Yoona sontak saja menjauh dari Sehun. Bosen dengan banyak wanita mungkin menyebabkan otak Sehun sedikit bermasalah. Sehun mengacak rambutnya kesal. “Bukan seperti itu maksudku, hyung.” Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Luhan ikut mendudukkan dirinya disamping Sehun dengan ragu. Ponselnya yang masih menyala membuat Luhan akhirnya melupakan sejenak masalahnya dengan adiknya itu. Dengan gesit, jari-jemari Luhan mengetik berpuluh-puluh kata hingga membentuk sebuah cerpen, menurut Sehun. “Kau itu membalas pesan singkat atau membuat karangan?” Sehun mendesah melihat kepolosan Luhan dalam urusan cinta. “Biar aku saja yang membalasnya.” Sehun langsung menyerobot ponsel Luhan. Si empunya ponsel hanya bisa mendengus saat ponselnya telah dibawa kabur. Sehun berlari kecil menuju pojokan kamarnya. Meninggalkan Luhan yang duduk ditepian kasur. Hanya berjarak beberapa meter, tapi rasanya begitu jauh. Terlebih pojokan kamar begitu gelap, membuat Luhan sedikit kesulitan melihat wajah Sehun dari tempatnya duduk. Yang bisa ditangkap oleh matanya hanyalah cahaya dari layar ponselnya yang diambil paksa oleh bocah ingusan itu.

“When the candle flame is refracted in my face, I happily united prayers for we, on the day my birthday, I promise to continue to take care of you.”

Sehun menekan tombol send dengan lincahnya. Dia baru saja mendapatkan kata-kata itu setelah beberapa menit mencari di internet. Tidak lupa, Sehun juga melampirkan sebuah foto kue tart lengkap dengan lilin yang ia peroleh dari internet pula. Sehun tersenyum puas. Dia yakin setelah ini, Yoona akan lebih terperangkap kedalam pesona Luhan. Semoga dengan ini, Luhan akan mendapatkan apa yang dia ingingkan.

Luhan menatap Sehun lekat-lekat. Dia ingin tahu apa yang sudah dilakukan oleh anak itu pada ponselnya, pada pesan Yoona untuknya. Melihat Sehun yang kembali mendekat kearahnya dengan wajah sumringah membuat Luhan sedikit curiga. “Apa yang kau katakan padanya?” Luhan segera mengambil alih ponselnya dari tangan Sehun. Berbeda dengan Luhan yang terlihat gusar, Sehun justru terlihat begitu tenang. Sesekali Sehun tersenyum bangga atas tindakan mulianya. “Bagaimana? Apa menurutmu itu romantis?” Sehun berbaring diatas sofa sambil mengamati ekspresi Luhan yang mendadak cerah. Dia bisa menebak jika Luhan sudah membuka kotak terkirimnya. Tanpa banyak berbasa-basi, Luhan sontak melompat keatas sofa. Menindih tubuh Sehun dan berkali-kali memeluknya. Jujur saja dia juga ikut senang. Tapi dia tidak yakin tubuhnya akan baik-baik saja setelah ini.

oOoOo

Luhan menunggu Yoona ditempat biasa. Mereka sudah membuat janji untuk makan siang bersama hari ini. Dan akan ada hal besar yang mungkin terjadi. Luhan tidak sabar menunggu hingga waktunya tiba. Mengingat dia sudah menyiapkan diri dan mentalnya. Luhan menghela nafas berkali-kali, mencoba untuk menetralisirkan rasa gugupnya. Ini bukanlah pertemuan pertama mereka, tapi entah mengapa Luhan tidak benar-benar bisa mengontrol dirinya. Jam tangan hitam yang melingkar dipergelangan tangan Luhan tidak henti-hentinya dia pandangi. Seolah jam itu begitu menentukan hidupnya hari ini.

“Sudah lama menunggu?” Luhan mengalihkan pandangannya dari sepatu ketsnya saat telinganya menangkap sebuah suara. Mata hazelnya mendadak berkilau ketika pemandangan indah itu memenuhi penglihatannya. Perlahan Luhan mulai bangkit, masih dengan tatapan kagum. Matanya tidak ingin berkedip sedetik saja, menunjukkan betapa menganggumkannya paras itu. Hingga mungkin dia merasa telah membuang waktu secara sia-sia hanya untuk berkedip. “Kau, apa kau Im Yoona?” Luhan mengeluarkan suaranya yang terdengar gemetar. Mengetahui seorang bidadari berdiri tepat dihadapannya tentu saja membuatnya semakin gugup. Sedangkan ‘bidadari’ itu hanya tersenyum, yang membuat dirinya semakin cantik. “Lu, kau tidak mengenaliku? Kekasihmu, Im Yoona.” Yoona, ya gadis itu tersenyum manis hingga nampak bulan sabit terbentuk dimata indahnya. Luhan masih terpukau. Dia tidak menyangka kekasihnya yang selama ini berpenampilan sederhana kini telah bertransformasi menjadi seorang putri cantik jelita. Dengan dress selutut berwarna hijau pupus, high heels yang tidak terlalu tinggi, dan gaya rambut berponi yang dibiarkan tergerai, membuat gadis itu semakin cantik. Dan Luhan tidak ingin sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Yoona. ‘Apa ini berkat pesan yang ditulis Sehun semalam?’ batin Luhan. Bila memang benar, maka Luhan berjanji akan mengganti headset Sehun yang ia rusak kemarin.

