BEAUTIFUL BODYGUARD [CHAPTER 3]

Title : Beautiful Bodyguard | Author : icyoona | Genre : Romance, Comedy, Action | Length : Chaptered | Main Cast : Oh Sehun, Im Yoon Ah | A/N : FF ini pure hasil pemikiran author sendiri, so apabila ada kesamaan alur cerita merupakan ketidaksengajaan. Don’t bash and please leave comment! Thanks for your attention.
***** HAPPY READING ALL *****

Sehun semakin mempercepat langkah kakinya yang berbanding lurus dengan suara tawa dari kedua orang itu yang semakin jelas menusuk ke telinganya. Ia benar-benar ingin tahu lelucon apa yang sedang mereka tertawakan. Ia merasa sangat muak saat melihat tangan seorang namja menyentuh puncak kepala yeoja yang berada dihadapannya. ‘Kenapa yeoja itu bersikap biasa saja? Seharusnya ia berusaha menepis tangan namja hitam itu. Dasar bodoh!’ umpat Sehun seraya berusaha keras mengatur nafasnya sebelum ia berhadapan langsung dengan dua manusia yang membuatnya merasakan hawa panas disekujur tubuhnya. “Ehmm…apa yang kalian lakukan disini?” Tawa Yoona dan Kai mendadak berhenti saat suara berat Sehun mengganggu acara mereka. Kai segera melepas earphone yang ada ditelinganya, begitu pula Yoona. “Lalu apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau bersama yeojachingumu itu.” Kai balik bertanya yang membuat emosi Sehun sedikit meningkat, dengan tersenyum remeh ia membalas perkataan Kai. “Ne. Dia memang yeojachinguku tapi dia bukan budyguardku yang harus mengikutiku kemanapun aku pergi kan?” Sehun tertawa puas melihat ekspresi Kai yang sedikit terkejut. ‘Kau memang yang terbaik Oh Sehun.’ Teriak Sehun dalam hatinya karena telah berhasil membuat seorang Kim Jongin terdiam bak patung dihadapannya. Yoona sedikit terkejut atas kedatangan Sehun yang tanpa diundang dan akhirnya mengacaukan semuanya. ‘Apalagi yang akan dilakukan namja ini? Suasana hatinya sulit sekali untuk ditebak. Sedikt-sedikit marah, sedikit-sedikit bersikap seperti anak kecil, tapi kadang juga sangat kejam dan mengerikan dengan ucapan pedasnya itu’ pikir Yoona. Ia masih saja berdiri disamping Kai yang tak bergerak sedikitpun. “Sepertinya kita akan kembali bersaing, ne?” Sehun tersenyum miring mendengar perkataan Kai yang ia rasa tidak logis. “Mwo? Hanya untuk barang murahan seperti itu? Tapi maaf sebelumnya, aku tidak berminat sama sekali.” Jawab Sehun dengan gaya angkuhnya. “Apa kau takut?” Kai kembali menjadi seorang Kim Jongin yang sama sombongnya dengan Oh Sehun. “Takut? Tidak ada kata ‘takut’ didalam kamusku.” Sehun kembali tertawa. “Kali ini aku tidak akan mengalah.” Ucap Kai dengan percaya dirinya seraya melirik gadis disebelahnya yang sedang menjadi bahan pembicaraan antara dirinya dan Oh Sehun. Kali ini Sehun benar-benar habis kesabaran, tanpa persetujuan terlebih dahulu ia refleks menarik tangan Yoona kencang. Menyeret yeoja itu kedalam mobil mewahnya dan melemparkan yeoja itu dikursi penumpang yang terletak disamping kursi supir. “Aku terima tawaranmu. Jangan panggil aku Oh Sehun jika aku tidak bisa mendapatkannya.” Sehun berjalan melewati Kai yang tersenyum penuh kemenangan, “Jika aku tidak boleh memanggilmu dengan nama ‘Oh Sehun’ maka aku akan memanggilmu dengan sebutan ‘pecundang’.” Kai berseru pada dirinya sendiri saat mobil mewah Sehun telah melaju kencang dan membelah jalanan kota Seoul ini.
Kali ini Yoona merasa bahwa dirinyalah yang menjadi majikan. Pasalnya saat ini Sehun sedang mengendarai mobil yang ditumpanginya. Ia tak berniat mengeluarkan sepatah katapun, bahkan hanya untuk menolehkan kepalanya dan menatap sejenak wajah dingin namja disampingnyapun tidak ingin ia lakukan. “Apa yang kau lakukan bersamanya tadi?” tanya Sehun dingin setelah ia mengerem mobilnya mendadak. Yoona yang terjungkal kedepan benar-benar merasa terkejut dan memegangi dadanya tempat sebuah jantung bersarang didalamnya yang serasa ingin keluar. “Kau bisa menyetir atau tidak?” Marah Yoona pada namja disampingnya yang sedang menatapnya tajam. Yoona merasa gelagapan saat wajah Sehun mendekat kearahnya. “Apa yang akan kau lakukan? Kau tidak bermaksud macam-macam denganku kan?” Yoona semakin gelagapan saat tangan Sehun menyentuh sebuah benda yang berada didekat pinggangnya. Terdengar sebuah decitan disana, Yoona yang awalnya memejamkan matanya segera saja membuka matanya kembali menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi. “Turun!” perintah Sehun dengan wajah dinginnya seraya memegangi stir dan masih focus melihat kedepan. “M…m…mwo? Jadi kau hanya ingin melepaskan sabuk pengamanku? Ck.” Gerutu Yoona dengan membuang nafasnya kasar. Ia kira namja disampingnya itu akan melakukan sesuatu padanya yang mungkin akan terasa manis, namun dugaannya benar-benar keliru. “Turun sekarang! Aku ingin menjemput yeojachinguku.” Tanpa memberi jawaban, Yoona segera membuka pintu mobil Sehun dan melangkahkan kakinya keluar dari mobil mewah itu, tak lupa ia juga membanting pintu mobil itu kasar. Sehun menyumbulkan kepalanya tepat dipintu mobilnya yang baru saja dilalui oleh Yoona. “Berani sekali kau membanting pintu mobil mewahku. Memang kau bisa menggantinya jika mobil kesayanganku ini lecet?” cibir Sehun yang dibalas dengan tatapan tajam dari yeoja itu. Sebelum gadis itu benar-benar mengamuk, Sehun segera saja menstarter mobilnya dan melesat dengan kecepatan tinggi. “Persetan dengan dirimu, Oh sehun!” umpat Yoona.
