[Oneshot] Classic Love

Classic Love
Im Yoona | Kim Jongin
Comedy, Marriage Life, Romance
Copyright © Februari 2015 by (Icyoona)
—HAPPY READING—

Kai memandangi gadis yang baru saja dinikahinya dengan malas. Terlebih lagi melihat bagaimana kondisi gadis itu sekarang, membuatnya lebih malas berlama-lama memandanginya. Kai duduk dipinggiran kasur yang ditempati gadis itu. Ia sedikit terkejut saat gadis itu menggeliat dan menggumam didalam tidurnya. “Menjijikkan!” gerutu Kai saat matanya menangkap gadis itu tengah mengusap air liurnya yang mulai mengalir dari bibir gadis itu. Tidak ada yang bisa Kai lakukan kecuali tetap bersabar hingga hari esok datang. Mengingat ibunya menguncinya dan gadis itu didalam satu kamar. Dengan putus asa, Kai merebahkan tubuhnya disofa yang ada dikamar itu dan perlahan-lahan mulai terlelap kealam mimpinya.

Yoona menguap lebar seraya mengucek matanya yang belum sepenuhnya mendapatkan fokus. Matahari pagi yang begitu cerah memaksanya untuk segera bangkit. Sedetik kemudian, Yoona telah duduk dengan setengah sadar. “Hoam.” Yoona menguap sekali lagi sebelum penglihatannya teralih pada sosok namja yang tengah terbaring disofa. “Nugu-ya?” Yoona mengerutkan keningnya. Mungkin dia tidak ingat jika statusnya sekarang bukan lagi seorang single lady. Perlahan Yoona mendekat kearah namja itu dan mengamatinya sejenak. Yoona mengerjapkan matanya mencoba mengingat siapa namja itu. Dan akhirnya Yoona ingat jika namja itu adalah namja yang baru kemarin menikahinya. “Ah, ternyata wajah suamiku seperti ini? Bolehlah.” Yoona terkikik geli karena ia baru menyadari bagaimana sosok suami yang dipilihkan oleh orang tuanya untuknya. Sebenarnya Yoona tidak begitu menyukai perjodohan ini, tapi karena dipaksa ya beginilah jadinya sekarang. Setelah puas mengamati wajah suaminya, Yoona memutuskan untuk pergi kekamar mandi. Dia tidak bisa membayangkan betapa kacau penampilannya saat ini. Apalagi Yoona tadi malam tidak sempat membersihkan make upnya. Pasti wajahnya saat ini terlihat begitu manakutkan. Yoona mengangkat gaun panjangnya, begitu merepotkan dan Yoona merasa tidak biasa dengan semua ini. Dengan cepat, Yoona masuk kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.

“Punggungku sakit.” Gerutu Kai setelah ia terbangun dari tidur menyakitkannya. Matanya melirik sekilas kearah kasur yang tadi malam ditempati gadis itu. Kai menautkan alisnya, saat ia tidak menemukan sosok gadis itu ada disana. Namun, Kai tak ingin ambil pusing. Dia tidak peduli bagaimana gadis itu dan apa yang gadis itu lakukan. Dengan malas Kai melipat kemeja putihnya hingga siku. Dia ingin mandi. Mungkin dengan mandi semua akan terasa lebih baik. Kai bangkit dari sofa dan berjalan pelan menuju kamar mandinya. Tiba-tiba saja dari balik pintu kamar mandi, gadis itu muncul hanya dengan handuk secuil yang menutupi dada hingga pahanya. Kai menelan salivanya. Walaupun dia tidak menyukai gadis ini, tapi pria mana yang bisa menahan diri jika disuguhi pemandangan indah itu. Yoona— gadis itu hampir saja berteriak, namun dengan cepat ia menutup mulutnya sendiri. Ia ingat dengan jelas bahwa ini bukan rumahnya dan dia tidak ingin membuat kegaduhan dipagi hari seperti ini. “Ap…apa yang kau lakukan disini? Kau mengintipku?” tanya Yoona dengan terbata-bata. Kai masih terdiam dan mengamati Yoona dari atas hingga bawah dengan pandangan kagum. Yoona tidak bodoh hanya untuk menyadari bahwa laki-laki itu tergoda dengan tubuhnya. Secepat mungkin Yoona berusaha menutupi tubuhnya dengan tangannya yang menyilang. “Jangan melihatku seperti itu, eoh!” kata Yoona setengah berteriak. Kai tersentak kaget sekaligus malu. Dia tertangkap basah tengah mengagumi ciptaan indah Tuhan yang diwujudkan pada tubuh gadis itu. “Cepat pakai bajumu.” Kai memilih untuk membelakangi Yoona agar ia bisa lebih menjaga matanya. Yoona menatap punggung Kai dengan pandangan memelas. Dia baru sadar jika semua baju dan perlengkapannya belum diantar kerumah namja ini. “Mmm…aku butuh bantuanmu, Jongin-ssi.” Kata Yoona pelan. Kai hendak berbalik, namun dengan paksa Yoona menahan tubuh namja itu agar tetap pada posisinya. “Ap…apa yang kau lakukan?” tanya Kai bingung. “Jangan berbalik! Cukup jawab saja pertanyaanku. Kau mau membantuku atau tidak?” Kai mendengus kesal dengan sikap gadis itu. Mana ada orang minta bantuan tapi memaksa si pemberi bantuan untuk mengikuti keinginannya. “Ya, baiklah. Apa yang bisa kubantu?” dengan putus asa, Kai akhirnya menyetujui untuk membantu istrinya itu. “Pinjami aku pakaian.” Yoona berbisik pelan dari arah belakang. Walaupun pelan, tapi Kai bisa mendengarnya dengan jelas karena memang jarak mereka berdua sangat dekat. Tanpa sepengetahuan Yoona, Kai ternyata telah menemukan sebuah rencana untuk menjahili gadis itu. “’Baiklah. Aku akan meminjamimu pakaian, tapi ada syaratnya.” Yoona menautkan alisnya bingung. Kai bukan pria yang mudah diajak bekerja sama. Padahal tubuh Yoona sudah mulai menggigil kedinginan, terlebih lagi dia belum sempat mengeringkan rambutnya yang basah. Dan sekarang namja itu justru mempersulit dirinya untuk mendapat pinjaman pakaian. “Apa syaratnya? Cepat katakan! Aku kedinginan, bodoh.” Yoona menatap Kai dengan garang. ‘Awas saja jika dia mempermainkanku!’ batin Yoona emosi. Kai tersenyum jahil sambil berjalan lebih dekat kearah Yoona. Perlahan Yoona ikut memundurkan langkahnya seiring dengan jaraknya dengan namja itu yang semakin dekat. Kai menyudutkan Yoona hingga tidak ada ruang kosong diantara mereka. Dengan jahil Kai menumpukan tangannya di dinding. Yoona tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa semoga tidak terjadi hal buruk pada dirinya. “Syaratnya…” Kai menggantungkan kalimatnya membuat pikiran Yoona semakin jauh berimajinasi tentang apa yang diinginkan namja itu. “Berikan aku sesuatu yang seharusnya didapatkan seorang pengantin baru.” Kai mengedipkan sebelah matanya. “Sesuatu? Apa maksudmu?” tanya Yoona polos. Kai terkekeh kecil. Tangannya mulai bergerak nakal dengan menyentuh leher Yoona. Membuat Yoona sedikit gerah dengan perlakuan namja ini. “Maksudku adalah seperti ini.” Kai mendekatkan wajahnya kewajah Yoona, bersiap untuk mendapatkan apa yang memang seharusnya ia dapatkan.

