[Oneshot] Destiny Can Be Changed

Title : Destiny Can Be Changed | Author : icyoona | Genre : Romance, School Life, Family | Length : Oneshot | Main Cast : Im Yoon Ah, Kim Jong In | A/N : FF ini pure hasil pemikiran author sendiri, so apabila ada kesamaan alur cerita merupakan ketidaksengajaan. Don’t bash and please leave comment! Thanks for your attention.
***** HAPPY READING *****
“Hai, bolehkah aku duduk disini?” Tanya seorang laki-laki pada seorang gadis cantik yang sedang sibuk membolak-balikkan setiap lembar halaman novel yang dipegangnya. “…” Tak ada jawaban yang didapatkan sang laki-laki kecuali kerjapan kelopak mata yang menandakan kebingungan pada si empunya. “Aku bukan orang jahat, jadi bolehkah aku duduk disini?” Kata sang laki-laki dengan putus asa dan menghembuskan napasnya kasar. Melihat sang lawan bicara memberi respon anggukan, laki-laki itu langsung meletakkan tas yang sedari tadi bertengger dipundak kokohnya dengan tersenyum gembira. Setelah duduk disamping gadis itu, sang laki-laki mulai mencoba mencairkan suasana yang menegang diantara mereka dengan menanyakan banyak hal, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh sang gadis tanpa menolehkan wajahnya. “Oh iya, bukankah kita belum berkenalan? aku Kim Jong In tapi teman-temanku lebih sering memanggilku Kai, kau?” Sang laki-laki memperkenalkan dirinya dengan menjulurkan tangannya kepada gadis yang ada dihadapannya, berharap mendapatkan balasan atas uluran tangannya, namun sayang itu hanya mimpi belaka. “Maaf, aku tidak terbiasa memberitahukan namaku pada orang asing.” Kata sang gadis dengan ketus sembari menutup kasar novel yang sedari tadi menyita perhatiannya. “Ayolah! Hanya berjabat tangan saja, tidak lebih. Lagi pula, cepat atau lambat aku bukan lagi orang asing bagimu.” Jelas sang laki-laki dengan antusias. “Aku Im Yoon Ah.” Kata Yoona akhirnya seraya menjabat uluran tangan Kai. “Tapi…apa maksud ucapanmu tadi ‘cepat atau lambat aku bukan lagi orang asing bagimu.’?” Tanya Yoona tak mengerti. “Ah, tidak ada.” Jawab Kai dengan cengiran khasnya. Yoona yang melihatnya hanya dapat menggeleng tak mengerti dengan apa yang ada dalam otak laki-laki itu. “Kai…” Panggil Yoona dengan sedikit berbisik yang membuat Kai tersentak kaget saat akan mengeluarkan buku pelajarannya dari dalam tas. “Bisakah kau memanggilku dengan nada normal? Kau hampir seperti menggodaku dengan suaramu yang err… Ada apa?” Kai menjelaskan panjang lebar dengan suara lembutnya yang dibalas anggukan pelan dari Yoona. Laki-laki itu terlihat beberapa kali mengusap tengkuknya yang masih hangat karena sapuan nafas Yoona yang tanpa sengaja mengenai kulitnya. Ya maklum saja, jarak duduk antara keduanya bisa dibilang cukup dekat hingga mungkin bila mereka menoleh, maka pemandangan yang pertama kali mereka lihat adalah wajah satu satu sama lain. “Maaf, aku hanya ingin bertanya, apa kau murid baru?” Yoona bertanya dengan takut-takut pada laki-laki disampingnya itu. “Kenapa?” Kai tersenyum manis pada Yoona yang membuat Yoona menatapnya intens. “Sudah, jawab saja pertanyaanku!” Yoona menaikkan sedikit volume suaranya. “Ya, kau benar. Aku memang murid baru yang baru saja pindah dari Amerika. Apa ada masalah?” Jawab Kai dengan mengangkat bahunya. “Pantas saja baru kali ini aku melihatmu.” Yoona lalu memalingkan pandangannya yang semula menatap Kai menjadi menatap guru yang baru saja masuk kedalam kelas.

