[Oneshot] Love Never Felt So Good

Love Never Felt So Good
Im Yoona | Byun Baekhyun | Park Chanyeol
Comedy, Friendship, School Life
Copyright © April 2015 by (Icyoona)
Disclaimer : Cast milik Tuhan, orang tua dan agensinya. Saya hanya meminjam nama untuk kepentingan hiburan semata.
A/N : The story is purely mine. Don’t think too much. Don’t be siders and keep RCL.
—HAPPY READING—

Tangan nakal Baekhyun mulai bergerak menggerayangi tubuh Yoona. Menyentuh organ-organ sensitif gadis itu dengan lihainya. Tidak sedikitpun Baekhyun menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati tubuh gadisnya itu. Sekalipun Yoona meronta tetap saja tidak dihiraukannya. Desahan-desahan yang sedari tadi keluar dari bibir Yoona menjadi sensasi tersendiri untuknya. Mata cokelatnya yang selalu nampak polos kini berganti menjadi mata pemangsa yang siap menerkam Yoona dalam cinta. Baekhyun menggeliat pelan. Tangannya masih setia memeluk tubuh kurus Yoona yang tidak terbalut kain sedikitpun. “Ah, dingin.” Gumam Baekhyun. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoona. Gadis itu terlihat senang dan tidak menolaknya. “Ah, basah.” Gumam Baekhyun lagi. Kali ini ia mengelus tubuh Yoona, berharap mendapat kehangatan dari gadis itu. Namun, bukannya kehangatan yang ia dapat melainkan suara berisik yang ditimbulkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. “Aish, diam!” Baekhyun berteriak kencang seraya melemparkan bantal yang dipakainya kearah orang itu. “Ah, Yoona Sunbae.” Baekhyun menyebut nama seorang gadis yang membuat Ibu Baekhyun mendesis melihat reaksi Baekhyun yang masih saja tidak berniat bangun. Wanita paruh baya itu kembali memukul-mukul pantat embernya untuk membangunkan Baekhyun. Namun, lagi-lagi anak nakal itu hanya menggeliat dan mengelus-elus guling yang ada dipelukannya seraya memanggil-manggil nama Yoona. “Hey! Baekhyun-ah, ireona!” Byun Ahjumma menggoncang-goncangkan tubuh Baekhyun dengan keras. Hingga akhirnya namja itu terpaksa membuka matanya. “Yoona Sunbae…” Baekhyun berteriak setelah ibunya menyiramkan satu ember air ketubuhnya. Ini merupakan ember kedua setelah satu ember penuh air yang pertama tidak mempan untuk membangunkannya. “Yoona…Yoona…Yoona…sebenarnya apa yang kau impikan tentang gadis itu? Sekarang lihatlah sudah jam berapa?” pandangan Baekhyun yang awalnya masih kabur mendadak menjadi begitu jelas ketika jam dinding kamarnya menunjukkan pukul 06.30. Dengan cepat, dia melompat dari atas kasurnya dan berlari kesana-kemari mencari peralatan mandinya. Melihat Baekhyun yang kelabakan karena kesiangan merupakan hal biasa untuk Byun Ahjumma. Putra tunggalnya itu memang begitu sulit diatur. “Setelah selesai mandi, turun dan sarapan!” Byun Ahjumma keluar dari kamar Baekhyun seraya menutup kembali pintu kamar putranya itu. Baekhyun terlihat tidak begitu menggubris perkataan ibunya. Yang terpenting sekarang , dia harus melakukan semuanya dengan cepat. Dia tidak ingin terlambat untuk mengikuti ulangan hari ini. Terlebih lagi, guru yag mengadakan ulangan adalah guru tergalak yang paling ditakuti olehnya. Baekhyun menggosok giginya dengan cepat, melucuti pakaiannya dengan cepat, menyiramkan air ketubuhnya dengan cepat, memakai sabun dengan cepat, dan keluar dari kamar mandi dengan cepat pula. Seragam sekolahnya sudah tergeletak rapi disofa kamarnya. Beruntung karena ibunya kemarin langsung menyiapkannya disana setelah disetrika dengan rapi. Dipakainya seragam itu dengan secepat kilat, bahkan hampir saja ia lupa untuk menaikkan ritsleting celananya. Untung saja dia lalu menyadarinya dan membenarkannya. Seragam sudah terpakai dengan rapi, sepatu sudah terpakai sebagaimana mestinya, dan terakhir mengatur rambut. Baekhyun memang sangat sensitif bila sudah menyangkut tentang rambut dan eyeliner pastinya. Dengan gesit, jari handalnya mulai bekerja untuk menghasilkan tatanan rambut super keren. Sentuhan terakhir adalah memakaikan eyeliner kematanya untuk menambah kesan tampan pada wajahnya. “Ah, selesai.” Baekhyun mengamati bayangan dirinya didepan cermin dan mulai tersenyum atas ciptaan indah yang diberikan Tuhan kepadanya. “Kau memang tampan, Byun Baekhyun.” Setelah selesai memuji dirinya, Baekhyun kembali kelabakan mencari dimana buku-buku pelajarannya. Setelah belajar tadi malam, dia lupa untuk menata bukunya dan sekarang justru semuanya terlihat berserakan disana-sini. “Aish, kenapa tidak ada yang berjalan lancar? Sial.” Gerutu Baekhyun pada dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian, buku-buku yang berserakan kini telah tertata rapi ditempatnya. Buku pelajaran hari ini juga sudah tertata rapi didalam tas Baekhyun. Sekarang Baekhyun memutuskan untuk turun dan menikmati sarapannya. Namun, sepertinya tidak ada waktu lagi untuk sarapan. Setelah berpamitan pada ibunya, dia segera menyalakan motornya dan melesat pergi.

Baekhyun sampai disekolah tepat saat gerbang hampir saja tertutup. Dia begitu lega, ternyata perjuangannya untuk sampai disekolah tepat waktu tidak sia-sia. Setelah memarkirkan motornya, Baekhyun berlari menuju ruang kelasnya. Disana terlihat murid-murid tengah sibuk belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan. Saat baekhyun datang, mendadak semuanya terdiam dan duduk dibangku masing-masing dengan rapi. “Aish, sial. Ternyata kau, Baekhyun-ah. Kupikir tadi Kang Songsaengnim.” Semuanya menghela nafas panjang. Ternyata dugaan mereka salah. Mereka pikir Baekhyun adalah Kang Songsaengnim, sehingga semuanya langsung bersiap-siap. Baekhyun hanya tersenyum polos seraya berjalan santai menuju bangkunya. “Kenapa kau terlihat senang sekali?” Chanyeol melepas headset yang terpasang ditelinganya saat ia melihat kedatangan Baekhyun dengan wajah sumringah. Baekhyun mendudukkan dirinya dengan riang, sedikit berlama-lama menjawab pertanyaan Chanyeol agar membuat namja itu penasaran. “Tadi malam aku bermimpi melakukan *sensor* dengan Yoona Sunbae.” Baekhyun tersenyum menyeringai kearah Chanyeol, membuat mimpi yang diceritakannya semakin erotis. Chanyeol hanya mengangguk-angguk sambil membuka mulutnya kagum dengan mimpi Baekhyun. Mereka berdua asyik bercerita hingga tanpa sadar ada pihak ketiga yang ikut mendengarkan cerita mereka. “Ehm. Mimpimu sangat bagus, Baekhyun-ah. Setelah jam pelajaranku selesai, kau dan Chanyeol temui aku diruang guru.” Baekhyun dan Chanyeol begitu terkejut mendengar ucapan Kang Songsaengnim. Ternyata sedari tadi Kang Songsaengnim ikut mendengar pembicaraan mereka. Padahal Baekhyun bercerita tentang mimpinya semalam yang masuk dalam kategori err~. “Ah…uh…ap…apa salah kami, Songsaengnim?” tanya Chanyeol tergagap. Baekhyun hanya bisa menunduk menyadari tindakan Chanyeol kali ini benar-benar keliru. ‘Kalau sampai Kang Songsaengnim menceritakan mimpiku kepada murid-murid lainnya, pasti aku akan sangat malu.’ Batin Baekhyun masih dengan wajah yang tertunduk. “Ah, apa aku harus mengatakannya sekarang? Disini?” Kang Songsaengnim balik menanyai Chanyeol yang terlihat semakin gugup. “Bagaimana, Baekhyun-ah?” pandangan Kang Songsaengnim teralih pada Baekhyun yang terus menundukkan wajahnya. Dengan keberanian yang tidak seberapa, Baekhyun hanya dapat menggeleng. Dia begitu malu untuk mengangkat wajahnya didepan guru itu. “Baiklah, sekarang kita lupakan dulu masalah dua anak nakal ini. Dan siapkan kertas untuk ulangan!” Kang Songsaengnim berjalan kembali kedepan kelas. Papan tulis yang semula bersih kini mulai penuh dengan goresan spidol dari guru itu. Dia menuliskan soal ulangannya dipapan tulis dan murid-murid harus menjawab soal-soalnya dikertas yang telah mereka siapkan. Selesai menuliskan soal ulangan, Kang Songsaengnim berbalik dan berdiri dengan tegap menghadap para muridnya. “Kerjakan ulangan kali ini dengan jujur! Tidak boleh ada yang mencontek! Bila ketahuan ada yang mencontek, maka aku akan memberikan nilai nol diraport kalian. Mengerti?” semua murid serentak menjawab, “Ne, Songsaengnim.” Setelah itu, semuanya terlihat menyimak soal dipapan tulis dan mengerjakannya dengan serius, tak terkecuali Byun Baekhyun. Baekhyun terlihat begitu antusias mengerjakan soalnya karena hampir semua soalnya telah ia pelajari tadi malam. Beberapa murid terlihat bingung, ada yang menggaruk-garuk kepala, ada yang justru tertidur, adapula yang asyik mengupil tanpa menyentuh kertas jawabannya. Namun, Baekhyun berbeda. Dia benar-benar terlihat serius. Ditengah konsentrasi Baekhyun yang sedang bagus-bagusnya, Chanyeol justru membuyarkannya begitu saja dengan menendang-nendang kursi Baekhyun. “Hey, Baekhyun-ah! Lihatlah ke jendela sekarang!” Chanyeol berbisik pelan. Namun, Baekhyun masih bisa mendengarnya. Sontak saja Baekhyun menoleh kearah jendela. Disana dia menemukan Yoona dan teman-temannya tengah berjalan didepan kelasnya. Mata Baekhyun memandangi Yoona lekat, bahkan mengedipkan mata sejenak saja tidak bisa. Meskipun sekilas, tapi cukup untuk membuat Baekhyun menjadi tidak karuan. Jantungnya mendadak berdegup kencang, aliran darahnya berdesir cepat, otaknya dipenuhi oleh bayangan Yoona seakan gadis itu adalah kendali organ tubuhnya. ‘Ah, wajahnya mengalihkan duniaku.’ Baekhyun tersenyum lebar seraya merebahkan kepalanya diatas kertas ulangannya. Dia terlena, begitu terlena hingga ia lupa jika ia sedang ulangan. Tiba-tiba Kang Songsaengnim membuka suaranya, “Waktu kalian tinggal 5 menit lagi.” Baekhyun yang mendengarnya segera berjingkat dan kembali fokus pada kertas ulangannya. ‘Aish! Gara-gara melihat Yoona Sunbae, aku jadi lupa kalau aku baru mengerjakan 3 soal. Masih kurang 2 soal lagi. Semangat, Baekhyun-ah!’ Baekhyun mengepalkannya tangannya kuat. Dia harus bisa menyelesaikan semuanya dengan hasil maksimal. “Waktu kalian habis.” Ucap Kang Songsaengnim seraya memunguti kertas ulangan para murid dengan paksa. Banyak murid yang mengeluh karena belum selesai dalam mengerjakan ulangannya. Namun, Kang Songsaengnim tetap tidak menerima alasan apapun untuk itu. “Pertemuan hari ini saya akhiri sekian. Sekarang kalian boleh beristirahat.” Semuanya bersorak gembira sambil berlarian keluar kelas. “Baekhyun, Chanyeol, kalian ikut aku keruang guru.” Baekhyun dan Chanyeol langsung menekuk wajah seraya mengikuti langkah guru mereka.

