A Twist in My Story [Chapter 1]

A Twist in My Story
Im Yoon Ah | ?
Romance, School Life, Comedy
Copyright © September 2014 by (Icyoona)
—HAPPY READING—


“Pada awalnya semua terlihat baik-baik saja…”

1

Hujan rintik-rintik turun membahasahi Kota Seoul. Yoona yang baru keluar dari sekolah segera saja berlari menuju halte sebelum hujan benar-benar menjebaknya. Ia berlari secepat dia bisa. Beberapa menit kemudian langkahnya terhenti karena ia telah mejangkau halte yang ia tuju. Yoona menepuk-nepuk rok sekolahnya yang basah dan sedikit kusut. Tanpa menunggu lama, bus yang dinanti-nantinya akhirnya tiba. Dengan langkah seribu, Yoona langsung mengangkat kakinya dan masuk kedalam bus. Ia sibuk mencari-cari kursi kosong yang masih tersisa sampai akhirnya sebuah kursi yang berada di pojok belakang nampak belum terisi. Yoona setengah berlari untuk menjangkau kursi itu. Ia bersyukur karena dia tak perlu lagi berdiri apalagi dengan jarak rumahnya yang cukup jauh. Yoona duduk dengan santai seraya mengeluarkan sebuah headset dari dalam tasnya. Dia memasang headset itu ditelinganya dan mulai menekan tombol play pada pemutar musik ponselnya. Yoona terlihat menggumam mengikuti alunan lagu yang dihasilkan oleh pemutar musiknya sampai ia tak sadar bahwa sedari tadi ada sepasang mata yang mengamatinya. Yoona mengernyitkan kening menatap bayangan pada kaca jendela bus yang ditumpangiya. Ia menoleh ke samping tepat kearah seorang namja yang sedang melihatnya dengan pandangan yang Yoona sendiri tak dapat menebak apa maksudnya. Yoona kembali menoleh kedepan dan berusaha mengacuhkan pandangan namja tak dikenalnya itu. Dia kembali bergumam megikuti syair lagu yang didengarnya. Yoona memejamkan matanya sejenak merasakan hatinya yang berdesir mendengar lagu kesukaannya itu bersenandung pelan memenuhi pendengarannya. Dengan hati-hati Yoona kembali membuka matanya dan menoleh kearah kaca jendela disampingnya. Ia terkejut, amat sangat terkejut lebih tepatnya saat ia kembali menangkap bayangan seorang namja yang sedang mengamatinya. Dengan cepat Yoona mengalihkan pandangannya kepada namja yang duduk berseberangan dengannya itu. “Kau memperhatikanku?” Tanya Yoona setengah berbisik. Namja itu tersenyum menanggapi pertanyaan Yoona yang ia anggap lucu. “Kenapa kau tersenyum? Tolong jawab aku sekarang!” Yoona kembali melontarkan pertanyaan yang lagi-lagi hanya dijawab dengan senyuman oleh namja itu. “Bukan hanya aku.” Namja itu berucap setelah melihat Yoona yang mendadak kesal. “Bukan hanya kau? Apa maksudmu?” Kening Yoona berkerut mendengar penyataan namja itu. “Lihatlah ke sekelilingmu!” perintah namja itu kepada Yoona. Entah atas dasar apa, Yoona dengan segera mengikuti perintah namja itu dan menemukan kenyataan bahwa hampir semua orang yang ada dibus itu memperhatikan kearahnya. Yoona hanya dapat tersenyum kikuk dan meminta maaf atas kesalahannya. Kesalahan? Sebenarnya Yoona tidak benar-benar tahu apa kesalahan yang dilakukannya sampai ia berhasil menarik perhatian seluruh penumpang bus. Yoona sedikit memiringkan kepalanya mencoba untuk mengingat hal apa saja yang telah ia lakukan. Dia tadi hanya masuk, mencari tempat duduk kosong, mengambil headset dan memakainya, lalu yang terakhir… “OMO!” Yoona menutup mulutnya yang ternganga membayangkan hal terakhir yang mungkin dilakukannya. Namja yang sedari tadi mengamatinya tersenyum dan berusaha mengatur rona merah yang muncul diwajahnya karena terus menatap kearah Yoona. “Apa kau sudah mengetahui alasan kenapa mereka memperhatikanmu?” Yoona sedikit tersentak dan akhirnya menunduk malu. Ia benar-benar tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya sekarang, bahkan hanya untuk mengangkat wajahnya saja begitu sulit dia lakukan. “Apa aku sangat mengganggu?” dengan sedikit ragu Yoona kembali menatap namja disampingnya. “Menurutmu?” Yoona mengerucutkan bibir mendengar namja itu justru balik menanyainya. “Suaramu bagus…” mendengar sebuah pujian yang dimaksudkan untuknya, Yoona kembali bersemangat. “Jinjja-yo?” Yoona tersenyum dengan mata berbinar. “Hm. Suaramu memang bagus, tapi lebih bagus lagi kalau kau diam.” Setelah mengucapkan pernyataan yang menyinggung perasaan Yoona, namja itu dengan santai berdiri dari tempat duduknya dan bergegas pergi. Yoona membuka mulutnya lebar-lebar atas penghinaan terhadapnya dan atas ketidaksopanan namja itu padanya. “Seharusnya dia mengucapkan ‘aku minta maaf’ atau mungkin selamat tinggal, sampai jumpa, atau apalah sebelum dia pergi. Dia pikir dia siapa? Bisa pergi seenak jidatnya saja.” Gumam Yoona. Daripada Yoona bingung memikirkan hal tidak penting seperti itu, ia memilih untuk kembali bersandar pada kursinya dan mengamati pemandangan diluar melalui kaca jendela bus. Matanya mengerjap dan keningnya berkerut. Ia seperti mengingat satu hal, pemandangan yang kini dilihatnya sepertinya sudah tidak asing. “Pemandangan ini seperti pemandangan didekat halte tempatku biasa menunggu bus jika berangkat kesekolah.” Yoona tersenyum dan memejamkan matanya sejenak. Baru sekitar 1 detik yang lalu matanya terpejam, ia dengan cepat membukanya kembali. Yoona menoleh kearah samping dan ia benar-benar mengingat semuanya. “Pak supir, tolong hentikan busnya!” teriak Yoona dari arah belakang seraya berlari menuju pintu keluar. Supir itu mengumpat Yoona habis-habisan setelah Yoona menyuruhnya untuk menghentikan laju bus secara mendadak. “Terimakasih, ahjussi.” Yoona membungkuk dari luar saat ia telah berhasil turun dari bus itu. Dia menghembuskan nafas kesal. Dadanya naik turun tak karuan membuat Yoona hanya bisa mengelus dan menepuk-nepuknya. “Ini semua gara-gara namja itu!” Umpat Yoona dalam hatinya. Hujan masih tetap turun tanpa berniat untuk berhenti. Yoona menadahkan tangannya keatas menyadari bahwa ia tak membawa payung. “Kenapa harus hujan?” Yoona berlarian kecil untuk menepi ke halte yang mungkin bisa melindunginya dari hujan. Dia duduk dan mengibas-ngibaskan seragamnya yang basah kuyup. Rambut Yoona yang basah juga tak luput dari perhatiannya hingga kini ia meniup-niup poninya berharap poni kesayangannya itu bisa kembali kering. Setelah selesai dengan urusan pengeringannya, Yoona memutuskan hanya ingin berdiam diri dan menunggu sampai hujan benar-benar reda. “Perlu tumpangan?” sebuah suara asing membuyarkan lamunan Yoona. Yoona mendongak dan menemukan seseorang yang baru saja ditemuinya didalam bus tadi. “Kau? Bagaimana kau bisa disini?” Yoona terkejut dan langsung bangkit dari posisi duduknya. “Rumahku ada dikompleks ini.” Namja itu menurunkan payungnya dan mendekat kearah Yoona. “Mungkinkah kau adalah tetanggga baru yang baru pindah dari China itu?” Yoona teringat akan perkataan eommanya yang memberitahunya bahwa mereka akan segera mendapatkan tetangga baru pindahan dari China. Namja itu mengangguk dan Yoona membalasnya dengan membentuk mulutnya menjadi letter ‘O’. Keduanya akhirnya sama-sama terdiam dan membiarkan suara hujan menenggelamkan mereka dalam pikiran masing-masing. Sampai pada akhirnya Yoona membuka suara untuk yang pertama kali, “Apa kau masih berniat memberiku tumpangan?” Yoona sedikit berucap dengan nada memohon. “Baiklah. Kajja!” Namja itu kembali membuka payung birunya dan menarik tangan Yoona agar lebih