Bel istirahatpun berbunyi yang membuat suasana ruang kelas, koridor sekolah, maupun kantin yang semula lengang menjadi penuh dengan suara para murid. “Yoong, ayo pergi ke kantin! Sebagai tanda perkenalan, aku akan mentraktirmu.” Kata Kai sambil menarik tangan Yoona lembut. Yoona baru tersadar dari lamunannya karena sepasang tangan menariknya, ia langsung melepaskan headset yang sedari tadi terpasang ditelinganya dan mengalihkan pandangannya pada seseorang yang mengajaknya bicara. “Kai, kenapa kau masih disini? Kenapa kau tidak pergi ke kantin bersama yang lainnya?” Tanya Yoona sambil berdiri dari bangkunya. “Bagaimana bisa aku pergi ke kantin seorang diri? Apa kau lupa, jika aku adalah murid baru disini?” Tanya Kai dengan sedikit menahan tawanya. “Baiklah aku akan mengantarmu.” Jawab Yoona pasrah. “Tapi…sepertinya kau terpaksa. Jika kau tidak mau mengantarku, aku pergi sendiri saja.” Kai berpura-pura marah dan bergegas pergi. “Tunggu! apa kau tidak mendengar perkataanku tadi? Bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan mengantarmu? Dasar bodoh!” Langkah Kai terhenti oleh suara nyaring Yoona yang tiba-tiba terdengar oleh gendang telinganya. Tanpa aba-aba, Yoona langsung berlari kecil kearah Kai dan menggandeng lengan laki-laki yang baru saja ia kenal itu. Kai yang sedikit kaget dengan perilaku Yoona, mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda saat ia berada didekat gadis yang sebentar lagi akan menjadi…
At Canteen
Yoona memandangi sosok laki-laki disampingnya yang sedang asyik menyantap semangkuk ramen dengan tersenyum bahagia. Entah mengapa, ia merasakan detak jantungnya bergerak lebih cepat dan wajahnya memerah jika mereka sedang berdekatan seperti ini, apalagi jika mereka melakukan kontak fisik. Memang jika dipikir secara logika Yoona dan Kai baru beberapa jam bertemu dan berkenalan, namun dalam waktu sesingkat itu pula keduanya mulai merasakan sesuatu yang tidak sewajarnya mereka rasakan jika mereka mengetahui hubungan antara keduanya nanti. “Yoong, apa kau baik-baik saja?” Tanya Kai dengan tangan yang ia kibas-kibaskan didepan wajah Yoona. Suara berat Kai mampu membuyarkan semua lamunan Yoona tentang pemilik suara berat yang baru saja memanggilnya itu. “Uh…ak…aku baik-baik saja. Kenapa? Apa kau sudah selesai makan?” Tanya Yoona mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tidak mungkin juga Yoona harus menceritakan pada Kai jika ia sedang memikirkan dirinya. “Ya. Aku sudah selesai makan. Apa kau tidak lapar? Ku perhatikan sedari tadi kau hanya memandangiku saja. Apa ada yang salah padaku?” Dengan sedikit mencondongkan badannya kearah Yoona, Kai menatap kedua manik mata Yoona secara intens. “Ti…ti…tidak ada.” Jawab Yoona gugup. Secara refleks Yoona sedikit mendorong tubuh Kai dan melonjak dari tempat yang ia duduki. “Aku harus kembali ke kelas, aku lupa masih ada tugas dari Kang Songsaengnim yang belum ku selesaikan.” Pamit Yoona buru-buru tanpa berani menatap Kai. Kai hanya dapat menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena ia bingung, bukankah tadi mereka pergi ke kantin bersama, tapi kenapa saat kembali ia malah ditinggal sendirian. Tapi untunglah saat perjalanan menuju kantin tadi, Kai menanyakan banyak hal pada Yoona yang membuatnya sedikit tahu tentang beberapa ruangan dan jalan-jalan di sekolah barunya ini, jika penyakit pikunnya tidak kambuh.
At Class Room
“Bel sudah berbunyi 20 menit yang lalu, tapi kenapa kau baru datang, Kai? Apa kau belum membaca tata tertib di sekolah ini, jika para murid datang terlambat 15 menit setelah bel berbunyi maka mereka akan dihukum untuk membersihkan halaman sekolah. Tapi karena kau masih murid baru disini, maka untuk kali ini kau ku maafkan. Sekarang duduklah!” Titah Kang Songsaengnim. “Baik, Songsaengnim. Terimakasih.” Dengan menundukkan kepalanya, Kai mulai berjalan kearah bangkunya. Tepat disampingnya, seorang gadis menatapnya dengan tatapan bersalah. “Kai, apa kau terlambat karena kau tidak dapat menemukan jalan?” Dengan sangat berhati-hati Yoona memberanikan dirinya untuk sekedar menatap dan menanyai laki-laki disampingnya. “…” Tidak ada jawaban. Melihat tidak ada respon dari lawan bicaranya, Yoona segera mengalihkan pandangannya dan mengunci rapat-rapat mulutnya. Sebenarnya Kai tidak ingin mendiamkan Yoona seperti ini, namun bagaimanapun juga ada rasa kesal dihatinya.