“Ini semua gara-gara kau, Baekhyun-ah.” Chanyeol menggerutu sepanjang jalan menuju ruang kelas mereka. “Ah, mianhae. Aku kan hanya ingin membagi kebahagiaanku, Yeol.” Baekhyun menepuk pundak Chanyeol pelan. Semua terjadi karena mimpi gilanya. “Bagaimana lagi? Sudah terlanjur. Untung saja tadi Kang Songsaengnim hanya menasehati kita, kalau sampai mendapat pengurangan point, bisa mati kita.” Keduanya kemudian tertawa. “Jadi, kau memaafkanku kan?” Baekhyun memasang ekspresi memohonnya kepada Chanyeol dan Chanyeol meresponnya dengan anggukan. Baekhyun merangkulkan tangannya ke leher Chanyeol dan menarik sahabatnya itu untuk berjalan cepat menuju kelas mereka. Sesampainya dikelas, Baekhyun segera mengeluarkan kotak bekalnya yang dibuatkan ibunya dan meletakkannya diatas meja. “Wow! Boleh aku mencobanya?” tangan Chanyeol bergerak nakal dengan menyentuh kotak bekal Baekhyun. Dengan gerakan cepat, Baekhyun memukul tangan Chanyeol hingga membuat namja itu menarik tangannya. “Appo.” Chanyeol mendesis sambil melirik Baekhyun tajam. “Jangan macam-macam! Bekal ini untuk Yoona Sunbae.” Senyum Baekhyun mengembang mengingat ia akan segera menemui dan memberi Yoona bekal bawaannya. Dia tidak sabar melihat bagaimana reaksi gadis itu dengan perlakuan istimewanya ini. “Ah, bagus. Kau rela membiarkanku kelaparan dan justru memikirkan gadis itu.” Chanyeol merajuk dengan keputusan Baekhyun yang ia anggap tidak adil. Baekhyun hanya tersenyum menenangkan pada Chanyeol. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan memberikannya pada Chanyeol, berharap namja itu tidak marah lagi. “Pergilah ke kantin membeli makanan!” Baekhyun menyodorkan uangnnya. Namun, Chanyeol membuang muka dan tidak ingin melihat kearah Baekhyun. “Apa itu? Uang sogokan?” tanya Chanyeol dengan ekspresi lucunya. “Ani. Ini hanya uang jajan untukmu. Bukankah uang jajanmu dipotong ibumu selama sebulan karena nilai ujian semestermu jelek?” Chanyeol mengangguk lemas, dan perlahan-lahan mulai menerima uang yang Baekhyun berikan. “Anak pintar.” Baekhyun mengelus kepala Chanyeol layaknya seorang ayah yang mengelus kepala anaknya. “Hm. Gomawo, Baekhyun-ah.” Chanyeol langsung bergegas pergi ke kantin. Jujur saja perutnya sudah mulai meronta meminta makan. Dan kini tinggallah Baekhyun sendiri. Dia ingin mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Yoona. Usaha pertama yang dia lakukan adalah menarik nafas panjang. Dengan langkah mantap, dia mulai berjalan menuju ruang kelas Yoona yang hanya berjarak beberapa meter dari kelasnya. Baekhyun berdiri dengan gugup didepan kelas Yoona. Kebetulan saat ini pintu kelas Yoona tertutup sehingga membuatnya harus mengetuknya sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap kakak kelas. “Baekhyun-ah? Tumben sekali kau kemari?” Yoona membuka pintu ruang kelasnya dan menemukan sosok Baekhyun berdiri disana. “An…annyeong, sunbae.” Sapa Baekhyun dengan gugup. “Ayo masuk! Kelasku sedang kosong karena semuanya pergi ke kantin.” Yoona menuntun Baekhyun masuk kedalam kelasnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan ditempat itu, hanya ada Yoona dan Baekhyun. “Ah, sepertinya kau sedang sibuk. Mianhae, mengganggumu.” Dengan sopan, Baekhyun menunduk pada Yoona. Dia melihat dibangku gadis itu penuh dengan buku pelajaran, ada banyak catatan juga disana. “Ah, jangan sungkan, Baekhyun-ah.” Yoona menepuk pundak Baekhyun pelan. Rasanya Baekhyun seperti mendapat sengatan listrik setelah tangan mungil Yoona untuk pertama kalinya menyentuhnya. “Ak…ak…aku hanya ingin memberikan ini, sunbae.” Baekhyun memberikan kotak bekalnya kepada Yoona dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat kesalahan sedikitpun pada Yoona, gadis impiannya. “Oh, gomawo, Baekhyun-ah. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot begini.” Yoona menerimanya dengan senang hati. Baekhyun hanya mengangguk dan menatap Yoona tanpa berkedip. Senyuman Yoona mampu menyita seluruh perhatiannya. Benar-benar ajaib. Belum pernah dia jatuh cinta sekeras ini seperti pada Yoona. Setelah ia rasa semuanya sudah dilakukannya dengan benar, sekarang saatnya dia kembali ketempat asalnya. “Permisi, sunbae. Sepertinya aku harus segera kembali ke kelas.” Yoona mendadak lesu mendengar Baekhyun sudah mau pergi. “Secepat itukah? Kau tidak ingin menemaniku makan siang?” Yoona menatap Baekhyun dengan ekspresi memohonnya. “Mi…mianhae, sunbae. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa. Aku belum mengerjakan tugas yang diberikan oleh Ahn Songsaengnim.” Yoona mengangguk mengerti. Dengan setengah hati, Yoona mengantar Baekhyun hingga diambang pintu kelasnya. “Annyeong, sunbae.” Baekhyun menunduk sopan sebelum akhirnya berlalu pergi kembali ke kelas.