Jam besar yang bertengger di dinding rumah mewah bergaya klasik itu telah menunjukkan pukul 12 siang. Seorang namja sibuk menatap jarum jam yang bergerak itu dengan perasaan khawatir luar biasa karena waktu terus berjalan. Ia merasa ada suatu hal yang mengganjal pikirannya, tapi apa? Sepertinya ia sedang tidak ada masalah dengan orang tuanya, atau dengan teman-temannya kecuali Kai. Ia mengacak rambutnya frustasi. Sesekali ia melirik kesebuah ruangan yang berada tepat dibawah tangga menuju kamarnya. Sudah 3 jam ini ia terus gelisah tanpa tahu apa sebenarnya ia gelisahkan. “Bukankah aku sudah mengantarkan Krystal pulang?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia dapat bertanya seperti itu karena satu-satunya orang yang dapat membuatnya tidak tenang adalah Jung Krystal, yeojachingunya. Ia takut jika yeoja yang telah bersamanya selama hampir 3 tahun itu marah atau tidak menyukai perbuatannya, seperti saat ia lupa mengantarkan yeoja itu untuk pergi ke salon, yeoja itu merajuk selama 3 hari 3 malam tanpa mau sedikitpun berinteraksi dengan dirinya. “Kemana yeoja itu?” teriak Sehun seraya membantingkan tubuhnya keatas sofa ruang tamu. “Kenapa sampai siang begini dia belum juga kembali?” kali ini ia memijat pelan keningnya yang terasa pening entah memikirkan apa. “Ada apa, tuan Muda?” kepala pelayan Shin yang melihat Sehun sedikit meringis kesakitan segera saja menghampirinya dan menepuk pundak namja 23 tahun itu. “Cepat hubungi yeoja itu dan beritahu dia jika aku menyuruhnya untuk pulang sekarang!” perintah Sehun kepada kepala pelayan Shin dengan nada tinggi. “Siapa yang harus kami hubungi, Tuan Muda?” tanya kepala pelayan Shin bingung. “Aish…yeoja yang bekerja sebagai bodyguardku itu, bodoh!” Sehun lagi-lagi berteriak dan terus memegangi keningnya yang semakin pening. Sementara kepala pelayan Shin menghubungi Yoona, pelayan-pelayan yang lainnya mengantarkan Sehun menuju kekamar namja itu. “Tinggalkan aku sendiri dan jika yeoja itu sudah sampai, katakan padanya untuk segera menemuiku.” Pesan Sehun dengan merendahkan volume suaranya. Pelayan-pelayan itu hanya mengangguk dan kembali keluar dari kamar tuannya.
Setelah sampai didepan pintu masuk rumah Keluarga Bangsawan Oh, Yoona dengan secepat kilat menemui kepala pelayan Shin yang tadi menghubunginya untuk menyuruhnya cepat pulang. “Kepala pelayan Shin…” panggil Yoona setengah berteriak saat mata madunya menemukan sosok yang ia cari tengah berjalan tergesa-gesa sambil membawa sebuah nampan berisi bubur dan susu. “Untuk siapa semua ini?” tanya Yoona seraya menunjuk makanan yang berada diatas nampan. “Ini untuk Tuan Muda Oh.” Jawab Kepala pelayan Shin singkat. “Apa yang terjadi padanya?” Langkah kaki kepala pelayan Shin kembali terhenti oleh pertanyaan yang diajukan yeoja itu. “Entahlah. Aku juga tidak tahu, Yoona-ah. Ah ne, tadi Tuan Muda Oh Sehun berpesan jika kau sudah kembali kau harus cepat-cepat menemuinya.” Kepala pelayan Shin hampir saja lupa untuk mengatakan pesan Sehun pada Yoona. “Aku?” yoona membulatkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri. “Ne. kalau begitu kau saja yang membawa bubur dan susu ini kekamar Tuan Muda Oh Sehun.” Perintah kepala pelayan Shin dengan menyerahkan nampan yang sedari tadi dipegangnya kepada Yoona. “Kenapa aku?” tanya Yoona polos. “Karena kau yang dibutuhkan oleh Tuan Muda Oh saat ini.” namja tua itu melangkahkan kakinya menuju tempatnya berasal yaitu dapur, namun sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan yeoja itu, ia terlebih dahulu memberikan arahan pada Yoona dimana letak kamar Tuan Mudanya itu.
Tok…Tok…Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang tidak terlalu keras namun tetap saja mengganggu kenyamanan telinga seorang Oh Sehun. “Tuan Muda Oh Sehun…” panggil seseorang dari balik pintu. Entah sejak kapan Sehun menjadi sangat familiar dengan suara itu dan sangat suka dengan suara cempreng yang membuatnya tersenyum tanpa alasan. Sehun memilih tidak menjawabnya agar yeoja itu terus memanggil-manggil namanya. Ia terus mendengarkan suara cempreng yeoja itu sampai akhirnya suara itu tidak dapat lagi ditangkap oleh indera pendengarnya. “Apa yeoja itu sudah pergi?” Sehun benar-benar kecewa sekarang. “Tuan Oh, maaf sebelumnya jika aku lancang, tapi jika kau tidak membukakan pintunya maka aku akan langsung masuk, ne.” pinta yeoja itu mungkin dengan wajah cemberutnya yang membuat Oh Sehun sedikit terkikik geli membayangkannya. Sehun segera menyiapkan dirinya untuk memulai actingnya, ia memilih untuk berpura-pura tidur. Pintu kamar Sehun benar-benar terbuka dan menampakkan seorang yeoja masih dengan jas dan skinny jeansnya, namun ia terlihat kusut dan berantakan. “Apa kau sedang tidur, Tuan Muda?” tanya Yoona pada Sehun yang sedang berbaring diranjang dengan mata yang tertutup sempurna. “Oh ayolah, aku sudah membawakan bubur dan susu untukmu. Ireona!” Yoona sedikit maikkan volume suaranya. Langkah kakinya perlahan mendekat kearah ranjang Sehun, sebelumnya ia menaruh nampan berisi bubur dan susu itu disebuah meja kecil disamping ranjang namja itu. Dilihatnya setiap centi lekuk