mendekat padanya. Yoona merasa ada sengatan listrik saat tangan lembut namja itu menyentuh permukaan kulitnya. Ia berani bersumpah jika saja ia bisa beteriak, maka ia akan berteriak sekarang. Hatinya seperti meletup-letup saat beberapa kali lengannya dan lengan namja itu bersentuhan. Tak jarang pula namja itu tersenyum dan meminta maaf atas sentuhan tak disengaja tadi. “Lain kali jika kau sedang dalam bus, jangan bernyanyi terlalu keras seperti tadi.” Yoona mengangkat sebelah alisnya mendengar nasihat namja itu. “Apa sebegitu keraskah nyanyianku? Hingga kau memperingatkanku seperti ini.” Yoona menjawab dengan sinis. Ia tidak suka ada seseorang yang membahas tentang nyanyian dan suaranya, walaupun ia tahu jika ia tak benar-benar bisa bernyanyi dengan suara cemprengnya itu. “Seperti yang kau lihat tadi. Semua orang menatap kearahmu, itu tandanya kau begitu mengganggu. Apa kau berpikir jika kau tadi hanya bergumam? Dan apa kau pikir juga suaramu sebagus itu?” Yoona menatap mata namja itu dengan sinis dan ada perasaan tidak terima didalamnya. “Jangan mengomentari masalah suara atapun nyanyianku! Aku tidak suka ada orang-orang yang menyinggung tentang privasiku itu!” Yoona berjalan mendahului namja itu karena dia rasa jarak rumahnya sudah cukup dekat dan mungkin hujan tidak akan lagi mebasah kuyupkan seragamnya karena kini hujan hanya turun rintik-rintik. Namja itu berdiam diri ditempatnya, dia menatap punggung Yoona yang semakin menjauh dari pandangannya dan mungkin akan menjadi sebuah harapan untuk diraihnya. “Kau berbeda. Dan sepertinya aku menyukai itu.” Gumam namja itu ditengah rintik hujan.
“Yoong, apa kau sudah tahu bahwa tetangga baru kita yang pindahan dari China itu sudah mulai menempati rumahnya hari ini?” Yoona mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan eommanya. “Apa kau juga tahu bahwa mereka memiliki anak lelaki?” Lagi-lagi Yoona menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Darimana kau tahu?” Eomma Yoona bertanya dengan antusias, bahkan ia mengambil paksa roti isi yang akan Yoona makan saking penasarannya. “Kenapa eomma bertanya seperti itu? Apa eomma menyukai anak laki-laki mereka?” Yoona mengerang kesakitan setelah eommanya memukul kepalanya dengan sangat keras. “Appo-yo! Eomma kejam sekali.” Mata Yoona memerah karena menahan rasa sakit dikepalanya. “Makanya kalau berbicara dengan orang tua itu harus sopan. Jangan lagi kau mengulangi perkataan bodohmu itu.” Eomma Yoona dengan penuh sayang mengelus kepala putrinya dan mengembalikan roti isi yang tadi diambil olehnya. “Ne, eomma. Tapi kenapa eomma menanyakan tentang anak laki-laki tetangga baru kita?” perkataan Yoona sedikit tidak jelas karena mulutnya telah penuh dengan roti isi sebagai makanan penutup untuk makan malamnya kali ini. “Telan dulu makananmu, baru bicara!” perintah Im ahjumma dengan lembut. Dengan susah payah Yoona menelan roti isinya dan mengambil segelas air putih untuk melarutkan makanannya. “Nah, sekarang eomma jelaskan padaku sebenarnya ada apa dengan anak laki-laki itu?” Yoona mengelap sisa makanan dimulutnya dengan cepat dan setelahnya ia kembali memasang telinga baik-baik mendengarkan penjelasan dari eommanya. “Jadi begini, sebenarnya eomma telah mengenal dekat siapa tetangga baru kita itu.” Yoona mengangkat alisnya bingung. “Eomma dan Nyonya Xi adalah teman baik. Kami sudah berteman sejak kami masih sekolah dulu. Setelah kami menikah dan memiliki keluarga masing-masing, kami jarang bertemu dan hampir saja kehilangan kontak. Sampai akhirnya appamu mendapatkan rekan bisnis yang ternyata adalah suami dari Nyonya Xi. Jadi setelah