Baekhyun’s POV
Aku hanya membutuhkan waktu 5 detik untuk mulai menyukainya. Menyukai setiap inci dari tubuhnya, menyukai setiap tutur bahasanya, menyukai lemah lembut tingkah lakunya, dan menyukai betapa tulus hatinya. Gadis sempurna yang benar-benar kuimpikan sejak saat itu hingga sekarang hanyalah satu, dan akan selamanya satu. Dia berbeda dari gadis lainnya. Bahkan setelah dia mengerjaiku saat masa orientasi siswa, aku tetap menyukainya. Namanya Im Yoona, murid kelas 3.1 School Of Performing Art. Dia adalah gadis yang mencerminkan sosok ibuku, penuh dengan senyum, perhatian, kasih sayang dan cinta. Aku pertama kali bertemu dengannya saat aku masih mengenakan seragam sekolah menengah pertama dan tercatat sebagai murid baru di SOPA. Dia termasuk senior terkiller yang banyak ditakuti oleh juniornya. Awalnya aku tidak percaya dengan kenyataan itu, tapi setelah dia benar-benar melakukan seperti apa yang orang-orang katakan kepadaku, aku menjadi percaya jika dia memang menakutkan. Namun, itu semua tidak menjadikan rasa cintaku luntur untuknya. Justru hal itu semakin menguatkan hatiku jika Yoona Sunbae memang gadis yang selama ini aku cari, gadis yang akan menemaniku menjalani sisa hidupku, gadis yang melahirkan anak-anakku, dan gadis yang akan merapikan dasiku setiap paginya. Semoga semua ini bukan hanya mimpi belaka. Aku benar-benar berharap banyak dari gadis itu. Banyak usaha yang telah kulakukan untuk mendapatkan hatinya. Mulai dari mengikuti kegiatan ekskul dance karena aku dengar bahwa Yoona Sunbae juga ikut dalam ekskul itu, lalu aku juga masuk klub karate karena Yoona Sunbae menyukai laki-laki yang bisa berkelahi seperti Huang Zhi Tao, ada lagi satu ekskul yang sebenarnya aku benci tapi demi Yoona Sunbae aku tetap bergabung didalamnya yaitu ekskul paduan suara. Hampir setiap hari aku bisa bertemu dan mendengar suaranya di ekskul itu. Tapi jujur saja suara Yoona Sunbae tidak terlalu bagus. Dan dari ekskul paduan suaralah aku mulai bisa dekat dengan Yoona Sunbae. Dia selalu menemuiku dan memintaku untuk mengajarinya bernyanyi. Tak jarang setiap pulang sekolah kami akan pergi ke aula untuk berlatih, hanya aku dan Yoona Sunbae. Itu merupakan waktu yang sangat berharga.

“Kau ada acara pulang sekolah nanti?” tanya Chnayeol padaku. Aku terlihat berpikir, mencoba mengingat-ingat jadwalku hari ini. “Em…sepertinya aku ada kegiatan ekskul.” Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. “Ekskul? Paduan suara?” Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Chanyeol. Dia terlihat sedikit kesal, entah kenapa. “Lebih baik kau keluar saja. Kau tidak cocok mengikuti ekskul itu.” Chanyeol menepuk pundakku cukup keras. Tiba-tiba saja dia memintaku untuk keluar dari ekskul paduan suara. Padahal dulu dia yang begitu bersemangat menyuruhku untuk mengikuti ekskul itu, sebagai usaha untuk mendekati Yoona Sunbae. Aku menggeleng tidak mengerti dengan jalan pikirannya sekarang. “Wae? Apa salahnya aku mengikuti ekskul itu?” tanyaku masih dengan ekspresi datar. Aku tidak ingin terlibat perdebatan dengan Chanyeol, aku hanya ingin meminta sedikit alasannya. “Bakatmu ada didunia sepak bola, Baekhyun-ah. Dan sekarang hanya demi seorang gadis kau bahkan rela melepaskan bakatmu itu. Kau lebih memilih untuk bernyanyi tanpa tahu apa hasil yang kau dapat darinya daripada bermain bola yang sudah jelas-jelas bisa membawamu meraih prestasi.” Perkataan Chanyeol memang benar. Dalam dunia sepak bola, aku bahkan bisa menghasilkan banyak prestasi entah itu tingkat sekolah maupun nasional. Sedangkan dalam dunia menyanyi, aku tidak pernah mendapat apapun. Kejuaran menyanyi saja tidak pernah ada, bagaimana mau menghasilkan prestasi? Sepertinya obsesi diriku terhadap Yoona Sunbae membawaku keluar dari kehidupanku sendiri. Aku benar-benar hanya terpaku pada sosoknya yang begitu kuinginkan. Aku lupa jika dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena aku tidak bisa memilikinya. Namun, hingga saat ini aku belum bisa lepas darinya, dari dunianya. Entah mengapa bisa masuk kedalam dunianya terasa begitu menyenangkan. Aku kembali menjadi sosok Baekhyun yang kecanduan paras indah Im Yoona. “Mianhae.” Chanyeol terlihat mendengus pasrah dengan jawabanku. Dia tahu pasti jika pendirianku tidak akan goyah hanya dengan ucapannya. “Aku akan tetap berjuang hingga aku bisa mendapatkannya.” Kataku singkat. Chanyeol lagi-lagi terlihat kesal dengan jawabanku, hingga ia memutuskan untuk meninggalkanku sendiri. “Aku juga memiliki bakat bernyanyi, Yeol.” Gumamku pelan seiring dengan langkah Chanyeol yang semakin jauh.
Baekhyun’s POV End

Baekhyun duduk dengan sabar menanti sosok Yoona datang menemuinya. Mereka sudah membuat janji untuk berlatih bernyanyi bersama. Tapi sudah hampir satu jam Baekhyun menunggu, Yoona belum terlihat juga. Baekhyun tetap teguh pada pendiriannya jika Yoona akan datang. Tidak pernah terbesit sedikitpun pikiran negatif tentang Yoona diotak Baekhyun. Dia akan tetap menunggu untuk Yoona, walau hujan badai menerpa sekalipun. Dan terbukti, tak berapa lama hujanpun turun dengan deras. Membasahkuyupkan seragamnya, menghancurkan tatanan rambut kerennya, melunturkan eyelinernya, dan menghanyutkan semangat dalam dirinya. Hanya untuk Yoona, dia rela melakukan semua ini. Hanya untuk gadis itu. Tapi mengapa semua berakhir menyakitkan? Apa memang ini adalah waktunya untuk Baekhyun menyerah? Mungkin hanya Baekhyun yang dapat menjawab semua itu.

Byun Ahjumma terlihat berjalan kesana-kemari dengan gelisah. Raut wajahnya nampak pucat, melihat hari sudah semakin sore tapi putra kesayangannya belum pulang juga. Byun Ahjumma telah berusaha menelpon ponsel Baekhyun berkali-kali, namun hasilnya nihil. Tiba-tiba terlintas dipikiran Byun Ahjumma untuk menghubungi Chanyeol. Mungkin saja Baekhyun sedang bersama anak itu sekarang. Dengan cepat, Byun Ahjumma menekan tombol panggilan kepada Chanyeol. “Yeoboseo, Bibi Byun.” Terdengar dari seberang sana Chanyeol mengangkat teleponnya. Byun Ahjumma sedikit mengerutkan kening mendengar suara Chanyeol yang seperti orang baru bangun tidur. “Chanyeol-ah, apa Baekhyun bersamamu sekarang?” tanya Byun Ahjumma langsung. Chanyeol yang memang baru bangun tidur masih terlihat malas untuk mengangkat telepon terlebih dari Ibu Baekhyun yang terkenal cerewet itu. Namun, ketika nama Baekhyun disebut Chanyeol dengan segera tersadar sepenuhnya. “Memang Baekhyun belum pulang, bi?” tanya Chanyeol. Byun Ahjumma menggeleng mendengar pertanyaan Chanyeol, walaupun ia tahu pasti Chanyeol tidak bisa melihatnya. “Belum, Yeol. Apa kau bisa membantuku?” Chanyeol dengan segera menjawab, “Tentu. Apa yang bisa aku bantu, bi?” Byun Ahjumma menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol. “Tolong cari dan bawa Baekhyun pulang. Apa kau bisa?” Chanyeol menjepit teleponnya diantara telinga dan bahunya. Dia sedang bersiap memakai celana jeansnya. “Tanpa bibi minta aku akan melakukannya.” Senyum Byun Ahjumma mengembang seketika mendengar Chanyeol berbaik hati membantu mencari Baekhyun. “Gomawo, Chanyeol-ah.” Dengan cepat, Chanyeol menjawabnya, “Cheonma, Bibi Byun.” Segera setelah itu, Chanyeol menutup teleponnya dan bergegas pergi. Dia tidak ingin hal buruk menimpa sahabat baiknya itu. Terlebih lagi, Chanyeol takut jika saja Baekhyun yang nekat menyebabkan hal buruk itu terjadi. Mengingat Baekhyun begitu labil bila sudah dalam keadaan terdesak.