wajah namja yang tengah berbaring dihadapannya, ia begitu kagum dengan makhluk Tuhan yang saat ini menjabat sebagai majikannya itu. Namun rasa kagumnya seketika menghilang saat mengingat bagaimana pedas dan kejamnya perkataan namja itu padanya. “Apa aku boleh jujur, Oh Sehun?” tanya Yoona seraya mendudukkan tubuhnya ditepian ranjang namja itu. Ia menghela nafas pelan sebelum memulai pernyataannya. “Kau sebenarnya tampan, sangat tampan malahan. Selain tampan, kau juga kaya dan berpendidikan. Kau begitu sempurna dimata semua yeoja. Tapi kenapa dengan sifatmu itu? Itu benar-benar mencemari kesempurnaan yang kau miliki.” Yoona berniat memegang pipi tirus Sehun, namun kembali ia mengurungkan niatnya mengingat siapa dirinya dan siapa Oh Sehun itu. “Aish…kenapa aku berkata bodoh seperti ini? benar-benar gila. Ingat Im Yoon Ah, kau itu hanya seorang bodyguard dan namja pucat dihadapanmu ini adalah majikanmu. Sebelum kau berfikir terlalu jauh, lebih baik kau mengingat lagi siapa dirimu!” gertak Yoona pada dirinya sendiri. Ia memegangi pipinya yang tiba-tiba memerah dan terasa begitu hangat. Sehun, namja itu patut mendapat acungan jempol atas akting luar biasanya. Entah mengapa, ia begitu senang mendengar pernyataan dari yeoja disampingnya yang ternyata sangat mengaguminya. Tanpa sepengetahuan yeoja itu, Sehun merubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Ia menyibak selimut yang tadinya menutupi hampir seluruh tubuhnya dan berbalik kesamping menghadap yeoja yang saat ini masih belum menyadari posisinya. “Apa yang kau lakukan dikamarku, hah?” tanya Sehun dengan volume suara yang cukup kecil. Yoona yang mendengar suara namja yang sangat ia kenal, segera saja membalikkan badannya menatap namja itu. “Ah..eh…mi…mianhae Tuan muda. Aku tidak bermaksud lancang dengan masuk kamarmu tanpa ijin dan duduk di ranjangmu.” Sontak saja Yoona bangkit dari duduknya dan bermaksud membungkuk untuk meminta maaf, tapi akhirnya takdir berkata lain. Tangan kekar namja itu menariknya kuat sehingga saat ini posisi Yoona berada diatas tubuh Oh Sehun. Karena merasa kurang nyaman dengan keadaan saat ini, Yoona berinisiatif untuk bangkit dan meninggalkan kamar Sehun, namun lagi-lagi tangan Sehun menariknya hingga Yoona kembali jatuh ke ranjang namja itu. “Tetaplah disini! Temani aku sebentar saja!” bisik Sehun tepat ditelinga Yoona. Kini Sehun dan Yoona benar-benar berada dalam satu ranjang dan perlu digaris bawahi bahwa ini murni atas kesadaran masing-masing ditambah lagi permintaan dari seorang majikan kepada anak buahnya.
Waktu telah menunjukkan pukul 17.28 Korea Standard Time. Sang raja siang mulai merangkak kembali ke peraduannya. Begitu pula seorang Im Yoon Ah yang sejak siang tadi memejamkan matanya disebuah ruangan mewah berdominasi warna hitam putih, ditemani oleh seseorang yang masih terasa asing baginya melangkah menuju sebuah jendela besar yang langsung membawanya melihat betapa luasnya pekarangan rumah bangsawan ini. Ia yang pertama kali membuka mata, menikmati hembusan angin yang dengan bebasnya keluar masuk melalui jendela kamar tersebut yang ternyata belum ditutup oleh pemiliknya. Ia menghirup dalam-dalam hembusan-hembusan angin itu hingga tanpa sadar sepasang mata telah menatapnya dengan senyum yang tersungging dibibir tipisnya. “Selamat malam.” Sapa pemilik sepasang mata pure hazel itu seraya memeluk erat pinggang Yoona dari arah belakang. “Se…se…selamat malam, Tuan Muda.” Jawab Yoona gugup. Ia belum berani membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan namja yang entah sejak kapan berhasil mencuri perhatiannya. Sehun, namja itu tidak kehabisan akal hanya untuk membuat seorang yeoja bertekuk lutut dihadapannya, membuatnya terlena hingga akhirnya mencampakkannya. Itu semua sangatlah mudah bagi seorang Oh Sehun. “Jangan seformal itu padaku. Panggil saja aku Sehun, atau mungkin chagi. Itu tidak terlalu buruk.” Sehun menampakkan seringaiannya, walau begitu Yoona juga tak dapat melihatnya karena mereka tidak bertatap muka. “Mwo?” Yoona terkejut mendengar penuturan Sehun yang ia rasa terlalu berlebihan. Ia bersyukur saat ini Sehun tidak melihat wajahnya yang memerah, karena walaupun mungkin hanya sebuah gurauan tapi bagi siapapun yang mendengarnya akan tersipu bukan? Setidaknya seperti itulah pikiran Yoona. Sehun menyibakkan surai kecoklatan milik Yoona yang menutupi bahu indah yeoja itu. Ia berniat memberikan sebuah kecupan dibahu yeoja itu, namun ia mengurungkan niatnya saat ia teringat betapa beraninya Kai menantangnya. Jika hanya mencium bahu mungkin kurang untuk membalas kesombongan bocah itu, maka iapun memutuskan untuk melakukan lebih pada yeoja yang sebenarnya tidak tahu apa-apa ini. Dengan kasar, Sehun membalikkan tubuh Yoona dan menghempaskan tubuh Yoona ketembok terdekat. Ia meraih tengkuk yeoja itu dan mulai menempelkan bibirnya diatas bibir pink gadis itu. Awalnya ia berniat mencium dalam batas kewajaran saja, namun setelah beberapa menit merasakannya, ia menjadi begitu tertarik dengan benda kenyal berwarna merah muda itu. Kecupan yang awalnya sangat ringan kini berubah menjadi lumatan-lumatan yang penuh dengan nafsu. 