Bunyi yang sedari tadi ditunggu oleh para murid akhirnya berkumandang juga, bel yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar pada hari ini telah usai yaitu bel pulang sekolah. Hampir semua murid berhamburan keluar dari gerbang sekolah dengan raut wajah lelah, tetapi tidak untuk seorang gadis cantik yang masih setia berdiri didepan gerbang tua itu sambil celingukan mencari seseorang. Sekilas matanya berbinar tatkala orang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya juga.
“Kai…” Baru saja Yoona akan melambaikan tangannya namun ia urungkan lagi, melihat seseorang yang sedari tadi ia tunggu sedang berjalan bersama seorang gadis yang notabenenya adalah kakak kelasnya.
Yoona’s POV
Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Aku merasa marah saat dia bersama gadis lain, aku merasa sakit saat dia tidak memperhatikanku, aku merasa sedih saat dia menjauhiku. Sebenarnya apa yang terjadi? Dadaku sesak, baru saja dia berjalan didepanku namun dia tidak memberikan respon apapun saat melihatku, setidaknya tersenyum, melambaikan tangan atau jika bisa menyapaku dan mengajakku untuk pulang bersama, walaupun aku juga belum tahu apakah jalan menuju rumah kami searah.
At Yoona’s House
“Kau sudah pulang, nak?” Baru saja aku mendudukkan diriku disofa ruang tamu untuk sedikit bersantai, namun suara berat ayah sudah mengagetkanku. “Ya. Kenapa ayah ada dirumah? Biasanya ayah selalu sibuk mengurusi perusahaan ayah bukan?” Tanya Yoona ketus. “Ayah lelah sayang, ayah juga merindukan putri semata wayang ayah.” Tiba-tiba saja ayah mendudukkan dirinya disofa yang berada disebelahku dan menghela napas berat. “Ada apa ayah? Apa ada masalah diperusahaan?” Raut kekhawatiran jelas terpancar dari wajahku. “Tidak. Ayah hanya butuh istirahat saja, kau jangan khawatir.” Tidak seperti biasanya, kali ini ayah berbicara dengan sangat lembut padaku. “Yoona…” Panggil pria paruh baya itu padaku. “Ya, ayah.” Aku mengalihkan pandanganku pada ayah, menatap wajah rentanya yang mulai berkerut dan nampak banyak pikiran. “Apa kau sudah mengetahui bahwa ibumu akan menikah lagi?” Membingunkan bukan? Memang ini kenyataannya, bahwa keluargaku broken home dan dampaknya kalian bisa lihat padaku. “Ya. Aku sudah mengetahuinya ayah. Kenapa? Apa ayah masih mengharapkan kembali pada ibu lagi?” Tanyaku sarkastik. “Jelas tidak, ayah hanya takut kau tak bisa menerimanya. Ayah barumu.” Ayah mengelus rambutku pelan dan tersenyum. “Jika ayah baruku itu bisa lebih memberikan perhatiannya padaku, kenapa aku tidak menerimanya. Benar bukan?” Mungkin kata-kataku terlalu kasar, namun itulah yang aku rasakan selama ini. Semenjak ayah dan ibuku bercerai 5 tahun yang lalu, aku menjadi tidak terdidik dengan baik, bahkan hanya untuk bertemu dengan mereka saja sangatlah susah. “Kau benar, nak. Maafkan ayah, ayah tidak dapat menjadi ayah yang baik untukmu.” Air matanya mulai berderaian seiring dengan suaranya yang berubah serak. Aku sebenarnya iba pada ayahku sendiri, namun egoku mengalahkan semuanya. “Apa ayah baru menyadarinya? Sudah 5 tahun, kenapa ayah baru menyadarinya sekarang?” Air mata yang sedari tadi ku tahan di pelupuk mataku akhirnya terjun juga. Dengan cepat ayah langsung memelukku. Mencoba menenangkanku dengan menepuk-nepuk punggungku. “Oh iya, ayah mempunyai kabar gembira untukmu, Yoona.” Ayah mencoba mengalihkan pembicaraan kami. “Apa itu?” Dengan menggunakan punggung tanganku, aku mengusap air mataku secara kasar. “Ternyata ayah barumu itu juga memiliki seorang putra yang seumuran denganmu. Putranya juga disekolahkan disekolahmu, bahkan ibumu berkata jika kalian berdua satu kelas, sayang.” Kata ayah dengan senyum yang kurasa dipaksakan. “Apa itu benar, yah? Sepertinya disekolahku tidak kedatangan murid ba…” Baru saja aku ingin mengatakan jika disekolahku tidak ada murid baru, namun aku menjadi ingat kepada seseorang. Setahuku hari ini hanya ada satu murid baru yang masuk ke kelasku yaitu… “Ada apa? Kenapa kau terlihat kaget seperti itu, Yoona?” Ayah menautkan kedua alisnya. “…” Hening. Aku tidak berniat untuk menjawab pertanyaan ayahku dan langsung tertatih-tatih menuju tempat yang bisa menenangkanku yaitu kamarku.