Chanyeol berlari sekuat tenaga menuju sekolahnya. Dia ingat jika Baekhyun ada jadwal mengikuti ekskul paduan suara hari ini. Dan dia yakin jika Baekhyun pasti masih ada disana. Beberapa menit kemudian, Chanyeol berhasil sampai didepan gerbang sekolahnya dengan selamat. Dia sedikit terkejut dengan gerbang sekolah yang sudah terkunci. Biasanya satpam akan membiarkan pintu gerbang tidak terkunci bila masih ada kegiatan ekskul disekolah. ‘Apa ini menandakan jika sudah tidak orang didalam?’ Batin Chanyeol masih dengan nafas yang naik turun. Jujur saja, kakinya mendadak bergetar, dan Chanyeol tahu salah satu penyebabnya karena ia kelelahan. Berlari dari rumahnya yang berjarak belasan kilometer menuju kesekolah bukanlah hal kecil. Biasanya dia akan naik bus atau berangkat bersama Baekhyun, namun sekarang dia harus berlari. Tidak masalah baginya, terlebih ini demi sahabat yang begitu ia kasihi. ‘Tapi tidak ada salahnya bila aku memeriksa kedalam terlebih dahulu.’ Chanyeol segera memanjat gerbang itu dengan hati-hati. Mencoba menghilangkan phobianya terhadap ketinggian memang begitu sulit, tapi bagaimana lagi? Gerbang sekolah ternyata begitu tinggi. Namun, pada akhirnya Chanyeol bisa melakukannya dengan baik. Dia mengedarkan pandangannya kesegala arah berusaha untuk menemukan sosok Baekhyun. ‘Tapi apa mungkin Baekhyun seberani itu untuk tinggal disini sendiri? Ah, seharusnya aku tidak masuk tadi.’ Chanyeol mendadak begitu menyesali keputusannya memanjat gerbang dan masuk kesekolah untuk mencari Baekhyun. Chanyeol berniat kembali berbalik dan keluar dari sekolahnya yang sedikit terlihat menyeramkan. Dia berjalan cepat, tapi tangis seseorang tiba-tiba mengalihkan perhatiannya sehingga ia menghentikan langkahnya. Chanyeol mengendap-endap mencari darimana suara tangis itu berasal. Dia tidak benar-benar memiliki keberanian, namun rasa penasarannya mengalahkan ketakutannya. Chanyeol masih berjalan mengendap-endap hingga ia menemukan seseorang tengah duduk dibangku taman dengan wajah yang tertutupi tangan. Ada perasaan takut didalam hatinya, namun sepertinya dia menyadari suatu hal. “Bukankah itu seragam SOPA? Apa mungkin hantu mengenakan seragam?” Chanyeol bergumam pelan pada dirinya sendiri. Orang yang duduk dibangku taman itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya yang sontak membuat Chanyeol terkejut. “Aish, sial! Ternyata itu Baekhyun.” Chanyeol mengelus dadanya dengan perasaan lega. Dia kemudian menghampiri Baekhyun yang terlihat acak-acakkan. Seragamnya basah, rambutnya yang biasanya berdiri kiri ambruk semua, eyeliner yang biasanya membuatnya terlihat tampan kini justru membuatnya terlihat mengerikan. “Hey! Kau baik-baik saja kan?” Chanyeol menepuk pundak Baekhyun pelan. Namun, Baekhyun tetap saja tidak bergeming. Chanyeol mengerutkan kening bingung. “Hey, Baekhyun-ah! Ayo pulang.” Ajak Chanyeol seraya menarik tangan Baekhyun. Namun, Baekhyun menepisnya kasar. Dia terlihat menakutkan saat ketenangannya diganggu seperti ini. “Aish, dasar menyebalkan!” Chanyeol mengepalkan tangannya kuat dan sontak memukul wajah Baekhyun. Dia ingin menyadarkan Baekhyun, mungkin salah satu caranya adalah dengan memukul anak itu. Namun, dugaan Chanyeol salah. Baekhyun masih tetap diam sekalipun bibirnya mulai mengeluarkan darah segar akibat ulah Chanyeol. “Tadi itu tidak sakit kan?” tanya Chanyeol khawatir. Dia tidak menyangka jika Baekhyun akan tetap diam seperti itu, biasanya Baekhyun akan membalas perlakuannya atau mungkin akan mengomel. Tapi sekarang Baekhyun terlihat seperti patung yang bisa bernafas. “Tidak ada luka yang terasa lebih sakit dibandingkan luka dihatiku.” Baekhyun berjalan dengan tatapan kosong meninggalkan Chanyeol yang masih berlutut. “Aish! Gara-gara cinta, dia jadi terlihat bodoh.” Chanyeol berlari kecil menyamakan langkahnya dengan Baekhyun. Mereka berjalan beriringan menuju gerbang. Setelah sampai didepan gerbang, Chanyeol berusaha memanjatnya dengan gayanya yang sok cool. Namun, bukannya terkesima dengan tindakan Chanyeol, Baekhyun justru menatapnya dengan tatapan aneh. Tanpa berkata-kata, Baekhyun segera saja membuka pintu gerbangnya dengan datar. Chanyeol yang sedang berada diatas gerbang hanya dapat melongo. Ternyata sedari tadi gerbangnya tidak dikunci, gemboknya hanya terpasang pada gagang pintu gerbangnya. Setelah berhasil turun, Chanyeol berkali-kali menghela nafas tidak percaya. ‘Jadi, sedari tadi usahaku untuk memanjat adalah sia-sia.’ Batin Chanyeol dengan wajah malunya. “Ba…bagaimana kau tahu kalau gerbangnya tidak dikunci?” tanya Chanyeol. “Karena aku memiliki mata.” Jawab Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya. Chanyeol semakin dibuat melongo mendengar jawaban Baekhyun. Itu tandanya secara tidak langsung Baekhyun mengatakannya tidak memiliki mata. Dan itu benar-benar penghinaan berat menurut Chanyeol. “Aish, tunggu aku!” teriak Chanyeol saat Baekhyun telah berjalan jauh didepannya.

Sudah 2 hari Baekhyun demam, setelah dia diantar pulang oleh Chanyeol dalam keadaan basah. Selama 2 hari itu pula, Baekhyun selalu mendapat ceramah dari ibunya yang begitu cerewet. “Bagaimana? Sakit enak kan?” kata Byun Ahjumma dengan nada menyindir. Baekhyun yang mendengarnya hanya bisa menggerutu dalam hati, ‘Tidak ada orang normal yang mau sakit.’ Dengan penuh perhatian, Byun Ahjumma menyuapi putra tunggalnya itu. Hampir 48 jam non-stop bersama dengan Baekhyun membuatnya merasa kembali dekat. Semenjak Baekhyun bersekolah di SOPA, anak itu jarang sekali berada dirumah. Setiap harinya dia akan pulang cukup sore, dan mengurung diri dikamar dengan alasan belajar. Kesempatan bertemu antara ibu dan anak itu menjadi sangat singkat. Dan dengan sakitnya Baekhyun saat ini menjadikan Byun Ahjumma sedikit senang. Dia bisa kembali merawat Baekhyun sebagaimana dia merawat anaknya itu ketika masih kecil. “Sudah lama sekali kita tidak bercengkerama panjang lebar seperti ini, Baekhyun-ah.” Baekhyun yang sedang menguyah makanannya sontak menatap ibunya. “Uh, jinjja? Bukankah setiap hari kita selalu bertemu dan bercakap-cakap, eomma?” Byun Ahjumma menggenggam tangan Baekhyun erat. “Kau tahu, kau lebih banyak menghabiskan waktumu dengan teman-temanmu dibandingkan dengan eomma. Dan kau sekarang tidak memiliki waktu banyak untuk eommamu yang sudah tua ini.” mata Baekhyun berkaca-kaca mendengar semua ucapan ibunya. Dia baru menyadari ternyata dia lebih memprioritaskan cintanya kepada Yoona dan melupakan ibunya yang sudah merawatnya sejak kecil hingga saat ini. Setiap hari Baekhyun pulang sore dengan alasan ada jam tambahan belajar atau ada belajar kelompok bersama temannya. Padahal dia sering menghabiskan waktunya dengan duduk-duduk ditaman bersama Yoona atau mungkin menemani gadis itu pergi ke salon. “Mianhae, eomma.” Kata Baekhyun singkat seraya menangis dipelukan ibunya. Pasti ibunya berpikir bila dia masih kanak-kanak karena menangis, tapi bagi ibunya tangis penyesalan Baekhyun ini merupakan pertanda bahwa anak itu memang masih mengingat ibunya. “Sudah, Baekhyun-ah. Sekarang kau sudah besar, jadi jangan menangis lagi. Arasseo?” Byun Ahjumma mengusap air mata Baekhyun penuh kasih. Baekhyun tersenyum manis, dan mengangguk atas nasihat ibunya itu.