5 menit kemudian Yoona mulai terengah dan kehabisan nafasnya. Dengan paksa ia melepaskan tangan Sehun yang memegangi tengkuknya dan dengan tenaga yang tersisa ia mendorong tubuh Sehun hingga membuat namja itu sedikit terjungkal. Sehun mengamati ekspresi wajah Yoona yang terlihat begitu kelelahan, ia akhirnya memutuskan untuk mendekati yeoja itu dan berdiri tepat dihadapannya. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Sehun dengan nada khawatir. “Ne. Aku baik-baik saja.” Jawab Yoona seadanya. “Kembalilah ke kamarmu! Kau terlihat begitu lelah. Besok kau tak perlu mengantarku kemanapun aku pergi, cukup beristirahat saja dikamarmu.” Sehun mengelap bibir Yoona lembut, mencoba menghilangkan bekas yang ia buat karena ulah nakalnya. Yoona terpaku sejenak dengan perlakuan majikannya itu, namun ia kembali sadar saat tangan namja itu mendorong pelan punggungnya. “Ne. Aku akan kembali ke kamarku.” Ia berjalan cepat keluar kamar Oh Sehun, tak lupa ia memungut kembali jasnya yang tergeletak diatas kasur king size milik Oh Sehun. Setelah memastikan bahwa yeoja itu benar-benar sudah keluar dari kamarnya, Sehun segera melemparkan tubuhnya keatas kasur yang baru saja ia jadikan tempat untuk melaksanakan rencananya. Ia meraih ponselnya dan mengetikkan beberapa angka lalu meghubunginya. “Besok datanglah kerumahku. Aku memiliki kejutan untukmu.” Titahnya pada seseorang diseberang sana, yang hanya dibalas oleh deheman dari lawan bicaranya.
Keesokan harinya…
Sehun tengah duduk dengan santai disofa ruang pribadinya yang terletak disamping kamarnya seraya menyesap secangkir kopi yang sudah mendingin. Ia bersiap untuk saat-saat dimana seorang Kim Jongin akan mengakui dirinya sebagai pemenang. Sehun tertawa lebar membayangkan bagaimana ekspresi namja hitam itu, ia benar-benar bahagia sekarang karena takdir memang selalu berada dipihaknya. Selalu, ya selalu memang karena setiap ada persaingan antaranya dan Kai dalam berbagai hal pastilah dirinya yang keluar sebagai pemenang. “Terimalah nasibmu Kai. Kau memang selalu kalah dariku dan selamanya akan seperti itu.” Teriak Sehun seraya menyiapkan kejutan yang dimaksudnya kemarin. “Hun, kami sudah datang.” Pekik Baekhyun yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan yang ditempati oleh Sehun. “Kecilkan volume suaramu, pabbo! Itu mengganggu.” Gerutu Sehun seraya melemparkan sebuah kaset keatas meja. “Dimana yang lain?” tanya Sehun saat Baekhyun sedang asyik membolak-balikkan kaset itu. “Mungkin mereka masih ada dibawah. Ini apa, Hun?” Baekhyun memasang tampang bingung melihat kaset yang masih polos tanpa adanya cover yang menutupinya. “Kita akan melihatnya nanti.” Jawab Sehun datar dengan senyum miringnya. Chanyeol dan Kai berdiri tepat didepan pintu ruangan pribadi Sehun. Dengan hati-hati Chanyeol mulai memutar knop pintu coklat itu, Kai hanya berdiam diri dibelakang namja tiang itu. Ia mulai berfikir dan menebak-nebak sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Sehun. Otak jeniusnya terus saja mencari sebuah kemungkinan bahwa namja pucat itu akan mempermalukannya. Chanyeol yang melihat ekspresi ketegangan diwajah Kai hanya dapat menghela nafas kasar, ia yakin pasti akan ada hal buruk yang terjadi nantinya. Walaupun tidak mengetahui secara pasti hal buruk apa itu, namun firasatnya mengatakan bahwa ini semua berasal dari persaingan yang dilakukan oleh Sehun dan Kai. “Ayo masuk! Kau tidak berniat menjadi security dipintu masuk ruang pribadi Oh Sehun kan?” gurau Chanyeol seraya menarik pelan tangan Kai. “Tolong hyung, jangan mengatakan hal seperti itu lagi.” Kai merasa hatinya perih saat mendengar ucapan Chanyeol yang terdengar seperti suara sumbang yang mengingatkannya bahwa selama ini ia, Baekhyun, dan Chanyeol hanya dianggap pelayan oleh seorang Oh Sehun. Chanyeol mengerti apa maksud perkataan Kai, ia hanya mengangguk sebagai respon. Keduanya akhirnya memutuskan untuk segera masuk kedalam ruangan itu. “Kenapa lama sekali?” Sehun yang pertama kali membuka suara saat melihat sosok yang ia tunggu muncul dari balik pintu. “Biasalah Hun, kami sedang mengobrol sebentar tadi.” Jawab Chanyeol seraya mendudukkan dirinya disofa. Kai masih berdiam diri didekat pintu, ia sebenarnya begitu malas bertemu dengan Sehun apalagi saat ini hubungan keduanya sedang dalam keadaan yang tidak baik. “Kai, cepatlah duduk! Aku sudah tidak sabar menonton kaset ini.” Baekhyun merengek seperti anak kecil meminta Kai untuk segera duduk. Kai begitu sebal melihat ekspresi Baekhyun yang begitu menjijikkan, namun disisi lain ia bersyukur ternyata yang dimaksud dengan kejutan hanyalah menonton sebuah kaset bersama. ‘Mungkin Sehun ingin memperlihatkan pada kami kaset bergenre action yang dimainkan oleh Jackie Chan, artis idola Sehun.’ Pikir Kai seraya berjalan menuju sofa dan duduk disebelah Oh sehun. Sehun mulai menekan tombol play pada remotenya, layar televisipun mulai menampakkan gambar atau adegan yang membuat siapapun tidak akan mengalihkan perhatian mereka dari layar televisi tersebut. Baekhyun yang berada tepat didepan layar televisi hanya dapat memelototkan matanya dan sesekali menutup mulutnya yang menganga lebar, sedangkan Chanyeol yang tadinya acuh sekarang berubah menjadi begitu serius memperhatikan setiap adegan yang ditampilakan oleh layar televisi. Setelah melihat beberapa adegan awal dari kaset tersebut, Kai dengan sigap menyerobot remote yang sedari tadi dikuasai oleh Sehun. Ia berniat mematikan televisi itu, namun semuanya gagal saat Sehun kembali merebut barang berbentuk persegi panjang yang menjadi kontrol televisinya itu. “Lagi?” sebuah suara yang tiba-tiba menyeruak menghancurkan segala konstrasi yang dibangun oleh keempat namja itu. Kepala pelayan Shin, ya dialah pemilik suara itu. Namja tua itu pada awalnya hanya berniat untuk mengantarkan minuman dan makanan ringan pada tamu tuannya. Namun saat matanya menangkap gambar yang ditayangkan oleh televisi, dengan tidak sengaja mulutnya begitu saja mengeluarkan suara. “Mwo? Apa maksudmu dengan kata ‘lagi’, kepala pelayan Shin?” tanya Baekhyun seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri kepala pelayan itu. “Siapa yang menyuruhmu masuk kesini?” Sehun segera saja mengalihkan perhatiannya dari layar televisi, sebelumnya ia mematikan terlebih dahulu tayangan ditelevisinya. “Ah mianhae, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud lancang dengan masuk tanpa ijin. Namun, dari tadi saya sudah mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, jadi saya langsung memutuskan untuk masuk saja.” Kepala pelayan Shin hanya dapat menunduk tanpa berani menatap kilat kemarahan dimata Oh Sehun. “Sudahlah Hun, maafkan saja dia. Ini semua juga salah kita yang tidak menjawab ketukannya.” Chanyeol mencoba menengahi walaupun ia tahu bahwa Sehun kali ini benar-benar marah. “Tapi hyung…” kalimat Sehun terpotong saat tangan Chanyeol menyentuh dadanya dan mengelusnya pelan, memberi isyarat bahwa ia harus tenang dan sabar. “Sekarang keluarlah!” titah Sehun pada kepala pelayan Shin yang hanya dibalas anggukan. “Jadi apa maksud perkataan kepala pelayan tadi. ‘Lagi’?” Baekhyun benar-benar penasaran. Kai dan Chanyeol hanya mengerutkan kening mereka, dan Sehun mencoba tetap tenang untuk mengungkapkan semuanya. “Itu terjadi karena sebuah kecelakaan.” Sehun memulai penjelasannya. “Jadi kau sudah pernah tidur bersama dengan bodyguardmu itu selain yang ada didalam kaset ini?” tanya Chanyeol tidak percaya seraya menunjuk kaset yang masih berada pada CD roomnya. “Bukan begitu, hyung. Kalian ingat bukan saat aku tiba di Korea kemarin lusa?” semuanya mengangguk mendengarkan pertanyaan Sehun. “Saat itu aku tiba dibandara pukul 03.30 pagi dan aku mencoba mencari-cari dimana supir yang ditugaskan oleh Sekertaris Lee untuk menjemputku. Namun saat itu aku tak menemukannya. Dengan banyak barang yang aku bawa jadi aku memutuskan untuk naik taksi. Karena supir taksi itu bodoh, ia sama sekali tak membantuku untuk menaikkan maupun menurunkan barangku dari bagasi, terpaksa aku menurunkannya seorang diri.” Sehun kembali menarik nafas untuk melanjutkan ceritanya. “Dan saat aku sampai dirumah ini tak ada satupun pelayan yang kulihat, aku sudah menekan bel beberapa kali namun tak ada jawaban. Untung saja aku memiliki kunci cadangan jadi aku bisa masuk. Dan saat aku tiba ditangga menuju kamarku, aku sudah terlalu lelah untuk berpikir kamar siapa itu. Jadi aku langsung saja masuk dan ternyata aku salah masuk kamar…” namja itu begitu malu mengingat bagaimana memalukannya kejadian itu. “Kau masuk kamar Yoona?” tanya Baekhyun dengan nada menggoda. Sehun hanya bisa menunduk mendengarkan pertanyaan sahabatnya itu. “Ne. Dan sialnya kamar yeoja itu gelap jadi kukira hanya ada aku seorang dikamar itu. Namun saat keesokan harinya aku mendengar teriakan seorang yeoja sambil melempariku dengan bantal. Dan yeoja itu Yoona.” Sehun mengakhiri ceritanya dengan malas. Kai menahan nafas sejenak membayangkan kejadian-kejadian yang baru saja didengarnya. Ia mengepalkan tangannya kuat, mencoba menetralisir emosi yang bergejolak dihatinya. “Dan untuk video yang tadi bagaimana?” Chanyeol kembali membuat Sehun sedikit gelagapan. “Sepertinya yang tadi itu kau sengaja, ne? Bukan begitu, Sehun-ah?” Baekhyun menimpali dengan sedikit mengerlingkan matanya kearah Sehun. “Ne Memang kejadian yang ada di video itu aku sengaja. Aku baru melakukannya kemarin, kau tahu hyung? Tubuh dan bibirnya benar-benar hangat. Apa kau juga mau mencicipinya, Jongin-ah?” Sehun mencoba memanas-manasi Kai yang sebenarnya sudah panas. Kai mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras, dengan sekuat tenaga memejamkan matanya dan saat ia membukanya kembali matanya terlihat memerah. Sehun terkejut melihat reaksi Kai yang melebihi dugaannya. Namun akhirnya ia hanya menyeringai lembut saat Kai sudah berdiri dihadapannya dan bersiap untuk memukul wajahnya. “Kau keterlaluan, Oh Sehun!” Teriak Kai sepeti orang kesurupan. Sehun dengan santai menaikkan sebelah alisnya, “Keterlaluan bagaimana? Apa aku memaksa untuk melakukan itu? Aku sama sekali tak memaksanya. Dia yang menginginkan itu semua.” Jawab Sehun enteng. Kai menarik nafasnya dalam-dalam dan melemparkan kepalan tangannya tepat diwajah Sehun yang langsung meninggalkan bekas lebam disana. “Yoona tidak serendah itu. Dan dia yeoja baik-baik yang tidak seharusnya kau permainkan.”Dengan kalap Kai menarik kerah baju Sehun hingga kini mereka berdiri sejajar dan berhadapan. “Kemarin aku sempat berpikir untuk mengalah dan mundur dari persaingan ini, namun sekarang aku membuang pikiran gilaku itu karena ternyata dugaanku bahwa kau telah berubah dan benar-benar mencintai Yoona adalah salah.” Kai melepaskan kerah baju Sehun dengan kasar sampai membuat namja pucat itu jatuh terduduk. Dengan langkah tegap, Kai menarik knop pintu dan menghilang dibaliknya yang hanya menyisakan suara berdebam setelah pintu kembali tertutup. Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menghela nafas panjang melihat langsung bagaimana sahabat-sahabatnya bertengkar hebat hanya karena seorang yeoja. Tiba-tiba mata Sehun memanas dan tanpa terasa air mata sudah berlinang membentuk sungai-sungai kecil diatas pipi putihnya. Sehun menutup wajahnya dengan telapak tangannya yang besar. ‘Hanya karena mendengar ucapan Kai yang begitu singkat, seorang Oh Sehun bisa meneteskan air mata? Itu mustahil. Tapi kenapa hatiku ingin mengiyakan semua perkataannya?’ Pikir Sehun disela tangisnya. Sehun mendongak menatap Chanyeol dan Baekhyun yang setia berdiri untuk menemaninya. “Kalian pulanglah! Aku akan menyelesaikan ini sendiri.” Perintah Sehun dengan nada dingin. Agar tidak terlihat lemah, Sehun dengan kasar mengelap air mata yang masih membekas dipipinya. Baekhyun menepuk punggung Sehun keras, setelah itu dia berhambur memeluk Sehun dan terisak. “Menangislah jika kau ingin menangis. Menangislah jika itu memang dapat meringankan bebanmu. Menangislah selagi kau bisa. Menangislah sebelum kau ditangisi.” Baekhyun terus menepuk-nepuk punggung Sehun yang membuat namja itu meringis kesakitan. “Hentikan, hyung! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Dan lagi, jangan kau mengatakan ‘menangislah sebelum kau ditangisi’ karena secara tidak langsung kau mendoakan aku mati.” Sehun bergegas pergi setelah berhasil menyingkirkan tubuh Baekhyun darinya. Baekhyun tersenyum hingga eyesmile yang biasanya jarang nampak kini menjadi begitu terlihat. “Apa dia tadi memanggilku hyung?” Tanya Baekhyun memastikan. Chanyeol menaikkan bahunya dan tersenyum, “Mungkin.”
Yoona kini berdiri didepan cermin untuk mempersiapkan dirinya. Setelah seharian kemarin dia tidak keluar kamar karena lelah dan ingin istirahat, maka hari ini ia harus mulai bekerja kembali. Yoona hanya memakai celana jeans hitam ketat yang dipadukan dengan kemeja putih polos, ditambah dengan sebuah jas hitam lengan panjang yang semakin membuatnya terlihat modis walau dengan pakaian formal seperti ini. Dia sibuk menguncir rambut cokelatnya yang kini masih setengah terurai karena belum semuanya ia ikat. Dengan tergesa ia menyelesaikan acara dandannya setelah panggilan yang ditujukan padanya menggema diruang tamu, panggilan dari siapa lagi itu jika bukan Oh Sehun. Bersikap layaknya bodyguard, Yoona keluar dari kamarnya dengan langkah tegap dan pandangan lurus kedepan. Ia bertekad untuk bertingkah sewajarnya seperti tak pernah terjadi apa-apa pada malam itu. “Hm. Kau cantik.” Gumam Sehun seraya melipat tangannya didepan dada saat matanya melirik kearah Yoona yang baru saja muncul. Yoona yang pada awalnya terlihat begitu tegas dan percaya diri mendadak berubah menjadi canggung ketika Sehun mengucapkan kata pujian yang dapat Yoona pastikan bahwa itu ditujukan untuknya. Bahkan langkah Yoona yang begitu mantap seolah kehilangan keseimbangan hingga langkahnya untuk sampai ditempat Oh Sehun duduk terhambat karena sesekali ia terseleo oleh kakinya sendiri. ‘Jangan tatap aku seperti itu, bodoh!’ rutuk Yoona dalam hati saat Sehun terus saja memandangnya lekat-lekat.
Guk…Guk…Guk
Sehun tersenyum senang saat anjing betinanya muncul dari balik punggung Yoona dan berlari kepelukannya. Dia menggosok-gosok penuh sayang bulu anjing betinanya itu. “Kau cantik sekali hari ini, sayang.” Sehun mencium kening anjingnya tanpa memperhatikan bagaimana perubahan ekspresi dari yeoja yang masih berdiri diseberang sana. ‘Sial! Kenapa aku berpikiran jika namja pabbo itu memujiku? Padahal pujian itu adalah untuk anjingnya.’ Yoona mengerucutkan bibirnya dan sesekali terlihat menghela nafas kasar. ‘Kau harus sabar, Im Yoon Ah! Abaikan saja semua perlakuan majikan gilamu itu kepadamu.’ Yoona kembali terlihat tenang dibalik senyum palsunya. “Apa yang kau lakukan disini?” Sehun melirik kearah Yoona sekilas. Dia tersenyum dalam hatinya mengamati ekspresi Yoona yang langsung berubah drastis. “Saya mendapat tugas dari Sekretaris Lee untuk mengantar anda ke kantor. Sepertinya rapat akan dimulai sekitar 30 menit lagi.” Yoona menengok jam tangannya. “Bagaimana kau tahu?” Sehun tersenyum remeh memandang Yoona yang terlihat lebih cocok menjadi asisten pribadinya daripada bodyguard. “Sekretaris Lee memberitahu saya semua jadwal anda hari ini. Beliau melakukannya untuk memastikan bahwa saya mengantarkan anda tepat waktu dan semua urusan selesai.” Yoona kembali melirik jam tangannya dan ia menggeleng sejenak. “Apa anda sudah sarapan, tuan muda?” tidak ingin mengambil resiko, Yoona berinisiatif baik untuk menanyai apakah namja itu sudah sarapan atau belum. Sehun hanya menggeleng dan meletakkan anjingnya disamping tempat duduknya. Dia beralih menatap dokumen-dokumen yang sudah menumpuk dimeja tanpa berniat bangkit menuju ruang makan untuk sarapan. Yoona mengepalkan tangannya kuat menahan emosi karena ucapannya sama sekali tidak digubris. Memang namja itu menggeleng, namun jika dia sendiri tahu dia belum sarapan tidak bisakah namja itu berpikir jernih untuk pergi kedapur dan mengambil makanan, atau setidaknya dia memfungsikan Yoona untuk membantu, atau jika tidak dia bisa berteriak kepada pelayannya untuk dilayani, atau apalah. Saat ini yang menjadi masalah bukan sarapan, namun Yoona tidak ingin dianggap kurang cakap dalam menangani majikannya. Dia tidak ingin terlihat buruk dimata Sekretaris Lee yang sudah berbaik hati memberinya pekerjaan dan mencarikannya tempat tinggal.