Yoona’s POV End
“Tuhan, apakah ini jawaban dari semua pertanyaan yang ku ajukan pada-Mu? Tapi kenapa jawaban ini justru menyakitiku? Apa aku seharian ini mencintai laki-laki yang akan menjadi saudaraku? Apa aku berdosa jika memiliki perasaan itu? Kenapa kenyataan ini sangat menyakitkan, Ya Tuhan. Kenapa?” Yoona menjerit dalam hatinya, tanpa terasa sungai-sungai kecil telah mengalir diatas pipi mulusnya.

Suasana ruang kelas kini sangatlah hening, bukan karena Songsaengnim sudah datang atau apa, melainkan karena saat ini jam baru menunjukkan pukul 06.00 pagi. Ruang kelas yang luas ini hanya dihuni oleh seorang gadis cantik dengan headset terpasang ditelinganya dan sebuah novel terbitan baru sedang dibolak-baliknya. Mata rusa gadis itu tiba-tiba menangkap bayangan seorang laki-laki yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. “Selamat pagi, Yoong.” Sapa laki-laki itu dengan senyum yang terus ia sunggingkan dibibir kecilnya. Yoona tidak menjawab sapaan laki-laki tadi, bahkan hanya untuk menolehkan kepalanya saja enggan ia lakukan. Laki-laki tadi hanya berdecak sebal dan mempoutkan bibirnya layaknya anak kecil berumur 4 tahun. Melihat tingkah kekanak-kanakan yang dilakukan oleh laki-laki tadi, Yoona merasa ketenangannya telah diganggu dan tanpa pikir panjang ia segera menutup novelnya dan hendak bergegas pergi. “Hey, apa kau marah padaku karena kemarin aku mendiamkanmu?” Tangan kokoh laki-laki itu tiba-tba menghentikan langkah Yoona. “Tidak. Aku tidak marah padamu. Bagaimana mungkin aku marah pada saudaraku sendiri?”
DEG
Perkataan Yoona mampu menusuk hatinya sendiri dan hati Kai. Pasalnya Kai juga mempunyai rasa cinta pada Yoona yang akan ia simpan sampai status hubungan mereka berubah menjadi sepasang kakak dan adik. “Kau tahu ini darimana? Apa aku pernah memberitahumu?” Tanya Kai dengan polos seraya menggoncangkan pundak Yoona pelan. Yoona yang mendengar pertanyaan bodoh dari Kai langsung memeluk dan menumpahkan air matanya dibahu laki-laki yang sebentar lagi ia paggil kakak itu. “Hiks…jadi kau sudah mengetahuinya? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Tanya Yoona disela tangisnya. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu, aku hanya sedang mencari saat yang tepat untuk memberitahukannya padamu.” Jelas Kai. “Tapi…aku sudah terlanjur menganggapmu lebih dari seorang kakak. Apa hanya ak…” Jari telunjuk Kai mampu menghentikan pernyataan perasaan Yoona. “Ssst…lupakan perasaan bodohmu itu! Sebentar lagi ayahku dan ibumu akan menikah, dan kita akan segera menjadi satu keluarga.” Setelah memberikan pengertian pada Yoona, Kai kembali menenggelamkan calon adiknya itu kedalam pelukannya. Keadaan mulai berubah saat terlihat beberapa murid telah memasuki kelas yang hanya ditempati oleh dua insan berbeda gender itu. Yoona mulai mengelap air matanya dan merapikan seragam sekolahnnya yang sedikit berantakan, sedangkan Kai langsung mendudukkan dirinya dibangku sebelah Yoona. “Yoong, hari ini kita pulang bersama ya? Ayahku dan ibumu akan menunggu kita dirumahku.” Ajak Kai dengan lembut berbanding terbalik dengan jawaban yang diberikan oleh Yoona. “Jangan panggil aku Yoong lagi! Aku muak mendengar panggilan sayang itu dari mulutmu. Dan lagi, aku tidak ingin pulang bersamamu.” Yoona menjawab dengan ketus ajakan pulang bersama Kai. “Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu adik. Bagaimana? Tapi untuk masalah ajakan pulang bersama, aku tidak menerima penolakan.” Kai menawarkan sebuah panggilan yang sebenarnya sangat sulit untuk ia ucapkan. “Mungkin seperti itu lebih baik. Akan kupikirkan nanti.” Yoona menganggukan kepalanya pelan, walau sebenarnya hatinya sakit mendengar Kai mengatakan hal itu.