itu, kami kembali berhubungan dan memutuskan untuk mempererat tali persahabatan kami melalui kau dan putranya.” Yoona semakin dibuat bingung dengan penjelasan panjang lebar dari eommanya. “Nyonya Xi? Siapa dia?” Yoona mencoba berpikir dan mengingat nama-nama dari teman arisan eommanya, dan seingatnya nama Nyonya Xi tidak ada dalam daftar teman-teman arisan eommanya. “Nyonya Xi itu adalah tetangga baru kita yang baru pindah dari China, dan putranya kalau tidak salah namanya Xi Luhan.” Mulut Yoona menganga lebar, jadi namja tadi siang itu adalah Xi Luhan, putra dari teman eommanya yang akan dijadikan pemererat tali persahabatan diantara orang tua mereka. ‘Pemererat tali persahabatan? Apa maksudnya?’ batin Yoona. “Jadi intinya aku dan Xi Luhan harus berteman juga begitu?” Yoona menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia terlihat seperti orang bodoh sekarang. “Bukan itu maksud eomma.” Im ahjumma menghela nafas kasar menyadari bahwa putrinya sedari tadi tidak tahu kemana arah pembicaraan mereka. “Lalu? Apa yang harus kami lakukan?” Yoona tersenyum kikuk meminta penjelasan yang lebih lengkap dari eommanya. Im ahjumma tersenyum dan mendekat kearah Yoona, “Kau akan menikah dengannya.” Im ahjumma tersenyum menggoda kepada Yoona dan mengerlingkan matanya. Yoona melotot tanpa tahu apa yang harus ia ucapkan. “Menikah? Dengan Xi Luhan, seorang namja yang bahkan aku tidak mengenalnya sama sekali?” Yoona hanya mengeluarkan kata-kata yang ada dalam hati dan pikirannya saja tanpa berani menanyakan hal yang lebih jauh yang mungkin nantinya akan membuatnya bertambah shock. “Belum. Kau hanya belum mengenalnya, bukannya tidak mengenalnya.” Im ahjumma menepuk pundak Yoona lembut dan berlalu pergi, meninggalkan Yoona yang duduk lunglai diruang makan.
“Oppa, apa kau sudah siap untuk menikah?” Chanyeol hampir saja memuncratkan minuman yang baru saja diteguknya kewajah Yoona mendengar pertanyaan gila dari yeoja itu. “Menikah?” Chanyeol menelan ludahnya dengan susah payah. Dia mencari sebuah kenyataan yang tidak pernah ia inginkan dibalik mata madu Yoona. Dengan lembut Chanyeol menyentuh kening Yoona dan ia rasa suhu tubuh Yoona normal, tapi kenapa perkataan yeoja itu seperti mengigau. “Apa kau sakit? Atau jangan-jangan kau…” Chanyeol tidak dapat lagi melanjutkan kata-katanya. Dengan cepat dia menarik tubuh Yoona dalam dekapannya, “Bukankah kita belum pernah melakukannya? Tapi kenapa kau bisa seperti ini?” Chanyeol melepas pelukannya dan menatap Yoona intens. “Kau tidak berselingkuh dibelakangku kan?” Yoona hanya dapat melongo dan mengerjapkan matanya. Ia tidak mengerti sebenarnya apa yang dibicarakan kekasihnya itu. “Yoong, tolong jawab aku! Jangan hanya diam saja.” Chanyeol kali ini mengguncang-guncangkan bahu Yoona pelan. “Aku harus menjawab apa?” Yoona balik bertanya dengan polos. “Jadi benar, kau…berselingkuh…dibelakangku?” Suara Chanyeol terdengar tercekat.
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan mendarat mulus dipipi Chanyeol yang membuat namja itu memelototkan matanya tak percaya. “Apa kau sudah gila? Kenapa kau menamparku?” Chanyeol setengah berteriak sambil memegangi pipi putihnya yang berubah warna menjadi merah. “Itu satu-satunya cara untuk menyadarkanmu.” Yoona meneguk minuman Chanyeol dan melirik sinis kearah murid-murid yang sibuk berbisik tentangnya setelah melihat kejadian penamparan itu. Chanyeol masih saja mengelus pipinya yang terasa nyeri tanpa berniat menatap kearah Yoona. “Oppa, maafkan aku. Aku tadi kalut karena kau menuduhku berselingkuh dibelakangmu.” Yoona berusaha untuk meminta maaf. Dia menarik pelan dagu