Byun Ahjumma membuka pintu rumahnya setelah mendengar suara bel. Dia sedikit terkejut dengan kedatangan seorang gadis cantik kerumahnya. Baekhyun tidak pernah memberitahu jika dia memiliki teman wanita, tapi sekarang ada gadis yang memakai seragam yang sama seperti seragam Baekhyun. “Selamat siang, ahjumma.” Gadis itu membungkuk sopan. Byun Ahjumma hanya mengangguk menanggapinya. “Anda mencari siapa, nona?” tanya Byun Ahjumma lembut. Gadis itu tersenyum, “Saya teman Baekhyun, ahjumma. Saya kemari karena saya dengar Baekhyun sedang sakit.” Gadis itu menyerahkan kotak makanan berisikan bubur dan beberapa makanan lainnya pada Byun Ahjumma. Dengan senang hati Byun Ahjumma menerimanya dan mempersilahkannya masuk. “Tunggu sebentar! Em… kalau boleh tahu siapa namamu?” tanya Byun Ahjumma. Dia berniat memanggil gadis itu tapi dia tidak tahu namanya. “Im Yoon Ah imnida. Ahjumma, bisa memanggil saya Yoona.” Byun Ahjumma hanya ber‘oh’ ria. Dia berjalan kedapur untuk membuatkan minuman, dan Yoona diminta untuk langsung naik keatas, ke kamar Baekhyun. “Kata ahjumma tadi, kamar Baekhyun dari tangga belok kekanan kan? Kamar yang pertama.” Yoona sedikit ragu untuk mengetuk kamar itu. Dia takut bila Baekhyun sedang tidur maka kedatangannya hanya akan mengganggu tidur namja itu. ‘Namun, kalau sudah sampai dirumahnya jika tidak bertemu dengan Baekhyun secara langsung rasanya benar-benar tidak enak.’ Batin Yoona. Dia kemudian memberanikan diri untuk mengetuk pintu cokelat dihadapannya. Baekhyun yang hampir terlelap harus kembali terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dengan kesal, Baekhyun membuka pintu itu. Raut kesalnya sontak berubah menjadi raut senang ketika seseorang yang begitu diharapkannya datang saat ini benar-benar berdiri dihadapannya. “Yo…Yoona Sunbae?” tanya Baekhyun masih dengan raut terkejutnya. “Hai, Baekhyun-ah. Apa kau sudah merasa lebih baik?” Yoona langsung menanyakan tentang keadaan Baekhyun tanpa menyadari bahwa namja itu masih tidak percaya dengan kedatangannya. “Ak…aku sudah lebih baik, sunbae. Silakan masuk!” Baekhyun mempersilahkan Yoona duduk disofa didalam kamarnya. “Masih ada keluhan yang kau rasakan?” Yoona memasang ekspresi khawatirnya yang membuat Baekhyun semakin senang. “Uh, ani. Aku sudah sembuh total , sunbae. Terlebih dengan kadatanganmu kesini.” Baekhyun tersenyum polos seraya menatap Yoona lekat-lekat. Yoona yang mendengar perkataan Baekhyun hanya dapat tertawa renyah. “Eh, tapi bagaimana kau bisa tahu alamatku?” tanya Baekhyun bingung. Sedari tadi, dia masih penasaran bagaimana cara Yoona tahu alamatnya dan pada akhirnya dia menanyakannya juga. “Aku mendapatkan alamatmu dari Luhan, ketua OSIS kita. Aku memintanya untuk mencarikan datamu dan alamat rumahmu.” Jawab Yoona. Mendadak wajah Baekhyun seperti terlanda gempa, begitu kusut. Kesenangannya hilang seketika saat nama Luhan disebut. “Luhan? Bukankah dia mantan pacarmu, sunbae? Kenapa kau harus menanyakan alamatku padanya? Kenapa tidak tanya Chanyeol saja?” Yoona terkekeh dengan pertanyaan bertubi-tubi yang diucapkan oleh Baekhyun. “Dia memang mantan pacarku, tapi sampai sekarang kami masih berteman dekat. Dan lagipula dia kan ketua OSIS jadi akan lebih mudah untuk menanyakan banyak hal padanya. Chanyeol? Namja tiang itu? Sepertinya dia tidak suka padaku. Kemarin saat aku hendak bertanya padanya, dia tidak mau menjawab dan berlalu begitu saja.” terang Yoona dengan rinci. Baekhyun hanya tersenyum. Sedari tadi, dia tidak benar-benar menyimak perkataan Yoona, yang menjadi perhatiannya hanyalah wajah gadis itu. Byun Ahjumma mengintip kebersamaan Baekhyun dan Yoona dari celah pintu kamar putranya itu. Dia melihat sorot cinta dimata Baekhyun. Ada sedikit rasa sedih melihat putranya sudah mulai mengenal sosok gadis yang pasti akan membuatnya semakin jauh darinya. Tapi inilah yang disebut sebagai tumbuh dewasa, mungkin memang sudah saatnya Byun Ahjumma merelakan cinta Baekhyun untuk gadis itu. Dengan ramah, Byun Ahjumma mengantarkan minuman untuk Baekhyun dan Yoona. Dia mempersilahkan kedua anak itu untuk meminumnya dan kemudian kembali pergi dari kamar Baekhyun. “Ibumu adalah orang yang baik, Baekhyun-ah.” Kata Yoona setelah ia meneguk orange juicenya. “Hm. Dia memang wanita yang begitu baik dan lemah lembut. Dia wanita terbaik didunia ini.” Baekhyun memandangi gelas orange juicenya dengan senyuman. Tak berapa lama kemudian, Chanyeol tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar Baekhyun. Mengganggu acara mengobrol Baekhyun dan Yoona. “Baek…” teriakan Chanyeol mendadak terhenti ketika matanya menemukan sosok Yoona ada bersama Baekhyun. “Aku akan menunggu didepan.” Kata Chanyeol akhirnya dengan raut kesal. Baekhyun hanya mengangguk dan kembali beralih menatap Yoona. “Sepertinya aku harus pulang sekarang.” Yoona buru-buru beranjak dan menenteng tasnya. “Kenapa buru-buru?” tanya Baekhyun dengan wajah terkejut. Sepertinya baru saja Yoona berkata ingin berlama-lama disini, tapi sekarang dia sudah berpamitan ingin pulang. “Mianhae, Baekhyun-ah. Aku akan kesini lagi lain waktu.” Yoona menunduk dan keluar dari kamar Baekhyun melalui tangga. Dia bertemu dengan Byun Ahjumma yang sedang membawa nampan berisi kue. “Mianhae, ahjumma. Saya harus pamit pulang.” Byun Ahjumma terlihat kaget dengan ucapan Yoona. “Ke…kenapa cepat sekali, Yoona-ah? Padahal aku baru akan membawakanmu kue.” Yoona tersenyum canggung. Namun, dia harus pulang sekarang. “Mianhae, saya akan kesini lagi lain waktu.” Yoona kemudian menunduk. Byun Ahjumma mengantarkannya sampai kehalaman rumah. “Hati-hati, Yoona-ah.” Pesan Byun Ahjumma pada Yoona. Gadis itu hanya berbalik dan mengangguk. “Sepertinya saya juga harus pulang, bi.” Kali Chanyeol yang mendadak berpamitan. “Bukankah kau baru saja sampai? Kenapa langsung pulang? Kau juga belum bertemu Baekhyun kan?” Chanyeol menggaruk tengkuknya. “Mianhae, bi. Tiba-tiba saja aku ada urusan. Tolong sampaikan salamku untuk Baekhyun. Annyeong.” Chanyeol segera membungkukkan badannya. Setelah itu, dia langsung berlari mengejar seseorang. “Padahal aku ingin menyuruhnya menghabiskan kue ini. Biasanya dia paling senang kalau sudah berhubungan dengan makanan.” Gumam Byun Ahjumma seraya mengamati kue-kue malangnya yang belum tersentuh.