5 cm… 4 cm… 3 cm… 2 cm… 1 cm…

Kai hampir saja mendaratkan sebuah ciuman dibibir Yoona hingga saat ibunya datang dengan suara pintu yang terbuka mengacaukan semua rencananya. “Oh, maafkan eomma. Eomma tidak tahu jika kalian sedang…” Yoona tersenyum kikuk. Dia berusaha untuk menjelaskan, tapi wanita paruh baya itu lebih dulu menutup pintunya kembali. Kai mengacak rambutnya frustasi. ‘Bukan seperti ini rencanaku, tapi kenapa aku hampir saja melakukannya. Aku hanya ingin membuatnya gugup, tapi bukannya dia yang gugup, justru akulah yang merasakannya.’ Pikir Kai. Dia duduk ditepi kasur dengan perasaan gelisah sekaligus canggung. Disisi lain, Yoona juga terduduk dengan dada yang naik turun tidak menentu. Jujur saja Yoona merasa gugup dengan sikap Kai yang seolah benar-benar menginginkannya layaknya seorang suami yang menginginkan istrinya. Namun dilain sisi, Yoona belum bisa sepenuhnya menerima Kai sebagai labuhan hatinya. Masih ada perasaan ragu yang terpatri jelas dihati Yoona. “Jangan lakukan lagi! Kau hampir saja membuat semuanya menjadi rumit.” Yoona berdiri dihadapan Kai dengan wajah memohon. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya, menimpa mereka berdua. “Ambil pakaian dilemari dan cepat ganti pakaianmu. Bagaimanapun juga aku adalah seorang pria. Aku bisa saja melakukan hal diluar kendaliku bila aku terus-terusan melihatmu dengan penampilan seperti itu. Aku mungkin tidak akan segan, mengingat kau adalah istri sahku.” Setelah berkata panjang lebar, Kai berdiri dari posisi duduknya dan berjalan kekamar mandi meninggalkan Yoona yang masih terpaku. “Gomawo. Jeongmal gomawo.” Gumam Yoona.