“Apa kalian sudah mulai akrab?” Tanya ayah Kai seraya menyeruput teh hangat buatan ibu Yoona. “Ya, itu pasti. Apalagi kami akan segera menjadi….” Jawab Kai dengan tersenyum. “Bagaimana denganmu Yoona? Apa kau sudah terbiasa dengan ulah nakal anak bodoh ini?” Tanya ayah Kai seraya menunjuk pada seseorang yang duduk berseberangan dengannya. “Iya, pa…pa…paman.” Yoona dengan gugup menjawab pertanyaan ayah Kai. “Jangan panggil aku paman, panggil aku ayah! Bukankah mulai besok kau akan menjadi anakku?” Kata ayah Kai sambil menepuk pundak Yoona yang berada disebelahnya.
Suasana kembali canggung saat masuknya ibu Yoona ke ruang tamu setelah ia selesai menghidangkan minuman dan camilan. Yoona yang sudah lama tidak berjumpa dengan ibunya merasa asing saat harus duduk berhadapan dan saling pandang seperti ini. Semenjak perceraian kedua orang tuanya, Yoona diasuh oleh ayahnya dan semenjak itu juga Yoona tidak pernah bertemu atau berkomunikasi dengan wanita paruh baya yang saat ini ada dihadapannya. “Bagaimana kabarmu, sayang? Apa kau lupa dengan ibumu ini?” Ibu Yoona mencoba membuka percakapan antara dirinya dan putrinya itu. “Tidak, mana mungkin aku lupa dengan wanita yang telah mengandungku, melahirkanku, tapi tidak pernah membesarkanku?” Kai dan ayahnya sedikit terhenyak dengan jawaban Yoona, sedangkan ibu Yoona hanya tersenyum menanggapinya. “Maafkan ibu, ibu memang bukan ibu yang baik untukmu. Tapi hari ini, ibu akan menebus semua kesalahan ibu padamu. Ibu membawakan kabar baik untuk kita semua.” Kata ibu Yoona dengan manatap manik mata Yoona hangat. Tanpa memberikan respon apapun, Yoona langsung menyambar tas slempangnya dan melangkah pergi. Kai secara refleks berdiri dari sofa dan mengejar kepergian orang yang dicintainya itu. “Yoona, orang tua kita belum selesai mengutarakan alasan mengapa mereka mengundang kita kerumah bukan?” Tangan Kai memaksa tubuh Yoona berbalik dan menatapnya. “Untuk apa? Untuk membicarakan tentang rencana pernikahan mereka besok?” Yoona membentak Kai dan melemparkan tatapan tajamnya. “Justru karena kau belum mendengarkannya sampai akhir, makanya kau menjadi salah paham.” Kai menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Yoona. “Lalu, apa ada yang lain selain itu?” Suara Yoona mulai melemah. “Tentu. Apa kau tahu siapa esok hari yang akan bertukar cincin dan mendapatkan ucapan ‘selamat menempuh hidup baru’?” Tanya Kai dengan terus menyunggingkan senyumnya. “Ayahmu dan ibuku.” Jawab Yoona seadanya. “Kau salah besar.” Yoona segera melebarkan matanya, menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan tak percaya. “Lalu?” tanyanya saat rasa penasaran didalam dirinya memuncak. Sebelum memberikan jawabannya, Kai terlebih dahulu menghapus air mata Yoona dan mengusap puncak kepala Yoona pelan seraya tersenyum manis. “Kau dan aku.” Jawaban singkat Kai mampu meruntuhkan pertahanan hati Yoona. “Apa maksudmu? Ini tidak lucu, bodoh!” Tanya Yoona sedikit berteriak dan memukul kepala Kai. “YA. Aku tahu ini tidak lucu, tapi inilah kenyataannya. Ayahku dan ibumu sudah mengetahui perasaanku padamu dan sebaliknya, jadi mereka membatalkan pernikahan mereka demi kita.”