BRAKKK
Terdengar suara dari pintu utama yang sepertinya dibuka dengan paksa. Yoona dan Sehun segera mengalihkan pandangan mereka kearah pintu utama. Keduanya saling melempar tatapan karena seseorang yang dianggap sebagai tersangka pendobrakan pintu itu tidak mucul-muncul. Yoona melangkahkan kakinya perlahan. Namun baru selangkah kakinya mendekat, seorang yeoja berpenampilan heboh tiba-tiba menampakkan batang hidungnya dari balik belokan menuju ruang tamu. Yoona menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Sehun tersenyum layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. “Krystal, bagaimana kau bisa disini?” Sehun berdiri dari posisi duduknya dan menyambut kedatangan Krystal dengan antusias. Krystal balik tersenyum dan langsung berhambur kepelukan Sehun. Melihat adegan memuakkan pasangan kekasih dihadapannya, Yoona seperti ingin muntah dan tiba-tiba matanya terasa perih. “Selamat pagi, oppa.” Sapa Krystal setelah ia menaruh tasnya diatas meja. “Pagi.” Balas Sehun seraya mengacak pelan rambut yeojachingunya itu. “Apa kau sudah sarapan?” Krystal bertanya dengan riang. Sehun tersenyum dan hanya menggeleng pelan sebagai respon. “Kalau begitu aku akan memasakkan sesuatu untukmu. Kau tunggulah disini.” Dengan langkah cepat, Krystal berhasil hilang dibalik dapur besar rumah Sehun yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Yoona dan Sehun sama-sama menganga dibuatnya. “Apa anda yakin yeoja itu bisa memasak, tuan?” Yoona mengerutkan keningnya. Sehun hanya mengedikkan bahu dan terlihat seperti ingin menolak namun tak sampai hati melakukannya. “Waktu anda tersisa 20 menit lagi. Apa anda yakin semuanya akan selesai tepat waktu?” mata Yoona melirik sekilas kearah dapur dan menemukan isyarat dari seorang pelayan bahwa Krystal justru mengganggu kegiatan memasak mereka. ‘Dasar pengacau.’ Batin Yoona seraya mengumpat yeoja itu habis-habisan. “Saya harus memastikan bahwa anda akan sarapan dan berangkat ke kantor tepat waktu.” Tanpa menunggu tanggapan Sehun,Yoona segera bergegas menyusul Krystal ke dapur. Jujur saja, Yoona tidak benar-benar percaya dengan kemampuan memasak yeoja dihadapannya. “Apa yang anda lakukan, nona?” Yoona muncul dari balik pintu dapur dan mengagetkan Krystal yang sedang gusar memilih bahan makanan apa yang harus ia masukkan terlebih dahulu kedalam penggorengan. “Aku sedang memasak, apa kau tidak bisa melihatnya?” jawab Krystal ketus. Yoona lagi-lagi menghela nafas kasar. “Lebih baik anda menemani Tuan Oh Sehun saja. Biarkan ini menajadi tugas saya.” Dengan cepat Yoona mengambil alih posisi Krystal dan menggeser tubuh yeoja itu untuk sedikit menjauh darinya. Krystal mengamati Yoona intens, ia benar-benar benci dengan bodyguard Sehun ini. Karena dimata Krystal, Yoona seperti ingin mengalahkannya dalam mendapatkan perhatian Sehun. Padahal nyatanya Yoona tidak pernah melakukan apapun denga maksud seperti yang dipikirkan Krystal. Dia hanya ingin melaksanakan tugasnya sebagai bodyguard dengan baik agar tidak mengecewakan Sekretaris Lee. Krystal dengan kesal meninggalkan Yoona didapur bersama pelayan-pelayan yang sibuk memuji kehebatan Yoona dalam memasak. “Apa dia pikir masakannya jauh lebih enak dari masakanku?” gerutu Krystal. Sehun langsung mendongak mendengarkan keluhan kekasihnya. “Apa sarapanku sudah siap?” Tanya Sehun karena melihat Krystal yang tadinya berniat membuatkan sarapan untuknya sudah keluar dari dapur. “Oppa, lebih baik kau langsung berangkat ke kantor saja. Aku tidak ingin kau terlambat.” Krystal mengeluarkan jurus rayuan mautnya untuk membujuk Sehun berangkat ke kantor lebih cepat. Tujuan utamanya adalah agar membuat Yoona kehilangan saat dimana yeoja itu akan mendapatkan perhatian dari Sehun. “Lalu bagaimana dengan sarapanku?” Dengan raut bingung Sehun terus berjalan keluar dari rumah mewahnya karena tarikan dari Krystal. “Kita nanti sarapan diluar saja.” Krystal dengan tergesa mendorong tubuh Sehun masuk kedalam mobil dan menyuruh namja itu untuk segera menyalakan mesin mobilnya. Pikiran Sehun sejenak melayang pada bodyguard cantiknya yang mungkin kini masih sibuk menyiapkan sarapan untuknya. ‘Mianhae, untuk saat ini Krystal masih menjadi prioritas utamaku.’ Sehun memejamkan matanya sebentar dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Yoona yang berada didalam samar-samar mendengar suara mobil telah meninggalkan halaman rumah mewah ini. Ia tiba-tiba merasa seperti tulang-tulang dalam tubunya berubah lentur hingga ia sulit untuk menopang tubuhnya sendiri agar tetap berdiri tegak. ‘Aku benar-benar membencimu. Kau bahkan rela meninggalkanku padahal aku melakukan semua ini untukmu.’