Suasana sarapan kali ini benar-benar berbeda. Dengan adanya Yoona sebagai anggota baru di keluarga Kim membuat semuanya terasa begitu lengkap. Yoona memposisikan dirinya dengan benar. Walaupun pada kenyataannya Yoona adalah gadis tomboy, namun disini ia tetap memperlihatkan dirinya sebagai gadis lemah lembut dengan segala sopan santun yang dijunjungnya. Dia tidak melupakan pelajaran yang pernah diberikan oleh ibunya sebelum ia menikah dengan calon suami pilihan orang tuanya. “Kau manis sekali, Yoona-ya.” Puji Kim Ahjumma. Yoona hanya tersenyum kecil seraya mengucapkan terimakasih atas pujiannya. ‘Dia berbeda dengan dia yang kulihat tadi malam.’ Batin Kai. Yoona dan Kim Ahjumma terus saja mengobrol hingga Kai merasa diacuhkan oleh kedua wanita itu. Dia adalah satu-satunya pria disini, ayahnya pergi dinas keluar kota, dan adik laki-lakinya mungkin belum bangun tidur. Setelah semuanya selesai sarapan, Kim Ahjumma berniat untuk membereskan semuanya hingga Yoona tiba-tiba menghentikan niatan wanita itu. “Biar aku saja, eomma.” Kata Yoona penuh pengertian. Namun, Kim Ahjumma menolak mentah-mentah kebaikan hati Yoona. “Tidak perlu, Yoona-ya. Eomma bisa mengerjakannya sendiri. Lagi pula ini sudah menjadi tugas eomma sehari-hari.” Kim Ahjumma tersenyum singkat dan sedikit mendorong tubuh Yoona agar mengikuti Kai yang sedang duduk diruang tamu. Yoona melirik kearah Kim Ahjumma dan wanita itu hanya mengangguk mengisyaratkan agar Yoona melakukan perintahnya. Dengan langkah pelan, Yoona berjalan menuju ruang tamu. Disana, ia bisa menemukan Kai tengah duduk dengan koran yang ada ditangannya. “Kau, tidak bekerja?” tanya Yoona basa-basi. Dia duduk disamping Kai dengan jarak yang cukup jauh. Kai menurunkan korannya dan menepuk sofa yang dekat dengannya. Yoona menatap Kai dengan bingung. “Kemarilah!” perintah Kai dengan suara lembut. Yoona akhirnya mengikuti perintah Kai dan duduk bersebelahan dengan namja itu. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Yoona lagi. Dia duduk dengan tegang sambil mengayunkan kakinya. “Ini Hari Minggu , sayang. Selain itu, aku juga mendapat cuti karena aku baru saja menikah.” Pipi Yoona mendadak berubah warna menjadi merah mendengar Kai baru saja memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Yoona mengangguk paham. Kai kembali pada kegiatan awalnya, membaca koran. Tanpa peduli dengan Yoona yang rasanya begitu bingung harus berbuat apa. Kai cukup tahu dengan kebimbangan gadis itu. “Bersikaplah seperti biasa.” Kata Kai tanpa mengalihkan pandangannya dari koran. Yoona menggembungkan pipinya sebal. Dia sudah cukup gila dengan semua ini, dan Kai justru tidak mengerti keadaannya. “Bagaimana bisa aku bersikap biasa, eoh? Ini semua masih terasa asing.” Yoona manarik nafasnya panjang. Dia tidak ingin membebani Kai dengan segala pengaduannya. Namun, Yoona tetaplah seorang gadis biasa yang membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran seluruh keluh kesahnya. Yoona melirik sekilas kearah Kai yang kini sedang asyik mengacuhkannya dengan koran. ‘Kapan kau akan memandangku sebagai istrimu? Bahkan koran saja mampu membuatmu lebih tertarik daripada aku.’ Batin Yoona. Saat ini, dia hanya bisa memanyunkan bibirnya meratapi nasibnya yang begitu malang. Kai diam-diam memperhatikan seluruh tingkah Yoona. Namun, dia hanya bisa menertawakannya dalam hati. “Bayangkan saja kau sedang berada dirumahmu sendiri dan saat ini namja yang menikahimu adalah namja yang kau cintai.” Kai mengangkat sebelah alisnya. Dia memberikan solusi yang menurutnya terbaik. Dengan begitu mungkin Yoona akan mulai terbiasa dengannya. Yoona mendesah pelan, “Tetap saja suamiku adalah kau. Walaupun aku membayangkan bahwa yang menikahiku adalah Brat Pitt, tapi nyatanya tetap saja disurat nikahku tertulis bahwa Kim Jongin adalah SUAMI SAH Im Yoona.” Yoona menekankan perkataannya pada kata ‘suami sah’, membuat Kai sedikit berdecak sebal. “Memangnya seburuk itukah menikah denganku? Seharusnya kau bersyukur, pangeran setampan aku mau menikahi itik buruk rupa sepertimu.” Kai berlari menuju tangga sambil menjulurkan lidahnya pada Yoona. Gadis itu membuka mulutnya lebar mendengar suaminya baru saja memanggilnya dengan sebutan ‘itik buruk rupa’. “Awas kau, Kim Jongin! Kau akan menyesal jika aku bisa menangkapmu.” Teriak Yoona seraya mencoba untuk mengejar langkah Kai yang semakin jauh.

