BEAUTIFUL BODYGUARD [CHAPTER 4]

Beautiful Bodyguard [Chapter 4]
Im Yoona | Oh Sehun | Kim Jongin
Comedy, Romance
Copyright © April 2015 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Yoona berjalan cepat memasuki areal perkantoran elite dipusat kota. Tangannya penuh dengan berbagai barang bawaan. Setelah mendapati kenyataan bahwa Sehun meninggalkannya, Yoona sama sekali tidak berputus asa untuk terus menjalankan tugasnya dengan baik. Kini ia terlihat sudah sampai didepan ruangan Sehun. Yoona menghela napas panjang dan bersiap untuk mengetuk pintu coklat dihadapannya. Ia harus benar-benar mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan dua manusia yang paling tidak ingin ia temui saat ini. Dengan mantap Yoona mengetuk pintu itu. Terdengar dari dalam Sehun menyahut ketukan pintunya dan mempersilahkan orang yang ada dibalik pintu untuk masuk. Yoona membuka pintunya perlahan, berusaha agar tidak menganggu orang-orang yang ada didalam. Ia berjalan cepat kearah meja kerja Sehun dan meletakkan kotak bekal yang dibawanya tadi. Sehun yang melihatnya hanya dapat mengangkat sebelah alisnya bingung. “Apa ini?” tanya Sehun. “Ini bekal untuk sarapan anda, tuan muda.” Jawab Yoona singkat. Setelah berkata seperti itu, Yoona segera berbalik dan berhenti sejenak untuk melihat yeoja centil yang saat ini sedang duduk disofa seraya memainkan kukunya. ‘Ck. Dasar menyebalkan! Dia bahkan bersikap seolah-olah diruangan ini hanya ada dia dan Sehun.’ Batin Yoona. Dia tidak mengerti jalan pikir yeoja itu. Terkadang setiap melihat Yoona, yeoja itu akan marah-marah dan mencaci Yoona kasar, tapi terkadang pula yeoja itu akan bersikap seolah Yoona tidak pernah ada dimuka bumi ini. Daripada pusing memikirkan sesuatu yang tidak penting untuknya, Yoona lebih memilih untuk cepat meninggalkan ruangan yang sudah seperti neraka ini. Sebelum pergi, Yoona membungkuk untuk memberi hormat pada Sehun yang hanya dibalas oleh lambaian tangan dari namja itu. Mungkin karena Sehun sedang sibuk, jadi dia tidak terlalu menanggapi pamitan Yoona. Bahkan Krystal saja sedari tadi terlihat dianggurkan atau lebih tepatnya dianggap layaknya tidak ada. Yoona mengelus dadanya lega. Keluar dari ruangan Sehun seperti keluar dari neraka, begitu bebas dan menyejukkan. Dia berjalan riang menuju lift terdekat. Ruang kerja Sehun berada dilantai 8 gedung perkantoran ini. Jadi maklum saja jika Yoona memilih untuk menaiki lift daripada berjalan melalui tangga. Yoona melirik jam tangannya sejenak. Sepertinya ia masih memiliki banyak waktu luang hari ini. Masa bodoh dengan Sehun yang akan menghadiri rapatnya atau tidak. ‘Pasti sekretaris Sehun sudah mengingatkannya kan?’ pikir Yoona. Beberapa saat kemudian pintu liftnya terbuka. Dengan terburu Yoona masuk kedalamnya tanpa melihat siapa yang berada didalam lift itu. Yoona memang memiliki kebiasaan buruk yaitu terlalu ceroboh dan seenaknya sendiri. Setelah masuk kedalam lift, Yoona segera menekan tombol angka yang menujukkan tingkat gedung yang akan ia tuju, dan lift akan dengan otomatis mengantarkannya. Yoona menoleh kesamping kiri dan menemukan seorang namja yang begitu ia kenal tengah berdiri disana. “OMO! Kai?” Yoona terlonjak kaget dan memundurkan langkahnya hingga menatap dinding lift. Kai tersenyum geli melihat reaksi Yoona yang begitu berlebihan saat mengetahui ia ada disini. “Wae?” Kai memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan bersikap sekeren mungkin. Ia tidak mungkin melewatkan kesempatan baik hanya berdua saja dengan Yoona ini tanpa melakukan apapun. Kai memasang ekspresi dingin yang ia pikir keren, tapi dimata Yoona ekspresi Kai itu layaknya ahjussi-ahjussi kesepian yang minta ditemani. “Ah, aku hanya terkejut kau tiba-tiba ada disini.” Yoona merapikan kembali pakaiannya dan bersikap seperti semula. Ia tidak ingin terlihat bodoh dan memalukan didepan namja itu. “Bukankah yang tiba-tiba masuk ke lift ini adalah kau? Aku bahkan sudah ada di lift ini sebelum kau.” Kai tersenyum menanggapi perkataan Yoona. Yoona berpikir sejenak, perkataan Kai memang benar. Dialah yang lebih dulu naik ke lift ini dan Yoona tanpa permisi langsung ikut naik begitu saja. “Ah, kalau begitu maafkan aku. Aku terlalu bersemangat untuk segera pergi jalan-jalan hari ini, jadi aku langsung saja naik.” Yoona tersenyum riang sambil membayangkan bahwa kebebasannya hari ini akan benar-benar menyenangkan. “Uh, kau tidak mengantar Sehun atau melakukan sesuatu dengannya hari ini?” tanya Kai antusias. Dia terlihat tidak sabar menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Yoona. Dan sepertinya jawaban yang akan diberikan oleh Yoona sesuai dengan harapannya. “Ani. Hari ini aku bebas karena sepertinya Sehun akan lebih banyak menghabiskan waktu dikantor. Kulihat dari jadwalnya, dia tidak ada perjalanan dinas kemanapun. Hanya ada beberapa rapat dengan karyawan dan partner bisnisnya, dan itupun dilakukan dikantor ini.” jelas Yoona panjang lebar. Kai yang mendengarnya hanya mengangguk seraya berusaha menahan dirinya agar tidak meledak karena senang. Kai berpikir mungkin ia bisa ikut bergabung dengan Yoona untuk menghabiskan waktu luang dengan berjalan-jalan. Dia juga bisa memanfaatkan kesempatan baik itu untuk semakin dekat dengan Yoona. “Lalu apa urusanmu datang kemari?” tanya Kai sebagai pembukaan dari inti pembicarannya yang berniat mengajak Yoona jalan-jalan bersama. “Ah, tadi aku hanya mengantarkan bekal Sehun saja. Kau sendiri?” tanya Yoona balik. “Kau lupa? Aku juga termasuk karyawan Sehun diperusahaan ini.” jawab Kai singkat. Yoona mengangguk mengerti dengan jawaban namja itu. Beberapa detik berikutnya mereka berdua sama-sama diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun untuk membuka topik pembicaraan lain diantara keduanya. Yoona lebih terlihat sibuk mengamati angka lift yang bergerak, sedangkan Kai lebih tertarik untuk meniupi rambutnya sambil berpikir bagimana cara menyampaikan niatnya. “Yoona, kau ternyata baik, ne.” Kai berucap dengan ragu. Yoona mengerjapkan matanya mendengar perkataan Kai yang sepertinya aneh. Tidak biasanya Kai akan memuji Yoona dengan kata-kata manis seperti itu. “Mwo? Aku memang baik. Kemana saja kau? Kenapa baru sekarang menyadari kalau aku itu baik?” Yoona tidak ingin berpikiran negatif, mungkin saja tadi Kai salah minum obat dan akhirnya membuat otak namja itu sedikit terganggu. Tapi sudahlah, mungkin Kai benar-benar ingin memperbaiki hubungan keduanya agar lebih baik dan tidak lagi bertengkar. “Ya kau benar. Selama ini aku kurang memperhatikan kebaikanmu.” Kai tersenyum kikuk sambil menepuk keningnya. Ia seperti menyesal sudah mengangkat kebaikan Yoona sebagai topik pembukaannya. Ini tidak sesuai dengan rencana Kai. ‘Kenapa aku merasa berdosa telah mengatakan bahwa Yoona baik? Aish, padahal kan aku tahu bagaimana sikapnya. Apa ini yang disebut berbohong?’ Kai membatin sambil memperagakan layaknya orang muntah. Tapi tentu saja Kai melakukannya dibelakang Yoona. Tidak mungkin kan jika Kai menunjukkan langsung dihadapan Yoona? Bisa-bisa besok dipemakaman dekat rumahnya sudah ada batu nisan bertulis R.I.P Kim Jong In. “Oh, apa kau baik, Kai?” Yoona menepuk lengan Kai dengan pelan. Kai tersenyum dan membentuk tangannya menjadi huruf O, seperti memberi kode bahwa ia baik-baik saja. “Ada apa denganmu hari ini? Kau berbeda sekali dari biasanya, terlebih lagi dari pertemuan pertama kita.” Yoona melipat tangannya didepan dada seraya bersandar pada dinding lift. Kai ikut melipat tangannya dan bersandar di dinding lift tepat disamping Yoona. “Karena memang suasana hari ini berbeda dengan suasana saat pertama kali kita bertemu. Hari ini kau begitu ya bisa dibilang sopan, tapi apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau terlihat seperti psikopat yang mengincar mangsanya. Katakan saja waktu itu kau mengintip.” Yoona terlihat tidak terima dengan pernyataan Kai. Wajah Yoona kini mulai memerah menahan malu sekaligus marah. “Uh, kenapa kau kembali mengungkit masalah itu?” Yoona mengerucutkan bibirnya sebal. “Tapi bukankah seperti itu kenyataannya?” Kai tersenyum dan mengacak rambut Yoona pelan. “Eitsss… tunggu! Bukankan kau juga bersikap buruk padaku? Kau mendorongku ke tembok lalu kau meletakkan tanganmu disamping telingaku…” ucapan Yoona terpotong saat tiba-tiba Kai mendekat kearahnya dan melakukan hal yang sama seperti saat itu. “Apa seperti ini?” Kai menghimpit tubuh Yoona dengan dinding lift dan meletakkan tangan kanannya tepat disamping telinga Yoona. Yoona menelan salivanya dengan berat. Dia tidak bermaksud untuk menyuruh Kai melakukannya lagi. Dengan susah payah Yoona mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kai. “Apa perlakuanku ini terlihat buruk?” Kai mencondongkan tubuhnya semakin rapat kearah Yoona. Membuat seorang Im Yoona sepersekian detik rasanya terbuai dengan perlakuan manis namja itu. “Aku mencintaimu.” Samar-samar Yoona mendengar pernyataan cinta yang diucapkan Kai sebelum akhirnya namja itu berhasil menghapuskan jarak diantara mereka. Kai mencium bibir Yoona dengan lembut, tidak ada nafsu didalamnya. Dan Yoona menerimanya dengan sukarela layaknya Kai adalah namja yang dicintainya. 5 detik kemudian Kai perlahan-lahan melepas tautan bibirnya dengan Yoona. Ia menatap Yoona yang baru saja membuka mata dengan penuh cinta. Senyuman tidak sedetikpun lepas dari bibirnya. “Mianhae. Sepertinya aku sudah mengotori bibirmu.” Kai dengan lembut menghapus jejak bibirnya dibibir Yoona dan terus saja meminta maaf atas perlakuannya tadi. “Kau belum menjawab pernyataan cintaku. Apa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku? Kumohon terima cintaku. Dengan begitu aku yakin, Sehun tidak akan mempermainkanmu lagi. Dan aku berjanji tidak akan mengecewakanmu seperti yang dilakukan Sehun padamu.” Kai menggenggam tangan Yoona kuat , berharap Yoona mau membuka sedikit kesempatan untuk Kai. Yoona terlihat bingung sekaligus bimbang. Tidak pernah ia diperlakukan semanis ini sebelumnya oleh namja manapun kecuali Sehun. “Ah, ak…ak…aku mencintai…” tiba-tiba lift terbuka dan nampaklah sosok namja cute tengah berdiri didepan lift. “Baekhyun…” Yoona tanpa sengaja mengucapkan nama Baekhyun karena ia melihat sendiri ada Baekhyun tengah berdiri didepan lift. Baekhyun menunjukkan ekspresi terkejut sambil menutupi mulutnya yang menganga dengan map yang dipegangnya. Sebelum Kai berbalik dan menemukannya, Baekhyun buru-buru menekan tombol liftnya berulang kali sampai akhirnya pintu lift itu kembali tertutup rapat. “MWO?” Kai berteriak kencang. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar telinganya. ‘Yoona mencintai Baekhyun.’ Batin Kai. Ia kemudian menghela napas panjang dan berbalik memunggungi Yoona. “Ba…bagaimana bisa kau mencintai Baekhyun?” Kai kembali menatap Yoona dengan ekspresi terkejut. “Kau, apa kau sedang bercanda? Kau menyukai Baekhyun? Namja jadi-jadian itu? Memangnya apa kelebihan dia yang tidak kumiliki? Aku lebih ba…” Yoona menutup mulut Kai yang berisik dengan tangannya. Yoona tahu kesalahpahaman yang tengah terjadi saat ini. ‘Dasar bodoh!’ umpat Yoona dalam hatinya. Ternyata tidak semua orang kaya berotak encer seperti otaknya. Salah satu orang kaya berotak dangkal yang pernah ditemui Yoona adalah namja yang kini ada dihadapannya. “Ssst! Kau berisik sekali. Sekarang giliranku untuk berbicara.” Yoona menyingkirkan tangannya dari mulut Kai. Membiarkan namja itu sedikit kesempatan untuk mengatur napasnya yang mulai tidak teratur. “Tadi aku melihat Baekhyun berdiri didepan lift ini.” Kai heran, bagimana bisa Yoona melihat Baekhyun? Apa lift ini tadi sudah berhenti? “Tadi memang lift ini berhenti dilantai 2. Tidak perlu memasang wajah bingung seperti itu. Aku tahu sampai sekarangpun kau masih bingung kan mendengar penjelasanku?” dengan ragu Kai mengangguk. Sebenarnya ada rasa tidak terima dengan perkataan yeoja itu, tapi bagimana lagi kenyataannya memang seperti itu. “Jadi Baekhyun melihat kita…” Kai memanyunkan bibirnya kearah Yoona untuk memperagakan adegan ciumannya tadi. Sontak saja Yoona memukul kepala Kai dengan keras hingga namja itu meringis kesakitan. “Hey! Ini sakit tau.” Kai mengelus kepalanya seraya mengumpat Yoona habis-habisan. Yoona hanya tertawa kecil sambil menepuk pundak Kai. “Sebagai permohonan maafku, bagaimana jika aku mentraktirmu es krim?” Kai menatap tidak percaya kearah Yoona. Ternyata keinginannya untuk menghabiskan hari ini bersama yeoja itu akan berhasil. Tanpa banyak protes, Kai langsung mengangguk mantap dan mengiyakan tawaran Yoona.