Flashback On
“Apa kau sudah bertemu dengan calon adikmu?” Tanya ayah Kai yang baru saja memasuki kamar Kai. “Ya.” Jawab Kai tanpa menoleh dan masih terus sibuk dengan PSPnya. “Bagaimana? Apa dia cantik?” Ayah Kai kembali bertanya dengan nada menggoda. “Apa maksud ayah?” Kai menaikkan sebelah alisnya dan meletakkan PSPnya dimeja. “Tidak. Ayah hanya ingin tahu saja tentang calon putri ayah itu.” Ayah Kai beranjak dari kasur yang didudukinya dan melenggang pergi. Namun, baru satu langkah ayahnya menapakkan kaki, Kai sudah mampu menghentikannya. “Ayah, bisakah ayah membatalkan pernikahan ayah dengan ibu Yoona?” Kai melontarkan pertanyaan yang membuat ayahnya sedikit geram. “Apa kau sudah gila? Pernikahan ayah tinggal 2 hari lagi, Kai! Jangan membuat ayahmu ini marah!” Gertak ayah Kai dengan mata yang berkilat-kilat. “Tapi aku menyukai…ah maksudku, aku mencintai Yoona, yah.” Kai akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada ayahnya. Tanpa menjawab pernyataan putra tunggalnya itu, ayah Kai langsung meninggalkan kamar Kai. Mencoba mengendalikan emosi dan berpikir dengan kepala dingin, ayah Kai mulai memikirkan kembali perkataan putranya yang ia anggap tidak sepenuhnya salah. Wajar saja jika anak seumuran Kai sudah dapat mengerti dengan apa yang dinamakan cinta.
Keesokan harinya, ayah Kai langsung menemui ibu Yoona dan membicarakan tentang perasaan putra dan putrinya. “Kali ini, sepertinya kita harus mengalah.” Ucap ayah Kai lirih. “Kau benar. Mungkin inilah saatnya aku menebus semua kesalahanku pada putriku.” Jawab ibu Yoona menyetujui usulan ayah Kai.
Flashback Off
“Apa kau serius? Kau tidak sedang bercandakan?” Tanya Yoona lagi untuk memastikan pernyataan yang baru saja didengarnya. “Ya.” Kai mencubit pipi Yoona pelan dan secara kilat memeluknya. “Tapi aku tidak ingin menikah diusia muda, Kai.” Yoona mendongakkan kepalanya dan menatap mata Kai lekat-lekat. “Akupun juga belum siap. Tapi, siapa yang menyuruh kita untuk menikah? Kita baru akan bertunangan saja besok.” Dan Kai kembali memeluk Yoona seraya memberikan kecupan dikening indah gadisnya itu. Ayah Kai dan ibu Yoona yang menyaksikan kebahagiaan putra dan putri mereka hanya dapat tersenyum lega. Akhirnya semua dapat kembali seperti semula, keluarga Yoona kembali berkumpul dengan menikahnya lagi ayah dan ibunya sedangkan ayah Kai lebih memilih untuk sendiri disisa hidupnya kini dan menunggu kehadiran cucu dari putra tunggalnya, yang sebentar lagi akan ia lepas untuk membentuk keluarganya sendiri .
*****THE END*****

Advertisements

6 thoughts on “[Oneshot] Destiny Can Be Changed

  1. Huaaa… Untung aja Kai ngungkapin ke ayahnya dan Ibu Yoona, jadinyakan YoonKai happy ending 😀 endingnya d’luar dugaanku. Keren, joha!

  2. Keren thor suka sama sikapnya Jong in , berani jujur sama ayahnya yg mau nikah kan di FF lain biasanya cuman diem :3
    Keep writing thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s