Adik laki-laki Kai—Kim Won Hong, mendelik kesal saat keasyikannya menonton televisi terganggu oleh suara bel rumahnya yang berbunyi. Dengan malas, Won Hong membuka pintu rumahnya dan menemukan seorang pengantar barang berdiri disana. “Maaf mengganggu, apa benar ini rumah Nona Im Yoona?” tanya pengantar barang itu sopan. Won Hong hanya mengerutkan kening, seingatnya dirumah ini tidak ada seseorang yang bernama seperti yang disebutkan laki-laki itu. “Bukan.” Jawab Won Hong cepat. Pengantar barang itu sedikit terkejut dengan jawaban yang diberikan Won Hong, meningat ia mendatangi rumah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh bosnya. “Jinjja-yo?” tanya pengantar barang itu sekali lagi. “Kau tidak percaya padaku? Kau menuduhku berbohong?” Won Hong kesal dengan orang itu. Sudah mengganggu acara nonton televisinya, sekarang masih saja tidak mempercayai perkataannya. “Ah, mianhae. Kalau begitu saya permisi.” Pengantar barang itu menunduk dan lalu berjalan pergi. Won Hong menutup pintu rumahnya kembali. Dia ingin cepat kembali ketempat duduknya seraya menikmati tayangan kartun favoritnya. “Apa ada seseorang yang mengantar barang kemari?” baru beberapa detik duduk, sekarang sudah ada pengacau lagi. “Seseorang? Siapa maksudmu? Tidak ada.” Won Hong masih saja bersikap acuh. Yoona yang melihat sikap bocah kecil itu hanya dapat mendengus pelan. ‘Pasti anak ini berbohong.’ Sangka Yoona. “Kau tidak bohong?” tanya Yoona lagi, kali ini dengan raut wajah yang tampak serius. “Uh! Kenapa semua orang menganggapku pembohong? Memangnya dikeningku ada tulisan bahwa aku ini pembohong?” Won Hong mulai naik darah dengan perilaku semua orang hari ini. Dia hanya ingin tenang menonton televisinya, tapi tidak bisakah semua orang tidak mengganggunya? Yoona mengerutkan keningnya bingung. “Semua orang?” dengan tatapan menyelidik, Yoona akhirnya duduk disebelah Won Hong yang terlihat sedang marah. “Ya, semua orang. Yang pertama, ahjussi-ahjussi pengantar barang menyebalkan yang datang dan menanyakan tentang gadis bernama Im Yoona. Dan sekarang kau, Noona Yoon… Oops!” Won Hong menutup mulutnya rapat. Dia ingat sesuatu. Tapi ingin rasanya ia lupa akan sesuatu itu. “Jadi tadi ada ahjussi-ahjussi kemari mencariku dan kau mengatakan bahwa aku tidak ada. Dan itu tandanya pakaianku ikut raib bersama ahjussi itu. Huwaaaaa…” Yoona berteriak kencang, membuat Kai yang sedang tidur dikamar atas ikut terbangun. “Mi…mianhae, Noona. Aku lupa kalau dirumah ini ada kau.” Lirih Won Hong mencoba untuk meminta maaf pada kakak iparnya itu. Namun, Yoona tetap saja menangis sesenggukan seraya menundukkan kepalanya. “Ada apa ini?” Kai sedikit terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini, Yoona yang duduk dengan kepala menunduk diatas sofa dan adiknya yang terlihat berkaca-kaca duduk dibawah sambil memegangi kaki Yoona. “Hyung, aku telah berbuat kesalahan kepada, Yoona Noona.” Won Hong memeluk Kai sambil menangis. “Memang apa yang sudah kau lakukan, hm?” tanya Kai lembut. Dia melepas pelukannya pada Won Hong dan mulai megusap air mata adik kecilnya itu. “Ta…tadi ada ahjussi pengantar barang yang ingin mengatarkan barang Yoona Noona. Tapi saat ahjussi itu bertanya apakah rumah ini rumah Yoona Noona, aku menjawab bukan. Lalu ahjussi itu pergi dengan barang Yoona Noona.” Won Hong menceritakan kronologi kejadiannya dengan terperinci. Walaupun terdengar sesekali sesenggukan dari suaranya, namun Kai bisa mengerti dengan jelas masalah apa yang sebenarnya terjadi. “Berhentilah menangis! Kau tidak perlu merasa bersalah. Untuk urusan Yoona serahkan saja padaku.” Kai tersenyum menenangkan, membuat Won Hong akhirnya mengangguk dan membalas senyumnya. “Ehm! Yoona, maafkan adikku, ne. Mungkin dia belum terbiasa dengan hadirnya kau dirumah ini.” Kai duduk disamping Yoona yang masih menunduk. Gadis itu sontak mengangkat kepalanya merasa tidak setuju dengan pernyataan Kai. “Bagaimana bisa seperti itu? Kau tahu kan ini menyangkut kepentinganku? Memang tanpa pakaian aku bisa hidup tenang disini? pikir itu, Kai!” Yoona masih menahan tangis dengan matanya yang memerah. Dia tidak bisa hidup tanpa pakaian-pakaian kesayangannya. Melihat ekspresi Yoona, Kai mendadak tertawa kencang. Tidak pernah dia melihat ekspresi sedih seaneh itu, menurutnya. “Kau tidak pantas menangis! Kau tahu? Itik buruk rupa akan terlihat semakin jelek saat dia menangis. Jadi, jangan menangis lagi!” dengan penuh kelembutan diusapnya air mata Yoona yang mengalir dipipi gadis itu. Walau dari luar dia terlihat tertawa, tapi pada kenyataannya melihat seseorang yang kini mulai menghiasi hidupnya menangis membuatnya ikut merasakan kesedihan pula. “Aku akan mengganti semua pakaianmu. Jika perlu, aku akan membelikanmu pakaian yang lebih banyak dan lebih mahal pastinya.” Kata Kai dengan riang. Yoona memukul dada bidang suaminya dengan kesal. “Kau merendahkanku, bodoh!” teriak Yoona disela kegiatan main pukul anarkisnya. Won Hong tersenyum lega, akhirnya kakak laki-lakinya yang kekanakan dapat juga menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. Walaupun penyelesaiannya masih dengan cara kekanakan juga.