Yoona mempercepat langkah kakinya. Dia tahu jika ada seseorang yang sedang mengikutinya. Dan benar, dari arah belakang terlihatlah seorang namja berperawakan tinggi tengah berlari untuk mengejarnya. “Sunbae, tolong berhenti sebentar.” Teriak namja itu kepada Yoona. Namun, Yoona tidak menggubris perkataan namja itu. Chanyeol—namja itu, berlari cepat hingga kini langkahnya hampir menyamai langkah Yoona. Dengan kasar, Chanyeol menarik pergelangan tangan Yoona untuk menghentikan langkah gadis itu. “Apa yang kau inginkan dariku, Chanyeol-ah?” Yoona menatap Chanyeol dengan tajam. Matanya memerah, entah menahan amarah atau menahan tangis. Yang pasti, Chanyeol tetap menatapnya datar. “Menghilanglah dari kehidupan Baekhyun.” Yoona sontak membuka matanya lebar-lebar atas permintaan Chanyeol. “Apa maksudmu?” Yoona meronta agar Chanyeol mau melepas tangannya, tapi sia-sia. Chanyeol tersenyum remeh, “Kau bodoh atau apa? Jelas-jelas Baekhyun menyukaimu, tapi terlihat dari sorot matamu padanya kau tidak pernah menganggapnya, kau hanya menganggapnya sebagai bocah ingusan yang bisa kau permainkan. Kau tahu, banyak yang telah Baekhyun korbankan untukmu. Apa kau juga tahu, Baekhyun mengikuti ekskul paduan suara, ekskul dance, ekskul karate karena apa? Itu juga karena kau, sunbae.” Chanyeol melemahkan tatapannya. Dia terlihat begitu terluka jika sahabatnya juga terluka. “Jadi, tolong jauhi Baekhyun jika kau tidak ingin bersamanya.” Chanyeol berlutut dihadapan Yoona. Dia benar-benar memohon demi sahabatnya itu. Yoona tersenyum tidak percaya dengan yang dilihatnya saat ini. Chanyeol berlutut kepadanya hanya demi namja itu. “Aku tidak akan melepaskan Baekhyun.” Kata Yoona mantap. Chanyeol sontak mendongak dengan mata memerah menahan tangis. “Kau tahu, aku bersikap manis pada Baekhyun karena aku tidak ingin kehilangan cintanya. Aku hanya ingin dia mencintaiku. Aku belum bisa melepasnya untuk gadis lain.” Mata Yoona berkilat jahat. Menampakkan sisi lain dibalik sikap manisnya. “Apa kau mencintainya?” tanya Chanyeol cepat. Yoona terlihat berpikir. Dia tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada rasa cinta yang ia rasakan setelah menjalani hari bersama Baekhyun selama ini. Namun, Yoona masih takut untuk menyatakannya karena masih ada seseorang yang memiliki hatinya. “Tidak.” Jawab Yoona singkat. Mendengar jawaban Yoona, cengkeraman tangan Chanyeol sontak melemah. Membuat Yoona dengan mudah melepaskan diri. Yoona berlari semampu dia bisa. Dia takut mulutnya akan mengakui semua yang dirasakannya jika ia terlalu berlama-lama dengan namja itu. “Jangan beri dia harapan, seperti ingin tapi tak ingin. Yang dia minta tulus hatimu bukan pura-pura.” Chanyeol berteriak sekeras mungkin. Dia ingin Yoona segera tersadar dan memberikan kejelasan untuk Baekhyun.

“Untung kau sudah sembuh.” Chanyeol menyenggol lengan Baekhyun. Baekhyun meringis kesakitan dengan perlakuan sahabatnya itu. “Appo. Aku baru sembuh dan kau sudah berniat membuatku sakit lagi.” Chanyeol meniupi lengan Baekhyun dan berkali-kali mengipaskan tangannya. Dia tidak berniat seperti yang dikatakan Baekhyun, tapi bila memang terjadi itu adalah ketidaksengajaan. “Kenapa kau percaya begitu saja?” Baekhyun terkikik geli melihat reaksi Chanyeol yang berlebihan kepadanya. “Aish, sialan kau!” Chanyeol mengepalkan tangannya dan hendak memukul kearah Baekhyun. “Stop! Kau masih berhutang satu pukulan padaku. Jika kau memukulku sekali lagi maka hutangmu akan bertambah mejadi dua.” Baekhyun melipat tangannya didepan dada dengan santai. Ekspresinya begitu tenang seakan Chanyeol tidak akan berani menyentuhnya lagi. “Baiklah. Aku kalah kali ini.” Chanyeol duduk lemas seraya memasang headset ketelinganya. Baekhyun tersenyum penuh kemenangan. Dia menyerobot komik yang sedang dibaca Chanyeol. “Uh, aku pinjam komik ini ya.” Mata Baekhyun berbinar mengetahui komik conan edisi terbaru tengah berada ditangannya. Chanyeol hanya mengangguk dan lebih memilih untuk merebahkan kepalanya dimeja. Baekhyun membaca komik itu dipojokan dekat jendela. Matanya sesekali melirik keluar jendela, mengamati pemandangan indah disana. Namun, mendadak matanya tidak bisa teralih saat pemandangan menyakitkan tertangkap olehnya. Dia melihat Yoona sedang duduk dengan intimnya bersama Luhan disebuah bangku. Matanya memanas terbakar oleh api cemburu. Komik conan milik Chanyeol bahkan mampu terbelah menjadi dua, sebagai pelampiasan kemarahannya. Chanyeol menoleh kearah Baekhyun, hanya ingin memastikan bahwa bocah itu tidak melompat kejendela. Namun, bukannya Baekhyun yang melompat justru matanya yang ingin melompat keluar mengetahui komik conan edisi terbaru dan terbatas miliknya telah terbelah menjadi dua bagian. “Argh! Baekhyun sialan!” Chanyeol buru-buru menghampiri Baekhyun dan merebut komiknya dengan paksa. “Apa kau sudah gila?” Chanyeol menyalak-nyalak didepan mata Baekhyun, tapi namja itu tidak memperdulikannya. Mata Baekhyun terus saja tertuju pada dua manusia yang membuatnya dehidrasi. “Hey! Apa kau mulai tuli juga sekarang?” Chanyeol semakin marah melihat Baekhyun tidak sedikitpun mendengarkan perkataannya. Saking putus asanya, bahkan Chanyeol menjambak-jambak rambutnya sendiri hingga berantakan. “Baekh…” belum sempat Chanyeol menyelesaikan perkataannya, tapi Baekhyun lebih dulu memukul hidungnya hingga mimisan. “Aish! Dasar tidak berguna.” Baekhyun berteriak tidak jelas. Dia mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. Dia sedikit terkejut melihat hidung Chanyeol mengeluarkan darah, rambutnya berantakan, dan komik conan edisi terbarunya rusak. “Apa yang terjadi? Kau baru saja terkena angin topan?” tanya Baekhyun masih dengan wajah marahnya. Chanyeol hanya diam. Baekhyun kemudian berlalu pergi seraya mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak peduli pada Chanyeol yang sudah kejang-kejang meminta perhatiannya. Baekhyun benar-benar telah dikuasai rasa cemburu, terlebih melihat Luhan dengan seenaknya mencium bibir Yoona dan Yoona dengan bodohnya tidak menolak. Dia berniat membuat perhitungan dengan Luhan, kakak kelasnya sekaligus ketua OSIS. Langkahnya sudah sampai diambang pintu kelasnya, tapi kemudian Baekhyun kembali berpikir. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk kembali ketempat Chanyeol. “Yeol, menurutmu apa yang akan kudapatkan jika aku membuat masalah dengan senior?” tanya Baekhyun dengan ekspresi lucu. “Masuk UKS.” Setelah mengatakan hal itu, mendadak tubuh Chanyeol luruh kelantai. Ternyata namja itu pingsan. Baekhyun dengan wajah panik segera meminta bantuan pada teman-temannya yang ada dikelas untuk membawa Chanyeol ke UKS.