To Be Continued
A/N : Terimakasih untuk readers yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca dan mengomentari ff absurd aku ini. Maaf karena membuat readers menunggu lama tapi hasilnya masih berantakan.

Advertisements

19 thoughts on “BEAUTIFUL BODYGUARD [CHAPTER 3]

  1. Poor yoona,,udaah yoona sm kai ajah biar sehun patah hatii..sebeel sm sikap sehun gag gentle sm sekali

  2. Please authornim.. Kapan dilanjut😂😭 aku penasaran. Ada rasa nyesek juga … Kerasa banget huaa.. Krystall kek tai masa hahaha

  3. .critanya menarik 🙂 tp msh bingung ma sikap sehun d’sni.. Tp, tetp bgs kok critanya n aku langsung suka pas nemu nhe ff.
    Aku lngsung bca next chap ja dhec, mumpung ud ad 🙂

  4. sehun oppa bkin yoona eonni skit hati aja sh kasian kan yoona eonni.. bnyakin moment yoonkai nya ya thor biar sehun oppa cemburu.. dtggu ya chap slnjutnya 🙂

  5. karakter yoona yg dinginnya kemana? ko menghilang begitu aja hanya garagara oh sehun 😦
    kasian lait yoona yg cuma dipermainkan

  6. oh sehun knpa kau mempermaikan yoona?? aishh awas saja kau..
    next ditunggu. moment yoonkai boleh dong^^..

  7. Ju2r aja thor aq gk sk karakter yoona yg keliatan lemah,udh tau sehun pnya pcr bs2nya dia termkn rayuannya sehun.klo blh usul thor buat yoona lbh dekt ama kai aja n dia melayani sehun hnya sebatas bodyguard aja.seharsnya dia menolk saat sehun menciumnya.buat yoona lbh dingn lg ama sehun.

  8. Thor knpa lama bnget updatenya… yg brikutnya jgn lama2 ya thor… penasaran sama kelanjutannyaa

  9. Kenapa ffnya baru muncul sekarang? Sampe jamiran deh nunggunya .-.

    Sehun kok gitu? Apa dia cuman mau manas2in Kai aja? Kasihan donk… Krys jg licik deh.
    Ditunggu kelanjutannya thor~

  10. bisa ngak kalau yoona dibikin agak cold disini biar sehun yg ngejar ngejar yoona gitu, atau mungkin tambah ada luhan sebagai mantannya yoona, luhan msih cinta sama yoona begitu pun sebaliknya. gimana bisa ngak chingu? ^^ biar sehun cemburu gitu :p

  11. sehun kok gitu sih, kasihan yoona. buat sehun cemburu sama kai ya thor. biar gak yoona terus yang sakit hati..ditunggu next chapnya ya.

  12. Sehunnie jahat *hiks
    Tega mainin yoona *hiks
    Bikin yoona sama kai dulu thor, terus yoona berhenti jd bodyguarg sehun, terus sehun nyesel deh smpai terpuruk gitu. Hehe
    Next soon
    Keep writing !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s