“Bagaimana? Aku sudah menepati janjiku kan?” Yoona menyenggol lengan Kai pelan. Namja itu terlihat mengangguk senang seraya menjilati es krim traktiran Yoona. “Kau harus sering-sering melakukan ini padaku.” Kai balik menyenggol lengan Yoona yang hanya dibalas dengan anggukan. “Tapi maaf, aku hanya bisa membelikanmu es krim. Aku tidak punya uang banyak untuk membelikanmu sesuatu yang lebih dari es krim ini.” Yoona memandangi es krim ditangannya dengan rasa bersalah. Mengingat orang-orang yang berada disekelilingnya adalah anak-anak konglomerat membuatnya merasa sedih. Dia tidak ingin membuat orang-orang itu malu karena berteman dengan seorang supir sekaligus pengawal sepertinya. Tapi sejujurnya, Yoona merasa sangat bersyukur. Ternyata masih ada orang kaya baik hati seperti Chanyeol, Baekhyun dan Kai yang mau berteman dengannya, tidak untuk Sehun. “Apa kau bercanda? Es krim ini begitu enak, bahkan lebih enak dari es krim yang kubeli di Amerika.” Kai mencoba menghibur Yoona dengan gurauan tidak masuk akalnya. Dia juga merasa dirinya menjadi begitu aneh jika bersama yeoja itu. Tapi satu hal yang ia sadari, bahwa hanya Yoona yang bisa membuatnya merasa nyaman. Yoona menyipitkan matanya. “Uh, kau pasti bukan seorang playboy.” Kata Yoona dengan nada menyindir. “Mana mungkin? Bahkan jika mantan-mantan kekasihku dihitung bisa membentuk barisan dari Seoul hingga Jeju.” Kai mengelak perkataan Yoona. Yoona yang mendengar elakan Kai hanya dapat tersenyum renyah sambil memegangi perutnya. “Uh, jinjja? Tapi kenapa kau tidak bisa berbohong?” Kai tersenyum sekilas kearah yeoja itu kemudian mencubit pipinya. “Neomu kyeopta.” Kai terus mencubiti pipi Yoona dengan gemas. “Appo-yo! dasar menyebalkan.” Yoona memegangi pipinya yang memerah karena ulah Kai dan tanpa sengaja menjatuhkan es krimnya. “Kenapa kau menjatuhkan es krimnya? Kalau tidak mau kenapa tidak berikan saja padaku?” Kai memarahi Yoona dengan tampang galaknya. Membuat Yoona mengerucutkan bibir lucu. “Aku tidak sengaja, Jongin-ah.” Yoona menunduk takut. Kai sudah terlihat seperti seorang ayah yang memarahi putrinya karena membuang-buang makanan. “Ah, sudahlah. Ini makan punyaku.” Dengan sukarela, Kai menyodorkan es krimnya kearah Yoona. Yeoja itu hanya mengerjapkan matanya tidak percaya melihat sikap Kai yang benar-benar baik padanya. “Tidak usah. Untukmu saja.” Yoona menolak pemberian Kai dengan lembut, berusaha tidak menyinggung perasaan namja itu. Kai terlihat berpikir. Dia tidak mungkin makan seorang diri sedangkan Yoona hanya bisa melihatnya. “Bagaimana kalau es krim ini kita makan berdua. Tidak masalah kan?” Kai tersenyum dengan ide cemerlang yang baru saja terlintas diotaknya. Yoona mengangguk setuju. Mereka kemudian mulai memakan es krim itu secara bergantian. Hingga pada akhirnya, tanpa sengaja saat Yoona hendak memakan es krimnya, Kai ikut mendekatkan bibirnya kearah bibir Yoona. Yoona menoleh sekilas kearah Kai, memandangi wajah namja itu dengan jarak sedekat ini. Kai samar tersenyum sebelum kembali mengulum bibir Yoona bersama dengan es krim yang ia makan. Mata Yoona membelalak, mengetahui bahwa Kai kembali mengotori kesucian bibirnya. ‘Aish, ini sudah kedua kalinya.’ Batin Yoona. Tapi aneh, seharusnya ada getaran-getaran aneh yang ia rasakan. Pada kenyataannya tidak sedikitpun ada getaran itu. Rasanya begitu hambar dan entahlah. “Rasa cokelat.” Kai kembali tersenyum manis setelah melepas bibir Yoona dari bibirnya. Yoona mendadak begitu canggung hingga ia sulit untuk mengucapkan kata-kata. Kai mengamati Yoona dengan pandangan khawatir, yeoja itu terlihat begitu pucat. ‘Apa ini teralu mendadak?’ tanya Kai dalam hati. “Lain kali aku akan membelikanmu sesuatu yang lain.” Yoona berjalan cepat meninggalkan Kai yang masih berdiri ditempatnya. “Kenapa aku jadi bodoh begini?” Kai mengacak rambutnya frustasi. Hasratnya yang begitu kuat justru menghancurkan segalanya. Pada dia baru akan memulai, tapi sepertinya semua sudah berakhir.