Dengan penuh perhatian, Baekhyun menyelimuti Chanyeol yang baru selesai diobati oleh dokter sekolah. Dia kemudian duduk dikursi tepat disamping kasur Chanyeol. Matanya mengamati Chanyeol dengan penuh rasa bersalah. Ternyata kecemburuannya tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri tapi juga pada Chanyeol dan juga komiknya. Baekhyun tertunduk lemas seraya terus bergumam, ‘Mianhae’ pada Chanyeol. “Pasti aku adalah sahabat terburuk didunia ini. Mana mungkin seorang sahabat melukai sahabatnya sendiri?” Baekhyun benar-benar menyesali perbuatan tidak sengajanya. Diluar ruang UKS, terlihat Yoona dan Luhan tengah berjalan bersama dan saling bercanda. Mereka begitu dekat hingga banyak orang menganggap mereka kembali bersama setelah mereka berpisah beberapa bulan lalu. Yoona menoleh sekilas kearah UKS yang pintunya sedikit terbuka. Samar, dia melihat Baekhyun tengah duduk didalam ruangan itu. “Luhan-ah, sepertinya kita harus berpisah disini.” bohong Yoona. “Wae? Apa kau ingin pergi kesuatu tempat?” tanya Luhan cepat. Yoona hanya tersenyum singkat dan memasang aegyo terbaiknya untuk membujuk Luhan. “Aku ingin pergi ke UKS. Hanya sebentar.” Luhan mengangkat sebelah alisnya, tidak biasanya Yoona pergi ketempat itu. “Biar aku temani.” Luhan berniat menuju UKS, tapi Yoona menahannya. “Aku bisa pergi sendiri.” Karena melihat tampang memohon Yoona, Luhan akhirnya luluh dan mengijinkan Yoona untuk pergi ke UKS seorang diri. Luhan kemudian mencium kening Yoona sebelum keduanya berpisah. “Cepat kembali.” Gumam Luhan seraya berbalik dan mengangkat tangannya menjadi bentuk ‘Love’. Yoona mengangguk mengiyakan dan tersenyum atas perlakuan kekanakan Luhan. Setelah Luhan benar-benar tidak ada, Yoona berjalan mendekat kearah UKS. Dia membuka pintu UKS itu dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara dan mengganggu orang-orang didalam. Yoona mengamati Baekhyun yang tengah tertunduk dengan pandangan iba. ‘Ada apa dengannya?’ Batin Yoona. Dia menyentuh bahu Baekhyun pelan. namun, Baekhyun menunjukkan reaksi yang sebaiknya. Namja itu begitu terkejut dengan kedatangan Yoona. “Sejak kapan sunbae ada disini?” tanya Baekhyun ketus. Yoona sedikit bingung dengan nada bicara Baekhyun yang sangat berbeda. “Aku baru saja. Apa yang terjadi dengan Chanyeol?” tanya Yoona. Baekhyun memandang kearah Chanyeol yang masih terbujur lemah. “Dia pingsan.” Jawab Baekhyun singkat. Yoona mengangguk mengerti. “Tapi kenapa dia bisa pingsan dan ada apa dengan hidungnya?” tanya Yoona lagi. Dia melihat hidung Chanyeol disumpal dengan kapas, dan timbul rasa penasaran dihatinya tentang sesuatu yang menimpa namja tiang itu. “Ini semua terjadi karena dia bodoh.” Yoona menoleh kearah Baekhyun dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu?” Baekhyun tersenyum sekilas dan berdiri menghadap Yoona. “Seharusnya dia menghindar jika tahu aku akan memukulnya, tapi dia justru diam saja. Dan aku pasti sama bodohnya dengannya, seharusnya aku menyerah untuk mengejarnya jika tahu bahwa dia tidak menginginkanku, tapi aku justru terus berlari untuknya. Bukankah kami dua sahabat yang begitu kompak? Dengan kebodohan kami, aku yakin jika kami adalah sahabat sejati.” Baekhyun tersenyum pahit kearah Yoona. Dia bisa melihat perubahan ekspresi diwajah gadis itu. “Siapa yang kau maksud?” mata Yoona langsung memerah mendengar ucapan Baekhyun yang sepertinya ditujukan untuknya. “Kapan dia akan melihatku sebagai seorang namja? Kenapa dia terus melihatku sebagai bocah ingusan yang bisa dia permainkan?” bukannya menjawab pertanyaan Yoona, Baekhyun justru semakin memojokkan gadis itu dengan ucapannya. Yoona meremas ujung roknya dengan mata yang semakin memerah. “Baekhyun-ah, siapa yang kau maksud?” tanya Yoona dengan suara bergetar. Melihat Baekhyun berubah dingin padanya membuat Yoona terluka. Dia mulai memberikan hatinya untuk Baekhyun, tapi sepertinya namja itu lebih memilih menarik hatinya kembali. “Apa seperti itu yang disebut berteman dekat? Berciuman didepan umum tanpa memiliki rasa malu sedikitpun?” Baekhyun mendekatkan wajahnya kewajah Yoona. Mengeliminasi sedikit demi sedikit jarak diantara mereka. Yoona mulai memejamkan matanya saat Baekhyun semakin dekat padanya. “Seharusnya aku tidak mengatakan semua ini padamu. Kau pasti tidak akan mengerti.” Baekhyun berbisik lirih kepada Yoona, menyampaikan sedikit rasa sesalnya terhadap sikap pura-pura yang selama ini ditunjukkan oleh gadis itu. Yoona kembali membuka matanya menyadari tidak ada sesuatu yang terjadi. Dadanya mendadak sesak. Yoona berniat pergi, namun Baekhyun menahan pergelangan tangannya kuat hingga membuat Yoona berbalik dan jatuh kedalam pelukannya. Baekhyun meraih kepala Yoona dan mulai mencium bibir pink gadis itu tanpa persetujuan. “Aku melepasmu sekarang. Pergilah.” Perlahan-lahan Baekhyun melepaskan tangannya dari tubuh Yoona. Membiarkan gadis itu pergi dan menjalani kehidupannya seperti biasa dengan namja pilihannya. Yoona menangis dalam diam, ia berusaha meredam suara tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya kuat. Setelah itu, Yoona kembali bergegas pergi meninggalkan Baekhyun dengan segala rasa bersalah pastinya. Baekhyun terduduk lemas sambil menangis. Baru kali ini ia menangis karena cinta. Chanyeol yang melihat semuanya hanya dapat tersenyum lega. Akhirnya Baekhyun menyerah dan kembali menjadi Baekhyun sahabatnya. “Uljima! Kau itu namja.” Kata Chanyeol dengan sedikit meringis menahan sakit. “Kau mendengar semuanya?” tanya Baekhyun terkejut. Chanyeol mengangguk dan mengacungkan jempolnya. “Kau hebat, Baekhyun-ah.” Baekhyun tertawa mendengar ucapan Chanyeol. Mendadak rasa sakitnya hilang melihat sahabatnya kembali bisa menggodanya. “Yoona Sunbae bukan gadis satu-satunya didunia ini. Jadi, tenang saja.” Chanyeol mengacak rambut Baekhyun hingga membuatnya berantakan. “Ne. Kau benar.” dengan semangat, Baekhyun balik mengacak rambut Chanyeol. “Cinta memang tidak pernah terasa baik untuk kita.” Chanyeol mendengus pelan menyadari bahwa setiap jalan cintanya dan jalan cinta Baekhyun tidak pernah berjalan mulus. “Kita? Kau saja. Ah sudahlah, kita lupakan saja tentang cinta.” Baekhyun mulai malas membahas hal-hal yang berkaitan dengan cinta dan Chanyeol mengetahui itu. “Hm.” Mereka kembali larut dalam tawa hingga saatnya Chanyeol kembali meringis kesakitan dihidungnya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun lagi. “Bagaimana denganmu? Jika kau baik-baik saja, aku sama halnya denganmu.” Chanyeol menepuk punggung tangan Baekhyun, mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu. “Kau memang benar-benar sahabatku.” Baekhyun sontak memeluk tubuh Chanyeol yang masih terbaring, mengabaikan penolakan keras namja tiang itu atas pelukannya.

Byun Ahjumma duduk disofa ruang tamu dengan mata berkilat-kilat. Bibirnya sudah tidak sabar untuk memberi ceramah pada Baekhyun, putra tunggalnya. Tak berapa lama, muncullah Baekhyun dari balik pintu utama. “Ehm…darimana saja kau?” baru beberapa detik lalu masuk kerumah, Baekhyun sudah diberi sambutan mengerikan seperti ini. Dengan takut, Baekhyun mengamati ibunya yang terlihat marah. “Ne. Aku baru saja mengikuti ekskul sepak bola.” Jawab Baekhyun dengan wajah takutnya. Tidak biasanya, Byun Ahjumma bersikap sedingin itu bila Baekhyun tidak melakukan kesalahan besar. “Duduk!” perintah Byun Ahjumma yang langsung dituruti oleh Baekhyun. Mereka berdua duduk dengan serius, lebih tepatnya Byun Ahjumma yang duduk dengan serius dan Baekhyun lebih cenderung ke duduk tegang. Ibu dan anak itu saling bertukar pandangan. Membuat suasana yang begitu panas mendominasi ruangan itu. “Apa AC-nya mati? Kenapa begitu panas?” Baekhyun mengendurkan dasi sekolahnya. Byun Ahjumma menggebrak meja dengan keras, membuat Baekhyun terkejut dan sedikit melompat. “Eomma tadi menerima telepon dari Kang Songsaengnim, katanya nilai ulangan terakhirmu begitu jelek. Kau tahu, bahkan nilaimu hanya 10.” Byun Ahjumma memasang ekspresi kecewanya pada Baekhyun, sedangkan Baekhyun justru terlihat cekikikan. “Eomma, bukankah biasanya nilaiku juga 10? Kenapa eomma tiba-tiba marah? Apa eomma bosan menerima kabar kalau nilaiku sempurna terus-menerus?” Baekhyun tersenyum bangga atas nilai yang didapatkannya. “Mwo? Nilai sempurnya adalah 100 dan peraih nilai sempurna itu adalah Kim Jong In, anak teman arisan eomma yang biasanya begitu bodoh katamu.” Baekhyun membalalakkan matanya. Dia tidak percaya jika penilaian Kang Songsaengnim berubah. Biasanya guru itu akan memberi nilai 8,0 atau 9,0 atau 10 dan kini dia memberi nilai 80, 90, 100. ‘Kenapa nilai 10 bisa jadi nilai paling rendah begini?’ Baekhyun menggaruk tengkukknya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana beralasan pada ibunya. “Mulai besok kau akan mendapat jam belajar tambahan dirumah dengan guru lesmu.” Baekhyun kembali dibuat terkejut dengan keputusan ibunya yang mencarikannya guru les. “Mwo? Tapi aku ada ekskul, eomma. Tidak bisakah lesnya kapan-kapan saja?” Baekhyun merengek-rengek kepada ibunya seperti anak kecil. “Tidak bisa. Besok setelah pulang sekolah, kau harus langsung pulang kerumah. Eomma tidak ingin alasan apapun.” Setelah itu, Byun Ahjumma segera bergegas pergi kedapur. Baekhyun masih brguling-guling tidak terima, namun ia harus melakukannya demi uang jajannya sebulan ini.