Kai dan Yoona tengah berjalan-jalan dipusat perbelanjaan Kota Seoul. Ini merupakan perwujudan dari janji Kai kemarin. Dia bukan tipikal orang yang mudah melupakan janjinya sendiri. “Bagaimana? Aku menepati janjiku kan.” Kata Kai penuh percaya diri. Yoona mengumpat kesal dengan sikap sombong suaminya yang ia anggap sudah melampaui batas. “Ya, kau benar. Kau menepati janjimu, Tuan Kim.” Yoona memandang acuh pada Kai yang sibuk menjilati es krimnya. “Seharusnya kau berterimakasih padaku, Nona Im.” Kai melirik sekilas pada Yoona lalu kembali sibuk dengan es krimnya. “Baiklah. Terimakasih, Tuan Kim Jongin.” Yoona berucap malas. Es krimnya sepertinya lebih menarik untuk dipandangi daripada namja disampingnya. Keduanya berjalan berdampingan dengan tangan Kai yang penuh dengan belanjaan Yoona. Entah mendapat keajaiban darimana, tiba-tiba Kai berbaik hati untuk membawakan belanjaan-belanjaan Yoona. Sedangkan Yoona justru sibuk sendiri memakan es krim. “Es krimmu sudah habis?” tanya Yoona saat matanya menangkap kenyataan bahwa Kai tidak lagi memegang es krim seperi tadi. “Tentu saja. Aku memakannya dengan cepat, tidak lambat sepertimu.” Yoona berjalan cepat mendahului Kai. Dia sadar jika pertengkaran antara mereka berdua bermula dari ejekan-ejekan kecil yang tidak sengaja mereka lontarkan. “Kenapa kau meninggalkanku?” Kai mengikuti Yoona dengan langkah cepat pula. “Kau sendiri, kenapa menyulut api pertengkaran yang sebelumnya sudah padam?” Yoona menghentikan langkahnya dan menatap Kai garang. Ingin sekali rasanya dia ikut memakan namja itu bersama es krimnya. “Aku hanya bercanda, Yoong. Tidak bisakah kau membedakan mana yang bercanda dan mana yang serius?” Yoona mengangguk mengerti. Memang seharusnya dia menyaring terlebih dahulu setiap perkataan namja itu. Terlintas dipikiran Kai untuk kembali menjahili Yoona yang terlihat polos. “Bolehkah aku minta sedikit es krimmu?” Kai memasang tampang lucunya dihadapan Yoona. Bersikap seolah anak kecil yang meminta es krim kepada ibunya sepertinya tidak terlalu buruk. “Ambillah!” jawab Yoona setengah hati. Sebenarnya dia enggan membaginya dengan Kai, tapi melihat namja itu kerepotan membawa belanjaannya membuat Yoona sedikit merasa kasihan. “Bagaimana aku mengambilnya?” Kai menunjukkan tangannya yang penuh dengan belanjaan Yoona. “Mau bagaimana lagi, terpaksa.” Dengan tidak terlalu bersemangat, Yoona menyodorkan es krim yang ada ditangannya kemulut Kai. Namja itu telah membuka mulutnya lebar-lebar, menerima dengan senang hati suapan keterpaksaan dari istrinya. “Gomawo, chagi-ya.” Yoona terkekeh pelan melihat tingkah Kai yang seperti anak kecil. Mengucapkan terimakasih dengan mulut yang masih penuh dengan es krim. “Kau kotor sekali.” Tangan Yoona terulur untuk mengusap sisa es krim yang menempel dibibir Kai, membuat Kai sedikit terkejut oleh tindakannya. Setelah dia rasa bibir Kai sudah bersih, kemudian Yoona menjilat jari yang digunakannya untuk mengusap bibir Kai tadi. Kai mengangkat alisnya. “Kau, tidak malu?” tanya Kai pelan. “Malu untuk?” Yoona terlalu asyik berkutat dengan jemarinya hingga tidak menyadari jika telah banyak orang yang melihatnya dengan pandangan aneh. Kai tesenyum geli, tidak disangka jika gadis polos sepertinya ketagihan bahkan hanya karena bekas bibirnya yang menempel dijari gadis itu. “Ja…jangan menatapku begitu!” Yoona memutar badannya menghindari tatapan Kai yang menyudutkannya. “Bagaimana rasanya? Sepertinya kau begitu menyukainya.” Kai tidak berhenti mengolok-olok Yoona yang rasanya tidak memiliki keberanian untuk menyangkal lagi. Yoona kembali menghadap Kai dengan wajah merah padamnya. “Ayolah, berhenti membuat lelucon tentangku! Jebal, Jongin-ssi.” Pinta Yoona memelas. Disaat seperti ini mengeluarkan amarahpun tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru mungkin. “Arraseo.” Kai mendekat kearah Yoona dan sedikit menunduk untuk mencapai bibir pink gadis itu. Yoona berdiri mematung. Es krim yang dipegangnya mendadak terjatuh. Matanya terus saja membulat tidak percaya dengan sesuatu yang terjadi saat ini. “Bagaimana menurutmu? Apa ini lelucon? Apa sekarang kau masih malu untuk mengakui aku sebagai suamimu? Didepan orang banyak seperti sekarang.” Kai melepas ciumannya dan berbisik pelan ditelinga Yoona. Sepersekian detik kemudian, Yoona baru saja tersadar dan menunduk meminta maaf pada orang-orang yang melihat adegan tidak pantasnya dengan Kai. Beberapa orang yang melihatnya berteriak histeris dan merasa iri pada Yoona yang diperlakukan seromantis itu. Namun, ada pula yang marah-marah atas perbuatan Kai dan Yoona yang dianggap kurang pantas dilakukan didepan umum, terlebih lagi ditonton oleh putra putri mereka. “Jangan bersikap seolah kita adalah pasangan mesum!” Kai menarik tangan Yoona cepat. Membimbing gadis itu untuk segera keluar dari kerumunan orang yang menjadikan mereka tontonan. “Ta…tapi kita harus meminta maaf pada mereka. Kau tahu kan kita sudah melakukan…” Yoona begitu malu untuk mengucapkan sesuatu yang baru saja terjadi. Dia tidak sampai hati untuk mengucapkannya, terlebih lagi melihat Kai yang saat ini begitu buru-buru menariknya membuatnya semakin didera rasa gugup. “Yang bisa menghukum kita atas perbuatan yang kita lakukan hanyalah Tuhan. Bukan mereka.” Kai membukakan pintu mobilnya untuk Yoona dan sedikit mendorong tubuh gadis itu agar segera masuk. Yoona hanya bisa medengus berkali-kali dan menurut dengan semua perkataan suaminya.