Hampir seharian ini Yoona mengurung dirinya dikamar. Beberapa pelayan mulai khawatir dengan Yoona karena yeoja itu tidak mau makan sama sekali. Setelah kembali dari kantor Sehun untuk mengantarkan bekal, yeoja itu langsung saja kekamar dan tidak keluar-keluar. Bahkan tugasnya untuk menjemput Sehun pun juga ia abaikan. Dan Yoona tahu jika namja itu nantinya akan marah-marah dan mengumpatnya habis-habisan. Tapi mau bagaimana lagi? Moodnya hari ini benar-benar buruk.

Sehun menggedor pintu utama rumahnya dengan kencang. Tidak peduli orang-orang didalam akan menggerutu atas perilakunya atau apa. Yang terpenting untuknya, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan yeoja itu. “Kenapa lama sekali membukanya?” Sehun melampiaskan kemarahannya pertama kali pada seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya. “Mianhae, tuan muda.” Sehun tidak menggubris permohonan maaf pelayan itu. Dia segera berjalan cepat masuk kedalam rumahnya. Dandanannya yang biasanya begitu rapi kini berubah acak-acakan. Pakaian yang biasanya kering kini basah kuyup. Dasi yang biasanya menggantung dilehernya dengan ketat kini berubah kendur. Sehun benar-benar terlihat mengerikan terlebih dengan raut marah yang kini terpasang diwajahnya. Dengan terburu, Sehun berjalan menuju kamar Yoona. Semoga saja keinginannya untuk segera bertemu yeoja itu dapat terwujud.

BRAKKK

Sehun membuka pintu kamar Yoona yang tidak terkunci dengan keras. Menerobos masuk begitu saja hingga membuat si empunya kamar merasa tidak suka dengan perilakunya. Yoona menunda rencana mengomelnya, saat matanya melihat penampilan Sehun yang begitu berantakan. Ada rasa aneh yang tiba-tiba merasuk dalam hatinya. Rasa bersalahlah yang paling mendominasinya. Mengingat bahwa Sehun menjadi mengerikan seperti itu karena perbuatannya. “Aku tidak membayarmu untuk tidur dan bermalas-malasan dikamar.” Sehun menaikkan suaranya hingga membuat beberapa pelayan yang merkumpul didepan kamar Yoona tersentak kaget, tak terkecuali Yoona sendiri yang merupakan tersangka dalam masalah ini. “Apa kau pikir kau bisa berbuat seenaknya dirumah ini? Apa kau pikir karena aku meyukaimu kau bisa berbuat seenaknya, hah? Aku bahkan harus pulang dengan menaiki taxi dan kehujanan pula.” Dengan kesal, Sehun membanting jas yang tersampir dibahunya kelantai. Membuatnya terlihat semakin kotor dan menjijikkan. Yoona yang mendengar omelan Sehun hanya dapat memejamkan mata kuat. Namun, setelah ia mendengar kalimat kedua yang diucapkan Sehun, matanya sontak membelalak. “Mwo?” Sehun mengamati Yoona dengan ekspresi kesal yang semakin menjadi. Sedari tadi dia berteriak-teriak pada yeoja itu tapi responnya hanyalah ‘mwo?’. “Apa kau tuli?” Sehun menurunkan sedikit volume suaranya. “Ah, bukan itu. Kalimat kedua yang kau ucapkan tadi. Kau menyukaiku?” Yoona menyahut dengan cepat. Merasa sangat penasaran bagaimana namja itu menjelaskan tentang ucapannya tadi. Raut Sehun yang semula serius kini berubah bingung. Bibirnya mendadak kelu dan tidak bisa mengucapkan pembelaannya. “Apa aku tidak salah dengar?” Yoona kembali melemparkan pertanyaan yang membuat Sehun semakin didera rasa bimbang dan gelisah. Tanpa berniat menjawab atau apa, Sehun segera berbalik dan berjalan keluar dari kamar Yoona. Dia mengedarkan pandangannya kearah pelayan-pelayannya dengan raut malu. Namun, Sehun tidak ingin terlalu memperlihatkannya, “Kenapa kalian hanya berdiri disini? Cepat kerjakan pekerjaan kalian sana!” semua pelayan hanya dapat mengangguk dan kemudian pergi ketempat mereka masing-masing. Sehun terlihat menangkupkan kedua tangannya kewajahnya dan merasa begitu menyesal telah mempermalukan dirinya sendiri didepan orang-orang rendahan seperti pelayan-pelayan itu. ‘Sepertinya aku perlu memeriksakan diriku ke dokter.’ Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk pergi kekamarnya dan menenangkan diri.