Chanyeol agar ia bisa melihat bagaimana kondisi pipi Chanyeol karena tamparannya. “Oppa, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah berselingkuh dibelakangmu.” Yoona mengelus pipi Chanyeol lembut dan memberi namja itu sebuah sapu tangan bermotif bunga miliknya. “Lalu apa maksud dari pertanyaanmu tentang menikah? Kau tidak hamil kan?” Yoona tertawa, jadi Chanyeol sedari tadi berpikir bahwa dia menanyakan tentang menikah karena dia hamil. “Darimana kau mendapatkan pikiran kotor seperti itu?” Chanyeol terlihat menghela nafasnya lega, mendengar bahwa semua dugaannya salah. “Baguslah kalau begitu. Kupikir kau menanyakan aku sudah siap menikah atau belum karena kau hamil. Tapi sebenarnya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang menikah?” Yoona tersenyum kecut, namun ia berusaha untuk bersikap sewajarnya. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan mungkin 7 tahun lagi aku bisa menanyakannya padamu.” Jawab Yoona seadanya, membuat namja itu tertawa lebar hingga tanpa sengaja perih dipipinya kembali menjalar. “Aw…” Chanyeol sedikit meringis kesakitan merasakan nyeri itu datang lagi. Yoona yang mendengar rintihan kekasihnya dengan sigap kembali mengelus pipi Chanyeol dan mencoba menenangkannya, “Apa ini sakit?” Dengan penuh sayang dan perhatian Yoona tak henti-hentinya mengelus dan meniupi pipi Chanyeol. “Hm. Ini sakit sekali, chagi.”Chanyeol memanfaatkan moment-moment itu untuk bermanja ria dengan Yoona. Yoona terkekeh pelan mendengar kekasihnya yang biasanya bersikap manly berubah menjadi manja dan lucu seperti ini. “Mianhae. Gara-gara aku kau jadi sakit begini.” Mata Yoona berair. Ia merasa bersalah karena membuat Chanyeol salah paham atas pertanyaannya dan membuat Chanyeol harus merasakan sakit atas tamparannya. “Jangan merasa bersalah begitu. Aku tidak suka melihatmu menangis. Kau akan terlihat jelek jika seperti itu.” Chanyeol tahu jika Yoona sangat merasa bersalah kepadanya. Dia juga tahu, pasti sebentar lagi yeoja itu akan menangis dan tidak mungkin memaafkan dirinya sendiri jika ia tahu ia telah melukai orang lain. “Sekarang lebih baik kau kembali ke kelas. Kajja, aku akan mengantarmu.” Chanyeol mengelap air mata Yoona dan membimbingnya untuk segera berdiri. Mereka akhirnya bergandengan tangan menuju ruang kelas Yoona yang berada dilantai dua. Setelah sampai dikelas Yoona dan memastikan bahwa yeoja itu baik-baik saja, Chanyeol akhirnya melambaikan tangan dan kembali melangkah untuk menuju ruang kelasnya yang ada dilantai satu. Dia berjalan gontai, mengingat kejadian hari ini yang begitu membuktikan bahwa Yoona sangat mencintainya. Ia tak tahu apa jadinya bila yeoja itu mengetahui semuanya nanti. “Aku belum siap kehilanganmu, Yoong.” Chanyeol berjongkok didekat tangga dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang panjang. Dia menangis, mungkin untuk yang pertama kalinya. “Aku bodoh! Kenapa aku bisa melakukan itu?” Saat kepalanya kembali mendongak, matanya terlihat begitu merah dan buliran-buliran air mata masih terlihat jelas membekas dipipi putihnya. “Aku akan membatalkan semuanya.” Tangan Chanyeol terlihat mengepal dengan kuat, matanya penuh dengan tekad dan langkahnya kini begitu mantap.