Kai menggoncangkan tubuh Yoona pelan, berusaha untuk membangunkan gadis itu karena mereka sudah sampai dirumah. “Yoona, ireona! Yoong, ireona!” beberapa kali Kai mencobanya, namun masih tidak mempan untuk membangunkan Yoona dari tidurnya. Diperhatikannya setiap detail wajah istrinya, istri sahnya yang belum pernah ia sentuh. Muncul rasa syukur dalam hati Kai. Betapa beruntungnya dia mendapat istri seorang bidadari cantik seperti Yoona. Terbesit sedikit luka mengingat bahwa gadis yang kini menyandang gelar sebagai istrinya belum mampu ia miliki seutuhnya. Tangan Kai dengan lembut mengelus pipi Yoona yang halus, menyalurkan sedikit rasa cintanya yang masih enggan untuk diakuinya. Dengan berbekal keberanian yang ia miliki, Kai mencium kening Yoona cukup lama. “Aku…aku mencintaimu, Yoona.” Bisik Kai ditelinga Yoona. Mata Yoona mendadak menitihkan air mata. Dia sadar, sepenuhnya sadar. Semua perlakuan Kai, semua pernyataan namja itu, Yoona mendengarnya. Matanya memang terpejam, tapi dia tidak buta. “Katakan sekali lagi.” Ucap Yoona masih dengan matanya yang terpejam. Kai sontak menatap Yoona dengan gugup. ‘Apakah Yoona mendengar semua pengakuannya?’ batin Kai dengan perasaan campur aduk. Tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang kecuali mengikuti kemauan Yoona. “Aku mencintaimu, Yoona. Aku mencintaimu.” Ulang Kai dengan suara sedang. Cukup bila hanya untuk didengar telinga Yoona. “Aku juga mencintaimu, Kai.” Setelah mendengar pengakuan yang diinginkannya, Yoona membuka matanya cepat. Tidak ingin berlama-lama lagi mengungkapkan perasaan yang juga ia rasakan. “Kali ini bukan lelucon kan?” Tanya Kai berusaha meraih Yoona dalam dekapannya. “Ani-yo.” Yoona menggeleng seraya membalas pelukan Kai. Mereka cukup lama berpelukan hingga tanpa sadar Won Hong sudah berdiri didepan mobil yang Kai parkirkan. “Aku benci harus mengatakan bahwa kalian berdua menyebalkan.” Won Hong menunjukkan wajah datarnya saat Kai dan Yoona turun dari mobil. “Tolong ambil barang belanjaan kami dan bawa masuk kedalam.” Kai menyerahkan kunci mobilnya pada Won Hong. “Dan kalian tanpa berdosa meninggalkanku dengan belanjaan sebanyak ini. Dasar menyebalkan!” Won Hong mendengus kesal saat ia membuka bagasi mobil kakaknya yang berisi belanjaan. “Awas kalian! Aish, sial!” Kai hanya tersenyum senang melihat adiknya kerepotan dengan belanjaannya. Berbanding terbalik dengan Yoona yang begitu merasa iba, namun saat ia berniat membantu tapi Kai menahannya. “Biarkan saja. Dia itu laki-laki. Jangan terlalu memanjakannya.” Kai menarik tangan Yoona dan mengajak gadis itu untuk bersenang-senang dikamar malam ini. Tanpa penolakan, Yoona hanya bisa pasrah.