Yoona mengeluh kelaparan ditengah malam seperti ini. Perutnya yang memang kosong karena seharian tidak kemasukan makanan mulai merongrong meminta jatahnya. Dengan terpaksa, Yoona keluar dari kamarnya untuk mencari makanan. Dia berjalan mengendap-endap menuju kulkas, tempat berkumpulnya makanan enak. Dia sengaja tidak menyalakan lampu agar tidak mengganggu tidur nyenyak orang-orang dirumah itu. Dia juga tidak ingin tertangkap basah mencuri makanan ditengah malam begini. Namun, tanpa ia sadari seorang namja tengah berdiri tepat disamping saklar lampu. Namja itu tiba-tiba menyalakan lampunya yang membuat Yoona mendongak kaget. ‘Siapa yang menyalakan lampunya?’ Tanya Yoona dalam hatinya. Dia masih tidak mengetahui jika sang pemilik rumah sedari tadi memperhatikan setiap gerak-geriknya. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Yoona menoleh kaget kearah sumber suara. Makanan yang berada ditangannya sontak terjatuh begitu saja. Mulutnya menganga lebar mendapati Sehun tengah menangkap basah dirinya. “Kau kelaparan?” Sehun tersenyum merendahkan. Menatap sosok Yoona yang masih berjongkok didepan kulkas dengan pandangan mencemooh. Yoona sontak berdiri, dia tidak ingin terlihat semakin rendah dihadapan namja itu. “Ne. Aku memang kelaparan. Jadi, aku berniat memakan semua makanan ini.” Yoona berucap dengan lirih. Terdengar begitu jelas jika suaranya bergetar. Menampakkan raut terluka atas tatapan dan perkataan namja itu. Sehun duduk dikursi makan seraya menuangkan segelas air untuknya sendiri. Sedetik kemudian, air didalam gelas itu telah habis dalam satu tegukan. Sehun meletakkan gelasnya keatas meja dengan keras hingga timbul suara yang membuat Yoona sedikit berjingkat. “Makanlah! Setelah itu, kembalilah kekamar dan istirahat! Besok kau harus mengantarku ke Jeju.” Sehun berbalik dan kembali berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Yoona dengan segala perasaan terhina. “Jangan lupa mematikan lampunya!” Sehun terus berjalan tanpa berbalik sekalipun ia sedang mengingatkan Yoona. Mata Yoona memanas melihat tingkah konyol Sehun yang ia rasa telah benar-benar melukai perasannya. Dia kemudian duduk dan memakan semua makanan yang telah diambilnya dari kulkas. Yoona memakan satu per satu makanan itu tanpa henti dan tanpa minum. Yoona memukul-mukul dadanya yang mendadak sesak, mungkin karena ia terlalu banyak makan. Ia menuang air kedalam gelas yang tadi dipakai oleh Sehun. Dia tidak peduli jika itu bekas Sehun, yang terpenting ia tidak mati tersedak karena terlalu banyak makan. Sehun memandangi Yoona dari kejauhan, membiarkan yeoja itu melakukan apapun didalam rumahnya. Bibirnya tiba-tiba melengkung indah saat ia mengetahui bahwa Yoona memakai gelas yang tadi dipakainya. Muncul harapan dalam hati Sehun, ‘Semoga saja dia memakai tepi yang sama.’ Dan saat Yoona meminum airnya, Sehun segera berteriak tanpa suara melihat Yoona benar-benar memakai tepi gelas yang sama dengannya. ‘Apa itu tandanya kita telah berciuman secara tidak langsung?’ Sehun kembali tersenyum. Sepertinya dia akan semakin gila jika terus saja menyembunyikan perasaannya seperti ini. Mata Sehun berniat untuk kembali memandangi yeoja itu, namun sayang dikursi yang di duduki Yoona tadi, sekarang sudah kosong. ‘Apa dia sudah kembali kekamarnya?’ Sehun celingukan kesana-kemari mencari sosok Yoona, namun hasilnya nihil. Dan pada akhirnya dengan setengah hati, Sehun melangkahkan kakinya kedalam kamar. Yoona mengamati ketempat dimana Sehun tadi berdiri. Dia kembali duduk dikursi setelah ia yakin Sehun sudah masuk kedalam kamar. ‘Kenapa dia memperhatikanku seperti itu?’ Batin Yoona bingung. Dia sengaja bersembunyi dikolong meja untuk mengindari pengawasan namja itu. Sepertinya ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh namja itu, menurut Yoona. Tanpa ingin ambil pusing, Yoona kembali menyantap makanan menggiurkan dihadapannya.

Pukul 05.45 waktu setempat. Yoona telah bersiap dengan pakaian rapinya. Dia sedang menunggu Sehun karena namja itu menyuruhnya untuk bersiap lebih awal. Sehun ada acara meeting dengan client pentingnya dari Amerika Serikat di Pulau Jeju dan kemungkinan mereka akan berada disana sekitar 2 hari. Yoona mendapat tugas untuk mengantar dan mengawal namja itu. Membayangkan akan melalui 2 hari kedepan dengan namja menyebalkan itu membuat Yoona bergidik ngeri. Namun, demi keprofesionalitasnya dia harus melakukan segala dengan senang hati. “Apa kau sudah siap?” Yoona tersenyum menyambut kedatangan Sehun. Namun, namja itu tidak membalas senyum Yoona sedikitpun. Ia justru memasang wajah datar dan seperti tak menganggap Yoona. “Cepat buka pintunya!” Yoona mengerucutkan bibir kesal melihat sikap dingin yang kembali ditunjukkan oleh namja itu. “Ne.” jawab Yoona singkat. Ia kemudian membukakan pintu mobilnya sesuai dengan perintah Sehun tanpa penolakan. Yoona bersiap memakai sabuk pengamannya hingga Sehun kembali memerintahkannya untuk mengambilkan sesuatu. “Kau, tolong ambilkan dokumen yang tertinggal diatas meja ruang kerjaku.” Yoona kembali melepaskan sabuk pengamannya dan berjalan malas kedalam rumah untuk me ngambil dokumen Sehun. Sehun mengumpat kesal pada Yoona yang ia anggap lamban dalam bekerja. Matanya melirik sekilas kearah jam yang terpampang didashbor mobilnya. Sehun berniat mengecek ponselnya untuk sekedar memastikan jadwalnya hari ini, namun nihil. Dia menggerayangi tubuhnya sendiri mencari barang berbentuk kotak tipis itu. Sehun mencoba untuk memutar otaknya mencari kemungkinan dimana ponselnya itu berada. Dan tak lama kemudian, Sehun menjentikkan jari karena berhasil mengingatnya. Dengan cepat, dia keluar dari mobil dan mulai berlari menuju rumahnya. Dilain tempat, terlihat Yoona dengan tergesa-gesa menuruni tangga. Dia membawa dokumen Sehun ditangannya. Tepat saat berada didepan pintu, Yoona menarik gagang pintu itu cepat. Membuat Sehun yang hendak mendorong pintu itu dari arah luar jatuh tepat dipelukannya. Tanpa sengaja kejadian itu membuat bibir Yoona dan Sehun bersentuhan. Sehun memandangi Yoona dengan ekspresi terkejut, tak berbeda halnya dengan ekspresi yang ditunjukkan Yoona. Suasana mendadak begitu canggung hingga akhirnya Sehun yang bereaksi untuk pertama kali. “Pergilah ke mobil lebih dulu! Aku ingin mengambil ponselku yang tertinggal dikamar.” Sehun menyuruh Yoona untuk pergi ke mobil terlebih dulu. Yoona hanya mengangguk menanggapi perintah bossnya itu. Sehun kembali berbalik memandang punggung Yoona yang semakin menjauh darinya. Ada senyuman yang tampak diwajah tampannya, membuatnya terlihat semakin tampan. ‘Ternyata semua benar-benar terjadi.’ Batin Sehun seraya memegangi bibirnya yang baru saja dijamah oleh bibir Yoona. Walaupun tercipta melalui ketidaksengajaan dan hanya sebentar, namun ciuman itu benar-benar membekas untuknya.