Seorang namja berperawakan tinggi datang dengan motor sportnya tepat saat Yoona sampai digerbang sekolahnya. Dahi Yoona mengernyit heran saat pengendara motor itu membuka kaca helmnya dan menampakkan mata pure hazelnya yang tajam menatap Yoona. Pengendara motor sport itu membuka helmnya perlahan dan akhirnya turun menghampiri Yoona. “Apa kau yang bernama Im Yoon Ah?” orang itu dengan to the point langsung menanyakan tentang identitas Yoona. Jantung Yoona tiba-tiba berdetak cepat seperti membawa sinyal bahwa kini dia sedang dalam bahaya. Yoona menoleh ke sekeliling mencoba untuk menemukan orang yang dapat menolongnya. Namun sayang, karena kini hari sudah sore dan murid-murid lain sudah pulang terlebih dahulu, jadi disini tinggallah dirinya dan orang asing dihadapannya. “Ne.” Jawab Yoona singkat. Suara Yoona begitu tercekat dan bahkan berkali-kali ludahnya seperti tertelan dengan sendirinya tanpa ia harus menyuruh atau memerintahkannya. Namja itu tersenyum. Menurut Yoona senyuman namja itu tidak buruk, justru sangatlah manis. Jika dilihat dari penampilannya sekilas namja itu tidak tampak seperti psikopat atau maniac yang akan menguntitnya. Namun jika dilihat dari tatapan matanya, Yoona tidak bisa menjamin bahwa namja itu adalah namja baik-baik. “Apa anda memiliki keperluan dengan saya, tuan?” Dalam hati Yoona merutuki kebodohannya yang berbicara formal pada namja yang dapat dipastikan seumuran dengannya itu. “Jangan berbicara seformal itu padaku, Yoona-ah. Kita sepertinya seumuran, jadi panggil saja aku Sehun, Oh Sehun.” Yoona mengangkat sebelah alisnya. ‘Jika dilihat-lihat dia hampir mirip dengan Xi Luhan. Apa mungkin mereka bersaudara?’ batin Yoona. Sehun berdehem, “Hm. Apa kau butuh tumpangan?” Sehun bertanya dengan hati-hati. Dia tidak mau membuat kesan pertama yang buruk pada yeoja cantik yang sebentar lagi akan menjadi miliknya itu. “Hah? Kau menawariku tumpangan?” Yoona bertanya untuk memperjelas tawaran Sehun kepadanya. “Hm. Jika kau tidak keberatan.” Sehun tersenyum kecil, membuat Yoona sepersekian detik terbuai oleh ketampanan dan senyuman namja itu. Yoona merasakan jantungnya yang tadi berdetak cepat karena takut berubah menjadi detakan cepat karena entahlah. Yoona belum dapat menelaah apa maksud dari detak jantungnya yang menggila saat ini. ‘Ingat Yoong! Kau sudah memiliki Chanyeol, Park Chanyeol. Dan hanya namja itu yang memiliki hatimu juga detakan jantungmu. Jangan kau tertarik pada namja lain. Ingat itu baik-baik, Im Yoon Ah!’ Yoona bergulat dengan pikirannya cukup lama. Membuat Sehun yang sedari tadi menunggu jawabannya sudah habis kesabaran sekarang. “Jadi kau mau kuantar atau tidak?” Sehun meniup mata Yoona yang berhasil membuat lamunan yeoja itu buyar. Yoona seperti sesak nafas saat kini Sehun berada tepat didepan matanya. Mereka berdiri dengan jarak yang cukup dekat dan mungkin hembusan nafas satu sama lain dapat dirasakan oleh keduanya. “Aku tidak menyukai penolakan. Jadi sebaiknya kau menjawab iya.” Karena dirasa menunggu jawaban dari Yoona terlalu lama, Sehun bertindak terlebih dahulu dengan menarik paksa tangan Yoona untuk naik ke motor sportnya. Yoona hanya bisa menurut karena dia sebenarnya takut jika dia menolak maka namja itu akan berbuat macam-macam atau apalah padanya. Setelah naik ke atas motor besar itu, Yoona tampak begitu bingung. Dia bingung, dia harus berpegangan dimana. Sehun tahu dengan pasti bagaimana kebingungan yeoja itu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menarik kedua tangan Yoona dan meletakkannya dipinggangnya. “Apa boleh seperti ini?” Tanya Yoona polos. “Tenang saja. Aku sudah mendapatkan ijin dari Park Chanyeol.” Sehun mulai menstarter motornya dan melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. ‘Bagaimana bisa dia mengenal Chanyeol? Dan lagi, siapa dia sebenarnya sampai berani-beraninya mengantarku pulang begini? Apa dia memiliki hubungan dengan Xi Luhan?’ Banyak pertanyaan yang muncul diotak Yoona setelah pertemuannya dengan Oh Sehun beberapa menit yang lalu.