“Ehm…tentang pesanmu tadi malam, apa kau benar-benar melakukannya?” Yoona bertanya dengan malu. Seharusnya dia tidak menanyakan tentang hal ini secara langsung. Semoga saja Luhan tidak melihat betapa merahnya wajah Yoona kini. Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Yoona bingung. “Pesan apa?” dan dengan bodohnya, Luhan justru akan mengacaukan semua. Yoona balik menatap Luhan dengan pandangan tidak percaya, “Kau lupa?” tangan Yoona secara refleks memegang pergelangan tangan Luhan. Luhan mengamatinaya sejenak lalu kembali fokus pada Yoona. “Memang aku mengirim pesan apa?” Luhan kembali menunjukkan wajah bingungnya. Yoona melepas genggaman tangannya dipergelangan tangan Luhan. Ada sedikit perasaan kecewa yang dirasakannya. “Kau berada didepan lilin yang membiaskan wajahmu, kau berdoa untuk kita dihari ulang tahunmu, dan kau berjanji untuk terus menjagaku.” Luhan tersenyum kecil seraya mengacak rambut Yoona. Luhan tidak sebodoh itu. Dia ingat bahkan sangat ingat tentang pesan itu, namun ia berpura-pura bodoh. Dia hanya ingin mengetahui seberapa jauh Yoona memahami kata-kata yang dikirim Sehun tadi malam. Dan tada! Yoona benar-benar mengingatnya dengan baik. “Aku melakukannya, sayang.” Luhan mulai memberanikan diri untuk menggenggam jemari Yoona. Dan Yoona seperti tidak menolak. “Kau sendiri, apa kau ingat dengan pesan yang kau kirim semalam?” Luhan balik menanyai Yoona dengan pertanyaan yang hampir sama. “Tentu saja.” Yoona menjawab dengan mantap. Dia tidak ingin terlihat ragu dimata Luhan. Sudah cukup dia terlalu menutup dirinya dari Luhan 2 tahun ini. Dan mulai sekarang, Yoona akan bersikap selayaknya seorang gadis yang siap menyerahkan apapun dalam dirinya untuk laki-laki yang dia cintai. “Kau akan menjadi pendamping terakhirku?” Yoona mengangguk cepat seraya menyunggingkan senyum lebarnya. “Tapi apa aku benar-benar menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu?” Yoona melepas senyuman diwajahnya. Pandangannya berubah manja, seperti gadis remaja yang berusaha meminta jawaban atas pernyataan cintanya. Luhan terlihat ragu. Namun, pada akhirnya dia menjawab, “Yeah.” Bohong Luhan. Seingatnya tadi malam yang memberinya ucapan ulang tahun terakhir adalah ayahnya, ibunya, Sehun, dan masih banyak lagi. Sebenarnya Yoona tidak termasuk dalam list pengucap terakhir, tapi berbohong untuk kebaikan tidak masalah kan?

Yoona berjalan mendekat kearah Luhan. Tanpa butuh waktu lama, Yoona sontak menempelkan bibirnya ketas bibir Luhan. Pada awalnya Luhan terkejut, namun dia seakan terbawa oleh permainan Yoona yang begitu memabukkan. Perlahan tapi pasti. Seperti itulah gaya Luhan. Tangannya mulai menggerayangi tubuh Yoona dan berakhir pada tengkuk gadis itu. Luhan menakannya hingga ciuman mereka semakin dalam dan sulit untuk dilepas. Yoona juga terlihat menikmatinya dan sesekali terlihat mencengkeram jaket Luhan kuat saat namja itu mulai bermain kasar.

“Ternyata wanita lebih agresif dalam hal-hal seperti ini.” Sehun muncul dari balik semak seraya bersiap mengeluarkan kamera ponselnya.
CKRIK~

—THE END—

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshot] Kiss Me, Dear!

  1. selalu suka couple deer. luyoon manis bgttt…
    sukaaa, akhirnya luhan dapet jg yaa.. senang lah yaa.heeehee

  2. so sweet..
    psan eommanya yoona ada bnernya juga..
    jdi trasa manis dan membahagiakan di akhir crita..
    apalagi hubungan luyoon harus dibumbui sehun dulu..
    sehun lucu yg kluar dri semak2

  3. so sweet abizz,,,eh yoona eonni bener” menjaga dirinya
    sequelnya pe mereka nikah ma punya beby pasti lucu,,,ini masih ngantung.

  4. Mwo? Yah ampun, Lu. Ini so sweet bnget dah pas bgian trakhr td.
    Wah, yoona knp jd brubah gtu thoc? Emang, ibu yoona tahu gak thuc?
    Ini ckup lucu buat aku, ap lg Sehun yg rela brsembunyi disemak2 trus ngejepret foto hyungx yg g ciuman.
    Daebak lah.. Wah, gak trasa ultah Luhan gege tlah d.dpt mata..
    Nice..
    Chap 5 beautiful bodyguardnya d.tnggu yah.. 😉 fighting~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s