Yoona menggeliat dibalik selimut yang menutupi tubuhnya. Entah mengapa tubuhnya terasa lelah dan begitu dingin pada saat yang bersamaan. Matanya membuka perlahan demi perlahan, menyambut cahaya pagi yang begitu menyilaukan. “Selamat pagi, chagi-ya.” Suara yang begitu familiar ditelinga Yoona akhir-akhir ini. “Selamat pagi, sayang.” Sapa Yoona balik. Mereka saling melempar senyum dan kegiatan pagi ini diawali oleh ciuman hangat. “Kau tidak pergi bekerja?” Yoona menyandarkan kepalanya pada dada bidang seorang laki-laki yang baru semalam mencuri hal terpenting dalam hidupnya. “Aku akan pergi 10 menit lagi.” Kata namja itu—Kai. Yoona mengangguk sambil sesekali menguap. “Kau masih mengantuk, hm?” Kai mengusap surai kecoklatan Yoona lembut. Terlihat Yoona hanya mengangguk menanggapi pertanyaan suaminya. “Kau membuat bajuku berantakan, sayang.” Yoona segera bangkit dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ada rasa kesal mendengar suaminya menyulut pertengkaran lagi diantara mereka. “Cepat pergi! Aku tidak ingin melihatmu.” Yoona berdiri dihadapan Kai dengan ekspresi marahnya. Kai tetap saja menanggapinya dengan lelucon. “Baiklah. Tapi ingat, kau harus cepat mandi. Kau bau sekali.” Setelah lagi-lagi menggoda istrinya, Kai berlari begitu saja keluar kamar. Dia bergerak cepat agar tidak mendapat amukan dari macan tidur yang sengaja dibangunkannya. “Aish, Kim Jongin!” teriak Yoona kencang sambil menghujami bayangan Kai dengan bantal.

“Kenapa kau masih ada dirumah? Kau tidak sekolah?” mata Yoona membelalak kaget melihat Won Hong masih duduk santai didepan televisi. Seingatnya ini hari Senin, dan itu tandanya hari-hari melelahkan baru saja dimulai. Tapi kenapa bocah ini masih ada disini? Won Hong hanya menggeleng dan meletakkan punggung tangannya diatas kening. “Aku demam, noona.” Yoona menyipitkan matanya tidak percaya. “Jinjja-yo?” dengan lembut Yoona menyentuhkan tangannya dikening adik iparnya itu. “Ah, benar. Badanmu panas.” Yoona beranjak dan mengambil kotak P3K yang ada dikamarnya. “Apa yang noona lakukan?” tanya Won Hong saat ia melihat Yoona tengah mencari sesuatu. “Ssstt! Diam dan turuti saja.” Yoona menempel plaster penurun demam ke kening Won Hong. “Lebih baik kau istirahat dikamar. Jangan menonton televisi terus.” Dengan sabar, Yoona mengantar Won Hong kedalam kamarnya. Selagi anak itu mulai berbaring, Yoona bersiap untuk menyelimutinya. “Tunggu disini! Aku akan membuatkanmu bubur. Tapi aku tidak menjamin kalau rasanya… enak.” Yoona tersenyum kikuk. Dia hendak beranjak, namun pergelangan tangannya ditahan oleh anak itu. “Gomawo, noona. Jongin Hyung pasti beruntung memiliki istri baik sepertimu.” Won Hong terseyum tulus, membuat Yoona tersentuh dengan perkataan bocah yang terkenal nakal itu. Tanpa membalas ucapan terimakasihnya, Yoona berlalu begitu saja. Dia begitu terharu. Tidak seharusnya dia berburuk sangka pada perjodohan yang ia anggap sebagai bencana dalam hidupnya, namun kini berubah menjadi suatu hal yang patut ia syukuri. Tidak semua orang memiliki jalan indah seperti hidupnya. Dengan cepat Yoona bergegas pergi kedapur untuk membuatkan anak itu bubur seperti janjinya tadi. Kim Ahjumma tidak ada. Sudah dari semalam Kim Ahjumma pergi kerumah saudara karena ada kepentingan, sedangkan Kim Ahjussi sedang dinas keluar kota. Dan kini yang ada hanya dirinya sendiri. Dengan kemampuannya yang tidak seberapa, Yoona mencoba untuk menjadi kakak sekaligus pengasuh yang baik. Tidak berapa lama, bubur yang ia masakpun akhirnya matang. Dibawanya bubur itu kehadapan Won Hong. “Buburnya sudah siap.” Teriak Yoona denga riang. Won Hong memandangi bubur itu dengan tidak berselera. “Oh, ayolah dimakan! Atau setidaknya mencicipi sedikit saja.” Bujuk Yoona dengan tampang memohon. “Ya, baiklah.” Won Hong mengambil buburnya hanya seujung sendok. Dengan raut wajah takut, dimasukkannya bubur itu kedalam mulutnya. Satu suapan kecil telah berhasil masuk kedalam mulutnya. ‘Dia yang makan, tapi kenapa aku yang gugup begini.’ Batin Yoona. Dia mengamati ekspresi yang ditunjukkan oleh bocah itu, tapi sayang sulit sekali ditebak. “Ternyata kau benar, noona. Kau tidak bisa menjamin kalau rasanya enak, tapi rasa bubur ini benar-benar…sangat buruk.” Hampir saja Yoona tersenyum senang karena makanan buatannya enak, tapi justru kepahitan celaan yang saat ini ia dapatkan. Tidak ada komentar yang bisa Yoona berikan kecuali ekspresi kekecewaan yang amat dalam.