A/N : Maaf untuk alur cerita yg ngawur dan tidak sesuai dgn judulnya. Typo bertebaran dimana-mana dan EYD ngaco semua. Terimakasih buat readers yg sudah menyempatkan membaca dan mengomentari ff abal-abal aku ini.

Advertisements

12 thoughts on “A Twist in My Story [Chapter 1]

  1. Waaaah….ternyata Yoona dijadikan alat mempererat persaudaraan dengan keluarga Xi….menikah dengan Luhan…😯😯.Lalu Chanyeol kekasihnya???apa ia mengira Yoona membicarakan pernikahan karena hamil??haha pantas saja Chanyeol sempat mengatakan mereka belum pernah melakukannya..😂😂.Apa yang membuat Chanyeol takut kehilangan Yoona??apa ia berselingkuh??apa yang akan dihentikannya??Waaaaa…dan Sehun..??siapa Sehun??apa maksudnya sebentar lagi Yoona akan menjadi kekasihnya??Sehun bahkan mengenap Park Chanyeol….😉😉

  2. wah yoona dikelilingi byk laki2 yeol,hun,han
    chanyeol sehun kayany taruhan deh,luhan nanti dijodohin,
    yoong kmu pilih sapa ya ????

  3. Aigoo, yoona eonni d’kelilingi 3 namja yg keren.. Tp aku lbh suka Sehun dan Yeol oppa.. 😀
    ini critanya seru..
    Next chapnya uda ad blum yah? D’tnggu yah!! 😉
    keep writting thor!

  4. Yoona direbuti top three my husband #plak ayo next donk…
    Dalam hati sih pengennya YoonHun💕💕💕
    Ceper di post yaakk

  5. Next thor ,,, penasarannya pakai bingits,,,, mudah2an yoona sama sehun,,, wah enak banget yoona dikelilingi sama cowok2 ganteng,,,

  6. betul tuh kyaknya yoona eonni dijadiin taruhan deh sm sehun dan yeol oppa.. pasti yeol oppa nyesel bget tuh jdiin yoona eonni bahan taruhan.. dtggu ya chap slnjutnya 🙂

  7. Kyknya bakalan ada cnta bersegi2 ya,jgn2 yoona dijadiin taruhan ama chanyeol n sehun.penasaran dg pairingnya.next part jgn lm2 thor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s