1 jam perjalanan dari Seoul ke Jeju dihabiskan oleh Yoona dan Sehun untuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada yang membuka percakapan, mencairkan suasana tegang yang terbangun karena insiden tadi. Yoona sesekali melirik Sehun dari kaca spion depannya. Mengamati bahwa namja itu tengah sibuk dan mungkin sudah melupakan insiden itu. Tapi pada kenyatannya, Sehun hanya berpura-pura terlihat sibuk untuk menyelamatkan dirinya dari tatapan Yoona. Disaat seperti ini rasanya pergi berdua saja dengan yeoja itu membuatnya gugup. Namun, Sehun dan Yoona tetap membiarkan keheningan mendominasi diantara mereka. ‘Aku tidak tahan untuk tidak berbicara dengannya.’ Sehun menggerutu dalam hatinya. Dia benar-benar merasa hilang kendali atas dirinya. Membuatnya frustasi dan tidak tenang. “Kita sudah sampai.” Kata Yoona pelan. Sehun mengangkat sebelah alisnya, “Sudah sampai?” wajahnya benar-benar menunjukkan ekpresi terkejut yang luar biasa. “Hm. Kita sudah sampai.” Yoona melepas sabuk pengamannya dan berjalan untuk membukakan pintu majikannya itu. Sehun menghela nafas panjang, hanya untuk mempersiapkan dirinya bila berpapasan dengan Yoona. Setelah Yoona membukakan pintu untuknya, Sehun begitu lega. Beruntung setelah ini dia akan berjauhan dengan yeoja itu. Dan mungkin semua akan terasa lebih baik.