Yoona selesai membacakan sebuah dongeng untuk Won Hong hingga anak itu tertidur. Dirapikannya posisi selimut anak itu yang sedikit tersikap. Entah mengapa, setiap kali melihat wajah Won Hong selalu saja mengingatkannya pada Kai. Yoona sedikit melirik kearah jarum jam yang tergantung dikamar Won Hong. Sudah jam 11 malam, dan Kai belum pulang. Ada raut cemas terpancar diwajah Yoona. Dia menutup buku dongengnya dan menaruhnya dilemari buku. Yoona keluar dari kamar Won Hong dan menemukan sosok Kai baru saja menutup pintu utama rumahnya. “Kau sudah pulang?” tanya Yoona pelan. Kai langsung berbalik dan tersenyum kearah Yoona. “Ah, kau mengagetkanku.” Kai menghampiri Yoona dan memeluk gadisnya itu erat. “Berpisah denganmu seharian ini membuatku tidak tenang.” Kai menenggelamkan wajahnya diantara helaian rambut Yoona yang tergerai. “Kau berlebihan.” Balas Yoona. Keduanya berpelukan cukup lama, hingga Yoona meronta meminta untuk dilepaskan. “Kau membuatku tidak bisa bernafas.” Kai medecak sebal. Yoona benar-benar bukan gadis yang mudah diajak bermesraan. Baru juga beberapa menit dipeluk, sudah meminta dilepaskan saja. “Ya, aku minta maaf.” Kata Kai dengan pasrah. Mereka kemudian memutuskan untuk duduk disofa ruang tamu. Yoona menyandarkan kepalanya diatas dada bidang Kai dan mulai memainkan jari laki-laki itu. “Won Hong sakit.” Kata Yoona. Kai mendesah pelan, menciumi aroma wangi rambut Yoona. “Lalu?” tanya Kai. Dia tidak benar-benar fokus menanggapi perkataan Yoona. “Aku tidak bisa menjaganya denga baik.” Yoona mendongak menatap Kai yang terus saja menyunggingkan senyumnya. “Dimataku semua yang kau lakukan adalah yang terbaik, Yoona. Tidak peduli itu benar atau salah menurut orang lain.” Yoona mendengus pelan. Kai tidak berhenti mengusap kepala Yoona dan membelai pipi istrinya itu. Rasa lelah yang menghinggapinya mendadak hilang saat dia melihat Yoona. Tidak perlu uang berlimpah ataupun memakai pakaian mahal untuk membuatnya bahagia, cukup dengan Yoona ada disampingnya maka semuanya akan terasa baik. “Kau menjalani peranmu sebagai istri dengan baik.” Ucapan Kai begitu membuat mata Yoona tidak kuasa menahan tangis. “Kau, kau tidak menyesal kan menikahi itik buruk rupa sepertiku?” Yoona menatap Kai dalam. Matanya mencoba menemukan sebuah pancaran kebohongan dari mata laki-laki itu, tapi nihil. Semua begitu tampak tulus. “Aku menyesal.” Yoona seakan tersambar petir mendengar jawaban Kai atas pertanyaannya. Air mata kebahagiaan berubah menjadi air mata penuh luka. “Tapi itu dulu, saat sesuatu yang dinamakan perjodohan mengawali kisah kita. Kisah klasik yang mungkin sering terjadi. Namun, tidak semua kisah klasik berakhir bahagia.” Kai tersenyum dan kembali menenggelamkan Yoona dalam dekapannya. “Apa ini lelucon?” Yoona memukuli dada bidang Kai dengan sekuat tenaganya. Merasa dipermainkan pasti, tapi apa daya saat ini hanya ada rasa cinta yang menguasai hatinya.

“Cinta klasik kita berdua seperti musik klasik yang terus menerus didengar
Sesuatu yang tak berubah meskipun waktu berlalu
Cinta klasik kau dan aku, seperti film klasik yang terus menerus ditonton
Meskipun aku melihat dan melihatmu, aku terus merindukanmu, ini klasik”

Advertisements

10 thoughts on “[Oneshot] Classic Love

  1. Wow, keren..
    Critanya menarik.
    Truz gak ad konflik jg dlm kisah pernikahan mereka 🙂
    pertengkaran kecil mereka lucu 😀
    neomu joha! Classic bnget dah kyak music classic 🙂
    keep writting thor!

  2. Dah end ya thor sayang banget padahal keren bingittttttt sequelnya ya plissssss bikin mereka bertengkar karna cemburu ya plissssss???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s