Baekhyun berjalan lunglai menuju halte bus. Setelah kabar tentang nilai hancurnya terdengar sampai telinga ibunya, motor sport hitam miliknya yang menjadi taruhan. Tidak ada lagi acara mengendarai motor untuk menarik perhatian Yoona karena motornya disita. Tidak ada lagi uang jajan untuk Chanyeol karena uang sakunya dipotong selama sebulan. Dan tidak ada lagi acara berangkat siang karena ia harus menunggu bus. Dan tepat saat Baekhyun sampai dihalte, bus yang hendak ditumpanginya sudah datang. Dengan cepat, Baekhyun berlari masuk kedalam bus. Disana, ia menemukan sosok Chanyeol yang tengah duduk dipojok belakang dengan sebuah headset ditelinganya. Baekhyun tersenyum sekilas dan berjalan kearah namja itu. “Selamat pagi, Chanyeol-ah?” sapa Baekhyun dengan riang. Chanyeol masih tidak mendengar sapaan Baekhyun karena headsetnya. “Ck. Dasar anak ini.” Dengan paksa, Baekhyun mencabut headset dari telinga Chanyeol, membuat namja itu sontak menoleh kearahnya. “Yak! Kenapa kau ada disini?” Tanya Chanyeol dengan nada terkejut yang begitu aneh. Baekhyun mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Chanyeol yang terdengar seperti menghinanya. “Wae? Bukankah ini transportasi umum? Lalu apa salahnya jika aku menaikinya?” Baekhyun duduk seraya meletakkan tasnya diatas pahanya. Dia terlihat begitu lelah menurut penglihatan Chanyeol. “Apa kau ada masalah? Kenapa wajahmu kusut sekali?” Chanyeol mendekatkan wajahnya kearah Baekhyun. Baekhyun kemudian menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Motorku disita dan uang jajanku dipotong selama sebulan oleh eomma.” Chanyeol membuka mulutnya tidak percaya. Byun Ahjumma bukanlah orang yang setega itu, terlebih pada putranya sendiri. “Memang kesalahan apa yang telah kau lakukan?” Baekhyun memundurkan tubuhnya, ‘Bagaimana bocah ini bisa tau kalau aku membuat masalah?’ Batin Baekhyun. Chanyeol masih saja menatapnya dengan penasaran. Dengan terpaksa Baekhyun menceritakan tentang masalahnya. “Nilai ulanganku jelek.” Chanyeol tertawa terbahak-bahak mendengar Baekhyun baru saja berbicara tentang nilai ulangan. Biasanya Baekhyun adalah peraih nilai tertinggi dikelas tapi sekarang anak itu justru berkata kalau ulangannya jelek. “Kau bercanda?” Baekhyun mengerucutkan bibirnya lucu. “Aku serius, Yeol.” Chanyeol sontak menghentikan tawanya dan menatap Baekhyun lekat. “Ba…bagaimana bisa? Aku saja berhasil mendapat nilai 80 dengan IQ jongkokku.” Baekhyun mendengus pelan. Dia tidak berniat menceritakan rinciannya pada Chanyeol, karena ia tahu mulut ember namja itu akan membuat semuanya menjadi musibah. “Sssttt! Aku tidak ingin membahasnya lagi.” Setelah itu, Chanyeol kembali memakai headsetnya dan memandangi keluar jendela.

“Aku pulang dulu, Yeol.” Baekhyun segera berpamitan setelah bel pulang sekolah berbunyi. Chanyeol yang sedang menata buku-buku pelajarannya hanya dapat memandang kepergian Baekhyun dengan bingung. Mereka sudah membuat janji untuk mengikuti ekskul sepak bola, dan Baekhyun justru pergi begitu saja. “Ada apa dengan namja itu?” Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku latihan sendiri saja.” Chanyeol menggendong tas punggungnya dan berniat untuk pergi ke lapangan sepak bola.

“Eomma, aku pulang.” Baekhyun berteriak seraya terengah-engah masuk kedalam rumahnya. Dia tidak ingin membuat ibunya yang masih marah semakin marah dengan dia mengabaikan perintah wanita paruh baya itu. “Kau sudah pulang?” Tanya Byun Ahjumma dengan sumringah. Dia menyambut Baekhyun dengan wajah yang benar-benar ceria seperti biasa. Dan Baekhyun hanya dapat tersenyum kikuk menanggapi sambutan ibunya. “Ganti pakaianmu dan segera makan siang.” Byun Ahjumma menepuk punggung Baekhyun pelan. Baekhyun hanya tersenyum dan menuruti perkataan ibunya. Beberapa menit kemudian, Baekhyun sudah turun dengan pakaian santainya. Duduk diruang tamu dengan malas seraya menunggu guru les yang dipanggil ibunya. Hampir saja Baekhyun tertidur sampai akhirnya sebuah tangan mungil menyentuh tubuhnya. “Mianhae, mengganggu tidurmu.” Baekhyun mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menemukan fokus matanya. Saat ini, dia melihat seorang gadis cantik berpenampilan rapi berdiri dihadapannya. “Nugu-ya?” Tanya Baekhyun masih dengan wajah terkagum-kagumnya. “Naneun Kim Taeyeon. Bangapseumnida.” Gadis itu menunduk sopan kearah Baekhyun. Senyum Baekhyun mendadak mengembang melihat sosok itu begitu sempurna. “Apa kau guru lesku?” Mendengar pertanyaan Baekhyun, Taeyeon hanya mengangguk seraya tersenyum manis. ‘Oi, kalau guru lesnya seperti ini lebih baik aku belajar dirumah 24 jam non stop daripada belajar disekolah.’ Batin Baekhyun. Taeyeon kemudian mengeluarkan beberapa buku pelajaran dari dalam tasnya dan mulai mengajak Baekhyun untuk belajar.

Sudah hampir 3 jam Baekhyun mendapat pelajaran dari Guru Les cantiknya, Kim Taeyeon. Namun, tidak secuilpun pelajaran yang masuk kedalam otaknya. Matanya hanya terus terfokus pada paras cantik gadis itu. Hingga akhirnya Taeyeon menoleh kearahnya dengan pandangan bingung. “Baekhyun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya Taeyeon dengan lembut. “Uh, tentu saja.” Jawab Baekhyun cepat. Akhirnya Taeyeon hanya mengangguk dan kembali menata buku-bukunya untuk bersiap pulang. “Nuna, apa kau sudah memiliki kekasih?” Baekhyun menanyai gadis itu dengan wajah penuh harap. Taeyeon terlihat berpikir namun kemudian menggeleng. ‘Asyik.’ Batin Baekhyun dengan meletup-letup. “Aku pamit, ne.” setelah selesai mengemas barang-barangnya Taeyeon segera beranjak dan berpamitan pada Baekhyun. “Dimana ahjumma?” tanya Taeyeon seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita paruh baya itu. “Molla. Mungkin dia sedang didapur.” Taeyeon mengangguk mengerti dengan jawaban Baekhyun. “Kalau begitu sampaikan salamku untuknya. Aku permisi, Baekhyun-ah.” Baekhyun menunduk sebagai rasa sopannya. Kemudian dia berinisiatif untuk mengantar Taeyeon hingga kehalaman. Baekhyun membukakan pintu rumahnya untuk guru les cantiknya itu. Pemandangan yang dilihatnya pertama kali saat pintu terbuka adalah seorang namja berpenampilan rapi tengah berdiri disana. “Uh, nugu-ya? Ahjussi mencari siapa?” tanya Baekhyun pada namja itu. “Oh, kau sudah datang, sayang?” Taeyeon tiba-tiba mendekat kearah namja itu dan memeluknya. Baekhyun yang melihat adegan itu hanya dapat melongo. “Ah, Minahae, Baekhyun-ah. Tadi aku lupa mengatakan bahwa aku sudah memiliki suami. Perkenalkan, ini suamiku, Park Jung Soo.” Namja itu mengulurkan tangannya kearah Baekhyun. Namun, Baekhyun tak bergeming sama sekali. “Apa kau baik-baik saja?” Taeyeon menggoncangkan tubuh Baekhyun pelan melihat namja itu hanya diam dengan pandangan kosong. “Ne.” Setelah itu, Baekhyun menutup pintu rumahnya tanpa menunggu Taeyen dan suaminya berpamitan. Dia sudah terlanjur sakit oleh kenyataan yang baru saja diketahuinya. “Aish, sialan!” Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. Dia jatuh terduduk dibelakang pintu. Ternyata Chanyeol benar, cinta memang tidak pernah terasa baik untuknya.

—THE END—

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshot] Love Never Felt So Good

  1. kasihan Baekhyun mending jadian sama si tiang aja haha
    Ditunggu karya lainya thor^^

  2. Hahahaha.. 😀
    Baekhyun kurang bruntung nhh dlm kisah percintaannya. Pdhl td aku brpkirnya Baek bsa brsma dgn Yoona.
    Lucu, kocak, seru, nyesek jg, friendly, campur aduk deh..
    Neomu joha!
    Daebak thor..

  3. Astaga.. aku ga bisa ngomong apa2 lagi thor selain bilang seru, asik, alur nya bagus . Pokok nya keren banget sumpah.
    Btw berapa lama bikin ini ff? Panjang binggow. Udah panjang seru ceritanya ga ngebosenin.. pokoknya keep writing ya thor~~

  4. Ini comedian tapi ada sad nya dikit, bener kolak banget sampai sakit perut aku pas baekhyun ketemu jung so hahaha bener bener lucu. Maksih thor

  5. ngakak trus baca baekhyunnya…
    baekyeol kalian memang shbat sejati..
    aq suka persahabatan klian..
    mskipun konyol namun asik gitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s