Sehun duduk disebuah meja yang telah dipesannya dengan gelisah. Dia sedang menunggu client pentingnya dari Amerika. Namun, bukan clientnya yang membuat dia gelisah melainkan seseorang yang kini ia tinggal sendirian dihotel. Tangannya terus saja mengetuk-ngetuk meja hingga beberapa pelayan yang berdiri didekat sana menoleh kearah Sehun. Tak berapa lama, client yang ditunggunya datang juga. Sehun segera berdiri untuk menyambut kedatangan clientnya itu. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan sebagai salah satu bentuk kedekatan yang terjalin diantara kedua perusahaan itu. “Selamat datang, Tuan Kim Suho.” Sehun tersenyum ramah seraya mempersilahkan pengusaha Amerika yang ternyata berasal dari Korea itu duduk. “Terima kasih, Tuan Oh Sehun.” Mereka duduk ditempat masing-masing dan mulai bercakap-cakap. “Ehm. Apakah anda merasa keberatan jika saya meninggalkan anda sebentar?” Sehun meminta waktu kepada Suho untuk pergi sebentar saja kesuatu tempat. Dia mengutarakan alasan bila istrinya tengah menunggunya dihotel. Dan dengan senang hati, Suho mengijinkan Sehun untuk menyelesaikan masalahnya dengan istrinya terlebih dahulu. Sehun membungkuk seraya tersenyum senang. Ia kemudian berlari menuju hotel tempat Yoona menunggunya. Hotel itu berada tidak jauh dari restaurant tempatnya mengadakan pertemuan. Membuat Sehun bisa menjangkaunya dengan mudah. Dia terus berlari hingga ia menemukan sosok Yoona sedang ada dilobi hotel. “Hey, pengawal!” Sehun berteriak kearah Yoona dengan panggilan yang begitu membuat Yoona dongkol mendengarnya. Dia tidak malu dengan profesinya itu namun tidak seharusnya Sehun mengubarnya begitu saja. “Mwo?” Yoona segera melemparkan tatapan mengerikannya kearah Sehun. Sehun yang melihatnya hanya dapat mengerutkan kening, “Kau berani menatap seperti itu pada bossmu?” Sehun balik menanyai Yoona dengan tatapan yang tak kalah mengerikan. Mata Yoona sontak melemah menyadari memang dia tidak sepantasnya memperlakukan bossnya seperti itu. “Ikut aku!” Sehun menarik tangan Yoona kencang. Membimbing yeoja itu menuju pusat perbelanjaan yang berada tak jauh dari hotel tempat mereka menginap. “Bukankah kau ada meeting?” Yoona memandang kearah Sehun dengan bingung. Bukannya menjawab Sehun justru semakin menarik tangan Yoona yang membuatnya sedikit kesakitan. Sesampainya didalam pusat perbelanjaan itu, Sehun segera membawa Yoona masuk sebuah toko pakaian. “Tolong urus dia.” Perintah Sehun pada beberapa pramuniaga yang menyambut kedatangannya hangat. “Apa yang akan kau lakukan?” Yoona berteriak-teriak pada Sehun untuk meminta kejelasan. Para pramuniaga itu membawanya menuju ruang ganti dan menyediakan banyak pakaian yang siap untuk dipakaikan ditubuh Yoona. Sehun duduk seraya mengamati jam tangan yang ia kenakan. Sebenarnya ia tidak enak membuat clientnya menunggu lama, namun dia juga tidak tenang bila harus meninggalkan Yoona seorang diri. Dia terus menghela nafas menunggu para pramuniaga itu bekerja, merubah si itik buruk rupa menjadi putri cantik jelita. Yoona keluar dengan sebuah dress mini ketat yang membalut tubuhnya. Sehun sedikit terkejut dengan penampilan Yoona yang begitu menawan, tapi dia tidak menyukai dress itu karena terlalu menampakkan bentuk badan Yoona. Dengan yakin, Sehun menggeleng. Yoona kembali kedalam ruang ganti untuk mencoba pakaian berikutnya. Beberapa menit kemudian, Yoona keluar dari ruang ganti dengan dress berwarna merah cerah yang membuat silau mata Sehun hingga namja itu segera menggeleng cepat. Yoona mendengus dan hampir saja mengumpat pada Sehun, namun mengingat mereka sedang berada ditempat umum membuat Yoona kembali mengurungkan niatnya. Dan Yoona kembali masuk kedalam ruang ganti, ini sudah ketiga kalinya. Bila Sehun masih menolak maka Yoona akan benar-benar berteriak pada namja itu. Masa bodoh orang akan mengatakannya gila atau apa. Pada akhirnya Yoona keluar dari ruang ganti dengan sebuah dress berwarna sweet pink selutut dan tanpa lengan. Sehun yang sedang mengutak-atik ponselnya, sontak beralih memandangi Yoona yang begitu terihat cantik. Sehun berdiri dari duduknya dan terus memandangi kearah Yoona dengan tatapan kagum. “Apa menurutmu ini bagus?” pertanyaan yang diajukan oleh Yoona mampu membuyarkan tatapan kagum Sehun terhadapnya. “Ne. Kau sangat cantik.” Bibir Sehun seolah berucap tanpa mendapatkan kontrol dari otaknya. Yoona mendadak tersenyum senang mendengar pujian yang ia rasa tulus dari namja itu. Tanpa butuh waktu lama, Sehun segera membayar pakaian itu dan kembali menyeret Yoona masuk kedalam salon. “Apa lagi ini?” Yoona dipaksa duduk didepan cermin besar. Rambutnya yang terikat kini mulai dibiarkan tergerai oleh para penata rambut itu. Bibirnya yang pucat segera diberi lipstick berwarna pink agar membuatnya terlihat segar. Dan wajah Yoona yang putih polos tanpa make up, segera saja disapu dengan bedak dan lain sebagainya. 10 menit menunggu, Sehun akhirnya disuguhi pemandangan luar biasa. Yoona, pengawal yang biasanya terlihat biasa saja kini tampil cantik bak seorang putri. Membuat Sehun tidak sabar untuk segera mengakui yeoja itu sebagai istrinya. “Apa kau sudah siap?” Yoona mengerutkan kening dengan pertanyaan Sehun. “Siap untuk apa?” Sehun hanya tersenyum sekilas, dan segera menggenggam tangan Yoona erat. Membiarkan yeoja itu terus mengomel sepanjang jalan karena ulah Sehun yang membuatnya harus memakai sepatu hak tinggi. Sehun terus menggenggam tangan Yoona seperti tidak ingin melepaskannya. Yoona pun hanya tersenyum seraya terus mengikuti kemana langkah Sehun membawanya. Beberapa menit kemudian, Sehun dan Yoona telah sampai direstaurant tempat meeting diadakan. Mereka merapikan pakaian masing-masing yang terlihat sedikit kusut akibat berlari. Sehun melepas genggamannya kepada Yoona. “Pakai ini!” Sehun menyodorkan sebuah cincin perak yang dihiasi sebuah permata untuk Yoona. Dia tidak ingin terlihat berpura-pura dalam hal ini. Dia juga ingin meyakinkan bahwa seorang Oh Sehun bukan lagi pria berstatus lajang. “Kenapa aku harus memakainya?” Tanya Yoona dengan wajah polos. Sehun menatapnya datar seraya menyerobot cincin ditangan Yoona dan dengan paksa mulai memakaikannya dijari manis yeoja itu. “Kau akan menyelamatkan hiduku dengan ini.” Sehun kembali menggandeng tangan Yoona, kai ini dengan lebih lembut. Suho menyambut kedatangan Sehun dan Yoona dengan sopan. “Ah, jadi ini istrimu, Tuan Oh?” Suho menepuk lengan Sehun pelan. Yoona hanya menunduk dan tertawa, merasa sedikit bingung dengan ucapan namja itu. “Oppa…” seorang yeoja tiba-tiba datang dan langsung memeluk Sehun. Yoona dan Suho yang melihatnya hanya bisa membelalakkan mata tidak percaya. “Soojung-ah, apa yang kau lakukan? Lepaskan dia! Lihatlah, ada istrinya disini.” Suho segera memarahi yeoja bernama Soojung itu karena sikap kurang ajarnya yang sembarangan memeluk suami orang. “Mwo? Istri? Istri siapa yang oppa maksud?” Soojung memasang ekspresi penasarannya kepada Suho, meminta agar namja itu tidak mengada-ada tentang istri. “Ne. Dia adalah istri Tuan Oh. Jadi, jangan kau memeluknya secara sembarangan seperti itu.” Suho menarik tubuh Soojung agar sedikit menjauh dari Sehun. Dia merasa tidak enak hati atas sikap adik iparnya itu. “Mwo? Ba…bagaimana mungkin dia mengaku-ngaku sebagai istri Sehun Oppa?” Soojung terkejut ketika wanita yang disebut oleh Suho sebagai istri Sehun adalah Yoona. Yoona memasang ekspresi kesalnya karena lagi-lagi dia direndahkan oleh yeoja itu. “Benar. dia adalah istriku.” Sehun segera menunjukkan cincin yang melingkar dijari manisnya kepada Soojung, begitupun Yoona. soojung berteriak kencang dan pergi begitu saja meninggalkan orang-orang yang membuat moodnya buruk. Suho meminta ijin kepada Yoona dan Sehun untuk mengejar adik iparnya itu sebentar, dan Sehun mengeijinkannya. “Sojung-ah… Soojung-ah, tolong berhenti sebentar!” teriak Suho seraya berjalan cepat mengejar Soojung yang terlihat masih kesal. Sehun dan Yoona duduk berdampingan. Mereka terdiam cukup lama, membuat heningnya suasana menjadi semakin hening. “Sebenarnya apa maksudmu membawaku kemari?” tanya Yoona tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya. “Mianhae. Mungkin kau menganggap aku hanya memperalatmu saja.” Sehun terlihat menekuk wajahnya dengan menyesal. “Jadi, semua ini telah kau rencanakan?” Yoona kembali bertanya dan matanya mendadak berkaca-kaca. “Hm. Statusmu sebagai istriku, itu semua hanya trik agar Kim Suho mau bekerja sama dengan perusahaanku tanpa tahu bahwa aku menolak adik iparnya.” Sehun menghela nafas sejenak sebelum kembali meneruskan perkataannya. “Aku tidak ingin karena penolakanku terhadap Krystal, Kim Suho kemudian membatalkan kontrak kerja sama kami. Aku takut bila Krystal nantinya akan mempengaruhi Suho dan mengacaukan segalanya. Dan dengan adanya dirimu yang memiliki status palsu sebagai istriku, mungkin Suho akan mengerti dan tidak akan goyah akan kerja sama kami karena tahu aku telah memiliki seorang istri. Dan dengan begitu, semua akan berjalan sebagaimana keinginanku. Aku tetap menjalin kerja sama dengan Suho sekaligus mampu membuat Krystal jera untuk mengejarku.” Yoona berdiri dan berjalan terpincang-pincang meninggalkan Sehun yang berteriak memanggilnya. Yoona sudah cukup terluka karena sepatu hak tinggi yang ia pakai dan sekarang Sehun justru menambah luka dihatinya. Yoona merasa seperti layang-layang yang diterbangkan angin untuk beberapa saat dan kemudian dilepas begitu saja hingga hilang tak terlihat lagi. Semua perlakuan Sehun padanya hanya untuk memuaskan hasrat Sehun sendiri. Namja itu tidak pernah memikirkan bagaimana orang lain berbunga-bunga dengan perlakuan manisnya, namun begitu tersakiti ketika dicampakkan begitu saja. Dan lagi-lagi Yoona bodoh dan terlambat mengetahui semua itu.
“Yoona…”

—TO BE CONTINUED—

Advertisements

22 thoughts on “BEAUTIFUL BODYGUARD [CHAPTER 4]

  1. yaaahh yoong jadi salah paham kan? emang bener sih sehun cuma manfaatin dia, tapi kan sehun udah jatuh cinta walaupun belum berani ngakuin :3
    next chapnya jangan lama2

  2. Woo kenapa Sehun ngak ngaku aja ke Yoona kalo dia suka -_- ah pen bgt manas” in Sehun karna Kai ..
    Ditunggu lanjutanya thor^^

  3. Kritik boleh gak? . . .bukannya chapter sebelumnya Yo0nhun udah pernah tidur bareng kalo gak salah dan bukannya sehun sempet merekam dan mempert0nt0nkannya pada chanye0l,baekhyun,sama kai??tpi kenapa sehun disini kesannya seperti bru mengalami semua hal untuk pertama kalinya. Dan juga untuk m0men kai yo0na nya sedikit dipaksakan menurutku, . Dan juga kenapa disini yo0na nya gak terus berada disisi sehun, setauku kalo BODYGUARd itu tugasnya melindungi dan 24jam disamping tuannya. .MAAF saya cuma sedikit mengoreksi gak maksud apa” . .author Mianhe

  4. aduuuh lagi asyik2 baca tbc.maaf ya bru bisa comment. duuh kasian sama yoona eonnie perasaannya selalu terluka dan sehun kpan dia akan menyadari perasaannya sama yoona jdi makin penasaran ditunggu next chap ya thor. jngan lama2….fighting…

  5. Knp hrs ad is kristal siii.. Yoona psti kecewa bgt tuuuh haddeeehh,,itu yg terakhir manggil kai kaaah?? D tunggu next chapter..

  6. kerennnn lanjutnya jgn lama lama ya!
    yoona suka sehun,sehun juga cma gx ngaku,kai suka yoona. woahhh yoona bkl direbutin dua cogan nichhhh
    lucu ps moment yoonkai di lift tiba tiba ada baek …. hahaha…..

  7. Aigoo, yoona makin menderita thuc krn Hun oppa makin sadis sja :/
    alurnya rada kcepatn thuc kyaknya, but Its okey..
    Feelnya dapet kok..
    Law Hun oppa gini trus, lama2 Kai oppa lbh unggul nih buat Yoona.
    Next thor~
    makin seru+penasarn.
    Fighting thor~
    keep writting thor!

  8. aigoooo…

    sehunnie kejam amat sihh kan kasihan yoona …. kpn sih dia mau sadar sama perasaan.a sendiri

  9. Ih sehun nyebelin ew!!!
    Kasihan yoongie!! Cuma jadi alat nya doank~ kesek bete ah!
    Seriusan emosinya(feelny) dapat banget.
    Gak suka aja nengok sehun, dia cinta sama yoongie tapi kok kasar gitu ya sama Yoona? Ikhh, g stuju bgtm~ wkwk!…
    Pokoknya ini harus di next! Fighting author💞

  10. yahh, yoona salah paham, ayolah sehun mengaku saja klo menyukai yoona. awas kalah cepat sama kai..

  11. yoona g nydrn cnt sehun tp knp sehun slalu brskp sprt itu??kai bnrn cnta ma yoona…knp baekhyun mlh prg stlh lht yoona n kai

  12. nyesek di akhir,,,,kenapa ga mong jujur ajah padahalkan saling suka.
    alurnya juga kecepetan
    di tunggu banget kelanjutannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s